Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Gelombang Monster


__ADS_3

"Bisakah kau membantu kami?"


Dengan sedikit menundukkan kepalanya Griadin dengan tulus meminta kepada Zen, dalam permintaan itu Griadin telah membuang harga diri yang selama ini dia banggakan.


Griadin berfikir kalau itu semua adalah harga yang murah, bagaimanapun gelombang monster bukankah sesuatu yang dapat mereka selesaikan dengan mudah.


Pada gelombang monster yang terakhir kali mereka telah kehilangan banyak orang dan bangunan.


"Mengapa kau meminta padaku?"


"Meski aku belum pernah melihat kekuatanmu yang sebenarnya, namun aku merasa kalau kau bukanlah orang yang lemah dan bisa dianggap remeh."


"Apa itu yang mereka sebut sebagai institusi?"


"Mungkin begitu."


Griadin terkenal kuat dikota ini, karena itulah dia dapat menjadi seorang guild master. Namun dihadapan tatapan Zen semua kekuatan yang dimiliki sama sekali tidak berguna, dia bahkan tidak dapat melawan tatapan itu.


"Aku bukanlah seorang petualang, Jika aku membantu mu apa yang akan kudapatkan?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Uang dan informasi."


"Untuk uang aku dapat memberikannya, namun untuk informasi itu semua tergantung apa yang kau inginkan."


"Baiklah, aku setuju."


Sejak awal Zen sudah berniat untuk membantu, lagi pula dia berniat untuk mencoba menggunakan pedangnya setelah cukup lama tidak memegang pedang tingkat suci. sekarang kesempatan itu terbuka didepannya, kelinci percobaan datang kearahnya dengan beramai ramai.


Namun Zen berfikir untuk mendapatkan beberapa keuntungan dari hal ini, karena itulah dia membuat Griadin memberikannya sebuah kesepakatan.


"Apa yang akan kau lakukan Grim?"


"Hmm, kurasa aku juga akan membantu."


"Begitu, berusahalah untuk tidak menghambatku."


"Apa apaan itu, apa kau meremehkanku?"


"Mungkin saja begitu. Griadin tunjukan padaku jalannya."


"Baiklah."


Mereka segera pergi menuju tembok kota. Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai ditembok kota, disana telah ada cukup banyak prajurit dan petualang yang berkumpul.


"Guild master."

__ADS_1


Seorang pria menyapa Griadin.


"Bagaimana situasinya?"


"Menurut perkiraan gelombang monster akan datang sebentar lagi."


"Begitu ya."


Pria itu kemudian melihat kearah Zen dan Grim yang berada disamoing Griadin.


"Siapa mereka berdua?"


"Mereka adalah Zen dan Grim. Mereka akan membantu kalian untuk menghentikan gelombang monster kali ini."


"Hmm, salam kenal saya adalah Raks, senang bekerja sama dengan mu."


"Senang juga berkerja sama denganmu."


Zen dan Raks saling berjabat tangan, namun itu bukakan jabat tangan biasa. Mereka berdua saling menekan satu sama lain, meski begitu Zen sama sekali tidak merasakan tekanan dari Raks.


Disisi lain, Raks telah tidak dapat menahan tekanan dari Zen. Dia mencoba untuk melepaskan tangannya namun Zen tidak membiarkannya lepas dengan mudah.


"Tuan Raks, mereka telah datang."


Raks beruntung karena ada Seorang pria memberikan laporan kepadanya, dan Zen pun langsung melesakkan tangan Raks.


"Grim, aksi bergabunglah dengan mereka."


"Bagaimana denganmu Zen?"


"Aku akan bergerak sendiri."


Grim langsung pergi meninggalkan Zen, Grim tau maksud dari perkataan Zen. Zen tidak ingin ada yang menjadi penghambat baginya karena itulah Zen ingin bergerak sendiri.


"Bagaimana denganmu Griadin?"


"Aku akan mengambil alih disini."


"Begitu ya, Kalau begitu aku pergi dulu."


Zen langsung pergi memanjat tembok kota, dari situ dia dapat melihat gerombolan monster yang datang.


"Itu..... Ada apa disana?"


