
[Pemilik Pelayan Keenam, Accua]
"Kupikir ditengah kekacauan tadi setidaknya dapat membunuh salah satu dari kalian, namun tak kusangka aku hanya dapat memotong lengan salah satu dari kalian."
Aku sendiri tidak tau sihir cahaya tadi berasal dari mana, meski terjadi kekacauan diantara mereka karena sihir tadi namun aku hanya dapat memotong lengan salah satu dari mereka. Jika aku boleh berkata dengan jujur maka aku menyesal karena tidak dapat membunuh salah satu dari mereka.
"Manusia, kau memiliki kekuatan yang cukup besar sehingga masih dapat bertahan dari 4 jendralku."
Awalnya aku kita yang mengatakan hal itu adalah salah satu dari 4 high orc yang kulawan. Namun tebakanku salah, yang berbicara adalah high orc yang sedang duduk dikursinya.
"Terima kasih atas pujianmu, tapi aku tidak sekuat yang kau katakan. Buktinya aku masih belum bisa mengalahkan salah satu jendralmu."
"Tentu saja kau tidak akan bisa mengalahkan mereka. Karena meski kau memiliki kekuatan yang kuat kau hanyalah manusia."
"Begitu ya. Jadi selama aku hanyalah seorang manusia aku tidak akan dapat mengalahkan salah satu jendralmu. Kalau begitu bisakah aku bertanya satu hal padamu?"
"Apa yang ingin kau tanyakan. Manusia!"
"Kudengar hanyalah monster tingkat tinggi yang dapat berbicara dengan manusia, dan juga meski rasmu adalah orc tapi kau bukanlah orc biasa ataupun high orc. Kalau begitu kau itu monster jenis apa?"
Dia tadi mengatakan kalau ke 4 high orc itu adalah para jendralnya. Jika monster sekuat mereka adalah jendral maka dia pasti adalah orc yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari mereka. Kekuatan sihirnya sendiri sangat abnormal, akan sangat sulit untuk melawanya tanpa mengetahui apa apa tentang dia.
"Ada apa? Mengapa kau diam saja? Apakah kau hanyalah monster sejenis goblin?"
"Manusia! Kekurang ajaranmu itu dapat membuatku membunuhmu. Beraninya kau menyamakan monster tingkat tinggi sepertiku dengan monster rendahan seperti mereka."
__ADS_1
"kalau kau sangat tidak ingin disamakan dengan mereka mengapa kau tidak segera memberi tauku jenis monster seperti apa kau?"
"Baiklah manusia. Jika sangat ingin tau mengenai tentangku. Hanya saja jangan sampai kau ketakutan begitu kau mengetahui tentangku."
"Tenang saja aku tidak akan ketakutan hanya karena dirimu."
High orc yang duduk dikursinya mulai berdiri. Dia memegang sebuah bola kristal ungu ditangan kananya, jubah merah miliknya berlambai lambai dikarenakan terkena angin, lalu dia mulai memperkenalkan dirinya.
"Aku adalah orc king! Peringkat tertinggi dari pemimpin ras orc. Aku juga merupakan pelayan dari yang mulia raja iblis Malius, Raja iblis peringkat ke 6 dari 7 raja iblis yang agung!."
"Ho ho. Raja iblis ya."
Sial, ternyata dia adalah bawahan raja iblis. Sepertinya hal ini menjadi lebih merepotkan dari perkiraanku, kupikir dia hanyalah monster tingkat tinggi. Namun siapa sangka yang ada dibelakangnya adalah salah satu mahluk yang berada diatas rantai kekuasaan, meskipun hanyalah peringkat keenam namun itu tidak bisa dianggap remeh.
"Bagaimana Manusia. Apakah kau merasa ketakutan setelah mengetaui identitasku?"
"Iya, aku sangat ketakuan."
"Kalau begitu bagaimana jika sekarang kau mundur. Sekarang jika kau pergi meninggalkan kami maka kami akan membiarkan kau pergi."
