Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pergi Menuju Sebuah Sakte


__ADS_3

Tidak lagi harapan untuk orang orang itu, formasi pembakar langit yang telah dengan matang mereka persiapan kini telah dihancurkan oleh Zen dengan begitu mudah.


Tidak ada lagi penghalang, tidak ada lagi api yang menggangunya. Zen kini telah dapat bergerak dengan bebas, sudah saatnya dia mengakhiri semua ini. Tidak ada lagi alasan bagi Zen untuk membuat pertarungan yang membosankan ini berlangsung lebih lama lagi.


"Seni kekosongan, gerakan kedua."


Dengan mengayunkan pedang dengan cepat, ayunan pedang itu menciptakan sebuah tekanan angin yang sangat besar.


Bangunan disekitarnya langsung hancur dan berterbangan menjauh dari dirinya. Bahkan para seniman beladiri yang tadi mengelilingi Zen juga Tidak dapat menahan tekanan angin itu, sebagai hasilnya merekapun juga ikut terhempas.


"Sekarang saatnya kembali mencari Luo Qin."


Zen melompat keatas langit, dari atas sana Zen dapat melihat keberadaan Luo Qin. Dengan sangat cepat Zen menuju kearah Luo Qin dan memberikannya sebuah pukulan.


Pukulan yang tiba tiba itu membuat Luo Qin menderita luka yang cukup parah, mulutnya terus mengeluarkan darah dan dia mengalami kesulitan untuk bergerak.


"Sayang sekali padahal aku ingin melihat neraka yang kau maksud, namun sepertinya ini adalah akhir dari hidupmu."


Zen mengarahkan Pedangnya ke Luo Qin.


"Tunggu sebentar."


Seorang gadis kecil dengan rambut biru muncul secara tiba tiba dan meminta Zen untuk berhenti.


'Dia sangat mirip dengan Xia Shuang.'


Melihat gadis kecil itu Zen menjadi teringat seorang perempuan, seorang perempuan yang juga memiliki wajah dan rambut seperti gadis itu.


"Kumohon tolong jangan bunuh ayahku."


"Ayah?"


"Iya, dia adalah ayahku. Kumohon tolong jangan membunuhnya."


Permohonan yang penuh dengan ketulusan dan kebaikan terlihat diwajah gadis kecil itu.


'meski mirip namun sifatnya sangatlah berbeda.'


Sifat Perempuan yang Zen kenal sangat berbeda dengan gadis kecil itu. Hanya dengan melihat sekilas saja Zen dapat tau kalau gadis kecil ini jauh lebih baik daripada perempuan yang dia kenal dalam hal sopan santun.


"Baiklah, aku Tidak akan membunuhnya."


Zen kehilangan minatnya setelah melihat gadis kecil itu, dia lalu langsung menyimpan kembali pedangnya.


"Sepertinya kau beruntung Luo Qin karena aku tidak jadi membunuhmu."

__ADS_1


Zen lalu mengeluarkan sebuah pil dan langsung melemparkannya kedalam mulut Luo Qin.


"Berterima kasihlah kepada anak perempuanmu itu, dan juga jangan lupa untuk menganti rugi semua kerusakan yang kubuat."


Zen lalu pergi meninggalkan Luo Qin menuju tempat Lin Yan dan Liu Yu berada.


"Apa sudah selesai?"


"Iya."


"Begitu ya, tapi lihatlah kota yang telah kau hancurkan ini. Kira kira berapa banyak orang yang mati."


"Ini hanyalah sebuah kota bukanlah sebuah dunia."


Jika sebuah kita besar hancur mungkin hanya akan menawan beberapa ratus ribu jiwa, namun berbeda dengan dunia yang hancur. Jika sebuah dunia hancur maka mungkin akan memakan beberapa miliar jiwa.


"Juga Seharusnya tidak ada yang mati, Lagi pula aku sengaja menahan kekuatanku."


Zen sangat yakin kalau tidak ada yang mati dari kehancuran yang dia buat, lagi pula jika dia ingin membunuh mereka dia bisa saja dengan mudah meratakan kota itu.


