Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Verdia dan Zen


__ADS_3

"Sial."


Verdia tau sihir kegelapan milik Zen dapat mencegah kemampuan sihir penyembuhan milik orang lain, sebelum Zen mengeluarkan sihir kegelapannya Verdia dengan cepat langsung mengambil tangannya yang terpotong itu dan segera mengambil jarak dari Zen.


"Ada apa, apa kau terkejut?"


Zen hanya tersenyum tipis kepada Verdia, Verdia tau kalau pedang energi spiritual miliknya tidak akan dapat menahan Serangan pedang Zen karena itulah dia mencoba untuk menahan Serangan Zen dengan menggunakan kemampuannya. Namun kemampuan itu tidak dapat menahan serangan pedang Zen dan hasilnya tangannya malah terpotong.


"Kemampuan itu memang kuat namun bukan berarti itu tidak memiliki kelemahan, serangan pedang murni adalah kelemahan dari kemampuan itu."


Kemampuan Verdia adalah memindahkan efek serangan, itu adalah kemampuan yang luar biasa namun sangat sulit untuk didapatkan. Didunia bawah ataupun atas mungkin hanya beberapa orang saja yang memiliki kemampuan seperti itu. Dengan kemampuan itu Verdia dapat mengirimkan efek serangan siapapun kesetiap penjuru dunia bintang hijau, karena itulah Zen mengatakan kalau kemampuan itu sama Dengan teknik kekosongan milik Zen hanya saja Zen mengirimkan efek Serangan ke dunia Medan perang.


Meski begitu bukan berarti kemampuan ini tidak memiliki kelemahan, kemampuan ini memang akan sangat berguna pada saat menghadapi Serangan sihir, mana, energi spiritual ataupun teknik seni beladiri. Namun kemampuan ini sangat tidak berguna pada saat melawan teknik berpedang murni, sebuah teknik yang hanya menggunakan gerakan pedang biasa tanpa menambahkan apapun seperti sihir dan energi spiritual.


Tidak hanya seni berpedang murni kemampuan itu juga tidak berguna pada saat melawan gerakan yang sama sekali tidak menggunakan apapun atau bisa dibilang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja.


"Aku ingin melihat bagaimana caramu dapat terus bertahan dari serangan ku."


Zen kembali menyerang Verdia dengan pedangnya, Zen menggerakkan pedangnya dengan acak tanpa menggunakan mana ataupun energi spiritual sedikitpun. Verdia dapat terus menghindari serangan itu, Zen merasa kecepatannya saat ini masih kurang dia lalu menggerakkan pedangnya lebih cepat dari yang sebelumnya.


"Sial."


Verdia menjadi tidak diuntungkan kali ini, meski dia dapat terus menghindari serangan yang fatal namun dia tetap menerima luka goresan goresan kecil. Verdia merasa situasi saat ini sangat tidak baik, tidak peduli sebanyak apa dia menghindari serangan itu dia merasa pada akhirnya dia pasti tetap akan terkena serangan yang fatal.

__ADS_1


"Bayangan kematian."


Sihir ini adalah sihir tipe kegelapan, ketika sihir ini digunakan maka sang target akan terus melihat bayangan kematian orang orang terdekatnya. Verdia berfikir kalau Zen pasti akan masuk kedalam ilusi itu, Verdia sedikit tersenyum begitu dia memikirkan hal ini.


"Apa bagaimana mungkin?"


Senyuman Verdia langsung menghilang begitu dia melihat senyuman Zen, Verdia sama sekali tidak menyangka kalau Zen tidak terjebak kedalam ilusi itu.


"Setidaknya gunakanlah ilusi dari sihir cahaya."


kali ini Verdia benar benar salah perhitungan, ilusi bayangan kematian memanglah kuat namun itu adalah sihir tipe kegelapan. Dalam hal sihir kegelapan Zen jauh lebih kuat dari pada Verdia, jadi sihir itu tidak akan berguna untuk Zen. Zen lalu mengayunkan pedangnya, Verdia sama sekali tidak khawatir dengan ayunan pedang itu malahan Verdia sedikit tersenyum kepada Zen.


"Kena kau."


Bola bola petir itu dengan cepat langsung menyerang Zen, saat ini Zen tidak ada waktu untuk memikirkan Verdia yang perlu Zen pikirkan adalah bagaimana cara agar dapat selamat dari serangan ratusan bola petir itu.