Tidak hanya gerombolan, cukup jauh dibelakang para Monster itu Zen merasakan sebuah aura yang besar. Aura itu hampir sama besar dengan miliknya, pada awalnya Zen berfikir tugas ini akan cukup mudah. Namun sekarang muncul kehadiran yang sangat tidak diharapakan, ini akan menjadi tugas yang sedikit merepotkan bagi Zen.


Para gerombolan monster itu telah cukup dekat dengan tembok kota. Para petualang yang mahir menggunakan sihir jarak jauh langsung menyerang mereka tanpa henti.

__ADS_1


Namun sihir itu hanya dapat memperlambat saja, sihir itu hanya memberikan sedikit kerusakan pada gerombolan monster itu.


Para petualang yang lain mulai bersiap untuk menyerang dari jarak dekat, Zen yang melihat cara petualang itu bertarung berfikir kalau mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk menang.


"Dasar para manusia bodoh."


Zen kemudian langsung membuat lingkaran sihir yang besar dilangit. Semua permukaan yang berada dibawah lingkaran sihir itu langsung membeku, para monster yang lemah seperti goblin dan serigala langsung membeku tidak berdaya. Sedangkan monster tingkat tinggi seperti troll dan minotaurus hanya akan terluka parah.


Tidak hanya itu, sihir yang Zen buat itu membuat para monster bergerak menjadi lebih lambat. Dengan begitu para petualang menjadi lebih mudah untuk membunuh para monster itu.


Selagi Zen melihat para petualang itu bertarung, sebuah bola petir hitam menuju kearahnya dengan capat. Zen lalu memotong bola petir itu dengan pedang miliknya.


Aura yang Zen rasakan tadi mulai mendekat, Zen akhirnya dapat melihat sosok yang dapat sosok yang memilik aura besar itu.


"Apa itu manusia?.... Tidak sepetinya bukan."


Sosok itu kemudian mengeluarkan sebuah bola api yang besar diatas langit. Bola api sangat panas hingga es yang berada dipermukaan mulai mencair.


Jika hal itu terus berlangsung maka es akan sepenuhnya mencair dan para petualang itu akan kesulitan melawan apa monster.


Zen dengan cepat langsung melompat kearah bola api itu, dan dengan pedang miliknya Zen menebas bola api itu hingga terpotong menjadi banyak pecahan kecil lalu menghilang.


Zen lalu mendarat ditengah tengah para monster itu, para monster yang melihat Zen langsung menyerang dirinya.


Zen tidak hanya diam, dia menyerang para monster itu dengan pedangnya. Hanya dalam beberapa gerakan ratusan monster telah mati dibuatnya. Es yang tadinya memiliki warna yang indah kini mulia tertutup oleh darah para monster.


Sosok yang tadi mengeluarkan sihir bola api itu kini menuju kearah Zen dengan cepat. Dia mengeluarkan pedang miliknya dan mulia menyerang Zen.


'pedang tingkat suci.'


Zen menyadari kalau pedang yang dimiliki sosok itu adalah pedang suci tingkat 4 sama seperti miliknya.


Mereka saling beradu pedang, mereka membuat gelombang kejut yang besar. Para monster yang ada didekat mereka berterbangan dan sama sekali tidak dapat mendekat.


Permukaan tanah yang dilapis es juga mulai hancur, dalam waktu yang singkat mereka telah beradu pedang sebanyak ratusan kali.


Ada sebuah momen dimana Zen sedikit lengah, dan diapun terkena serangan. Tebasan pedang mengenai dada Zen, dan diapun langsung mengambil jarak.


Luka didada itu langsung pulih kembali berkat kemampuan regenerasinya. Sosok yang melihat kemampuan regenerasi Zen itupun langsung berbicara.


"Kemampuan yang luar biasa. Aku rasa kau adalah seorang vampire murni. Tidak, kau bukan vampire murni bukan?"


Sosok itu berbicara kepada Zen sambil menatapnya dengan tajam.


"Memang benar kalau aku bukan vampire murni, tapi kau adalah vemoire murni bukan?"


Mereka berdua saling menatap dengan tajam sambil mengeluarkan aura yang sangat besar.

__ADS_1


__ADS_2