"Sudahlah lupakan hal itu, sekarang lebih baik kau menunjukan jalan menuju sakte yang kau maksud."


"Baiklah, kurasa sudah saatnya kita pergi kesana. Lagi pula mungkin akan cukup berbahaya jika kita tetap berada disini."


Mereka bertiga pergi meninggalkan kota itu.


Mereka bertiga melakukan perjalanan selama kurang lebih 2 hari dan akhirnya mereka pun sampai kesebuah tempat yang dipenuhi oleh gunung.


Disekitar Gunung itu terdapat energi spiritual yang sangat banyak, puncak gunung itu juga tertutup oleh kabut yang dibuat oleh seseorang.


"Apa ini sakte yang kau maksud?"


"Iya."


"Guru, apa yang akan kita lakukan disakte ini?"


Lin Yan biasanya hanya mengikuti Zen tanpa bertanya sedikitpun. Namun kali ini Lin Yan merasakan sesuatu yang sedikit aneh, Lin Yan tau kalau sakte adalah tempat para seniman beladiri pemula untuk belajar.


Namun dengan kekuatan Zen saat ini Lin Yan sama sekali tidak menemukan alasan mengapa mereka harus pergi kesebuah sakte. Lin Yan bertanya kepada dirinya sendiri, apa orang sekuat Zen masih harus belajar disebuah sakte.


"Ah,... Liu Yu bisakah kau menunggu kami disebuah tempat. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Lin Yan."


"Baiklah, aku akan menunggumu disana."


Liu Yu pergi berjalan menjauh dari mereka berdua.

__ADS_1


"Ikuti aku Lin Yan."


Mereka berjalan kesebuah pohon yang berjarak tidak terlalu jauh.


"Bagaimana menurutmu mengenai dunia luar Lin Yan?"


"Kenapa kau tiba tiba menanyakan hal itu?"


"Tidak usah terlalu memikirkannya, Jawab saja apa yang kutanyakan. Jadi bagaimana menurutmu?"


"Dunia luar itu benar benar sangat berbeda dengan apa yang kubayangkan, ketika aku mengetahui hal itu rasanya aku ingin kembali kedalam tempat dimana aku Tidak perlu memikirkan tentang dunia luar."


"Lalu apa kau masih memikirkan ingin melakukan hal itu?"


"Tidak, aku sama sekali tidak lagi memikirkan hal itu. Lagi pula kau akan selalu bersama denganku."


Lin Yan menunjukan sebuah senyuman manis kepada Zen, Zen merasa sedikit senang dengan melihat senyuman itu. Namun disisi lain Zen merasa sedikit tidak menyukai perkataan Lin Yan.


"Itu benar benar tidak baik Lin Yan, kedepannya apa yang akan kau lakukan ketika aku tidak ada bersamamu?"


"Entahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu."


"Mengapa?"


"Aku tidak ingin memikirkan hari dimana kau akan meninggalkan diriku."


"Kau tidak bisa terus melakukan hal itu Lin Yan, kau harus memikirkan hal itu."


"Mau bagaimana lagi, hanya kau satu-satunya orang yang sangat ku percaya. Aku bahkan tidak tau apa yang harus kulakukan jika kau meninggalkanku suatu hari nanti."


Lin Yan mengatakan apa yang ingin dia katakan tanpa merasa khawatir sedikitpun. Dengan sedikit emosi Lin Yan me curahkan banyak perasaannya kedalam kata kata itu.


"......."


"Ah maafkan aku."


Lin Yan tidak menyangka kalau dirinya akan berbicara dengan keras, mungkin ini adalah pertama kalinya Lin Yan berbicara dengan sangat keras sejak dia dikurung didalam kediaman Lin.


Lin Yan bahkan tidak tau dengan pasti mengapa dia tidak menyukai pertanyaan yang Zen berikan.


"Tidak apa, namun sama seperti yang kubilang sebelumnya kau tidak bisa terus seperti itu Lin Yan. Kau harus memikirkan hal itu."


"......"


Lin Yan hanya dia tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Lin Yan?"


"Aku penasaran sejak kita sampai kesini. Apa kau akan meninggalkan ku disini dan membuatku memasuki sakte itu?"


__ADS_2