Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Api Biru Dan Api Hitam


__ADS_3

Monster itu benar benar gila, dia mengeluarkan serangan seperti itu dengan tiba tiba. Serangannya bahkan mampu membekukan para kera es yang memiliki element es. Jika aku telat sedikit saja tadi saat membuat dinding tanah ini, tanpa diragukan lagi kami pasti akan mati.



Tidak memiliki jeda waktu yang ular it kembali menyerang kami lagi, kali ini dia menggunakan sihir yang melempar banyak proyektil es. Elemen es ilik ular itu sungguh menggerikan, bahkan dinding tanah yang kubuat dengan dua puluh lima persen kekuatanku membeku dan akhirnya hancur.



"ziyun mundurlah kebelakang bersama shiroki, aku akan melawannya."



Ular ini adalah salah satu monster yang paling tidak ingin aku lawan, sisiknya yang keras itu sangatlah tidak menguntungkan untukku. Jika aku ingin melawannya dengan pedang maka aku harus menyerang celah yang ada diantara sisiknya.



Aku mulai menyerangnya sebelum dia mengeluarkan serangan ketiganya, saat aku menyerang sisiknya pedangku bagaikan sebuah kayu kecil yang ingin memotong pohon yang besar. Kali ini Dia kembali menyerangku dengan ekornya, aku mencoba menahannya namun kekuatannya sangat kuat sehingga aku terpental.



Meski tidak terlalu menyakitkan tapi lengan kananku terluka, aku segera menggunakan potion untuk menyembuhkan lukaku. Ular ini adalah mahluk yang berada dipuncak rantai makanan digunung ini, melawannya setengah setengah malah akan membawa petaku untukku.



Saat melawan ular es ini aku teringat dengan diriku yang dulu saat aku masih sangat lemah, setiap selesai melawan monster pasti akan selalu ada luka ditubuh. Namun beberapa tahun ini aku bahkan tidak pernah terluka saat melawan monster, luka yang kurasakan tadi adalah luka yang pertamaku dalam beberapa tahun ini.



Sebagai bentuk rasa hormat kepada ular ini karena telah melukai ku, aku manaikan kekuatanku sampai lima puluh persen. Dengan lima puluh persen kekuatanku membunuh ular es ini adalah hal yang mudah, aku melapisi pedangku dengan sihir black hell.



Aku mendekatinya dengan enggunakan menggunakan sihir flash, ular es ini memiliki indra yang sangat bagus. Meskipun aku telah menekan auraku tapi dia dapat dengan mudah menemukanku, dia menyerang ku dengan semburan esnya. Dengan lima puluh persen kekutanku menghindari semburan es itu adalah hal yang mudah, saat dia menyerang maka perthanannya akan sedikit melemah. sambil menghindari seranganya aku juga menusuk pedangku kecelah yang ada diantara sisiknya, meski hanya tusukan kecil tapi bagiku itu sudah cukup selama aku bisa menanam api dari sihirl balck hellku ditubuhnya.



Dia menyerangku dengan ekornya dengan kecepatan yang sulit dihindari oleh manusia biasa, namun bagi aku yang menggnakan sihir flash serangannya terlihat sangat lambat. Aku menjauh dari ular es itu dan bersiap untuk menyerangnya kembali dengan sihir.



"Datanglah api yang menghancrkan segalanya Despair Flame."



Muncul Api berwarna biru berbentuk anak panah, api itu segera menuju kearah ular es itu. Begitu api itu mengenai target maka dia akan berubah dari berbentuk anak panah dan berubah menjadi kobaran api yang mematikan. Despair flame adalah salah satu sihir elemen api yang sangat kuat, dengan api biru yang membakarnya dari luar dan api hitam yang membakarnya dari dalam maka Tidak peduli seberapa besar kekuatan elemen es yang ada ditubuhnya, ular itu dia tidak akan bisa bertahan.


__ADS_1


Ular es itu meski tubuhnya terbakar dia terus menyerangku dengan ekornya dan sesekali mengeluarkan proyektil es, Pada akhirnya dia mati karena tidak dapat menahan apiku.



