
"kau datang lebih cepat dari pada yang kuperkirakan."
Seorang pria dengan sebuah alat musik seperti kecapi langsung berbicara begitu Zen memasuki ruangan.
"Tidak ada alasan bagiku untuk berlama lama diluar sana. Lagi pula bukankah kau yang memintaku untuk kesini Mekai."
Pria itu bernama Mekai Incarna, dia adalah seorang pengguna mana sekaligus pengguna energi spiritual. Dia juga seorang tingkat king pemilik mahkota kekuatan kutukan, dengan kata lain dia sangat ahli dalam mengutuk.
"Pada saat itu aku tidak memiliki pilihan lain"
"Yah terserahmu, jadi bagaimana kau bisa tau kalau aku telah bereinkarnasi?"
"Beberapa tahun yang lalu pedangmu menunjukkan sebuah respon, pada saat itu aku yakin kau telah kembali kedunia. Dan beberapa hari yang lalu respon pada pedangmu semakin kuat, lalu aku melacak keberadaan mu dialam bawah ini. Lalu apa kau tau apa yang pada saat itu aku lihat?"
"Apa yang kau lihat?"
"Yang kulihat adalah seseorang teman lama yang sedang menghancurkan sebuah kota."
"Sebuah kota, kau terlalu melebihkannya Mekai. Pada saat itu hanya setengah kita itu saja yang hancur."
"Meski hanya setengah kota yang hancur, apa kau tau berapa banyak yang mati?"
"Mungkin sekitar ribuan, tapi kebanyakan orang dialam bawah ini berada dialam dunia dewa keatas dan tingkat Baron keatas jadi mungkin lebih sedikit yang mati dari yang kuperkirakan."
Orang orang yang berada dialam dunia dewa atau tingkat Baron keatas pasti tau daya hancur dari sihir Ars Nova.
Jadi sebelum sihir itu meledak kemungkinan orang orang itu telah pergi menjauh dari tempat sihir itu akan meledak. lagi pula orang yang berada dialam bawah ini bukanlah orang orang yang lemah.
"Yah, kau memang benar. Namun menghancurkan setengah kota apa menurutmu tidak terlalu berlebihan?"
"Ayolah Mekai itu hanyalah setengah kota saja, lagi pula kota itu adalah kota yang terkecil dialam bawah ini."
Meski kota itu adalah yang terkecil dialam bawah ini, namun ukuran kota itu sendiri setara dengan sebuah benua yang besar didunia bawah (kecil).
"Yah terserahmu, jadi apa alasanmu menghancurkan kota itu?"
"Pada saat itu aku sedang melawan seorang vampire dengan kekuatan Magea Erebea."
"Hoo, Magea Erebea ya. Sudah lama aku tidak melihat vampire dengan kekuatan itu. Jadi dimana vampire itu sekarang."
"Tubuhnya hancur karena sihir yang dia gunakan."
"Begitu ya, sayang sekali."
"Kau benar, memang sangat disayangkan. Padahal aku ingin mengambil tubuh miliknya."
"Tubuhnya? Apa yang ingin kau lakukan?"
"Bisa kau lihat tubuhku ini?"
"Hmm, tubuhmu?"
Mekai melihat Zen dengan seksama, hanya dalam waktu singkat dia menemukan kejanggalan dalam tubuh Zen. Meski tubuh Zen terlihat seperti tubuh manusia pada umumnya namun ada sesuatu didalamnya.
"Itu tubuh vampire, namun sepertinya bukan tubuh vampire dari lahir."
__ADS_1
"Kau benar, ini hanyalah tubuh vampire yang terbuat dari kekuatanku. Jika aku memurnikan kekuatan itu maka tubuh ini akan kembali menjadi tubuh manusia."
"Lalu apa hubungannya dengan tubuh vampire murni yang kau butuhkan?"
"Masalahnya masih ada beberapa pelayan didalam tubuhku, jadi aku memerlukan sebuah wadah untuk mereka."
Jika Zen memurnikan kekuatan itu sekarang maka ke 3 pelayan yang ada ditubunya itu akan menghilang. Untuk itulah Zen membutuhkan wadah seorang vampire murni dengan tingkat yang tinggi, Zen berencana memasukan jiwa para pelayan itu kedalam tubuh itu.
Dengan begitu Zen dapat memurnikan kekuatan miliknya tanpa menghilangkan para pelayan itu.
