Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Pedang Semi Ilahi


__ADS_3

Zen lalu dengan cepat membunuh mereka semua satu persatu hingga akhirnya dia hanya menyisakan satu orang saja. Pria yang Zen sisakan itu merasakan rasa takut yang sangat besar.


Kepalanya tidak dapat mencerna apa yang dia lihat saat ini, mayat rekannya terbaring dimana mana dengan darah dengan terus keluar. Pria itu lalu melihat mata Zen, dan dia sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya.


Zen berjalan kearah pria itu sambil terus mengintimidasi nya.


'apa ini akhir dari hidupku?'


Pria itu sudah sangat pasrah, jangankan berfikir untuk kabur bahkan dibawah tekanan Zen itu dia sama cukup kesulitan untuk bernafas.


"Aku akan membiarkan mu hidup untuk saat ini."


"Benarkah?"


"Iya, tentu saja."


Mendengar perkataan Zen pria itu merasa telah mendapatkan sebuah berkah. Pria itu dengan cepat berdiri dan mencoba untuk pergi.


"Namun aku memiliki sebuah syarat."


Pria itu lalu berhenti dan langsung berbalik kearah Zen.


"Tunjukan aku markas kalian."


"Apa hanya itu saja?"


"Iya, dengan begitu kau masih akan hidup untuk saat ini "


"Baiklah, kalau begitu tolong ikuti aku."


Pria itu kemudian berjalan menuju kesebuah tempat, Zen dan Lin Yan hanya mengikutinya dari belakang.


Setelah beberapa saat berjalan mereka akhirnya sampai kesebuah goa dan memasukinya.


"Ini adalah markas kami."


Didalam goa itu Zen dapat melihat ada beberapa barang yang cukup bagus, dan beberapa herbal yang mungkin akan berguna untuk dirinya.


"Hmm, kerja bagus."


Zen lalu mengeluarkan pedang miliknya dan langsung menusuk dada pria itu.


"Bukankah kau mengatakan akan membiarkan ku hidup?"


Dengan kesadaran yang hampir menghilang pria itu berbicara kepada Zen.


"Aku tidak ada mengatakan kalau akan membiarkanmu hidup dalam waktu yang lama."


Zen lalu menarik kembali pedangnya.


"Sialan kau. Semoga surga memberikanmu sebuah hukuman."


Sambil mengutuk Zen pria itu terus memuntahkan darah.

__ADS_1


"Sayangnya surga terlalu sibuk hingga dia tidak dapat memberikanku sebuah hukuman. Dan asal kau tau, kematian adalah hukuman terbaik yang dapat kuberikan padamu."


Zen lalu dengan cepat menebaskan pedangnya ke kepala pria itu dan pria itupun langsung mati.


Zen langsung menyimpan pedang miliknya dan melihatnya kearah Lin Yan.


"Kau cukup cepat beradaptasi, sepertinya kau telah terbiasa."


Sebelumnya Lin Yan akan selalu muntah muntah jika melihat darah orang lain, namun kali ini dia sama sekali tidak menunjukan hal itu.


Dia hanya menunjukan sebuah ekspresi kosong seperti dia telah terbiasa melihat hal yang seperti itu.


"Setelah cukup lama bersama mu, kau tidak memiliki pilihan lain selain terbiasa dengan hal yang seperti itu."


"Begitu ya."


Zen lalu berjalan ketempat herbal herbal yang ada didalam goa itu.


"Ngomong ngomong apa yang dimaksud dengan surga oleh pria tadi itu?"


"Ah, itu hanyalah sebuah kepercayaan. Para seniman beladiri percaya kalau yang menciptakan semua yang ada dialam semesta ini adalah surga."


"Eh, mengapa bisa surga? Bukankah yang menciptakan segalanya adalah dewa?"


Zen langsung berhenti begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Lin Yan, dan Zen pun langsung berbalik melihat kearahnya.


"Lin Yan, apa kau percaya dengan dewa?"


"Iya, aku percaya dengannya. Apa ada masalah dengan itu?"


Pada awalnya Zen mengira kalau Lin Yan tidak akan percaya dengan surga ataupun dewa. Namun Zen Tidak menyangka kalau dia akan mendengar sendiri kalau Lin Yan percaya pada dewa.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, jadi mengapa harus surga dan bukan dewa?"


