
"Saya sudah mengabulkan apa yang kau inginkan. Sekarang adalah giliranmu untuk mengabulkan apa yang kuinginkan."
Perempuan itu berbicara dengan seorang laki laki yang ada didepannya.
"Kenapa? Kenapa aku harus melakukan itu? Mengapa anda sangat menginginkan kematian?"
Laki laki itu terus bertanya dengan suara yang dipenuhi kesedihan. Laki laki itu terus bertanya namun perempuan itu masih tetap diam. Perempuan itu hanya menunjukan sebuah senyuman kecil kepada laki laki itu.
"Kenapa anda tersenyum? Kenapa anda tidak menjawab pertanyaan saya? Kenapa? Kenapa? Kenapa?"
"Kau ingin tau kenapa saya tersenyum? Itu karena... "
Perempuan itu datang mendekat kearah laki laki itu. Dia mengarahkan tangannya ke pipi laki laki itu sambil tersenyum dan berkata.
"Itu karena saya sangat menyayangimu. Kau tau sebelum saya bertemu denganmu, saya hanya hidup seperti tanpa arti setelah saya kehilangan emosi saya. Didalam kehidupan seperti itu saya bertemu denganmu. Semenjak itu saya sering menghabiskan waktu bersamamu, dan juga selama saya bersamamu emosi saya yang telah hilang kini telah kembali sepenuhnya. Karena itulah... "
Perempuan itu kembali tersenyum kepada laki laki itu.
"Maukah kau membunuhku? Saya tidak ingin lagi hidup tanpa memiliki emosi. Kerena itulah Saya ingin mati selagi memiliki emosi. Jadi saya harap kau mau mengabulkan keingina saya."
Perempuan itu kembali tersenyum kepada laki laki itu. Namun kali ini senyumannya menjadi sedikit berbeda. Sebelumnya perempuan itu selalu menunjukan senyuman yang terkesan lembut, tapi kali perempuan itu menunjukan sebuah senyuman yang memiliki kesan sedih.
"Tidak, aku tidak akan membunuh anda. Aku sudah pernah kelihangan keluargaku. Aku sudah mengganggap anda sebagai keluargaku, karena itulah aku tidak akan membunuh anda. Aku tidak ingin lagi kehilangan keluargaku."
Laki laki dengan keras mengatakan itu.
"Saya tau itu. Tapi saya memang sangat menginginkan kematian. saya sudah hidup terlalu lama didunia ini, saya telah melihat berbagai hal. Saya telah mengalami banyak hal sedih ataupun senang. Jadi kuharap kau mau mengabulkan keinginan terakhirku."
Perempuan itu menunjukan ekspresi yang lebih sedih dari sebelumnya. Hanya dengan melihatnya saja seseorang dapat melihat semua kenangan menyedihkan yang telah dia alami.
"Sekarang tusuk saya dengan pelayan pertama yang saya berikan padamu."
"Tidak mau, aku tidak menginginkan hal itu. Kumohon jangan membuatku membunuh anda."
Perempuan itu berdiri, Perempun itu berjalan secara perlahan menjauh dari laki laki itu. Perempuan itu merasa kalau dia sudah cukup jauh dari laki laki itu, dan diapun berhenti berjalan. Perempuan itu berbalik melihat kearah laki laki itu.
"Sebagai leluhur pertama kuperintahkan engkau."
"Berhenti jangan berbicara lebih banyak lagi."
"Keluarlah pelayan pertama, Petrius."
Sebuah pedang besar berwarna merah darah keluar dari dalam diri laki laki itu, pedang itu keluar atas perintah dari tuannya. Pedang itu melayang tepat dibelakang laki laki itu. Pedang itu saat ibi sedang menunggu sebuah perintah dari tuannya.
"Wahai Petrius, saya perintahkan engkau...."
"Berhenti, kumohon jangan memberikannya perintah itu."
__ADS_1
"..... Untuk menusuk jantung saya!"
Begitu perintah dikeluarkan pedang itu langsung menuju kearah jantung perempuan itu.
"Berhenti Petrius, kuperintahkan engkau untuk berhenti."
Laki laki mencoba memerintahkan pedang itu untuk berhenti, namun karena bagi pedang itu perintah dari perempuan itu lebih mutlak Dia terus menuju jantung perempuan itu.
"Berhenti Petrius!!!"
Laki laki itu terus memberikan perintah berhenti kepada pedang itu. Namun sama seperti sebelumnya, pedang itu sama sekali tidak menuruti perintah laki laki itu. Hingga pada akhirnya pedang itu berhasil menusuk jantung wanita itu.
Melihat pedang itu menusuk jantung perempuan itu, laki laki itu dipenuhi oleh perasaan putus asa. Laki laki itu berjalan secara perlahan kearah perempaun itu.
