Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Marie Curie


__ADS_3

Para pengawas mulai memperbaiki arena pertandingan. Salah satu seorang pengawas yang berada ditingkat Marquess kelas atas menggunakan sihir tanah untuk membentuk ulang arena.


Kemudian seorang yang berada ditingkat Duke kelas bawah memasang puluhan lapis penghalang, tidak selesai disitu seorang pengawas yang berada dialam penguasa dunia lapis ke 5 lalu membuat sebuah array pertahanan.


Meski membutuhkan waktu yang agak lama, namun pada akhirnya perbaikan arena berjalan dengan lancar.


Pertandingan dilanjutkan hingga pertandingan yang terkahir yaitu yang kesepuluh. Sekarang tinggal 10 yang tersisa, ke 10 orang itu kembali mengambil undian mereka. Zen mendapatkan nomor 1.


"Pertandingan pertama babak ke 2, Reinhard Vanes dan Marie Curie."


Mendengar panggilan itu Zen lalu langsung memasuki arena pertandingan, Zen melihat lawannya yang merupakan seorang wanita bernama Marie.


'wanita itu....'


Wanita yang menjadi lawan Zen adalah wanita seorang pengguna pedang yang mengalahkan musuhnya dengan sihir rendahan.


Sejak melihat pertandingannya Zen ingin sekali melawan Marie, Zen tidak menyangka kalau dia akan melawannya secepat ini.


"Pertandingan pertama dimulai."


Zen dan Marie saling mengamati satu sama lain, tidak ada sedikitpun gerakan dari mereka berdua.


"Apa kau tidak akan mengeluarkan pedangmu?"


"Apa aku harus mengeluarkan pedangku untuk melawan mu?"


"Tidak perlu, hanya saja aku ingin bermain denganmu yang menggunakannya pedang."


"Bermain? Apa kau menganggap arena ini sebagai sebuah tempat untuk bermain?"


"Iya, apa ada masalah?"


"Tidak, itu terserah padamu ingin menganggap arena ini seperti apa."


"Baguslah, jadi apa kau tidak ingin mengeluarkan pedangmu?"


"Aku akan mengeluarkannya."


Marie lalu mengeluarkan 2 pedang Semi ilahi Tingkat 4.


"Hoo, pengguna pedang ganda ya."


Sejak awal Marie berniat untuk menggunakan teknik pedang gandanya dipertandingkan Final. Namun Marie merasa dia Tidak akan dapat memiliki kesempatan masuk final jika dia kalah dari Zen, karena itulah dia terpaksa harus menggunakan teknik pedang gandanya.


"Kalau begitu aku juga akan mengeluarkan pedangku."


Zen mengeluarkan sebuah pedang epic, bagaimana pun selama musuh masih lebih lemah dari dirinya tidak akan ada masalah bagi Zen mau itu 1 atau 2 Padang.


"Berapa banyak pedang yang kau miliki?"

__ADS_1


Marie tau melihat kalau Zen telah mengahancurkan lebih dari 5 pedang dipertandingkan yang sebelumnya. Marie tidak berharap kalau Zen masih memiliki pedang untuk dapat digunakan.


"Mungkin sekitar puluhan, ya meskipun semuanya adalah pedang tingkat epic."


"Bagitu ya."


Meski semua pedang Zen adalah pedang tingkat epic namun Marie tetap berhati- hati. Sebelum dia tidak dapat bergerak karena serangan dari Zen, Marie dengan cepat mulai menyerang Zen.


Marie mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat, Zen menahan serangan itu dengan pedangnya.


"Ah, retak."


Pedang Zen langsung menunjukan sebuah retakan. Marie lalu menyerang Zen dengan pedangnya yang satu lagi.


Namun sebelum pedang itu mengenainya, Zen sudah terlebih dahulu mengayunkan pedangnya dan mengambil jarak dari Marie.


"Dinding api."


Zen tau kalau Marie membuat lingkaran sihir dibelakang Zen, lingkaran sihir itu lalu aktif dan mengeluarkan es es yang yang lancip.


Sayangnya es itu terlalu lamah, es es itu langsung mencair ketika mengenai Dinding api itu.


"Meski kekuatan ku jauh lebih besar namun tetap saja cukup sulit untuk melawanmu yang menggunakan pedang ganda. Apalagi pedangku ini sangat mudah hancur."


Zen lalu mengeluarkan 2 pedang, Zen akan menggunakan teknik pedang gandanya untuk melawan Marie.


"Aku juga akan menggunakan pedang ganda, jadi kuharap kau tidak masalah."


"Baguslah, kalau begitu bersiaplah untuk menerima serangan ku."


Zen dengan cepat menuju kedepan Marie dan langsung menyerangnya. Zen terus mengayunkan pedangnya, hanya saja Zen sebisa mungkin mencoba untuk mengindari beradu pedang dengan Marie.


