
Zen naik keatas arena bersamaan dengan pria muda yang menjadi lawannya.
"Pertandingan ke 3 mulai."
Pertandingan ke 3 antara Zen dan pria muda itu akhirnya dimulai.
"Silahkan menyerang duluan. Dan karena kau seorang pengguna energi spiritual aku tidak akan menggunakan sihirku."
"Apa kau meremehkanku?"
"Itu tergantung bagaimana kau menilainya."
Apakah perkataan Zen adalah sebuah penghinaan atau sebuah berkah yang dapat membuat dirinya lebih dekat akan kemenangan, itu semua terserah pria muda.
"Kalau begitu aku akan menyerang mu sesuai dengan apa yang kau inginkan."
Pria muda itu lalu mengeluarkan pedang miliknya. Pria itu lalu mengarahkan pedangnya kearah Zen.
"Dentuman pedang."
Pedang itu mengeluarkan sebuah gelombang angin yang sangat kuat kearah Zen.
"Perisai air."
Gelombang angin itu mengenai perisai air itu dan langsung menghilang.
"Teknik yang cukup bagus, namun teknik ini memiliki lawan yang tidak akan dapat dia kalahkan."
Air adalah musuh yang sangat kuat untuk teknik ini, karena di dinding air tidak ada celah sedikitpun untuk angin dapat lewat.
"Kalau begitu bagaimana dengan teknik ini."
Pria itu dengan cepat menuju kearah Zen dan mengayunkan pedang miliknya. Ayunan pedang pria itu sangat cepat, meski begitu bukan berarti Zen tidak dapat melihat gerakan pedangnya.
Dihadapan Zen, ayunan pedang itu tidak terlihat jauh berbeda dengan ayunan pedang yang acak. Zen lalu melihat sebuah celah dan langsung memegang pedang itu dengan sangat kuat menggunakan kedua jarinya.
"Ini cepat namun sangat lemah."
Setelah dia bereinkarnasi Zen masih belum pernah bertemu dengan seorang pengguna pedang dengan kemampuan yang seimbang. Kebanyakan dari mereka memiliki ayunan Pedang yang sangat kuat Namun sangatlah lambat, serangan yang seperti itu tidak akan berguna jika musuh dapat menghindarinya dengan mudah.
Sedangkan pria yang ada didepan Zen ini memiliki ayunan pedang yang cepat namun lemah, tidak ada gunanya jika serangan cepat namun tidak dapat meninggalkan sebuah luka yang fatal.
Pria muda itu menarik pedang miliknya sekuat tenaganya, namun dia masih tidak dapat menariknya dari Zen. Pada akhirnya Zen melepas pedang itu dan pria itu langsung mengambil jarak.
"Apa kau ingin melihat kemampuan berpedang ku?"
"Apa kau bisa menggunakan pedang?"
__ADS_1
"Tentu saja aku bisa. Meski aku hebat dalam sihir namun senjata utama ku adalah pedang."
"Kalau begitu izinkan aku untuk dapat melihatnya."
Zen hendak mengeluarkan pedang miliknya, namun dia langsung teringat. Pedangnya saat ini adalah pedang yang merupakan salah satu dari 10 senjata terkuat.
Akan sangat tidak mengenakan bagi dirinya jika dia menggunakan pedang itu untuk melawan seorang yang berada dialam dewa abadi lapis ke 3.
Meski begitu pedang tingkat suci atau semi ilahi miliknya berada didalam cincin penyimpanannya, dan cincin itu telah dia berikan kepada Ling Hao.
"Ada apa? Apa perkataanmu tadi hanyalah sebuah lelucon?"
"Hahh, sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain."
Zen lalu mengeluarkan sebuah pedang epic dari ruang penyimpanan miliknya.
"Bukankah kau bilang senjata utama mu adalah pedang, namun apa apaan dengan pedang itu?"
Untuk mengimbangi kekuatan sendiri bahkan seorang yang berada ditingkat Viscount biasanya menggunakan senjata tingkat semi ilahi.
"Apa kau merendahkanku?"
Pria itu menjadi sedikit kesal, pedang epic adalah pedang tingkat rendah. Pedang seperti itu bahkan tidak akan dapat melukai tubuh seseorang yang berada dialam dunia dewa.
"Untuk saat ini hanya pedang ini yang cocok untuk kugunakan melawanku."
"Tentu saja aku memilikinya, namun kekuatan mu sangat lemah hingga membuatku tidak perlu mengeluarkan pedang itu. Untuk sekarang cobalah untuk bertahan dari serangan ku."
