Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Mahkota Amarah


__ADS_3

"Apa yang kau katakan Rubia, Tentu saja aku memiliki emosi. Hanya saja...."


"Hanya saja tidak ada alasan bagimu untuk peduli dengan mereka. Aku benar bukan?"


"Kau mengetahui diriku dengan baik Rubia."


"Kita telah bersama selama ribuan tahun, tentu saja aku tau kau tidak akan pernah peduli dengan orang lain kecuali mereka membuatmu tertarik."


Zen hanya tertarik kepada beberapa orang tertentu. Seperti ketertarikan Zen kapada Lin Yan, Zen akan menghancurkan semua yang dapat menghalangi atau menggangu Lin Yan bahkan jika itu adalah kehendak dunia sekalipun.


Dan Zen akan menjaga Lin Yan sebaik mungkin dan membuatnya menjadi orang yang dapat berdiri dengan kekuatan sendiri.


"Ngomong ngomong Rubia, bukankah kau mengambil semua pecahan kekutanku diberbagai dunia. Namun mengapa aku sama sekali tidak pernah melihatmu didunia tempat aku dilahirkan?"


"Aku sudah datang kedunia itu, namun berbeda dengan dunia yang lain didunia itu aku bertemu dengan salah satu pecahan jiwa Theresia."


"Lalu apa hubungannya dengan hal itu?"


"Kau tau, dia mengatakan padaku untuk tidak ikut campur kedalam rencananya. Saat itu dia bahkan mengancam akan menghancurkanku, aku sangat ketakutan pada saat itu."


"Lelucon macam apa itu, sejak kapan kau merasa takut kepada Theresia yang selalu kau anggap sebagai seorang gadis kecil."


"Dulu dia memang seorang gadis kecil yang manis, namun karena perbuatan seseorang dia menjadi seorang yang sangat mengerikan."


Rubia melihat kearah Zen seolah olah dia sedang menyindirnya.


"Hah, sudahlah katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"


"Apa yang kukatakan itu memang benar kecuali yang aku Merasa takut kepadanya. Pada saat itu aku menyetujui apa yang dia inginkan, dia memberikan ku beberapa informasi dan sebagai gantinya aku akan memberikan sebuah berkah kegelapan pada sebuah pedang dan beberapa roh kecil."


Pedang dengan berkah kegelapan itu adalah pedang terkutuk yang ada dimenara Ai. Para roh yang Rubia maksud adalah para roh yang Zen temui dimenara Ai.


"Jadi begitu ya. Pada akhirnya semua berjalan seperti yang Theresia inginkan."


"Aku sudah menjawab semua yang kau tanyakan, sekarang giliran ku yang yang bertanya."


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Biasanya ketika seseorang mati kekuatan mereka akan langsung menghilang, namun mengapa kekuatanmu malah tersebar keberbagai dunia setelah kau mati?"


"Ah itu ya, itu karena sihir yang kubuat memungkinkan untuk hal itu terjadi."


Dulu Zen sangat sering membuat sihir dan jurus seni beladiri yang berguna untuk dirinya. Seperti seni pedang kekosongan dan sihir untuk membuat dirinya dapat memberikan sihir dan ilmu kepada orang lain.


"Sihir seperti apa itu?"


"Yah mungkin lebih mudah jika mengatakan kalau sihir itu memiliki kekuatan yang hampir sama dengan mahkota reinkarnasi."

__ADS_1


Mahkota reinkarnasi memiliki kekuatan yang dapat membuat penggunanya dapat memiliki semua ingatannya begitu dia terlahir kembali. Namun bedanya mahkota reinkarnasi hanya dapat membuat pemiliknya hanya memiliki ingatannya saja bukan kekuatannya.


Zen sediri bukanlah seorang jenius, untuk mendapatkan kekuatan yang besar Zen telah mengalami berbagai penderitaan dan perjuangan.


Sihir itu sendiri Zen buat dengan tujuan agar dia tidak lagi perlu merasakan hal itu ketika dia mati dan terlahir kembali.


"Kapan kau membuat sesuatu yang seperti itu? Aku bahkan tidak dapat mengetahuinya."


"Hmmm, kurasa itu sekitar beberapa tahun sebelum Xia Shuang terlahir."


"Apa itu berarti Theresia juga dapat menggunakan sihir itu?"


"Iya, hanya saja milik Theresia adalah versi yang paling tidak sempurna. Sedangkan punya ku adalah versi yang hampir sempurna."


Karena sihir itu belum sempurna saat Zen menggunakannya semua kekuatannya menjadi terpecah dan menyebar keberbagai dunia.


"Jadi itu alasan mengapa dia tidak pernah dapat mengingat apa yang pernah terjadi padanya."


