
Setelah keluar dari gate Zen melihat gunung didalam kegelapan. Entah sudah berapa lama pertemuan itu berlangsung, saat ini telah malam hari. Pada dasarnya Langit malam membuat daerah sekitar menjadi tidak terlihat dengan jelas, tapi semua itu tidak berlaku untuk ras Vampire.
Ras Vampire dapat melihat meskipun berada didalam kegelapan. Zen dapat melihat sebuah gunung dan juga pepohonan yang lebat. Mereka semua saat ini sedang berada didalam hutan.
"Sekarang kalian bisa bertarung sepuasnya disini. Dan meskipun kalian meratakan gunung itu kalian tenang saja, karena ini adalah wilayahku."
Elizabeth memberitaukan kepada Zen dan Cilkus, tidak peduli apa yang mereka hancurkan mereka tidak perlu khawatir karena daerah sekitar situ adalah bagian dari wilayah Miliknya.
"Baiklah kalau begitu Nona Elizabeth."
Zen dan Cilkus segera terbang pergi menjauh dari tempat para leluhur berada.
"Bagaimana menurutmu Elizabeth?"
"Apanya yang bagaimana Argares?"
"Menurutmu siapa yang akan menang?"
"Bukankah itu sudah jelas, sejak awal kemenangan sudah berada ditangan Zen. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar luka yang akan diterima oleh Cilkus."
Elizabeth yakin akan kemenangan Zen, yang dia khawatirkan adalah luka yang akan diterima oleh Cilkus. Meskipun Cilkus dapat beregenerasi namun itu akan membutuhkan waktu lama jika Cilkus menerima luka yang sangat fatal.
Lagi pula Cilkus adalah salah satu dari sepuluh leluhur Vampire, jika dirinya mati maka itu akan merugikan pihak ras Vampire dalam perang yang akan terjadi nantinya.
"hmm, kurasa kau benar juga. Tapi Elizabeth, tak kusangka kau mau bergerak sesuai dengan yang dia inginkan."
"Apa maksudmu Argares?"
"Jangan berpura pura bodoh Elizabeth, kau sendiri menyadarinya bukan. Sejak awal dia tau kalau Cilkus akan mengajaknya bertarung, karena itulah dia memasang pelindung pada kedua orang yang ikut bersamanya. Lagipula tanpa persetujuanmu mereka berdua tidak akan bertarung."
Cilkus adalah seorang leluhur dengan harga diri yang tinggi, Zen juga mengetahui itu. Karena itulah Zen tau kalau Cilkus pasti akan mengajaknya bertarung.
Sebelum masuk kedalam ruang pertemuan Zen sudah terlebih dahulu memasang pelindung kepada Irene dan Fernanse. Berkat pelindung itulah Irene dan Fernase tidak pingsan meskipun mereka tertekan oleh aura yang besar milik Zen dan Cilkus.
"Tidak masalah aku mengikuti keinginannya atau tidak, bagaimanapun juga kita akan segera melihat pertarungan yang menarik."
"Ya, kau benar. Aku tidak sabar untuk melihat pertarungan apa yang akan mereka perlihatkan."
* * * * * * *
Setelah cukup jauh jarak antara Zen dan para leluhur yang menonton, Zen dan Cilkus pun berhenti.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana tuan Cilkus, apakah kita perlu menambahkan sebuah peraturan?"
"Tidak perlu. Tapi jika kau ingin menambahkan sebuah peraturan maka silahkan buat secepat mungkin."
"Kalau begitu saya akan menambahkannya. Pertama semua senjata boleh digunakan. Kedua semua pelayan boleh digunakan. Ketiga pertarungan hanya akan berhenti ketika salah satu pihak mengaku kalah atau tidak dapat bertarung lagi. "
Zen menambahkan 3 peraturan untuk pertarungan mereka. Sebenarnya peraturan Yang pertama dan kedua itu tidak ada gunanya bagi Zen, mau Cilkus menggunakan senjata atau tidak itu tidak ada masalah bagi Zen.
Yang paling penting bagi Zen adalah peraturan yang ketiga, Zen tau kalau Cilkus pasti tidak akan menyerah meskipun dia kalah. Disitulah Zen memanfaatkan sikafnya itu untuk dapat menghajar Cilkus terus menerus.
"Bagaimana dengan itu tuan Cilkus?"
"Tidak ada masalah bagiku."
"Baguslah kalau begitu."
Zen mengambil sebuah pisau dari ruang penyimpanannya. pisau itu adalah satu dari semua pisau terbang yang Zen beli dari kota danau Mitre.
