
"Api abadi? Apa itu?"
Ini adalah pertama kali bagi Grim mendengar nama itu, dan ini juga pertama kalinya bagi Grim melihat api berwarna ungu.
"Seperti namanya, ini adalah api yang tidak akan mati selama tidak ada yang mengendalikannya."
Berbeda dengan api hitam atau api biru, api ini hanya akan mati sesuai dengan kehendak penggunanya. Dan juga api ini tidak mudah untuk menyebar, dengan kata lain jika api membakar 1 pohon maka api ini hanya akan dipohon itu dan tidak akan membakar pohon yang lainnya.
"Dari mana kau mendapatkan api yang berbahaya seperti itu?"
"Dari dunia bawah."
"Dunia bawah?"
Grim lagi lagi mendengar hal yang tidak dia ketahui, dia pernah mendengar tentang surga dan neraka dari gereja namun dia tidak pernah mendengar tentang dunia bawah.
"Tidak ada gunanya aku memberitahu mu, suatu hari nanti kau harus mencaritahunya sendiri."
"Baiklah jika kau berkata seperti itu."
"Sekarang aku akan melelehkannya."
Dengan api kecil itu Zen langsung membakar ke 10 pedang miliknya, dalam waktu singkat ke 10 pedang itu telah meleleh.
"Saatnya menambahkan batu terkuat di dunia ini."
Didunia dengan sistem ini batu yang paling kuat bukankah diamond ataupun Adamantite melainkan batu akashic record.
Zen melelehkan batu itu, dan dengan kekuatan miliknya Zen mencampurkan dengan rata lelehan dari pedang dan batu itu.
Zen kemudian membentuk lelehan itu menjadi sebuah igot, dan dengan kekuatan miliknya juga Zen langsung mendinginkan igot itu.
"Ini Grim, sekarang buatlah menjadi sebuah pedang."
"Haa, aku bahkan tidak tau apakah aku dapat membuatnya menjadi pedang yang lebih baik dari yang sebelumnya atau tidak."
Sambil sedikit mengeluh Grim menerima igot yang Zen berikan.
"Kau tenang saja, aku akan membimbingmu."
Meski Zen tidak dapat menempa, namun dia tau beberapa hal penting dalam menempa.
Zen lalu kembali mengeluarkan api ungu miliknya.
"Sekarang lakukan apa yang aku katakan Grim."
"Baiklah Zen, aku siap untuk memulainya."
"Kalau begitu, pertama panaskan igot itu dengan api ku."
"Baik."
Menuruti perkataan Zen, Grim langsung memanaskan Igot itu dengan api ungu Zen.
Selama pembuatan pedang Zen selalu membimbing Grim. Mulai dari timing memukul palu, waktu memanaskan hingga beberapa hal penting lainnya.
Dibawah bimbingan Zen, Grim telah berkerja keras selama 3 jam lebih. Waktu yang Grim habiskan itu tidaklah sia sia, kerja kerasnya terbayarkan. Pedang yang dia buat telah selesai, pedang itu memiliki warna hitam keabu -abuan.
"Hahaha, akhirnya selesai juga. Meski tidak sesuai dengan harapan tapi cukup lumayan untuk mendapatkan sebuah pedang suci tingkat 4 didunia kecil ini."
Sambil memegangi pedang miliknya Zen tertawa dengan bahagia. Dia lalu mengalirkan mana miliknya kedalam pedang itu, dan sebuah pemberitahuan muncul didepannya.
[Ting!!! sword of void didapatkan.]
__ADS_1
Zen sedikit Tersenyum melihat pemberitahuan itu.
"Apa sudah selesai Zen?"
Dengan nafas yang terengah engah Grim bertanya kepada Zen.
"Ya, sudah selesai. Kerja bagus Grim."
"Hahaha, akhirnya selesai juga. Kalau begitu biarkan aku melihat status pedang ini."
Dengan kemampuan analisa sebagai seorang penempa Grim langsung melihat status dari pedang itu.
[Sword of Void
Damege: 30.000
Durability: 80.000
Class: Senjata suci tingkat 4
Pedang yang terbuat dari 10 pedang tingkat dewa dan pecahan batu akashic record.
Hanya sang penempa dan pengguna yang dapat melihat status pedang.]
"Apa aku salah melihat Zen?"
