
"Bagaimana Dengan situasi pertarungannya nona Fernanse?"
"Sudah selesai. Zen sudah membunuh naga yang terakhir."
"Begitu Ya."
Irene menutup buku yang dia baca. Dia turun dari kereta dengan memegang bukunya. Fernanse yang melihat Irene turun dari kereta pun bertanya.
"Nona Irene Mengapa kau turun dari kereta setelah pertarungan Zen selesai? Bukankah kita akan langsung pergi begitu Zen kembali?"
"Tidak apa apa. Hanya saja setelah yang mulia kembali kita mungkin tidak akan menggunakan kereta lagi untuk menuju kastil Leluhur ke 2."
"Mengapa?"
"Saya sendiri kurang tau. Yang saya katakan tadi hanyalah firasat saya saja."
"Hmm."
Irene melihat lihat daerah disekitar mereka. Namun sejauh apapun Irene melihat, disekitar mereka saat ini hanya ada tanah bekas bakaran. Bahkan pohon dan rumputpun tidak ada lagi disekitar mereka.
'Kerusakan yang sangat parah. Untung saja ini masih didalam wilayah yang mulia.'
Irene lega karena daerah yang hancur ini masih masuk kedalam wilayah Zen. Jika ini wilayah dari leluhur yang lain, maka Zen pasti akan disidang dalam pertemuan yang akan dilaksanakan nanti.
"Ngomong ngomong Nona Fernanse, apakah yang mulia tadi menggunakan pelayannya?"
"Pelayan? Apakah yang kau maksud adalah wujud kekuatan dari seorang leluhur vampire?"
"Iya. Jadi apakah tadi yang mulia memakainya?"
"Sejauh yang kulihat tadi sih Zen sama sekali tidak ada mengeluarkan pelayannya sekalipun. Bahkan walaupun dia menggunakan pedang suci dan terkutuknya, dia hanya menggunakan sedikit dari kekuatan aslinya."
"Begitu ya."
"Apakah ada masalah Nona Irene, hingga anda harus bertanya hal seperti itu?"
"Tidak, tidak ada masalah sedikitpun."
* * * * * * *
"Tujuanku disini sudah berakhir, sekarang saatnya kembali kekereta."
Setelah membunuh naga yang yang terakhir, Zen pergi meninggalkan tubuh naga merah itu. Zen berjalan kearah dimana Irene dan Fernanse sedang berdiri.
Zen menyimpan kembali pedangnya dan menambah kecepatan berjalannya. Setelah beberapa saat Zen akhirnya sampai ketempat dimana Irene dan Fernanse berada.
"Selamat datang kembali yang mulia."
__ADS_1
Irene yang pertama memberikan salam kepada Zen.
"Yahhh, tadi itu pertarungan yang sangat menghibur Zen."
"Syukurlah jika kau senang Fernanse."
"Ya, tentu saja aku senang. Coba kau lihat daerah sekitar kita, hampir semuanya hancur."
Zen melihat daerah sekitarnya, seperti yang Fernanse katakan kalau daerah sekitar mereka benar benar hancur.
"Yahh, mau bagaimana lagi. Para naga itu ternyata cukup kuat."
Tentu saja Zen berbohong, meski kekuatannya saat ini tidak dalam kondisi 100%, tapi mengalahkan naga yang berumur sekitar 50 tahun itu bukanlah sebuah masalah baginya.
"Saya rasa bukan naganya yang terlalu kuat. Tapi yang mulia lah yang terlalu lama bermain main dengan para naga itu."
Irene yang tidak terlalu suka ikut campur kini memberikan pendapatnya.
"Apa yang kau maksud Irene?"
"Seperti yang saya bilang, anda terlalu banyak bermain main dengan para naga itu. Jika sejak awal anda serius dalam melawan mereka, maka anda dapat mengalahkan mereka tanpa membuat kerusakan seperti ini."
"Tidak, tidak, Irene Aku serius. Para naga itu sungguh sangat kuat, karena itulah butuh waktu lama untuk melawan mereka."
"Ohho, apakah benar begitu?"
Irene bertanya kepada Zen dengan tatapan yang tajam, namun Zen menjawab pertanyaan Irene dengan memalingkan wajahnya.