"Kalau begitu tuan Cilkus. Saya akan melemparkan pisau ini keatas, begitu pisau ini melewati wajah kita maka pertarungannya akan langsung dimulai. Apakah anda setuju?"
"Ya."
Zen melempat pisau itu keatas, begitu pisau itu terlempar keatas Cilkus langsung menyerang
Zen dengan pukulannya. Zen menahan pukulan itu, namun karena terlalu tiba tiba Zen menjadi sedikit terlempar karena pukulan itu.
"Hoo, kau dapat menahannya ya?"
"Ya, meskipun agak sakit. Tapi tidak kusangka tuan Cilkus dapat memanfaatkan celah dari syarat dimulainya pertarungan."
Syarat dimulainya pertarungan adalah begitu pisau melewati wajah mereka berdua. Namun Zen tidak mengatakan kalau arah pisau adalah kebawah, jadi karena Zen melemparkan pisau keatas pada saat itu pertarungan bisa dianggap telah dimulai.
"Tentu saja aku bisa melihat celahnya, hanya saja kau yang terlalu meremehkanku."
"Tidak, saya tidak pernah meremehkan anda. Saya hanya mengatkan yang sebenarnya tentang anda."
Zen menyerang Cilkus dengan pukulannya. Cilkus menahan pukulannya Zen dengan menggunakan pelayan miliknya. Namun tidak hanya Cilkus yang menggunakan pelayan, sebelum pukulannya mengenai pelayan Cilkus, Zen telah terlebih dahulu menggeluarakan pelayan.
Zen memanggil pelayan ke 8, satein. Pelayan kedelapan memiliki bentuk seperti seorang raksasa. Pelayan kedelapan itu memukul Cilkus dari atas. Cilkus yang terlambat menyadari pukulan itu akhirnya terhempas sampai ke permukaan. Permukaan Tanah menjadi hancur begitu tubuh Cilkus mengenai tanah.
Begitu tubuh Cilkus mengenai tanah, Zen langsung membuat sepuluh lingkaran sihir dengan tiga lapis. Lingkaran sihir itu langsung mengarahkan serangannya kearah Cilkus yang Berada dibawahnya.
__ADS_1
Serangan pertama berupa panah api. Panah api menyebabkan pepohonan yang ada ditanah menjadi terbakara. Lalu lingkaran sihir itu kembali menyerang, kali serangannya berupa panah Es. Pepohonan yang tadinya terbakat itu kini menjadi beku. Dan yang terakhir adalah panah cahaya. Panah Panah cahaya itu terus mengarah ketempat Cilkus terjatuh.
"Apakah sudah berakhir?"
Zen terbang mendekati tempat Cilkus terjatuh
.
"Yang benar saja, apa benar benar sudah selesai?"
Dari atas Zen melihat kearah tempat dimana Cilkus terjatuh, namun karena kerusakan dari sihir yang dia gunakan Zen tidak dapat melihat permukaan dengan Jelas.
Zen terus mengamati ke tempat dimana Cilkus terjatuh, hingga akhirnya Zen mengetahui tempat dimana Cilkus berada.
"Meski kecil namun tetap terasa."
Zen merasakan sedikit aura dari Cilkus, aura itu berada beberapa puluh meter dari tempat Cilkus terjatuh. Zen pergi ketempat dimana aura itu berada, dan Zen pun akhirnya dapat melihat Cilkus.
"Masih hidup? Hebat sekali tuan Cilkus."
Mendengar Suara Zen, Cilkus pun langsung melihat kearah Zen berada.
"Ya, meski begitu luka yang kudapatkan cukup parah."
Akibat dari sihir yang Zen gunakan Tangan kanan Cilkus terputus, tangan kirinya kini memegang tangan kanannya yang terputus itu.
"Jadi apakah anda masih ingin melanjutkan pertarungan ini Tuan Cilkus?"
"Tentu saja. Apakah kau berfikir dengan luka yang seperti ini aku akan menyerah?"
"Ya."
"Cih, dasar bocah sialan. Luka seperti ini bukanlah apa apa bagiku."
Cilkus menyambung kembali tangan kanannya yang terputus. Meski membutuhkan beberapa waktu, namun tangan kanannya kini telah kembali tersambung. Melihat tangan Cilkus yang kembali tersambung Zen menjadi sedikit tersenyum Kecil, meski Zen tersenyum kecil Cilkus tidak dapat melihat senyum Zen itu.
"Bagus Tuan Cilkus. Dengan begini kita dapat melanjutkannya."
Zen turun kepermukaan tanah, dia turun tepat beberapa meter didepan Cilkus.
"kalau begitu mari kita lanjutkan pertarungan kita."
__ADS_1