Zen terus menerus mengincar bagian tubuh Marie, dan ketika Marie ingin menahan Serangannya maka Zen akan membatalkan Seranganya.


Juga ketika Marie menyerang dirinya, maka Zen hanya akan menghindarinya.


'gerakan pria ini sama sekali tidak memiliki pola.'


Marie mencoba untuk memahami pola serangan milik Zen, namun dia sama sekali tidak dapat menemukan polanya. Itu karena Zen mengayunkan pedangnya secara acak tanpa menggunakan teknik apapun.


"Teknik seribu pedang."


Meski dia tidak dapat menemukan pola serangan Zen, namun Marie tau kalau Zen mencoba untuk menghindari beradu pedang dengannya. Marie lalu memanfaatkan hal itu dan menggunakan teknik berpedangnya.


Marie terus mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat cepat, dan tepat seperti yang Marie pikiran Zen terus menerus menghindari serangan itu tanpa menahannya sedikitpun.


"Ini cukup merepotkan."


Zen dengan cepat mengambil jarak dari Marie, sayangnya Marie tidak membiarkan hal itu. Dia dengan berlari mengejar Zen, namun sebelum Marie dapat kembali menyerangnya Zen sudah terlebih dahulu mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Tekanan angin dari ayunan pedang itu membuat Marie terlempar. Tidak berhenti disitu Zen lalu membuat sebuah lingkaran sihir, Lingkaran sihir itu mengeluarkan banyak petir dan menyerang Marie.


"Cukup bagus, kau dapat menghindari sihir itu."


Meski tidak dapat menghindari semua petir itu namun setidaknya Marie dapat menghindari beberapa darinya. Walaupun begitu tubuh Marie tetap menerima luka yang cukup parah dari sihir itu.


"Kurasa sudah saatnya mengakhiri ini, aku sudah mulai bosan."


Zen kembali mengayunkan pedangnya yang satu lagi, pada ayunan itu Zen mencampurkannya dengan sihir angin sehingga debu debu yang ada disana beterbangan.


Karena debu debu itu Marie sama sekali tidak dapat melihat Zen, Marie lalu mencoba untuk Merasakan keberadaan Zen namun dia masih tidak dapat menemukannya.


"Dimana Dia?"


Marie Merasakan sesuatu diatasnya, Marie melihat keatas dan disana terdapat beberapa lingkaran sihir. Lingkaran sihir kemudian mengeluarkan beberapa bola api dan menyerang Marie.


Marie menghancurkan semua bola api yang menyerangnya itu, namun sayangnya bola api itu tidak seperti bola api yang biasanya. Bola api langsung meledak begitu Marie menghancurkannya, tubuh Marie menerima luka yang cukup parah.


Tidak lama Kemudian bola api yang lain muncul dari depannya, dengan tubuh yang penuh luka Marie tidak lagi dapat menghindari serangan bola api itu.


"Hahh, apa ini adalah akhirnya."


Marie merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk dirinya, diapun hanya dia ditempat dan bersiap untuk menerima serangan bola api itu.


Bola api mengenai tubuh Marie dan menciptakan sebuah ledakan yang besar. Ledakan dari bola api itu membuat Para penonton tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi diarena saat ini.


Setelah beberapa saat debu debu itu menghilang dan mereka dapat melihat Marie yang tergeletak dilantai dengan tubuh yang dipenuhi luka bakar.


Sedangkan disisi lain, Zen sama sekali tidak mendapatkan luka sedikitpun. Zen lalu membersihkan debu dipakainya dan berjalan menuju ketempat Marie.


"Sepertinya kau masih sadar, hanya saja kau kesulitan untuk menggerakkan tubuhmu walaupun sedikit saja."


Zen masih dapat melihat Mata Marie yang sedang menatapnya, namun Marie kesulitan untuk berbicara ataupun menggerakkan tubuhnya.


"Yah karena aku mengikuti turnamen ini hanya untuk bermain kurasa aku akan menyembuhkan lukamu."


Jika sejak awal Zen berniat untuk memenangkan turnamen ini dengan serius maka dia pasti akan langsung membunuh semua lawannya begitu pertandingan dimulai.


"Heal."


Secara perlahan bagian tubuh Marie mulai sembuh.


"Yah meskipun aku tidak menyembuhkanmu sepenuhnya namun kuarasa ini sudah cukup."


"Terima kasih banyak."


"Tidak masalah, namun sepertinya pengawas itu belum mengumumkan hasilnya. Jadi bisakah kau menyerah sekarang."


"Baiklah, aku Marie Curie menyerah."

__ADS_1


Pengawas itu mendengar apa yang Marie katakan dan langsung mengumumkan hasil pertandingan.


"Pertandingan pertama babak kedua dimenangkan oleh Reinhard Vanes."


__ADS_2