"Jika para naga itu memang sangat kuat, lalu mengapa anda tidak menggunakan pelayan anda? "
"Pelayan? Ayolah Irene, kau tau bukan kalau kebanyakan pelayanku sudah kuberikan kepada manusia. Saat ini hanya tinggal 4 pelayan yang ada padaku. Pelayan mana yang harus kugunakan, pelayan ke 10 tidak akan berguna didalam pertempuran."
"Bukankah anda mempunyai pelayan ke 7, Shikin. Dengan kekuatannya saya rasa para naga itu bukanlah tandingannya."
"Kau memang benar Irene, dengan kekuatan Shikin para naga itu bukanlah lawan yang susah. Tapi aku punya tujuan sendiri untuk tidak menggunakannya."
Untuk sesaat Irene melihat kemata Zen. dengan melihat mata Zen, Irene paham dengan tujuan yang Zen katakan.
"Begitu ya. Kalau begitu saya tidak akan bertanya lebih banyak lagi."
"Terima kasih Irene, karena kau dapat dengan cepat memahami maksudku."
Setalah selesai berbicara dengan Irene, Zen pergi menuju ketempat prajurit yang membawa kereta mereka. Melihat Zen datang mendekatinya, prajurit itupun langsung jongkok dan memberikan salam.
"Kau kembalilah kekastil. Dan juga sampaikan pesanku kepada Jendral Taks. Katakan padanya selama aku dan Irene tidak berada dikastil, maka dialah orang yang akan bertanggung jawab atas keamanan. Apa kau mengerti?"
"Saya mengerti yang mulia."
__ADS_1
"Kalau begitu kau pergilah sekarang!"
"Baik yang mulia."
Prajurit itupun berdiri. sesuai dengan perintah Zen, prajurit itupun langsung membawa kereta kuda yang mereka naiki kearah kastil Zen.
"Zen mengapa kau menyuruhnya untuk kembali? Kita bahkan belum sampai ke tempat pertemuan."
Melihat kereta mereka yang semangkin jauh, Fernanse pun segera bertanya kepada Zen.
"Kita sudah tidak membutuhkannya, karena itulah aku menyuruhnya untuk kembali."
"Yang Benar saja Zen. Menurutmu seberapa jauh jarak dari sini ke tempat pertemuan?"
"Jika kuhitung hitung, mungkin sekitar 3 hari berjalan kaki."
"Bukankah itu berarti masih jauh? Dan juga apa kau pikir aku dapat berjalan sejauh itu? Aku menolak untuk berjalan kaki."
Fernanse memberikan suara penolaknnya, tentu saja mustahil bagi anak yang berusia 10 tahun untuk berjalan kaki dalam waktu yang lama.
"Fernanse sepertinya kau salah paham disini. Kapan aku mengatakan kalau kita akan berjalan kaki?"
Mendengar pertanyaan dari Zen, Fernanse menjadi diam untuk sesaat. Dia berfikir banyak didalam kepalanya, dan akhirnya dia sadar kalau dia telah salah paham.
Sejak awal Zen sama sekali tidak pernah mengatakan kalau mereka akan berjalan kaki menuju ketempat pertemuan. Semua itu hanyalah kesalahpahaman yang dibuat oleh Fernanse, dia berfikir kalau mereka akan berjalan kaki menuju ketempat pertemuan.
"Tidak penah bukan? "
"Iya. Jadi kita akan menggunakan apa untuk pergi kesana."
Zen tersenyum untuk sesaat setelah mendengar pertanyaan dari Fernanse. Zen mengarahkan tangan kanannya kedepan, lalu sebuah gerbang berwarna biru tuapun muncul didepannya.
"Kita akan Pergi kesana dengan menggunakan ini."
Melihat ada sebuah gerbang yang muncul didepan Zen, Fernanse pun menjadi senang. Tentu saja dia senang, karena dengan adanya gerbang itu dia tidak perlu lagi merasakan bosan.
"Bagitu ya, akhirnya aku paham. Kalau begitu aku akan pergi duluan."
"Ya, silahkan."
Fernanse pun memasuki gerbag itu, dan sosoknya pun menghilang.
"Irene!"
"Iya, yang mulia."
Setelah Fernanase, Irene pun memasuki gerbang itu juga. Lalu Zen pun juga memasuki gerbang itu, begitu sosok Zen menghilang gerbang itupun menjadi tertutup.
__ADS_1