Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Monster Yang Menyebalkan


__ADS_3

Aku berpisah dengan celes didalam toko, dia sepertinya juga ingin melihat lihat senjata yang ada disini. Setelah celes aku pergi untuk melihat lihat senjata ditoko ini. Senjata ditempat ini semuanya adalah senjata level menegah keatas yang cukup bagus, namu saat ini belum ada senjata yang menarik perhatianku. Walaupun tujuan utamaku adalah untuk membeli pisau terbang tapi mencari senjata lain yang bagus juga bukanlah hal yang buruk.



Aku berkeliling sambil melihat berbagai senjata yang ada didalam toko ini, Namun sampai saat ini belum ada senjata yang dapat menarik perhatianku.



Lebih baik aku melihat lihat barang yang mereka jual dengan murah karena mereka berfikir kalau barang barang itu tidak berguna, siapa tau aku akan beruntung dengan mendapatkan sebuah pusaka dikumpulan barang bekas itu. Aku langsung menuju ke tempat diamana pedang,tombak maupun panah dijual dengan harga yang murah. Aku melihat lihat pedang bekas yang ada disitu, disaat aku memegang sebuah pedangbekas yang sudah karatan dari tempat itu aku merasakan pedang itu mengeluarkan sebuah aura. Aura kegelapan, tidak lebih tepatnya kebencian aku merasakan pedang itu mengeluarkan aura yang sepeti itu.



Semakin lama aku memegang pedang itu aura yang dikeluarkannya semakin kuat, karena aku sudah tidak kuat lagi untuk merasakan aura yang keluar dari pedang itu akupun meletakannya kembali. Aku melihat lihat orang orang yang ada disekitarku, mereka sepertinya tidak merasakan aura kuat yang keluar dari pedang itu tadi. Ada yang aneh dengan pedang itu meskipun saat aku memegangnya tadi dia mengeluarkan aura yang begitu kuat, tapi bagaimana bisa orang orang yang disekitarku tidak merasakan aura yang keluar tadi.



Aku berfikir kalau pedang ini cukup menarik aku memutuskan untuk membeli pedang ini. Saat aku memegang pedang itu yang kedua kalinya aku tidak merasakan pedang itu mengeluarkan auranya aku jadi lebih mudah untuk membawanya.



Aku kembali mengelilingi toko kali ini aku mencari senjata yang merupakan tujuan utama aku datang ketoko ini yaitu pisau terbang. Ada banyak jenis pisau terbang, ada pisau terbang yang terbuat sepeti pedang sihir dimana pisau itu dapat mengeluarkan sihir dan juga hanya bisa digunakan beberapa kali. Ada sebuah pisau terbang yang membuatku tertarik, aku sendiri kurang mengerti mengapa aku tertarik dengan pisau itu. Aku membawa pisau itu kekasir dan mencoba bertanya kepada petugasnya untuk menjelaskan kepadaku kekuatan dari pisau terbang itu.



"permisi, bisakah kau menjelaskan padaku mengenai pisau terbang ini?"



"ah, pisau terbang ini adalah keluaran terbaru. Pisau terbang yang biasanya hanya bisa dikendalikan 1 sampai 3 pisau untuk satu cincin,tapi pisau terbang ini bisa dikendalikan 5 sekaligus untuk satu cincin. Meskipun begitu untuk mengendalikan 2 pisau ini saja sudah lebih sulit dari pisau terbang yang lainnya, apalagi 5 sekaligus mungkin seorang ahli saja akan kesulitan."



Heh, sulit untuk dikendalikan ya, pisau terbang ini sepertinya sangat menarik. Cincinnya saja bukan terbuat dari emas maupun perak melainkan terbuat dari tanduk monotaurus. Cincin itu sendiri berfungsi sebagai penarik pisau, bahkan walaupun pisau terbang bisa dikendaliakan dengan mana tapi belum tentu pisaunya akan kembali ketangan. Maka dari itu dengan memasukan mana kedalam cincin maka memungkinkan untuk menarik pisau kedala gengaman. Pisau terbang ini mungkin ada rahasia tersendri lebih baik aku membelinya sebelum dibeli orang lain.



'kalau begitu saya akan membeli pisau terbang ini bersama dengan pedang ini"



Aku menunjukan pedang bekarat yang kuambil dari tempat barang barang bekas.



