
"Zen.... Cavalier."
"Iya, apa ada yang aneh?"
"Tidak, bukanya aneh. Hanya saja ini pertama kalinya aku mendengar nama yang seperti itu."
Tentu saja Ye Xue Yun merasa aneh, lagi pula nama seperti itu biasanya dimiliki oleh orang yang berada didunia dengan mana.
"Lupakan tentang namaku, sekarang tunjukan padaku jalannya."
"Baiklah."
Mereka berdua langsung meninggalkan goa itu dan pergi menuju ke kota terdekat. Selama perjalan Zen membunuh semua monster yang mencoba untuk menyerang mereka.
Dengan kekuatan Zen yang sekarang setidaknya hanya sedikit jenis monster yang sulit untuk dia bunuh.
Setelah berlarian selama 1 hari penuh mereka akhirnya sampai kesebuah kota.
"Dimana tempat aku dapat membeli sebuah tungku?"
"Ikuti aku."
Mereka berdua berjalan dikeramaian kota.
"Kau sepertinya tidak asing dengan kota ini."
"Aku tinggal dikota ini, jadi setidaknya aku hapal berbagai tempat penting dikota."
"Begitu ya."
Zen melihat lihat kesekelilingnya, dan dia dapat melihat banyak para seniman beladiri yang berkeliaran.
'ada apa dengan kota ini, para seniman beladiri disini sangat lemah.'
Kebanyakan seniman beladiri yang Zen lihat berada di alam penempaan jiwa dan peningkatan Jiwa. Zen bahkan tidak dapat melihat satupun seniman beladiri yang berada di alam bencana.
Zen kembali teringat dengan para assassin yang dia bunuh, para Assassin itu tidak jauh berbeda dengan para para seniman beladiri disekitar sini. Zen penasaran bagaimana orang lemah seperti mereka dapat menjadi seorang Assassin.
"Kita sudah sampai Zen."
Selagi Zen mengamati sekitarnya mereka telah sampai kesebuah bangunan. Dari bangunan banyak seniman beladiri yang masuk dan keluar.
Zen dan Ye Xue Yun pun langsung memasuki banguna itu. Zen dapat melihat beberapa herbal yang dijual, namun Zen sama sekali tidak tertarik. Baginya herbal herbal itu sama sekali tidak berguna, herbal yang Ling Hao berikan jauh lebih baik pada yang dijual disini.
"Selamat datang Nona Xue Yun."
Seorang pelayan perempuan memberikan hormat kepada Xue Yun.
'Nona? Identitas perempuan ini pasti tidak sesederhana kelihatannya.'
"Apa yang anda perlukan Nona?"
Dengan sopan pelayan itu bertanya Xue Yun.
"Bukan aku yang memiliki keperluan, namun dia yang memiliki keperluan."
__ADS_1
"Jadi anda ya, apa yang anda butuhkan tuan?"
"Aku memerlukan sebuah tungku, apakah kalian menjualnya?"
"Ya, tentu saja kami menjualnya. Silahkan ikuti saya tuan."
Zen dan Xue Yun mengikuti pelayan perempuan itu, dan mereka akhirnya sampai ketempat tungku dijual.
"Ini semua salah satu tungku terbaik kami tuan."
Pelayan perempuan itu menunjukkan 4 buah tungku kepada Zen.
'Itu memang yang terbaik dari semua yang ada disini. Hanya saja, tungku ini mungkin hanya dapat kugunakan sekali saja.'
"Baiklah aku akan membeli yang satu itu."
Meski tungku tungku yang dijual disini hanyalah tungku tingkat rendah namun Zen merasa untuk sekarang itu sudah cukup.
Zen lalu membeli salah satu tungku dengan uang yang Ling Hao berikan kepada nya.
"Terima kasih banyak karena telah berkunjung tuan."
Zen dan Ye Xue Yun pergi keluar meninggalkan tempat itu.
"Aku akan kembali kehutan, Apa yang akan kau lakukan sekarang Xue Yun?"
"Aku akan kembali ke rumahku."
"Begitu ya, kalau begitu kita akan berpisah disini."
"Aku menolak, aku sedang terburu- buru saat ini."
"Kau ingin membuat sebuah pil bukan, jika kau ingin mengantarku maka aku akan menyiapkan sebuah ruangan untuk mu melakukannya."
