
Begitu Zen membuka penghalang nya Zen dapat melihat kembali sinar matahari setelah sekian lama. Tidak hanya itu Zen dapat melihat seorang perempuan yang terluka dikepung oleh beberapa orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup.
"Apa kalian lakukan?"
Mereka semua terkejut begitu melihat Zen, meraka tidak menyangka kalau batu besar yang mereka lihat sebenarnya adalah sebuah ilusi.
"Tolong bantu aku."
Dengan penuh luka perempuan itu berjalan menuju kearah Zen.
"Apa yang terjadi padamu?"
Zen bertanya kepada perempuan itu.
"Mereka mencoba untuk membunhku."
"Begitu ya, dengan kata lain mereka adalah assassin ya."
"Iya, karena itu kumohon tolong aku "
Zen lalu melihat kearah para assassin itu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Ucap salah satu assassin itu.
"Bukankah sudah jelas kita harus menyelesaikan misi ini." Jawab assassin yang lainnya.
"Orang itu berada di alam hidup dan mati, apa kau pikir kita dapat mengalahkannya."
Beberapa diantara para assassin itu menjadi ragu, kebanyakan dari mereka berada dialam penempaan Jiwa dan beberapa beberapa berada di alam peningkatan Jiwa.
Meski jumlah mereka banyak namun jarak kekuatan antara mereka dan Zen sangatlah jauh.
"Siapa yang peduli dengan hal itu, kita adalah assassin yang terhormat. Kita selalu menyelesaikan misi yang kita terima, dia hanyalah sendiri dan kita ada banyak."
Salah satu orang assassin menuju kearah Zen dengan cepat, pria itu mengeluarkan niat membunuh yang besar. Dengan belati miliknya dia menyerang Zen, Zen lalu mengeluarkan pedang ilahi yang dia dapatkan dari Ling Hao.
Dengan pedang itu Zen menahan serangan assassin itu dan Zen langsung membunuhnya.
"Itu pedang tingkat tinggi."
Sama seperti dunia bawah yang lainnya, didunia ini pedang suci adalah tingkat yang tertinggi. Para assassin itu tidak tau kalau pedang Zen adalah tingkat ilahi jadi mereka menganggap pedang itu sebagai tingkat tinggi.
"Mustahil bagi kita untuk mengalahkannya."
__ADS_1
Alam hidup dan mati dengan pedang tingkat tinggi ditangannya, mereka sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengalahkan Zen.
"Misi gagal kita harus pergi sekarang."
"Kau benar kita harus pergi secepat mungkin."
Para assassin itu dengan cepat pergi meninggalkan zen dan perempuan itu.
"Ah, meraka kabur. assassin macam apa yang takut dengan kematian."
Seperti para seniman beladiri yang mempertaruhkan nyawanya agar dapat naik ke dunia atas, para assassin biasanya selalu mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelesaikan misinya. Sangat jarak untuk dapat melihat assassin yang takut akan kematian.
"Tolong bunuh mereka semua."
Perempuan itu memohon kepada Zen dengan air mata yang terjatuh.
"Tidak, tidak, bukankah itu mustahil."
Jika mereka semua berkumpul dalam satu tempat Zen bisa membunuh mereka semua, namun saat ini para assassin itu berlari dengan rute yang berbeda beda. Akan cukup sulit bagi Zen untuk mengejar mereka semua.
"Meski begitu, kumohon."
Perempuan itu terus menangis sambil memohon kepada Zen, Zen tidak terlalu suka melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh perempuan itu dan diapun langsung melakukan apa yang diinginkan oleh perempuan itu.
"Aku tidak bisa membunuh mereka semua, tapi setidaknya aku dapat membunuh beberapa diantaranya."
"Meski ini hanyalah senjata tingkat epic namun seharusnya sudah cukup."
Zen lalu mengangkat panah itu dan menciptakan anak panahnya dengan sihir. Meski didunia ini tidak ada mana namun Tanallis milik Zen masih menyimpan mana dalam jumlah yang besar, jadi membuat anak panah dengan sihir bukanlah sesuatu yang sulit bagi Zen.