"Ada yakin ingin membeli pedang ini, pedang ini sendiri sudah karatan seperti ini?"



Petugas ini sepertinya cukup kaget saat aku ingin membeli pedang ini, ya tidak mengejutkan jika dia kaget. Pedang ini sendri dilihat dari manapun terlihat seperti pedang biasa yang berkaratan, tapi petugas ini sendiri mungakin belum pernah merakan aura yang dikeluarkan oleh pedang ini. Karena itulah dia sepetinya menganggap pedang ini sebagai pedang biasa.



"Ya saya yakin, sebutkan saja harganya."



"Kalau begitu harga untuk pisau terbang ini adalah 30 koin perak dan 30 koin perunggu dan kalau untuk pedang ini ambil saja dengan harga 10 perunggu. Jadi totalnnya adalah 30 koin perak dan 40 koin perunggu."



"Baiklah kalau begitu"



Toalnaya Hanya sekitar kurang dari 40 koin perak ternyata cukup murah, kupikir akan lebih mahal lagi karena pisau terbang ini terlihat seperti benda yang cukup berharga. Aku mengeluarkan uang sebanyak 31 koin perak dan aku langsung memberikannya kepada petugas itu.



'Ini 31 koin perak, ambil sisa 10 koin perunggu kembaliannya. Anggap saja itu untuk informasi tentang pisau ini yang kau berikan tadi."



"Baiklah"



Aku sudah selesai dengan urusanku disini, disaat aku berfikir untuk menuggu atau mencari celes dia ternyata datang dengan tongkat yang sepertinya cukup berharga yang dia pegang dengan kedua tangannya.



"Itu tongkat sihir"



"Iya, ini tongkat sihir. Karena didalam party aku bertugas sebagai suport makannya kupikir tongkat ini mungkin akan berguna nantinya."



Sepertinya sangat memperdulikan teman satu partynya sampai sampai membeli tongkat sihir, berbeda dengan pedang sihir yang jika dimasukan mana oleh penggunanya maka dapat menghasilkan sihir secara instan. Tongkat sihir menggunakan mana disekitarnya untuk mengeluarkan sihir, jadi sang pengguna tidak akan kehilangan mananya karena menggunakan tongkat sihir. Jika dilihat lebih teliti tongkat sihir ini sepertinya adalah tongkat level atas, celes ternyata memiliki pengelihatan yang cukup bagus dalam membeli senjata.



"heh, pemikiran yang bagus semoga beguana untuk partymu nantinya."



"iya, permisi pak saya mau membeli tongkat ini"



"baiklah nona, harganya adalah 27 koin perak."



Hanya 21 koin perak, kupikir pisau terbangku tadi memiliki harga yang murah ternyata aku salah. Bahkan tongkat sihir level atas seperti hanya seharga 27 koin perak, berarti pisau terbang tadi memang cukup spesial.



'Apakah bisa kurang pak?"



"kalau begitu bagaimana dengan 26 koin perak dan 35 koin perunggu."


__ADS_1


Ada apa dengan celes apakah dia tidak memiliki cukup uang, kalau begitu lebih baik aku membantunya sebagai ucapan terima kasih karena telah menunjukanku toko senjata ini.



"Celes ada apa?"



Aku bersikap seolah olah tidak mengetahui apa apa.



"um, aku tidak meiliki cukup uang untuk membeli tongkat sihir ini"



"pak berapa harga tongkat sihir ini?"



"26 koin perak dan 35 koin perunggu"



'celes Berapa uang yang kau miliki?"



'Hanya sekitar 22 koin perak dan beberapa perunggu"



"Kalau begitu berikan padaku 20 koin perakmu sisanaya biar aku yang bayar."



"tidak usah, aku tidak bisa menerima uangmu begitu saja."



Celes sepertinya tidak akan suka bila aku memberinya uang begitu saja, Jika aku langsung membayarnya begitu saja tanpa persetujuannya dia pasti akan marah. sepertinya aku harus memberikan alasan untuknya agar dia mau menerima uang dari ku.



'Tidak apa, anggap saja ini untuk balas budiku karena kau telah menunjukan jalan ketoko senjata ini."



"Tapi.."



"Tidak apa"



"Baiklah"




"pak untuk sisanya apakah ada barang yang seharga 15 koin perunggu?"



"15 perunggu ya, tunggu sebentar biar saya lihat dulu."