Dengan dipenuhi rasa putus asa dan rasa sedih yang mendalam. Laki laki itu terus berjalan hingga dia akhirnya sampai kedepan perempuan itu.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa anda melakukan itu?"
Laki laki itu terus bertanya dengan air mata yang terus mengalir. Namun Perempun itu hanya diam dan menunjukan sebuah senyuman dengan mulut yang mengeluarkan darah.
"Kembalilah Petrius."
Laki laki itu memberikan perintah kembali kepada pedang itu. Dengan tetap adanya pedang itu, luka dari perempuan itu tidak akan tertutup meskipun dia memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Laki laki itu mengetahui hal itu, karena itulah dia memberikan perintah tersebut. Namun pedang itu tetap masih tidak mendengarkan perintah dari laki laki itu.
"Sekarang.... Saya Akan..... Mewariskan.... Mereka... Kepadamu."
"Keluarlah.. Para... Pelayanku."
Begitu perempuan memanggil mereka, 9 pelayan miliknya langsung keluar. Para pelayan itu memiliki bentuk yang berbeda beda, ada yang memiliki bentuk seperti seorang kesatria, ada yang berbentuk naga, dan ada juga berbentuk seperti seorang malaikat.
"Mulai sekarang... Dia akan... Menjadi tuan... Kalian yang... Baru.."
"Berhenti, jangan mewaris kan mereka padaku. Bukankah anda abadi, luka pada jantung itu seharusnya bukanlah sebuah masalah bukan?"
Laki laki itu terus berkata sambil mengeluarkan air mata. Namun masih sama seperti sebelumnya, perempuan itu hanya menunjukan sebuah senyuman kepadanya.
9 pelayan yang ada dibelakang perempuan itu segera masuk kedalam laki laki itu. Pedang yang menusuk jantung perempuan itupun juga mengikuti 9 pelayan yang lainnya.
Luka tusukan terlihat didada perempuan itu. Tubuhnya perlahan lahan berubah menjadi abu, meski begitu perempuan itu tetap tersenyum kepada laki laki itu.
"Kumohon jangan tinggalkan diriku."
Laki laki itu terus mengelurkan air mata, dia memeluk perempuan itu. Tubuh perempuan itu terus menerus berubah menjadi abu.
"Aku...Menyayangimu... Zen."
Setelah kata kata terakhirnya, tubuh perempuan itu sepenuhnya berubah menjadi abu. Dari tumpukan abu itu keluar sebuah cahaya berwarna keemasan.
__ADS_1
Cahaya itu kemudian masuk kedalam tubuh laki laki itu. Setelah cahaya itu masuk kedalam tubuhnya, laki laki itu berhenti mengeluarkan air mata. Laki laki itu juga tidak lagi mengeluarkan ekspresi sedih, saat ini dia hanya mengeluarkan ekspresi datar.
Semenjak saat itulah laki laki itu kehilangan sebagian besar emosinya.
*******
"Zen.... Zen... Bangun zen."
Roh kegelapan terus memanggil zen yang sedang tertidur.
"Siapa?"
"Ini aku roh kegelapan?"
Mendengar itu Zen langsung terbangun dari tidurnya. Zen membuka matanya, didepannya seorang gadis kecil sedang berdiri.
"Ah, jadi kau berhasil kembali ketubuhmu ya?"
"Ya, meskipun rasanya masih tidak terlalu nyaman."
Itu adalah hal yang normal jika roh kegelapan masih belum dapat mengontrol tubuhnya sepenuhnya. Dia sendiri Selama 500 Tahun hidup tanpa memiliki tubuh. Itu adalah waktu yang sangat lama, bahkan dengan dia dapat berjalan saja sudah merupakan keberuntungan yang besar.
"Ngomong ngomong sudah berapa lama aku tertidur?"
"Entahlah, aku juga kurang tau. Aku sendiri baru saja terbangun."
Zen melihat lihat daerah sekitar ruangan itu, pecahan pecahan kristal berada dimana mana. Pecahan pecahan itu perlahan lahan mulai menghilang.
"Zen, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apakah tadi kau bermimpi?"
Roh kegelapan bertanya kepada zen dengan penuh rasa penasaran. Melihat roh kegelapan dengan tubuh kecilnya menunjukan ekspresi penuh penasaran, Zen pun tidak memiliki pilihan selain menjawab pertanyaannya.
"Iya, kurasa aku tadi bermimpi."
"Heh? Mimpi seperti apa itu?"
"Sebuah mimpi mengenai masa lalu yang tidak menyenangkan."
"......"
"Sudahlah, berhenti membahas itu. Kita harus segera pergi keluar dari sini. Lagipula urusan kita sudah selesai."
"Baiklah."
__ADS_1
Zen pun keluar dari ruangan itu dengan roh kegelapan yang telah mendapatkan kembali tubuhnya. Mereka pergi melewati jalan menuju kekamar Zen.