"Yah setidaknya bagi mereka kedudukan surga jauh lebih dari tinggi dari pada dewa."


"Apa surga memiliki bentuk?"


"Entahlah, aku juga tidak tau mengenai hal itu."


"Apa dewa juga memiliki bentuk?"


"Mereka memilikinya, dan aku juga mengenal dewa dunia ini."


"Kau berteman dengan dirinya?"


"Hmm, mungkin bisa dibilang seperti itu."


"Bagaimana penampilan dewa dunia ini?"


"Apa kau tertarik dengan penampilannya?"


"Tentu saja aku tertarik, dia adalah seorang dewa anda tau. Dia adalah orang yang menguasai dunia ini, jadi seperti apa penampilannya?"

__ADS_1


"Hmm, bagaimana ya. Kurasa aku tidak akan memberitahu mu, kau harus mencaritahunya sendiri."


"Bagaimana bisa aku mengetahuinya sendiri, lagi pula dia adalah dewa dan aku adalah manusia biasa."


"Jika kau menjadi kuat kau pasti akan dapat bertemu dengannya. Lagi pula dewa itu tidak terlalu berbeda denganmu, dia hanya sedikit lebih kuat saja."


Zen lalu kembali berjalan menuju tempat herbal terkumpul didalam goa itu.


'Sepertinya benua ini benar benar sangat buruk, bahkan hanya ada tumpukan sampah disini.'


Pada awalnya Zen merasa dari semua barang yang ada didalam goa itu akan berguna untuknya, namun dari semua barang itu dia hanya melihat tumpukan sampah yang tidak berguna untuknya.


'namun setidaknya tumpukan sampah ini cukup berguna untuk Lin Yan.'


Meski tidak berguna untuk dirinya namun beberapa barang yang ada disana masih cukup berguna untuk Lin Yan. Zen pun langsung menyimpan semua barang itu dicincin penyimpanannya.


'hmm, ruangan rahasia.'


Didalam goa itu Zen dapat merasakan sebuah ruangan rahasia, diapun segera berjalan menuju pintu masuk ruangan itu yang tertutup oleh batu besar.


Zen lalu dengan cepat menghancurkan batu itu dan memasuki ruang rahasia itu.


"Hoo, ini cukup menarik."


Didalam ruangan itu Zen melihat tengkorak seseorang yang sedang duduk, didekat tengkorak itu terdapat sebuah tungku dan sebuah pedang.


"Hmm, semi ilahi ya. Yah setidaknya ini masih lebih baik dari pada pedang yang kumiliki saat ini."


Pedang yang Zen miliki saat ini adalah pedang suci tingkat 3, sedangkan pedang yang baru saja dia dapatkan saat ini adalah pedang semi ilahi tingkat 2.


Meski jarak tingkatannya tidak terlalu jauh namun tetap saja perbedaannya akan terlihat dengan jelas.


"Meski tidak terlalu bagus namun ini masih lebih baik dari pada yang kubeli sebelumnya."


Tungku yang ada disana juga masih lebih bagus dari pada tungku yang Zen beli hari itu, diapun langsung menyimpan tungku itu.


Zen lalu mengambil sebuah buku yang ada ditangan tengkorak itu, Zen sedikit terkejut ketika membaca isinya.


"Ini teknik berpedang seni Kekosongan, bagaimana bisa teknik ini tertulis didalam sebuah buku."


Seni kekosongan adalah teknik yang Zen ciptakan sendiri, itu juga bukanlah sebuah teknik yang Zen buat dalam sebuah buku.


Semasa hidupnya dulu dia hanya memberikan teknik itu kepada 2 orang saja, dan kedua orang itu bukanlah orang yang akan mengajari teknik itu keorang lain.


"Sepertinya ini masih sangat tidak lengkap."


Didalam buku itu hanya tertulis cara menggunakan gerakan pertama saja, 6 gerakan sisanya tidak ada didalamnya.


"Meski begitu ini bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari oleh siapapun."


Zen langsung membakar buku itu hingga tidak tersisa. Zen lalu mengambil semua barang berharga yang ada didalam sana dan kembali ketempat Lin Yan berada.


"Apa sudah selesai?"

__ADS_1


"Iya, ayo kita pergi."


Zen dan Lin Yan berjalan keluar dari goa itu.


__ADS_2