"Ulgoa."
Zen lepaskan anak panah itu, dan anak panah itu langsung terpecah menjadi 5 bagian. Setiap bagian menuju kearah seorang assassin seperti sebuah roket kendali. Dan dalam waktu singkat ke 5 pecahan anak panah itu telah membunuh 5 orang assassin.
"Sepertinya ini sudah cukup, lagi pula yang lainnya telah berlari cukup jauh. Akan sangat merepotkan untuk mengejar mereka."
Zen lalu menyimpan kembali panah miliknya, dan kembali ketempat perempuan itu berada. Namun saat Zen kembali perempuan itu telah pingsan.
"Sepertinya aku harus berada digoa ini selama beberapa hari lagi."
Zen Tidak bisa membiarkan perempuan itu mati begitu saja, diapun segera membawa perempuan itu kedalam goa.
"Luka yang cukup parah, bagaimanapun caraku untuk menyembuhkan luka itu."
__ADS_1
Zen sedikit binggung dengan situasi ini, dia bisa saja menyembuhkan luka perempuan itu dengan sihir miliknya atau dengan potion yang ada didalam ruang penyimpanan miliknya. Namun ini adalah dunia dengan energi spiritual, Zen merasa tidak baik jika dia melakukan hal itu.
"Ah, jika aku tidak salah ingat Ling Hao mengatakan kalau dia memberikan ku beberapa pil."
Zen lalu memeriksa beberapa pil yang dia dapatkan dari Ling Hao, semua pil yang Ling Hao berikan adalah pil tingkat tinggi yang tidak akan dapat ditemukan di dunia bawah ini. Setelah beberapa saat Zen akhirnya menemukan pil yang dapat menyembuhkan luka.
Zen lalu memasukan pil itu kedalam mulut perempuan itu, berbeda dengan potion pil tidak langsung menunjukan efeknya.
"Sebaiknya aku kembali menyerap kekuatan yang ada pada pecahan itu."
Zen merasa perempuan itu tidak akan terbangun dalam waktu dekat, dan diapun memutuskan untuk kembali bermeditasi selama beberapa saat.
2 hari telah berlalu, dan perempuan itu akhirnya membuka matanya.
"Akhirnya kau bangun juga."
"Berapa lama aku pingsan?"
"Sekitar 2 hari."
"Bagitu ya, terima kasih kerena telah menyembuhkan lukaku."
Luka yang ada ditubuh perempuan itu sangatlah parah, normalnya membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk luka itu dapat sembuh sepenuhnya. Namun berkat pil yang Zen gunakan, luka perempuan itu dapat sembuh dalam beberapa hari saja.
"Aku tidak memerlukan ucapan mu, aku ingin kau membayarnya."
"Sekarang aku tidak memiliki apapun, aku tidak tau apa yang harus kuberikan padamu."
"Aku juga tidak merlukan uangmu, aku hanya ingin kau untuk memberikan ku beberapa informasi, dan aku ingin agar kau untuk menunjukan kota terdekat."
Zen masih tidak dapat menembus ke alam Dewa, meski dia tidak ingin melakukannya namun saat dia memerlukan pil untuk meningkatkan kultivasi nya.
Dari semua pil yang Ling Hao berikan, Zen tidak dapat menemukan pil yang dia perlukan. Dan meskipun dia memiliki bahan untuk membuat pil nya namun dia tidak memiliki tungku untuk membuatnya.
Jadi sekarang dia harus pergi kesebuah kota untuk membeli sebuah tungku.
"Aku bisa saja melakukan hal itu, namun apa yakin kalau hanya itu yang kau perlukan?"
"Iya, aku yakin."
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku akan mengantarmu menuju sebuah kota."
Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju pintu keluar goa.
__ADS_1
"Ah, jika diingat lagi aku tidak tau namamu. Aku adalah Ye Xue Yun, bisakah kau memberitauku namamu?"
"Zen Cavalier itu adalah namaku."