"Iya, untuk kasusnya dia hanya akan mendapatkan kekuatannya namun tidak dengan ingatannya."


Rubia akhirnya dapat mengetahui apa yang selama ini selalu dia pikirkan, dia akhirnya tau mengapa Zen tidak pernah berlatih selama ribuan tahun.


Rubia lalu melihat Ciel yang hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Kau sepertinya tidak terkejut dengan apa yang Zen katakan Ciel."


"Apa? Apa benar itu Ciel?"


Ciel hanya dia tanpa mengatakan apapun, jauh didalam Lubuk hatinya Ciel menyesal karena telah membantu Zen dalam menciptakan sihir itu.


Penyesalan itu bukan karena sihir itu terlalu kuat, namun sihir itu membuat Zen terus menerus menderita dalam waktu yang lama.


"Sudahlah jika kau tidak ingin menjawabnya. Ah iya Zen, ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu lagi."


Rubia mengeluarkan sebuah mahkota dari dalam tubuhnya dan memberikannya kepada Zen.


"Ini..... Mahkota amarah?"


Didunia ini ada 123 mahkota, 58 adalah untuk para pengguna mana. Para pengguna mana yang memiliki mahkota akan disebut sebagai king. Juga 58 untuk para pengguna energi spiritual, para pengguna energi spiritual yang memiliki mahkota disebut dengan para pejuang surga.


Sedangkan 7 sisanya adalah untuk orang yang bisa menggunakan mana dan energi spiritual. Ke 7 mahkota itu memiliki kekuatan yang mewakili 7 dosa besar yaitu dosa Amara, iri, nafsu dan dosa lainnya.


Didunia ini Zen adalah satu satunya orang yang memiliki 3 mahkota sekaligus, namun dengan memiliki 3 mahkota itu bukan berarti Zen adalah yang terkuat.


"Iya, aku akan mengembalikan kepadamu."


Zen mengambil mahkota itu dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Kupikir mereka telah mendapatkan mahkota ini. Berarti 2 yang lainnya berada ditangan mereka ya."


"Tidak, mereka tidak mendapatkan satu mahkota pun."


"Hmmm, bagaimana mungkin?"


"Sama seperti kekuatan milikmu, setelah kematianmu ke 3 mahkotamu pergi keberbagai dunia."


"Kalau begitu dimana 2 yang lainnya?"


"Yang satu ada pada Ciel, dan yang satunya lagi ada pada anakmu Xia Shuang."


"Xia Shuang ya, kurasa aku akan mengunjunginya dalam waktu yang tidak lama lagi."


"Lakukanlah sesukamu. Bagaimana denganmu Ciel, apa kau tidak akan memberikan mahkota itu?"


"Kekuatannya yang sekarang masih belum cukup untuk dapat menggunakan mahkota itu, untuk sekarang aku akan menyimpannya."


Ciel lalu menghilang dari tempat itu dan kembali ke dunia roh.


"Yah dia tidak memiliki niat yang buruk, malahan dia selalu melakukan yang Tarbaik untuk dirimu."


"Aku tak itu, namun aku berharap dia segera melupakan apa yang telah terjadi pada saat itu."


Sikap Ciel kepada Zen bukanlah sesuatu yang terjadi sejak awal. Sikap itu muncul setelah sebuah kejadian ribuan tahun yang lalu, pada saat itu api yang besar membakar sebuah rumah.


Ciel hanya bisa melihat tanpa dapat melakukan apapun, api itu merenggut sesuatu yang sangat berharga bagi Zen dan Zen mengalami penderitaan selama ribuan tahun. Semenjak saat itu Ciel selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Zen.


"Kuharap juga begitu."


Rubia tau kalau tidak akan mudah bagi Ciel untuk melupakan apa yang terjadi pada saat itu, namun dia berharap agar Ciel melupakan hal itu dan kembali maju.


"Kalau begitu aku akan pergi juga Zen."


"Ah tunggu, bawalah ini Rubia."


Zen memberikan mahkota amarah miliknya.


"Seperti yang kau dengar barusan, kekuatan ku masih belum cukup untuk dapat menggunakan mahkota itu. Jadi lebih baik kau menyimpannya daripada itu direbut oleh mereka."


"Baiklah aku akan menyimpannya untuk sekarang."


Rubia mengambil kembali mahkota itu dia langsung menghilang dari tempat itu.


"Aku hampir lupa apa yang ingin kulakukan."


Zen berjalan menuju pedangnya, karena kedatangan Ciel Zen jadi menunda mengambil pedangnya.

__ADS_1


Zen lalu memegang pedang itu dan langsung mencabutnya.


__ADS_2