Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Mahkota King


__ADS_3

Hua Tian telah pergi dari rumah Zen, sekarang tinggal Zen dan yang lainnya berada dirumah itu.


"Jadi mengapa kau sangat lama datang kesini?"


Zen menatap Rubia dengan tajam, namun sama seperti biasanya Rubia selalu saja tersenyum. Rubia sendiri seperti tidak memiliki sesuatu yang dia takutkan, dia selalu saja tersenyum diberbagai situasi. Namun sebenarnya senyuman itu muncul bukan karena dia ingin menghilangkan rasa takutnya melainkan itu karena dia sedang menikmati sesuatu.


Senyuman itu menunjukkan sebuah kelicikan yang tiada tara, hanya saja saat dihadapan Zen Rubia hanya tersenyum untuk menggodanya saja.


"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu karena telah membuatnya menangis. Jika tidak maka aku tidak akan membutuhkan waktu selama ini untuk membujuknya."


Zen tau itu memang salahnya karena membuat Ciel menangis, namun dia sama sekali tidak berniat untuk meminta maaf. Bagaimanapun Zen melakukan hal itu untuk kebaikan Ciel, namun tetap saja yang terpenting adalah untuk kebaikan dan kelancaran Rencana Zen.


"Ayah apa anda benar benar membuat Ciel menangis?"


Xia Shuang yang mendengar perkataan Rubia langsung berbicara, meski terlihat seperti tidak dekat namun sebenarnya Xia Shuang sangatlah dekat dengan Ciel. Dalam waktu 2000 tahun lebih ini Ciel terkadang mengunjungi Xia Shuang dan terkadang dia juga selalu melindunginya, tentu saja Xia Shuang menyadari apa yang Ciel lakukan namun karena Ciel seperti tidak ingin dia mengetahuinya jadi dia berpura pura tidak tau.


Juga karena dia adalah ratu roh Ciel jadi bisa mencari informasi apapun dari dunia roh, berkat kemampuan itu Ciel sedikit membantu Xia Shuang dalam mengendalikan dan memperkuat tubuh es Abadinya.


"Mungkin bisa dibilang begitu."


"Mungkin? Apa yang sebenarnya anda lakukan ayah?"


Meski Xia Shuang hormat kepada Zen namun Xia Shuang tetap ingin mengetahui apa yang sebenarnya Zen lakukan pada Ciel hingga membuatnya menangis. Meski mereka berbeda ras dan sama sekali tidak ada hubungan darah namun Xia Shuang telah menganggap Ciel sebagai kakaknya.


Seperti Ciel yang menyayangi Xia Shuang dengan tulus, Xia Shuang juga menyayangi Ciel layaknya seorang saudara yang saling menyayangi.


"Berhentilah membicarakan hal itu Xia Shuang, bagaimanpun akulah yang salah."


"Benar yang Ciel katakan, untuk saat ini mari coba untuk melupakan hal itu." Ucap Zen dengan sedikit senang, karena dengan begitu topik pembicaraan akan langsung berubah.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


Meski Xia Shuang sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi namun Ciel sudah menyuruhhya untuk berhenti memikirkan hal itu, Xia Shuang tidak memiliki pilihan lain selain berhenti bertanya.


"Sekarang bisakah kau memberikan kembali mahkota king ku Ciel?"


"Aku akan melakukannya lagi pula itulah tujuan kami datang kesini."


Ciel lalu mengeluarkan sebuah mahkota dan langsung memberikannya kepada Zen, tanpa ragu sedikitpun Zen menerima mahkota itu.


"Urusan Ku disini sudah selesai aku akan kembali sekarang, aku akan menemuimu beberapa hari lagi. Sampai jumpa Xia Shuang."


"Iya sampai jumpa Ciel."


Ciel langsung menghilang dan kembali kedunia roh.


"Ratu roh yang cukup merepotkan, padahal lebih baik jika kalian tidak memiliki emosi."


"Yah kurasa kau benar."