"Begitu ya, aku mengerti. Jadi tubuh vampire seperti apa yang kau inginkan?"
"Hmm, jika bisa aku ingin 2 tubuh seorang vampire perempuan pengguna mana yang berada ditingkat Viscount keatas."
"Itu hal yang mudah."
Mekai kali mengeluarkan sebuah kertas dan membakarnya.
"Bawakan aku 2 tubuh vampire perempuan yang berada ditingkat Viscount."
Kertas itu telah sepenuhnya terbakar dan langsung menghilang.
"Siapa yang kau hubungi?"
"Seorang bawahan, dia seharusnya sekarang sedang berada di pandemonium."
"Heh, pandemonium ya."
Pandemonium adalah sebuah menara yang memiliki 99 lantai. Setiap lantai memiliki monster dengan level yang berbeda.
Pandemonium sendiri sangatlah berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi, bahkan seorang yang berada ditingkat Earl masih belum Tentu dapat memasuki lantai ke 60. Jadi mendapatkan tubuh seorang vampire tingkat Viscount seharusnya bukanlah sesuatu yang sulit.
"tempat yang sudah lama tidak kau dengar bukan?"
"Kau benar."
"Jadi apa kau ingin menaikinya setelah sekian lama?"
"Tidak, sekarang aku sama sekali tidak tertarik."
"Apa kau takut Zen?"
"Hahhh, apa kau meremehkanku Mekai?"
"Mungkin saja."
Mekai hanya tersenyum tipis kepada Zen, namun senyuman itu sendiri memiliki arti kalau dia sedang memprovokasi Zen.
"Lupakanlah, aku tidak akan terprovokasi oleh ucapanmu. Saat ini ada sesuatu lebih penting yang harus kulakukan."
"Sepertinya kau menjadi sedikit lebih tenang."
"Bukankah aku selalu tenang?"
"Iya, dalam arti yang lain."
__ADS_1
Tidak lama kemudian seorang pria masuk kedalam ruangan itu dengan membawa 2 mayat dibahunya.
"Tuan ini tubuh yang anda minta."
Pria itu lalu menaruh mayat itu dilantai.
"Bagaimana Zen, apa mereka bisa kau gunakan?"
"Hmm, coba kulihat."
Meski tubuh itu adalah mayat namun Zen masih dapat melihat tingkatan mereka dengan jelas. Yang satu berada ditingkat Viscount kelas atas dan yang satunya dikelas bawah.
"Kurasa ini sudah cukup baik."
"Baguslah. Kau bisa pergi sekarang."
Menuruti perkataan Mekai, pria itupun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ngomong ngomong Mekai, kau tadi ada mengatakan mengenai pedangku bukan? Dimana pedang itu berada sekarang?"
Terkahir kali Zen melihat pedang miliknya ada saat dia menuju kematian. Saat baru mendapatkan semua ingatan miliknya Zen berfikir kalau pedang miliknya pasti telah hancur, namun dia tidak menyangka kalau pedang itu masih ada.
"Apa kau benar benar tidak tau keberadaanya?"
"Aku dapat merasakannya dialam bawah ini, namun aku tidak tau lokasi pastinya. Jadi dimana pedang itu berada?"
Untuk menjawab pertanyaan Zen, Mekai lalu menunjuk kebawah.
"Dibawah?"
"Diruang bawah tanah ini pedangmu tersegel."
"Bagaimana bisa pedang itu berada dibawah sini?"
"Beberapa tahun setelah kematianmu Theresia membawa pedang ini kesini. Dan setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Theresia."
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi kebawah sana, tunjukkan jalannya padaku."
Zen langsung menyimpan mayat 2 vampire itu diruang penyimpanannya.
"Apa kau ingin mencabut pedang itu sekarang?"
"Tentu saja tidak, apa kau pikir dengan kekuatan ku yang sekarang aku dapat menggunakan pedang itu."
"Kurasa tidak."
"Kau mengetahuinya dengan baik, kalau begitu tunjukan jalannya padaku sekarang."
"Kau sangat tidak sabaran."
Mekai kalau berdiri dan membuka sebuah pintu yang tidak terlalu jauh dari tempatnya.
"Ikuti aku."
Zen berjalan mengikuti Mekai menuruni tangga yang ada dibalik pintu itu.
__ADS_1