Petugas itu pergi mengarah ketempat dimana barang barang bekas dijual, meskipun hanya barang bekas bagiku hal itu tidak masalah selama hal itu dapat beguna.



Tidak cukup lama aku menunggu, petugas itu datang dengan sebuah gelang berwarna biru langit yang dia bawa dari tempat barang bekas dijual.



"Ini dia sebuah gelang yang seharga 15 perunggu, gelang ini awalnya berharga 20 perunggu. Tapi karena tidak laku karena tidak ada yang tau kegunaanya, jadi saya menjualnya seharga 15 perunggu kepada anda."



Aku mengambil gelang yang ditunjukan oleh petugas itu, meskupun dia bilang tidak tau kegunaan dari gelang ini. Tapi menurutku gelang ini memiliki efek penyembuhan dan sepertinya gelang ini juga meiliki efek pemulihan mana meskipun tidak terlalu banyak. Namun gelang ini tidak cukup beguna bagiku, tapi bagi orang seperti celes yang meupakan seorang healer pasti sangat berguna. Mungkin lebih baik gelang ini kuberikan saja padanya.



"Baiklah kalau begitu aku akan mengambil gelang ini, ayo celes kita pergi"



"iya"



"terima kasih banyak, silahkan berkunjung lagi"



Aku dan celes pergi keluar dari toko.



"zen setelah ini kau akan pergi kemana?"



Hari sudah mulai panas matahari sudah hampir diatas kepala, mungkin sudah sebaiknya aku pegi menuju tepat tujuanku.



"Aku akan pergi menuju tepat tujuanku"



"kalau begitu berarti kita berpisah disini ya"

__ADS_1



Celes adalah gadis yang cukup peka, sepetinya dia tau kalau tempat yang akan kutuju adalah tempat yang cukup berbahaya, karena itulah dia tidak banyak bertanya tentang tempat yang akan kutuju.



"ya, kita akan berpisah disini. Tapi sebelum itu ada sesuatu yang mau kuberikan kepadamu."



Aku memberinya gelang berwarna biru yang baru saja kubeli tadi dengan harapan bahwa Gelang ini akan berguna suatu hari nanti untuknya.



"Tapi ini, aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Sebelumnya kau telah membantu ku membeli tongkat ini."



"Tidak apa apa, anggap saja ini hadiah perpisahan dariku. Suatu hari nanti gelang ini mungkin akan berguna untukmu."



Tidak seperti saat membeli tongkat sihir dimana aku butuh persetujuannya untuk membantunya, kali ini aku memaksanya untuk menerima gelang yang kuberikan ke padanya meski dia telah menolaknya.



"Sampai jumpa celes, semoga suatu hari nanti kita akan bertemu lagi."



Aku pergi meninggalkan celes didepan toko senjata yang masih terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun. Meskipun saat bersama celes aku merasa senang, tapi aku harus pergi untuk mewujudkan keinginanku.



"Zen"



Meski jarak aku dan celes sudah agak jauh tapi Aku mendengar suara celes yang memanggil namaku. Aku seketika membalikan badanku dan melihat celes yang masih berdiri berdiri di depan toko senjata.



"Terima kasih, semoga kita dapat bertemu lagi"



Celes mengatakan hal itu dengan senyum manis diwajahnya sekaligus dengan air mata yang keluar dari matanya, Aku berbalik badan lagi dan pergi melanjutkan perjalannku.



^^^^^^^^



Sudah cukup lama aku berjalan dihutan, sebentar lagi aku mungkin akan memasuki tempat yang sangat berbahaya yaitu gunung salju abadi. Sejak aku meninggalakan kota danu mitre aku belum menemukan satupun moster didalam hutan. Aku terus berjalan didalam hutan, meski sekuat apapun seorang manusia pada akhirnya pasti ada batasannya.



Kali ini aku memutuskan untuk beristirahat sebentar, tidak lama kemudian aku merasakan sekelompok monster telah mengepungku. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu monster semenjak aku meninggalakan kota danau mitre. Situasiku ini membuatku merasa deja vu dengan hari itu dimana aku dikepung oleh segerombolan monotaurus, sebelumnya saat dikepung segerombolan monotaurus aku hanya membunuh pemimpinnya saja.