Keberadaan para roh ada untuk membantu para mahluk hidup lainnya seperti manusia, elf, iblis ataupun vampire. Karena para roh memiliki emosi mereka jadi dapat diajak bekerja sama dengan baik, namun berbeda jika para roh tidak memiliki emosi. Mereka hanya akan melakukan apa yang menjadi tugas mereka dan tidak akan peduli dengan yang lain.


Sebagai contoh jika roh tidak memiliki emosi maka pada saat pemilik kontrak dengannya mengalami bahaya maka roh tidak akan peduli karena tugasnya hanyalah untuk menyerang musuh, namun jika roh memiliki emosi maka yang terjadi akan sebaliknya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang Rubia?"


"Aku akan kembali kedunia roh, akan berbahaya jika tidak ada yang menghentikan Ciel pada saat emosinya tidak stabil."


Didunia roh Ciel adalah yang terkuat bahkan Rubia bukanlah tandingannya meskipun dia telah menggunakan semua Kekuatannya. Meski begitu sikap Ciel masih seperti anak remaja pada umumnya, ketika emosinya tidak stabil dia mungkin bisa saja menghancurkan sebagian besar wilayah roh. Pada saat itu terjadi harus ada yang dapat menghentikan Ciel, disinilah waktunya bagi Rubia untuk turun tangan. Meski dia tidak dapat menghentikan Ciel dengan kekuatan namun dia masih dapat menghentikan Ciel dengan memanfaatkan emosinya.

__ADS_1


Hubungan Rubia dan Ciel cukuplah dekat, meski Ciel sangat marah sekalipun dia masih akan mendengarkan apa yang Rubia katakan.


"Kalau begitu lakukanlah tugasmu, jika tidak maka akan sangat banyak roh yang akan mati."


"Itulah niatku sejak awal."


Rubia lalu langsung pergi kembali kedunia roh.


"Kau kembalilah sekarang Xia Shuang, ayah akan sedikit sibuk sekarang."


Mahkota king milik Zen telah berada ditangannya, sekarang Zen akan melakukan proses penyatuan dengan mahkota itu. Selama beberapa hari Zen tidak akan dapat melakukan apapun ataupun berbicara kepada Xia Shuang, dari pada membuatnya bosan disitu Zen lebih memilih untuk menyuruh Xia Shuang pergi kembali kerumahnya.


"Saya akan tetap disini saja, lagi pula bukankah ayah membutuhkan orang untuk menjaga ayah selama proses penyatuan?"


Dalam proses penyatuan dengan mahkota Kekuatan memang ada kemungkinan untuk diserang dan membuat proses penyatuan menjadi gagal, namun siapa orang bodoh yang ingin mengganggu proses penyatuan Zen bahkan Cheng Ning tidak akan melakukan hal seperti itu. Jadi Zen sebenarnya sama sekali tidak perlu dijaga namun kerena Xia Shuang sudah mengatakan kalau dia tetap akan disitu Zen jadi tidak dapat menolaknya.


"Baiklah kau bisa tetap berada disini, namun jangan pernah masuk kesini tanpa izin."


"Saya mengerti."


Xia Shuang lalu langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan sekarang hanya tinggal Zen yang tersisa.


"Entah sudah keberapa kalinya ini."


Meski Zen masih belum menyatukan mahkota itu dengan tubuhnya sebayak puluhan kali namun Zen telah merasa sangat bosan, bagi Zen menghabiskan waktu beberapa hari untuk bermeditasi bukanlah hal yang susah namun yang merepotkan adalah dia harus tetap menjada mana dan energi spiritual tetap stabil.


Meski Zen sudah bosan namun dia tidak memiliki pilihan lain, bagaimanapun untuk dapat meningkatkan kekuatannya dengan cepat Zen harus bersatu dengan mahkota king itu.


Zen segera mengalirkan mana miliknya kedalam mahkota itu dan Zen lalu memasukkan mahkota itu kedalaman tubuhnya. Karena ini adalah mahkota yang ketiga kedua mahkota yang sudah ada didalam tubuh Zen menunjukan sebuah respon seperti sebuah penolakan.

__ADS_1


Zen tidak peduli dengan hal itu, sambil terus menahan rasa sakit yang luar biasa Zen terus memasukkan mahkota itu kedalam tubuhnya.


__ADS_2