Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Tiga Pelayan


__ADS_3

[Istana Kekaisaran Suci]


Setelah kembali dari perperangan, Kufa langsung melaporkan segala sesuatu yang terjadi dimedan perang. Mulai dari tentang Zen, tentang Ziyun, tentang pedang suci dan terkutuk, dan tentang cara yang mungkin dapat mengalahkan Zen.


"Itulah laporan dari saya yang mulia."


"Kerja bagus Kufa, kau bisa pergi sekarang."


"Baiklah yang mulia."


Kufa meninggalkan ruangan itu. Setelah Kufa meninggalkan ruangan itu, ekspresi kaisar berubah menjadi sangat kaku. Ekspresi menunjukan kalau dia telah mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar.


"Ada apa yang mulia?"


Melihat ekspresi sang kaisar, sang perdana menteripun segera bertanya. Namun sang kaisar tidak dapat mendengar sang perdana menteri.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia masih hidup?"


"Yang mulia."


Sang kaisar lagi lagi tidak dapat mendengar sang perdana menteri.


"Aku yakin malam itu telah membunuh semua orang yang ada dirumah itu, namun mengapa dia masih hidup."


Sang kaisar menggumankan hal itu.


"Begitu ya, pasti kakek tua itu yang menyelamatkannya. Dia menghilang setelah pembantaian malam itu, jadi pasti dia yang menyelamatkan anak itu."


Sang kaisar terlihat seperti orang yang hampir kehilangan akalnya.


"Dan anak itu sekarang telah menjadi orang yang paling berbahaya didunia ini. Ha... Haha..... Hahaha....... Leluco


n macam apa ini?"


"Yang mulia."


"Haha..... Hahaha...... Ini benar benar sebuah lelucon yang sangat tidak lucu."


sang kaisat terus menerus berguman.

__ADS_1


"YANG MULIA."


Sang perdana menteri memanggil sang kaisar dengar keras. Suara itu akhirnya dapat didengar oleh sang kaisar, sang kaisarpun berhenti berguman dan tampak seperti kalau akalnya telah kembali.


"Ada apa Eltier?"


"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu yang mulia. Anda terlihat sangat ketakutan. Saya tau kalau anda tidak dapat menerima kenyataan yang ada, namun anda harus tetap menerimanya."


"Kau benar Eltier."


"Musuh kita kali ini adalah Zen Cavalier, dia adalah keponakan anda. Dan juga ada kemungkinan kalau dia telah mengetahui dalang dari pembantaian keluarganya saat itu."


"Saat itu aku terlalu haus akan kekuasaan, aku takut jika ayahnya yang merupakan adikku akan mengambil tahta dariku. Aku juga takut akan potensi yang dimiliki oleh Zen, karena itulah aku memusnahkan mereka."


Sang kaisar menatap kelangit langit ruangan.


"Jika dia memang mau membalaskan dendam kedua orang tuanya, maka aku berharap dia hanya akan membunuhku dan tidak menyentuh keluargaku."


"Sayangnya harapan anda tidak akan pernah terwujud yang mulia. Jika dia memang ingin membunuh anda, dia akan melakukannya sejak dulu. Sepertinya dia akan memusnahkan seluruh ras manusia."


"Kuharap itu tidak terjadi. Apa ada cara bagi kita untuk mengalahkannya?"


Meski tidak terlalu berharap, sang kaisar tetap bertanya tentang kemungkinan untuk mengalahkan Zen sebagai leluhur pertama.


"Apakah itu benar?"


Sang kaisar menjadi semangat begitu mendengar jawaban dari sang perdana menteri.


"Ya itu benar yang mulia. Menurut perkataan Kufa, Zen membagi kekuatannya kepada tujuh orang. Jika kita dapat mengumpulkan ketujuh orang itu, maka mereka mungkin dapat mengalahkan Zen. Kita telah mengetahui tiga orang diantaranya, sisanya tinggal empat lagi."


"Meski kita mengetahui tiga orang diantaranya, namun kita tidak mengetahui empat orang sisanya."


"Untuk Masalah itu tidak perlu khawatir yang mulia. Kufa memiliki daftar empat orang sisanya, dia juga telah meminta izin untuk mencari orang orang itu."


"Baguslah, kalau begitu berikan izin kepadanya."


"Baik yang mulia."


"Ah, dan juga kirimkan surat kenegara negara tetangga, kita harus segera membentuk aliansi."

__ADS_1


"Baiklah yang mulia, saya akan melakukannya sekarang."


Sang perdana menteri meninggalkan ruangan itu, dan segera pergi menemui Kufa.


°• °• °• °• °• °• °• ••••• •° •° •° •° •° •° •°


Didalam kegelapan Zen membuka matanya. Dalam kegelapan itu Zen dapat melihat sebuah cahaya. Zen berjalan menuju kearah cahaya itu.


Sesampainya disana Zen dapat melihat tiga mahluk sedang berdiri. Mereka bertiga adalah pelayan Zen yang tersisa. Para pelayan itu adalah pelayan kedelapan Satein. Pelayan kesembilan Timika. Dan pelayan kesepuluh La Tiami.


"Tinggal kalian bertiga ya yang tersisa. Maafkan aku karena memberikan yang lainnya kepada manusia, bagaimanapun juga itu sangat diperlukan."


Zen berbicara kepada ketiga pelayannya.


"Anda tidak perlu khawatir yang mulia, kami ada untuk melayani anda. Tidak peduli perintah apa yang anda berikan, kami pasti akan melakukannya."


Pelayan kedelapan, Satein menjawab permintaan maaf Zen. Ini adalah alam bawah sadar Zen, disini Zen dapat berbicara dengan para pelayannya. Namun hal ini tidak selalu terjadi, ada beberapa kondisi yang diperlukan agar ini dapat terjadi.


Setelah Satein selesai berbicara, pelayan kesepuluh La Tiami berjalan mendekati Zen. La Tiami memiliki bentuk seperti seorang malaikat dengan sayap putih dipunggungnya, dan La Tiami juga seorang perempuan.


Setelah berada didepan Zen, La Tiami mengulurkan tangannya dan menaruhnya dipipi Zen.


"Tenang saja, kau tidak perlu merasa bersalah kepada kami. Dan juga aku akan selalu mendukung keputusan yang kau buat."


"Terima kasih Tiami, dan juga maaf karena membuatmu tidak dapat melihat adikmu sebelumnya."


"Kau tidak perlu khawatir mengenai itu, Setelah aku bereinkarnasi menjadi pelayanmu aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan mereka. Dan pada saat itu dia hanyalah pecahan jiwa yang berada didalam tubuh manusia, tidak ada gunanya menemui dirinya. Lagi pula mungkin tidak lama lagi aku dapat bertemu dengan dirinya yang sebenarnya."


"Bagitu ya."


"Iya, kerena itulah kau tidak perlu khawatir."


"Ugh... "


Zen merasakan sakit dikepalanya, dan tubuhnya menjadi bercahaya.


"Sepertinya sudah waktunya aku kembali."


"Kalau begitu kembalilah, bukankah masih ada yang harus kau lakukan."

__ADS_1


"Ya, kalau begitu aku kembali dulu."


Bagaikan cahaya yang meredup, tubuh Zen perlahan mulia menghilang.


__ADS_2