Xue Yun memegang tangan Zen dengan sangat kuat.
"Lagi pula bukankah membuatnya didalam ruangan jauh lebih baik dari pada dihutan."
Memang benar jika membuat nya didalam ruangan jauh lebih baik dari pada dihutan. Jika didalam ruangan Zen tidak perlu khawatir ada yang akan menggangunya, Zen pun pada akhirnya tidak memiliki pilihan lain menyetujui apa yang Xue Yun tawarkan.
"Baiklah aku akan pergi dengamu."
"Terima kasih banyak Zen."
"Tidak perlu berterima kasih, lagi pula hal itu juga menguntungkan ku."
Mereka berdua berjalan menuju rumah Xue Yun, setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai kedepan pintu gerbang yang besar bertuliskan 'Mansion Ye'.
"Apa ini rumahmu?"
"Iya."
Xue Yun pun mengetuk pintu gerbang itu, tidak lama setelahnya seorang prajurit membuka pintunya.
"Siapa?....... Nona."
__ADS_1
Prajurit itu langsung terkejut begitu melihat Xue Yun dan diapun langsung membuka gerbang dengan sangat lebar.
"Nona telah kembali."
Teriak pria itu dengan keras. Xue Yun dan Zen tidak memperdulikan teriakan itu dan langsung masuk kedalam.
Tidak lama setelah seorang pria paruh bayah mendekati mereka berdua.
"Kau akhirnya kembali Yun, ayah sangat khawatir denganmu. Siapa pemuda ini?"
"Dia adalah Zen ayah, disaat aku dikejar oleh para assassin dia yang menyelamatkan ku."
"Begitu ya, terima kasih banyak telah membantu Yun. Saya tidak tau apa yang dapat saya berikan untuk membalas perbuatan mu."
"Tidak usah dipikirkan, Xue Yun telah membayarnya sediri."
"Apa benar itu Yun?"
"Itu benar ayah, kalau begitu saya akan mengantarkannya ke ruangannya dulu setelah itu saya akan berbicara dengan ayah."
Ye Xue Yun memberikan hormat ke ayahnya dan dia kembali berjalan.
"Ini adalah ruangan mu Zen."
Zen langsung masuk kedalam ruangan itu dan dia melihat bagian dalamnya. Kamar itu memiliki ukuran yang cukup luas, setidaknya tempat itu cukup untuk Zen dapat membuat pil nya.
"Terima kasih. Xue Yun jika kau tidak keberatan aku memiliki permintaan yang lain."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku akan sangat berterima kasih jika tidak ada yang menggaguku selama beberapa hari."
"Baiklah, aku akan memberitahu para pelayan agar tidak ada yang menggangumu."
"Terima kasih."
"Tidak masalah, kalau begitu aku akan mengunjungi mu beberapa hari lagi."
Ye Xue Yun langsung pergi berjalan meninggalkan ruangan Zen.
"Baiklah, sekarang saatnya membuat pil nya."
Zen langsung mengeluarkan Tungku yang baru saja dia beli. Dia juga mengelukan semua bahan yang diperlukan untuk membuat pil.
Dengan energi spiritualnya Zen menyatukan semua bahan itu dan memasukannya kedalam tungku.
Zen lalu mengeluarkan api abadi miliknya dan mulai membuat obatnya. Api abadi membuat Zen lebih mudah untuk membuat pil itu. Api abadi memiliki fungsi seperti sebuah oven, ketika Zen telah menetapkan besar api maka suhu api tidak akan berubah kecuali Zen mengubahnya.
Dengan begitu Zen tidak perlu repot repot mengontrol api untuk membuat pil itu.
"Aku tidak bisa menggunakan pil itu jika didalamnya hanya mengandung energi spiritual."
Zen adalah salah satu keberadaan paling langka yang ada, dia adalah pengguna energi spiritual dan Mana. Disemua dunia jumlah orang seperti Zen bahkan tidak mencapai 100 orang.
Zen lalu mengalirkan mana miliknya kedalam bahan obat, Itu agar pil yang dihasilkan tidak hanya mengandung energi spiritual melainkan juga mengandung Mana.
__ADS_1
Zen terus mengontrol mananya agar masuk kedalam bahan pil itu secara perlahan- lahan.