Grim terkejut dengan status pedang itu, bahkan pedang terkuat yang pernah dilihat oleh Grim masih jauh dibawah pedang ini.
"Tentu saja tidak, mungkin ini adalah hasil tempaanmu yang terbaik Grim. Dan sebagai rasa terima kasihku aku akan memberikan beberapa hadiah kecil untukmu."
Zen mengeluarkan beberapa pecahan batu akashic record, dan dia lalu menyentuh dahi Grim.
Beberapa informasi kecil langsung memasuki pikiran Grim, informasi itu adalah sebuah pengetahuan yang tidak akan bisa didapatkan Grim jika dia terus berada di dunia ini.
"Zen, ini..."
"Baiklah aku akan mencobanya."
Grim langsung menempa batu yang Zen berikan, dalam waktu 1,5 jam dengan sudah payah Grim akhirnya menyelesaikan sebuah pedang.
Pedang itu memiliki warna hitam yang mengkilat, pedang itu jauh lebih tinggi tingkatnya dari pedang yang dibuat pria penempa itu.
"Griadin apa dia baru saja membuat pedang itu?"
"Ya tidak salah lagi pedang itu baru saja dibuat, dan lebih kuat dari pedang yang kau buat."
"Begitu ya, sepertinya dibandingkan dengan dirinya aku bukanlah apa apa."
Pria penempa itu mengingat kembali saat dia berbicara kepada Grim sebelumya. Dia berfikir kalau betapa sombongnya dirinya yang sebelumnya.
Grim yang tadinya sempat dia remehkan kini telah membuat 2 buah pedang yang sangat kuat.
'sepertinya aku harus meminta maaf padanya.'
Grim lalu menyentuh orang itu dan memasukan sebuah skill kedalamnya.
"Hahaha, akhirnya selesai juga."
"Selamat Grim, lalu apa tingkat pedang itu."
"Tunggu sebentar, biarkan aku melihatnya."
Grim langsung melihat status dari pedang itu.
__ADS_1
[Dimension Sword
Damege: 10.000
Durability: 50.000
Class: Senjata dewa tingkat 5
Sebuah pedang yang ditempa dari bahan pecahan batu Akashic record. Begitu Padang mengakui sang pemilik maka sang pemilik akan langsung mendapatkan skill teknik berpedang Kekosongan.
Selain penempa dan pemilik, orang lain tidak akan dapat melihat status pedang.]
"Tingkat dewa? Tingkat mana itu?"
Dengan sedikit binggung Grim bertanya kepada Zen.
"Kalian biasanya menyebut senjata tingkat dewa sebagai senjata tingkat suci."
"Ah begitu ya."
"Permisi boleh saya melihat pedang itu?"
Pria penempa itu datang kehadapan Grim.
"Bisa saja."
Grim kemudian memberikan pedang itu kepada pria penempa, dengan kemampuannya pria itu mencoba untuk melihat status pedang namun dia sama sekali tidak dapat melihatnya.
"Mengapa saya tidak dapat melihat statusnya?"
"Itu karena statusnya hanya dapat dilihat oleh sang pembuat dan pemiliknya."
"Ah, begitu ya. Sungguh pedang yang luar biasa."
Pria itu memberikan kembali pedangnya kepada Grim.
"Maafkan atas kesombongan saya tadi."
"tidak masalah. Bagaimanapun kemampuan anda juga tidaklah kecil. Ah nama saya adalah Grim vanenara."
"Nama saya adalah galuis, salam kenal Grim."
"Ya Salam kenal galuis."
Mereka berdua Saling berjabat tangan, lalu melepaskannya.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang Zen."
"Untuk saat ini, bagaimana jika kita mencari penginapan?"
"Benar juga."
Semenjak datang kebenua ini mereka sama sekali belum ada memesan sebuah penginapan. Mereka pun kini hendak mencari penginapan, namun sebelum mereka dapat pergi meninggalkan tempat menempa itu seorang laki laki datang dengan nafas yang terengah engah.
"Guild master ada berita buruk."
"Apa yang terjadi?"
Dengan sedikit serius Griadin bertanya kepada pria itu.
"Gelombang monster, ada gelombang monster yang mengarah ke kota."
"Apa?"
__ADS_1
Wajah Griadin menjadi sangat serius begitu mendengar hal itu, dan diapun langsung berjalan mendekati Zen.
"Bisakah anda membantu kami?"