Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Seni Kekosongan


__ADS_3

"Duan Jie, bisakah kau memberitauku letak benua kerajaan dewa yang kau katakan itu?"


"Tidak masalah, tapi apa kau ingin pergi kesana?"


"Iya, aku harus pergi kesana. Apa cukup sulit untuk dapat pergi kebenua itu?"


Zen saat ini membutuhkan tempat yang memiliki energi spiritual yang banyak, energi spiritual yang ada digunung ini sendiri tidak lagi dapat membantu Zen untuk menyerap pecahan kekuatan miliknya.


"Tidak, kau bisa menumpangi kapal orang lain untuk pergi kesana."


"Kalau begitu dimana aku dapat menemukan kapal itu?"


"Pergilah ke Utara, disana terdapat sebuah pelabuhan. Dengan kekuatanmu saat ini kau mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari, hanya saja...."


Duan Jie berhenti berbicara, dia sedikit ragu dengan apa yang akan dia katakan.


"Hanya saja?"


"Bagaimana dengan muridmu itu, apa yang akan kau lakukan?"


"Untuk saat ini aku akan membawanya."


"Begitu ya, kalau begitu kau mungkin akan membutuhkan waktu lebih dari 10 hari."


Perbedaan kekuatan antara Zen dan Lin Yan sangatlah jauh, jadi jika Zen melakukan perjalanan dengan Lin Yan maka dia akan membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada yang seharusnya.


Mengapa tidak kau biarkan dia masuk kesebuah sakte, jika kau mau aku bisa saja memasukannya kedalam sebuah sakte."


"Tidak usah, untuk saat ini dia akan terus bersama ku."


Zen sebenarnya juga berniat untuk memasukkan Lin Yan kedalam sebuah sakte, namun tidak sekarang. Zen tau bagaimana cara sakte menempa muridnya. Berbeda dengan academi, sakte jauh lebih mematikan.


Kekuatan Lin Yan sekarang masih sangat lemah, dia akan mengalaminya sangat banyak kesulitan nantinya jika masuk ke sakte sekarang. Karena itulah sampai waktunya tiba Zen akan terus melatih Lin Yan.


"Begitu ya, jadi kapan kau akan pergi kesana?"


"Sekarang."


"Sekarang?"


"Iya, karena itulah aku berterima kasih atau bantuanmu padaku. Maaf karena tidak dapat memberikanmu apa apa."


Semua pil yang Zen miliki akan dia berikan untuk Lin Yan, sedangkan pedangnya saat ini hanya tinggal suci yang tersisa. Pedang itu sendiri akan Zen gunakan karena pedang ilahi nya telah patah pada saat menahan Serangan kehendak dunia.

__ADS_1


Sedangkan untuk Teknik/ Ilmu Zen tidak dapat memberikan kepada Duan Jie karena dia telah terlalu banyak teknik kepada banyak orang.


"Tidak masalah, lagi pula aku mendapatkan sebuah pencerahan setelah bertemu dengan mu."


Setelah melihat Zen menerima malapetaka miliknya, Duan Jie jadi mempelajari sesuatu. Sekarang dia tau kalau tingkatan kultivasi bukanlah segala, meskipun tingkatan kultivasi adalah membedakan antara mereka yang kuat dan yang lemah.


Setelah bertemu dengan Zen, Duan Jie menyadari kalau didunia ini ada orang dengan kekuatan besar dengan tingkatan kultivasi yang rendah.


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Terima kasih atas kebaikamu Duan Jie."


Zen segera pergi keluar rumah itu dan menuju ketempat Lin Yan berada.


"Dia benar benar seorang monster."


Seperti itulah pandangan Duan Jie kepada Zen, meski Zen berada dialam Dewa lapis pertama namun kekuatannya telah lebih kuat dari pada orang orang yang ada dialam dunia dewa lapis ke 4.


Jauh dari dalam lubuk hatinya Duan Jie sama sekali tidak ingin bertarung melawan Zen.


Disisi lain Zen telah hampir sampai ketempat Lin Yan berada, Zen dapat melihat Lin Yan telah berhenti bermeditasi dan dia sedang menggunakan pedang miliknya untuk memotong sebuah pohon.


