
Kufa, Accua dan Sieg telah dikalahkan oleh Zen hanya dalam beberapa gerakan. Tepat sebelum Zen memukul Accua, Zen mendengar suara seorang perempuan yang menyuruhnya untuk berhenti.
Zen melihat kearah suara itu berasal, disana dia melihat seorang perempuan dengan rambut berwarna pirang. Perempuan itu memiliki wajah yang cantik dengan mata yang berwarna biru langit.
Melihat perempuan itu Zen sedikit tersenyum kecil, bagaimanapun juga Zen sangat mengenal perempuan itu. Zen kemudian menghilangkan penghalang yang dia buat dan mulai berbicara dengan perempuan itu.
"Lama tidak berjumpa Ziyun."
Perempuan itu adalah Ziyun, dia adalah perempuan yang Zen selamatkan pada saat Zen baru memulai perjalanan untuk melaksanakan rencananya.
"Lama tidak berjumpa Zen."
Ziyun berkata kepada Zen sambil terengah engah. Jika dilihat dari caranya bernapas, maka dapat ditebak kalau dia datang dengan berlari dengan terburu buru.
"Dengan adanya kau yang masih hidup berarti Baal menepati janjinya kepadaku."
Kesepakatan yang dibuat oleh Zen dan Baal adalah Baal akan menjaga Ziyun selama beberapa saat dan sebagai bayarannya Zen memberikan Baal beberapa gulungan sihir.
"Tidak kusangka kita akan bertemu secepat ini Zen."
Ziyun berjalan menuju kearah Zen, namun sebelum Ziyun mendekati Zen, Kufa menyuruhnya untuk berhenti.
"Berhenti disitu Ziyun! Jangan mendekatinya, dia adalah musuh. Dia adalah leluhur pertama vampire."
Kufa berbicara kepada Ziyun sambil terbatuk batuk karena ditubuhnya saat ini terdapat beberapa luka.
Mendengar perkataan Kufa, Ziyun pun menghentikan langkah kakinya. Bukan berarti Ziyun mempercayai apa yang Kufa katakan. Ziyun berhenti berjalan hanya karena dia tidak menyukai apa yang baru saja Kufa katakan.
Ziyun kemudian melihat kearah Kufa, dan Ziyun bertanya kepada Kufa.
"Apa maksud dari perkataamu barusan?"
Tatapan tajam Ziyun menuju kearah Kufa, itu bukanlah sebuah tatapan biasa. Itu juga bukanlah tatapan yang biasa perempuan gunakan, hanya dengan melihat tatapan itu saja Kufa dapat tau kalau Ziyun sangat mempercayai Zen.
"Seperti yang kubilang sebelumnya, dia adalah leluhur pertama vampire. Dia bukanlah manusia, dia adalah musuh."
"Hentikan candaanmu, bahkan jika kau adalah orang dari istana kekaisaran aku tetap akan membunuhmu jika kau mengatakan sesuatu yang seperti itu kepadanya."
Tatapa Ziyun menjadi lebih tajam dari sebelumnya, matanya yang berwarna biru kini menjadi berwarna merah. Niat membunuh keluar dari tubuh Ziyun, Ziyun kemudian mengangkat tanganya kedapan. Puluhan lingkaran sihir kecil terbentuk disamping kiri dan kanan Ziyun.
'Apakah itu kekuatan dari Roh cahaya?'
__ADS_1
Itu bukanlah kekuatan yang bisa didapatkan oleh manusia dalam waktu singkat. Karena itulah Zen berfikir kalau itu adalah kekuatan dari roh cahaya yang ada didalan tubuh Ziyun.
Situasinya menjadi sangat buruk, ratusan anak panah cahaya siap dikeluarkan menuju kearah Kufa. Jika Kufa tidak menyiapkan alasan sekarang maka dia pasti akan mati jika terkena anak panah cahaya itu dengan tubuh yang terluka.
"Jika kau tidak percaya padaku mengapa kau tidak bertanya kepada tentang apa yang kukatakan? Aku yakin dia tidak akan berbohong padamu."
Kufa memberikan saran kepada Ziyun. seperti yang Kufa katakan, Kufa yakin kalau Zen tidak akan berbohong jika Ziyun bertanya kepadanya. Itu karena dari yang dilihat oleh Kufa, Zen sama sekali tidak peduli dengan kehidupan manusia. Jadi tidak ada alasan bagi Zen untuk berbohong.
"Saya rasa kau ada benarnya juga."
Ziyun jadi lebih tenang, dia menghilangkan semua lingkaran sihir yang berada disamping kiri dan kanannya. Warna matanya juga telah kembali menjadi berwarna biru langit.
Ziyun kemudian melihat kearah Zen, disana Ziyun dapat melihat Zen sedang tersenyum kecil. Bagi Ziyun itu mungkin adalah sebuah senyuman yang halus, namun jika yang melihat senyuman itu adalah Irene atau Argares maka mereka akan dapat melihat kelicikan dari senyuman itu.
"Jadi Zen, apakah yang dia katakan itu benar?"
Zen hanya diam mendengarkan apa yang Ziyun katakan. Ziyun beberapa kali menanyakan hal itu, namun Zen masih juga diam. Hingga Ziyun mengambil kesimpulan kalau apa yang dikatakan oleh Kufa adalah kebohongan.