"Lantunan 10 lagu suci."


Cahaya putih mengelilingi tubuh Zen, cahaya itu adalah tanda bahwa Zen menggunakan teknik seni beladiri lantunan 10 lagu suci. Dengan teknik itu tubuh Zen secara otomatis terus menghindari serangan bola petir itu, dan meski bola Petir itu meledak Zen juga tidak akan terkena efek ledakkan nya.


"Sial, memberikannya waktu memang merupakan kesalahan besar."


Tidak ada bola petir Verdia yang dapat mengenai Zen dan Verdia merasa sedikit menyesal saat ini, saat Zen melawan Kreiz Verdia melihat kekuatan Zen belum sebesar sekarang dan dapat dikatakan kalau Zen pada saat ini bukanlah lawannya. Karena itulah Verdia memberikan waktu bagi Zen untuk bertambah kuat lagi, Verdia tidak menyangka kalau apa yang dia lakukan itu adalah sebuah kesalahan besar. Mau dilihat dari manapun Zen saat ini sudah setara atau mungkin lebih kuat dari pada Verdia, dan Zen sekarang sepenuhnya mengontrol pertarungan mereka.

__ADS_1


Dibawah penyesalan itu Verdia menjadi tidak fokus selama beberapa saat, dan selama beberapa saat itu Zen telah mengeluarkan ratusan cincin hitam miliknya. Ratusan cincin hitam itu kini telah berada tepat didepan Verdia, tidak ada kesempatan bagi Verdia untuk mengindari semua cincin itu Verdia lalu menggunakan kemampuan memindahkan efek Seranganya.


Cincin itu terus menabrak tubuh Verdia dan Verdia sama sekali tidak menerima luka, hanya saja di suatu tempat didunia bintang hijau ini telah hancur total karena Verdia memindahkan semua efek Seranganya kesana. 10 cincin tidak membuat tubuh Verdia terluka, namun pada cincin yang ke 11 tubuh Verdia menerima luka dan cincin cincin yang selanjutnya membuat luka Verdia menjadi lebih parah.


"Bagaimana mungkin?"


Akibat serangan cincin hitam Zen saat ini tubuh Verdia dipenuhi oleh luka luka yang cukup parah, Verdia yakin kalau dia telah menggunakan kekuatan pemindahannya namun kemampuan itu menjadi tidak berguna pada cincin yang ke 11 dan seterusnya.


"Apa kau bodoh Verdia? Tentu saja kemampuan itu memiliki batasan, dan kemampuan itu tidak dapat memindahkan efek Serangan secara terus menerus."


Sama seperti kemampuan regenerasi kemampuan pemindahan efek Serangan itu memiliki batasan, misalkan jika batas besar kekuatan yang dapat dipindahkan adalah 100 poin maka setelah Verdia melebihi batas 100 poin dia tidak akan lagi dapat menggunakan kekuatan pemindahannya. Dan jika selama beberapa saat Verdia tidak lagi memindahkan efek serangan maka angka 100 itu akan kembali menjadi 0 dan Verdia dapat kembali menggunakan kemampuan itu.


Zen juga memiliki kemampuan itu jadi dia dapat tau dengan jelas beberapa kelemahan dari kemampuan ini.


"Sekarang ini adalah akhirnya Verdia."


Zen mengarahkan jarinya ke Verdia, dari jari itu lalu keluar sebuah mana gelap seperti sebuah leser. Leser itu lalu terpecah menjadi 2, lalu menjadi 4, menjadi 8 dan terus bergitu hingga laser itu berjumlah 64. Laser itu menuju kearah Verdia dengan sangat cepat, dengan tubuh yang penuh luka mustahil bagi Verdia untuk dapat menghindari semua leser itu dan juga untuk saat ini dia tidak dapat menggunakan kekuatan pemindahannya.


Melihat 64 leser yang menuju kearahnya itu Verdia hanya dapat pasrah, bahkan jika dia mati saat ini dia juga tidak memiliki penyesalan. Namun kali ini Verdia sangat beruntung, semua laser itu meleset dan tidak ada yang mengenainya. Verdia lalu melihat kearah Zen dan dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


disana Verdia dapat melihat Zen dengan sebuah luka dilehernya.

__ADS_1


__ADS_2