Lin Yan sama sekali tidak menyadari kehadiran Zen, dan Zen juga ingin melihat apa kekuatan yang akan Lin Yan gunakan untuk memotong pohon itu.


Lin Yan mengangkat pedang miliknya dan memusatkan tenaga miliknya, seperti menggunakan sebuah tombak Lin Yan menusukkan pedang miliknya kepohon yang ada didepannya itu.


'seni kekosongan, gerakan pertama.'


Seni berpedang kekosongan adalah teknik yang Zen buat sendiri, teknik ini terdiri dari 7 gerakan, dari gerakan 1 sampai ke 4 adalah sebuah gerakan yang tidak jauh berbeda dengan teknik pedang yang lainnya.


Sedangkan gerakan ke 5 sampai ke 7 adalah gerakan yang dapat mengirimkan efek serangan lawan kedunia Medan perang. Untuk dapat menggunakan teknik ini yang paling dibutuhkan bukakan bakat, melainkan keberuntungan dan keinginan yang kuat.


Dalam menggunakan semua gerakan itu tidak boleh ada keraguan dalam menggerakkan pedang, dengan begitu kekuatan penuh teknik seni kekosongan akan dapat digunakan.


'hatinya masih dipenuhi oleh keraguan ya.'


Lin Yan masih memiliki keraguan saat dia mengayunkan pedangnya, karena itulah hanya beberapa pohon saja yang dapat dia hancurkan.


Zen lalu berjalan kearah Lin Yan, Lin Yan yang menyadari kedatangan Zen langsung menurunkan pedang miliknya.


"Sangat buruk Lin Yan. Biar ku tunjukkan bagaimana cara menggunakan teknik ini dengan benar."


Zen lalu mengeluarkan sebuah pedang tingkat epic.


"10 persen mungkin sudah cukup."

__ADS_1


Zen lalu mengambil kuda kuda untuk melakukan gerakan pertama dari teknik seni kekosongan. Zen lalu langsung mengerakkan pedangnya dan dalam radius 100 lebih semua yang ada didepan Zen telah hancur tak tersisa.


"Begitulah cara yang benar Lin Yan. Tapi untuk orang yang baru saja belajar apa yang kau capai adalah sesuatu yang luar biasa."


Zen lalu tersenyum kepada Lin Yan dan mengelus kepalanya.


"Apakah kau tidak berbohong?"


"Iya, tadi itu adalah sesuatu yang luar bisa Lin Yan."


Mendengar perkataan Zen Lin Yan langsung tersenyum halus kepadanya.


Zen lalu melihat kearah pedangnya, terdapat banyak retakan pada pedang itu.


'Ternyata memang tidak kuat ya.'


Pedang itu kemudian hancur berkeping -keping, itu adalah efek dari teknik seni berpedang kekosongan. Selain keinginan yang kuat teknik ini juga membutuhkan sebuah pedang yang kuat.


Jika pedang yang digunakan adalah pedang tingkat rendah maka hasilnya akan menjadi seperti pedang Zen, pedang itu akan hancur bahkan hanya karena menggunakan 10 persen dari kekuatan penuhnya.


'yah terserahlah, lagi pula aku akan jarang menggunakan teknik ini.'


Zen lalu langsung membuang pedang itu.


"Ayo kita pergi Lin Yan."


"Heh, kemana kita akan pergi?"


"Turun kebawah."


"Bagaimana dengan Duan Jie?"


"Aku telah berbicara padanya tadi, jadi ayo pergi."


Menuruti perkataan Zen, Lin Yan langsung berjalan mengikuti Zen. Mereka terus berjalan menuruni gunung, tidak lama mereka berjalan Zen akhirnya menemukan apa yang dia cari.


Didepan mereka berdiri seekor monster yang memiliki bentuk sebuah macan putih.


"Lin Yan, sekarang kau harus membunuh monster itu."


"Tapi aku masih sangat lemah."


Zen tidak mendengarkan apa yang Lin Yan katakan, dia langsung pergi sebuah pohon dan meninggalkan Lin Yan. Dari atas pohon itu Zen akan menyaksikan bagaimana cara Lin Yan akan membunuh macan putih itu.

__ADS_1


__ADS_2