"Jadi kau berbohong pada padaku Kufa. Mengapa kau berkata..... "
"Ziyun, apa yang dia katakan itu benar."
Sebelum Ziyun dapat menyelesaikan perkataanya, Zen langsung memotongnya. Ziyun kaget dengan apa yang Zen katakan.
"Itu benar Ziyun, apa yang dia katakan itu benar. Aku bukanlah seorang manusia."
"Bagitu ya? Tapi itu tidak masalah bagiku, tidak peduli apa rasmu aku akan tetap mengikutimu."
"Tapi aku tidak membutuhkanmu Ziyun."
"Apa yang kau kata.... Kan?"
Wajah Ziyun menjadi sedikit kaku, Ekspresinya mengatakan kalau dia tidak percaya dengan apa yang Zen katakan.
"Seperti yang kubilang, aku tidak membutuhkanmu."
Ekspresi Ziyun semangkin menunjukan kalau dia tidak pecaya dengan apa yang Zen katakan.
"Mengapa?"
"Apanya?"
__ADS_1
"Mengapa saat itu kau menyelamatkanku? Kau bahkan memberikanku harapan untuk hidup?"
Pada saat itu setelah kehilangan keluargannya Ziyun hanya menginginkan kematian, namun Zen menyelamatkan dirinya. Zen bahkan memberikan harapan dan alasan bagi Ziyun untuk tetap hidup. Karena itulah Ziyun dapat hidup sampai dengan hari ini.
"Ah pada saat itu ya? Apa kau benar benar ingin mendengarkan alasannya?"
"Iya, aku ingin mendengarnya."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengatakannya padamu. Waktu itu, pada saat aku melihat dirimu aku merasa seperti melihat diriku yang dulu. Pada saat itu juga aku merasakan sedikit emosi pada diriku, aku berfikir kalau mungkin aku akan mendapatkan kembali emosiku jika bersamamu. Namun ternyata tidak, aku bersamamu cukup lama didalam menara itu dan aku juga tidak merasakan emosiku kembali. Jadi aku memutukan untuk membuangmu karena kau tidak berguna bagiku."
Ekspresi Ziyun menjadi terlihat sangat putus asa. Ziyun merasa kalau dia seharusnya dia tidak mendengarkan apa yang seharusnya tidak dia dengarkan.
Bagi Zen, Ziyun hanyalah objek yang mungkin dapat mengembalikan emosinya yang hilang. Namun Ziyun tidak dapat memberikan apa yang Zen inginkan, karena itulah Zen membuangnya.
Bagi Zen emosinya adalah yang terpenting, bahkan alasan dia memulai perang besar ini adalah untuk mendapatkan kembali emosinya.
"Lalu untuk apa kau memberikanku waktu satu tahun untuk berlatih?"
Sebelum pergi Zen meninggalkan surat untuk Ziyun, disana tertulis kalau Zen memberikan waktu satu tahun untuk Ziyun berlatih. Setelah satu tahun Zen akan kembali untuk menjemput Ziyun.
"Itu adalah waktu hidupmu. Karena aku telah menyelamatkanmu maka setidaknya kau harus hidup selama satu tahun meski aku tidak membutuhkanmu.
Lagi pula jika aku begitu saja meninggalkanmu, maka kau pasti akan pergi mencariku. Karena itulah aku membuat Marie melatihmu, dengan begitu kau tidak akan langsung mencariku karena aku telah mengatakan kalau aku akan menjemputnya satu tahun kemudian."
Ziyun menjadi lebih putus asa dari sebelumnya, lututnya yang tadinya lurus kini menyentuh tanah. Matanya yang berwarna biru langit kini menjadi biru gelap, seolah olah hanya ada kekosongan yang terpancarkan oleh mata itu. Air matanya terus keluar tanpa henti, bahkan tanpa dia sadari.
Kufa yang melihat semua itu merasa kalau hal itu tidak boleh berlangsung lebih lama lagi.
"Dasar Kau Breng*ek, apa kau tau dengan apa yang telah lakukan? Aku akan membunuhmu sekarang!!"
Dengan tubuh yang penuh luka Kufa memaksakab diri untuk berdiri, dia bahkan merasakan rasa sakit yang luar biasa dari tubuhnya.
Kufa mengangkat pedang miliknya, dia tidak dapat bergerak dengan cepat. Dengan darah yang terus keluar Kufa berjalan menuju kearah Zen.
Zen tidak memperdulikan apa yang Kufa lakukan, Zen menatap Kufa dengan tatapan yang merendahkannya.
"Keluarlah Satein."
Untuk sesaat Zen dapat merasakan energi yang sangat besar terkumpul diatas langit. Zen kemudian mengeluarkan pelayan kedelapan miliknya, pelayan itu memiliki bentuk seorang raksasa. Dengan tubuhnya pelayan itu melindungi Zen.
"Tiamat, Petrius lindungilah pemilik kalian."
__ADS_1
Zen memberikan perintah untuk kedua pelayannya itu, kedua pelayan itu pun keluar. Lalu ratusan tombak hitampun berjatuan dari langit.