Itu adalah pertarungan yang cukup menyenagkan, sudah lama aku tidak merasakan rasa sakit saat bertarung melawan monster, biasanya aku hanya mengeluarkan sekitar sepuluh sampai dua puluh persen kekuatanku untuk membunuh monster, namun kali ini aku harus mengeluarkan kekuatan sampai lima puluh persen.



Karena terlalu menikmati pertarungan dengan ular es itu aku bahkan tidak sadar kalau hari sudah mulai gelap, aku sebaiknya segera pergi dari sini dan segera menuju menara ai. Nona qinyu bilang Disana tidak ada monster jadi beristirahat disana adalah pilihan terbaik yang ada.



"Ziyun hari sudah gelap ayo segera pergi dari sini, sebelum monster lain berkeliaran."



"Tapi kau terluka, mengapa tidak istirahat terlebih dahulu?"



"Tenang saja lukaku sudah sembuh, lagian beristirahat dimenara ai mngkin lebih aman dari pada disini."



Ini adalah sebuah pertaruhan, jika informasi yang diberikan nona qinyu memang benar maka disana pasti lebih baik untuk beristirahat, namun jika informasi yang diberikan salah maka mungkin kami akan kesulitan nantinya. Karena itulah saat ini aku mencoba untuk bertaruh dengan informasi yang diberikan oleh nona qinyu.




Kami segera pergi menuju kemenara ai, dalam menuju menara ai aku merasakan sedikit keanehan. Suhu saat ini bukan semangkin dingin melaikan malah semangkin hangat, padahal saat kami menaiki gunung semangkin tinggi suhu perlahan lahan semangkin dingin. Puncak gunung seharusnya adalah tepat terdingin dari gunung ini, tapi hal ini malah kebalikannya puncaknya malah cukup hangat.



"Zen menaranya ada disana?"



Jadi kita sudah mulai sampai ya, meski ziyun memberi tauku lokasi menaranya namun aku masih belum dapat melihatnya.



"Ngomong ngomong ziyun, kau bilang kau sudah penah melihat menaranya kan?"



"Iya, Mamangnya ada apa?"

__ADS_1



"Apa kau pernah masuk kemenara itu?"



"Tidak, aku pernah mencoba untuk masuk namun dilarang oleh ayah"



"Kenapa dilarang?"



"Aku sendiri juga kurang ingat, tapi kalau tidak salah waktu itu ayah bilang kalau disekitar menara ada penghalang yang membuat orang tidak bisa masuk."



Penghalang ya, jadi ini yang dimaksud nona qinyu waktu itu kalau tidak sembarangan orang bisa memasuki menara. Jika memang ada penghalang disekitar menara maka sepertinya akan sedikit merepotkan nantinya saat akan masuk kemenara.



"Zen itu menaranya sudah mulai terlihat."



Dari kejahuan aku melihat sebuah menara tinggi yang cukup bagus, walau sepertinya menara itu tidak pernah ter urus tapi entah mengapa terlihat sangat bagus. Kami terus berjalan menuju kemenara itu sampai kami akhirnya cukup dekat dengan menara itu. Aku terkejut melihat daerah sekitar menara itu, padahal ditempat kami berdiri saat ini masih ada salju namun disekitar menara tidak ada sedikitpun salju hanya ada tanah kosong dan rumpt liar yang tumbuh. Akhirnya aku tau mengapa suhu disekitar daerah puncak cukup hangat, menara itu mungkin menghasilakan sumber panas sehingga daerah sekitarnya cukup hangat.



Aku berjalan menuju menara dan memasuki daerah yang hanya ada tanah kosong rumput liar, suhu disekitar tempat ini lebih hangat dari pada daerah yang lain. Aku terus berjalan menuju menara, tanpa kusadari aku telah meninggalkan ziyun dibelakang. Aku melihat kebelakang disana ziyun hanya berdiri didaerah bersalju dan tanah kosong.



Karena aku khawatir aku berjalan kembali ketempat ziyun berada, disitu aku melihat ziyun yang mengeluarkan air mata. Aku berlari dan langung kedaerah bersalju ditempat ziyun berada.



"Ziyun ada apa? Mengapa kau menangis?"



"Aku tidak bisa masuk."



"Eh?"

__ADS_1


__ADS_2