Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Desa Elf


__ADS_3

-Note: Mulai chapter ini nama sihir akan diganti dengan bahasa Indonesia.--


*******


Tina dengan cepat menuju ketempat para troll itu, para troll itu menyerang Tina dengan sebuah gada ditangan mereka.


Namun Tina dengan mudah dapat menghindari Serangan itu, Tina lalu mengeluarkan sebuah sihir es dan mengarahkannya kaki para troll itu. Sihir es Tina membuat para troll tidak dapat bergerak, Tina lalu dengan cepat langsung memenggal kepala para troll itu.


Kekuatan regenerasi para troll hampir sama dengan para iblis atau vampire, mereka akan langsung Mati jika kepala mereka terpenggal atau jantung mereka hancur. Karena itulah menyerang kepala akan membuat pertarungan menjadi lebih cepat selesai.


Hanya dalam sekejap pertempuran telah berakhir dan Tina kembali ketempat Zen berada.


"Kau sudah kembali Tina."


"Apa ini lebih cepat dari yang kau perkirakan?"


"Tidak, ini sedikit lebih lambat dari yang ku perkirakan."


"Kalau begitu sayang sekali."


Tina langsung duduk didepan Zen, dan dia terus melihat kearah Zen.


"Panggil saja aku Zen."


Dimata Zen terlihat ingin mengatakan sesuatu kepadanya, hanya saja Tina tidak tau harus memanggil dirinya dengan sebutan apa. Karena itulah Zen menyuruh Tina untuk memanggil dirinya Zen.


"Kalau begitu Zen, bisakah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Apa itu?"


"Mengapa kau ingin pergi ke kuil abadi?"


Zen hanya diam mendengar pertanyaan dari Tina, saat ini Zen masih tidak ingin membicarakan hal itu. Zen lalu langsung berdiri, dan membersihkan debu yang ada di celananya.


"Ayo kita berangkat sekarang."


"Eh, sekarang?"


Tina sedikit terkejut dengan tindakan tiba tiba Zen, bagaimanapun dia baru saja beristirahat.


Zen tidak menjawab Tina dia langsung berlari meninggalkan Tina.


"Seharusnya aku tidak menanyakan itu."


Tina merasa kalau dia seharusnya tidak menanyakan mengenai keperluan Zen di kuil abadi, dengan begitu dia mungkin akan dapat beristirahat sedikit lebih lama lagi.


"Tapi yasudah lah, tidak ada gunanya menyesalinya."


Tina kemudian dengan cepat langsung berlari menyusul. Mereka berdua terus berlari tanpa henti hingga matahari akan segera tenggelam, dan akhirnya mereka sampai kesebuah kota yang sedikit lebih kecil dari kota milim.


Zen dan Tina segera memasuki kota dan mencari sebuah penginapan, tidak lama mereka mencari mereka akhirnya menemukan sebuah penginapan.

__ADS_1


Mereka berdua segera memasukinya dan Zen langsung memesan 2 buah kamar. Mereka pergi kekamar masing masing dan langsung beristirahat.


******


Hari telah berganti, Begitu selesai sarapan Zen dan Tina langsung segera pergi lagi.


Mereka telah cukup lama berlari didalam hutan, namun mereka masih tidak dapat menemukan jalan keluarnya.


"Zen, bukankah hutan ini sedikit aneh?"


"Kau benar juga."


Mereka berdua pun langsung berhenti berlari, dan melihat kesekitarnya.


"Jadi begitu ya."


Zen menemukan alasan mengapa mereka tidak dapat menemukan jalan keluar dari hutan.


"Apa kau mengetahui sesuatu?"


"Ya, tentu saja."


Zen melihat kalau ada penghalang didepannya, penghalang itu menciptakan sebuah ilusi untuk orang yang mendekat. Siapapun yang terkena ilusi maka dia akan terus berlari ditempat yang sama tanpa menemukan Ujungnya.


Zen sendiri sudah dapat menebak siapa yang memasang penghalang seperti itu. Zen lalu mengibaskan tangannya dan penghalang yang ada didepan mereka langsung hancur.


"Penghalang? Siapa yang membuatnya?"


"Lihatlah keatas maka kau akan mengetahuinya."


"Dinding tanah."


Sebelum anak panah itu dapat mencapai mereka berdua, Zen telah terlebih dahulu membuah sebuah dinding tanah untuk menahan anak anak panah itu.


Tidak ada satupun anak panah yang dapat mengenai mereka, para elf yang ada diatas pohon bersiap untuk kembali untuk melepaskan anak panah namun sebelum mereka dapat melepaskannya Zen berbicara dengan keras.