Zen dengan cepat mengayunkan pedangnya, ayuna pedang itu membuat sebuah tekanan angin yang sangat kuat.
"Ah, sudah retak. Mungkin aku hanya bisa menggunakannya sekitar satu kali lagi."
Sebuah retakan yang besar muncul dipedang Zen, retakan itu muncul karena pedang itu tidak dapat menahan kekuatan yang Zen gunakan.
Zen kembali mengayunkan pedangnya dan pedang itu langsung patah. Zen dengan cepat mengeluarkan lagi sebuah pedang tingkat epic dan kembali mengayunkan pedangnya.
"Ada apa, apa kau sudah ingin menyerah?"
Zen terus mengayunkan pedang miliknya dan menggantinya ketika patah.
Akibat dari tekanan angin yang dihasilkan oleh ayunan pedang Zen, pria itu mengalami kesulitan untuk mendekati Zen. Bahkan akibat tekanan angin itu, tubuh tubuhnya menerima beberapa luka.
"Teknik pedang apa ini?"
"Ini bukanlah sebuah teknik, ini hanyalah sebuah serangan acak."
Sejak awal Zen sama sekali masih belum menggunakan teknik berpedangnya, dia hanya mengayunkan pedangnya secara acak saja.
__ADS_1
"Bukankah kau mengatakan ingin memperlihatkan sebuah teknik berpedang kepadaku?"
"Kurasa aku tidak perlu melakukan hal itu, bahkan hanya dengan serangan angin ini saja kau sudah kesulitan untuk menyerangku."
Zen berhenti mengayunkan pedangnya, sudah 5 pedang epic yang dia hancurkan.
"Bagaimana, apa kau akan menyerah?"
"Tidak, aku akan melawanmu sampai aku tidak mampu mengayunkan pedangku lagi."
"Kau sangat keras kepala, kalau begitu biar kutunjukan perbedaan kekuatan kita."
Zen mengeluarkan satu pedang lagi, Zen lalu mengangkat pedang itu.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Bukankah kau ingin melihat teknik berpedang ku, kalau begitu biar kutunjukan padamu. Teknik kekosongan, gerakan pertama."
Zen mengayunkan pedangnya kebawah dan sebuah ledakan yang besar tercipta. Ledakan itu membuat banyak debu yang berterbangan, para penonton dan pengawas pertandingan tidak dapat melihat apa yang terjadi diarena.
Setelah beberapa saat debu debu yang berterbangan akhirnya menghilang, para pengawas itu lalu terkejut dengan apa yang mereka lihat. Arena pertandingan yang telah dilapis berbagai macam penghalang kini telah hancur hanya karena satu teknik dari Zen.
"Bukankah dia berada ditingkat Marquess kelas bawah, bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan arena itu."
Dengan berbagai penghalang yang diarena itu, hanya kekuatan seseorang yang berada ditingkat Duke kelas menengah atau seorang yang berada dialam penguasa dunia lapis ke 5 yang dapat menghancurkan arena itu.
"Kekuatan yang luar biasa, aku akan mengangkat dirinya menjadi muridku."
Seseorang yang melihat kehancuran yang disebabkan oleh Zen itu tertarik untuk membuat Zen menjadi muridnya.
Disisi lain Zen melihat pedang yang ada ditangan hancur menjadi seperti butiran debu. Zen lalu melihat kesekitarnya dan mencari pria muda itu, Zen akhirnya menemukan pria muda itu yang berada pinggiran arena.
"Apa kau akan menyerah? Dengan tubuh yang seperti itu mustahil bagimu untuk dapat melanjutkan pertandingan."
Tubuh pria itu memiliki banyak luka, luka luka itu mungkin memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat sembuh.
"Aku menyerah."
Meski dia keras kepala namun pria itupun tau, kalau kekuatan antara dirinya dengan Zen sangatlah jauh. Kemungkinan dirinya untuk mengalahkan Zen dengan tubuh penuh luka adalah mustahil.
"Kau beruntung hanya terkena gelombang kejutnya saja."
Jika pria itu terkena serangan pedang Zen secara langsung tubuhnya pasti akan hancur menjadi banyak bagian.
"Pertandingan ke 3 selesai."
Pertandingan antara Zen dan pria itu berakhir dengan Zen sebagai pemenangnya, dan karena arena mengalami kerusakan yang sangat parah para pengawas ujian memutuskan menunda pertandingan untuk sementara.
__ADS_1