"Baiklah, aku akan menerima saranmu. Aku akan pergi setelah membunuhmu! "
Aku menggunakan kecepatan penuhku menuju kearah orc king itu. Para high orc yang terlambat memyadari pergerakanku mulai menuju kearahku dengan kecepatan penuh mereka. Selagi aku mendekatinya orc king membuat sebuah sihir bola api yang cukup besar yang memilki diameter kira kira 4 meter.
Orc king itu mulai melepaskan sihir bola apinya. Bola apinya mendekat kearahku dengan cukup cepat, aku segera berhenti mendekatinya dan melompat kearah belakangku. High orc yang tepat beradaku berhenti berlari begitu mengetahui kalau aku sudah tidak ada didepannya. Dia menyadari kalau aku berada dibelangnya dan mencoba mendekatiku, namun sayangnya dia sudah terlambat. Bola api milik orc king itu mengenai dirinya. Dia tidak sempat menghindar ataupun menahan bola api itu, Kobaran api memenuhi dirinya. Ketiga high orc yang lain tidak memperdulikanya dan tetap menuju kearahku.
__ADS_1
High orc itu tidak dapat bergerak dengan bebas karena kobaran api ditubuhnya, melihat kesempatan ini aku segera memotong kepala high orc itu. Dalam sekali serangan aku telah
berhasil memotong kepalanya, hal itu dapat dengan mudah kulakukan karena dia sudah tidak memiliki lengan yang biasa digunakan untuk memegang senjata dan menahan seranganku.
"Terima kasih atas bantuanmu orc king, dengan begini salah satu jendralmu telah mati."
"Dasar manusia sialan!!! "
Orc king mengeluarkan aura yang lebih besar dari sebelumnya, tanah tanah disekitar pijakannya menjadi hancur. Dia mengeluarkan sihir dengan 4 elemen sekaligus. Sihir api, air, angin dan petir berbentuk bola yang ada diatasnya terus menerus membesar.
3 high orc yang masih hidup terus menerus mengejarku, kami beradu pedang sesekali. Mereka sama sekali tidak membiarkanku mendekati orc king itu, selagi aku terus menerus berurusan dengan 3 high orc yang merupakan jendralnya. Orc king itu mengarahkan sihirnya kearahku tanpa memikirkan kalau ke 3 jendralnya berada didekatku.
Begitu sihir 4 elemennya sudah cukup dekat denganku, semua sihir itu menjadi lebih besar dari sebelumnya. Sihir itu menghasilkan angin topan yang dilapisi api. Genangan air yang berada ditanah terus menerus mengalirkan listrik dari petir yang terus menghantamnya. Aku sama sekali tidak dapat menghindar dari serangannya, aku sama sekali tidak dapat bergerak. Meski aku telah menggunakan sedikit sihir pengalang dan dispel namun aku tetap mendapatkan rasa sakit dan luka dari sihirnya itu.
Sihir itu aktif dalam waktu yang cukup lama. Setelah begitu banyak luka yang kudaptkan, sihir itu mulai berhentu dan menghilang. Para jendral high orc itu juga mendapatkan luka yang sama denganku, tidak mungkin lebih parah dariku. Para high orc itu ada yang kehilangan tangan, ada yang kehilangan kaki dan ada juga yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka.
"Kekuatan pertanahanmu cukup besar juga, Manusia."
"Terima Kasih atas puji..... Huh?"
Aku terkejut dengan pemandangan yang ada didapanku saat ini. Aku sama sekali tidak menyadari dan merasakan auranya. Aku juga tidak tau entah sejak kapan orc king itu berada didepanku, bola kristal yang sebelumnya dia pedang juga tidak ada. Saat ini dia sedang memegang pedang yang cukup besar.
"Meski pertahanmu cukup besar Namun hidupmu hanya akan sampai disini."
Dia menusukkan pedang miliknya kedadaku. Tubuhku merasakan rasa sakut yang sangat luar biasa, seolah olah rasa sakit yang kurasakan karena sihir miliknya tadi bukanlah apa apa. Darahku terus menerus mengalir dari dada dan mulutku, dan aku merasa kesadaranku mulai menghilang secara perlahan.
__ADS_1