"Kami tidak ada niat untuk menyerang, aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian."


Para elf itu mendengar apa yang Zen katakan, mereka langsung berhenti untuk menyerang Zen. Tidak paham kemudian seorang elf pria dengan sebuah pedang dipinggang nya mendatangi Zen.


"Perkenalkan nama saya Andrew Garfield. "


Dengan sebuah senyuman cerah elf itu memperkenankan dirinya.


"Saya dengan anda ingin bertemu dengan pemimpin kami, silahkan ikuti saya."


Zen dan Tina pergi berjalan mengikuti elf itu, Zen melihat kesekitarnya. Para elf melihat dirinya dan Tina dengan tatapan yang penuh ketakutan.


'sepertinya didunia ini hubungan antara Manusia dan Elf tidak terlalu bagus.'


Setelah beberapa saat berjalan mereka akhirnya sampai kesebuah rumah yang terlihat sangat sederhana. Mereka kemudian memasuki rumah itu, seorang elf tua telah duduk didalam.

__ADS_1


"Salam kenal aku adalah Zen Cavalier dan dia adalah Tina Aubert."


"Aku adalah pemimpin ras elf disini, namaku adalah Islit Gilis. Ku dengar kau ingin bertemu denganku, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Saya hanya ingin meminta maaf karena telah menghancurkan penghalang yang telah kalian buat."


Tentu saja itu bohong, sejak awal Zen hanya ingin bertemu dengan pemimpin elf dan ingin menggali beberapa informasi darinya.


"Aku menerima permintaan maafmu, hanya saja bukan hanya kerena itu kau datang kesini bukan?"


"Mengapa kau berfikir seperti itu?"


"Aku telah hidup dalam waktu yang lama, setidaknya aku dapat membaca pikiran orang dari gerakannya."


"Jadi begitu ya, tapi apa yang kau katakan itu hanyalah sebuah kebohongan. Jika berbicara mengenai pengalaman maka aku memiliki lebih banyak pengalaman dari dirimu."


"Hahaha, tidak kusangka kau dapat menebaknya. Meskipun aku tidak tau apa yang kau inginkan, tapi setidaknya Bisakah kau memberitauku?"


"Aku akan langsung mengatakannya, bisakah kau memberikanku beberapa informasi?"


"Informasi apa yang kau inginkan?"


"Informasi mengenai kuil abadi, kau seharusnya tau mengenai hal itu bukan?"


Ini adalah sebuah pertaruhan bagi Zen, dia tidak tau apakan Islit memiliki informasi mengenai kuil abadi atau tidak. Meski begitu Zen berharap kalau Islit yang telah hidup selama ratusan tahun itu memiliki informasinya.


"Kuil abadi ya, sudah cukup lama aku tidak mendengar mengenai tempat itu."


Pertaruhan Zen membuahkan hasil, dari perkataannya dapat dipastikan kalau Islit memiliki beberapa hal yang dia ketahui mengenai kuil abadi.


"Bisakah kau memberitau ku mengenai tempat itu."


"Iya tidak masalah bagiku, kuil abadi itu...."


Hoarrrt


Tepat Sebelum Islit dapat memberitau Zen mengenai kuil abadi, sebuah raungan naga terdengar. Mereka semua dengan cepat langsung keluar dari rumah itu.


Mereka melihat 4 ekor naga yang terbang diatas desa sambil membakar beberapa pohon yang ada didekatnya.


Para Elf menyerang ke 4 naga itu dengan panah dan sihir. Namun kekuatan mereka terlalu lemah, mereka bahkan sama sekali tidak dapat menggoyahkan salah satu dari ke 4 naga itu.


"Islit, bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"


"Apa isi kesepakatannya?"


"Jika aku membunuh ke 4 naga itu maka kau harus memberitahu ku semua yang kau tau mengenai kuil abadi."


Islit sedikit berfikir begitu mendengar kesepakatan yang Zen ajukan. Islit berfikir mengapa Zen begitu ingin mengetahui mengenai kuil abadi. Namun semua pikiran itu langsung hilang ketika dia melihat salah satu rumah telah terbakar karena serangan naga itu.


Tidak ada lagi waktu bagi Islit untuk berfikir, jika hal ini terus berlangsung maka akan memakan banyak korban jiwa dari ras elf. Sekarang dia tidak memiliki pilihan lain, Islit pun langsung mengambil sebuah keputusan.

__ADS_1


"Baiklah aku setuju."


Zen tersenyum dengan lebar begitu mendengar perkataan Islit, dia lalu mengeluarkan pedang suci miliknya dan bersiap untuk menyerang para naga itu.


__ADS_2