Aku melihat lihat sekitar kelihatannya jumlah mereka tidak lebih dari sepuluh ekor, ini adalah saat yang tepat untuk mencoba pisau terbang yang baru saja kubeli. Kali ini sebagai pembuka aku akan menggunakan pisau terbang selama yang kubisa, membunuh mereka tanpa menggunakan pedang mungkin akan menarik.



Aku mengeluarkan pisau terbangku dari sihir penyimpanan, sebagai awalan aku hanya menggunakan 3 pisau. Aku melempar pisau itu ke monotaurus yang paling dekat dengan ku, namun sayangnya monotaurus itu dapat menghindarinya dengan mudah. Aku menarik kembali pisau terbang yang kulempar dengan mengisi mana kedalam cincin, begitu ketiga pisau terbang itu kembali dalam genggaman ku para monotaurus itu mulai bergarak.



Aku harus berhati hati dengan mereka, para monotaurus ini sepertinya cukup pintar mereka semua dapat mengguanakan pedang. Tanpa kusadari tiga monotaurus sudah berada didekatku, mereka bertiga menyerangku dengan ayunan pedang yang cukup kuat. Aku segera menghindar namun disaat aku menghindar monotaurus lain menyerangku lagi. Kali ini aku menagkis pedang monotaurus itu dengan pisau terbang yang ada ditanganku, tentu saja menangkis serangan monotaurus itu dengan satu pisau adalah hal yang sulit makannya aku menggunakan tiga pisau sekaligus untuk mengkis serangannya.



Aku sepertinya cukup meremehkan para monotaurus itu, aku mengeluarkan lagi dua pisau terbang yang masih kusimpan. Kali ini kelima pisau terbang sudah berada ditanganku, saat aku menarik pisau terbang tadi aku menyadari fungsi lain dari pisau tebang ini. Dengan cincin yang terbuat dari tanduk monotaurus sebagai perantara, maka sang pengguna dapat menyalurkan mana kedalam pisau dan membuat pisau dapat menggunakan sihir.



Dengan melapisi pisau dengan sihir black hell aku melemparnya ke arah monotaurus yang berada didepanku, kelima pisau yang ku lempar mengenai tiga monotaurus sekaligus. Karena pisau yang kulempar sudah dilapisi oleh sihir black hell monotaurus yang terkena tubuhnya akan lebih mudah tertusuk.



Sekarang yang tersisa hanya tinggal lima monotaurus lagi, kelima monotaurus itu terus menerus menyerangku dengan pedang mereka. Meski aku dapat menghindarinya namun tidak selalu bejalan mulus, aku sudah beberapa kali terkena goresan dai pedang mereka.



Aku merasa melawan monotaurus dengan waktu yang lama adalah hal yang cukup menyebalakan, kali ini aku mencoba menagetkan membunuh lima monotaurus dengan lima pisau yang kupegang. Aku melempar kelima pisau sekaligus sayangnya hal yang kuinginkan tidak terjadi, pisau yang kulempar hanya mengenai empat monotaurus.



Monotaurus yang terakhir sepertinya memiliki kecerdasan yang cukup baik untuk seekor monster, hanya dia yang dapat menghindari serangan dari pisau terbangku. Kali ini adalah duel satu lawan satu antara aku dan monotaurus yang tersisa, aku melempar satu pisau kearahnya namun dia dapat dengan mudah menghindarinya. Monotaurus itu datang kearahku dengan kecepatan penuhnya, dia menghantamkan pedangnya kearahku. Menghindarinya adalah hal yang sulit jadi aku menghentikan dengan empat pisau yang ada ditanganku, meski aku sudah melapisi keempat pisau itu dengan sihir black hell namun tidak mudah untuk menghancurkan pedangnya.



Monotaurus yang satu ini sangat berbeda dari semua monotaurus yang pernah ketemui selama ini, dia tau kalau hanya empat pisau yang kugunakan untuk menahan pedang miliknya. Pisau yang ku lempar tadi menancap dipohon, kini aku menarik kembali pisau itu namun begitu pisau itu hampir menusuknya dia menghindarinya.



Walau dia dapat menghindarinya sayangnya dia sudah masuk kedalam perangkap ku, diasaat pandangannya teralihkan oleh satu pisau yang mengarah ke arahnya aku melempar empat pisau lainnya ke bebagai tempat. Begitu dia berhenti setelah menghindari satu pisau terbangku, ke empat pisau lainnya mengarah padanya dari berbagai sisi.



Meski daging monotaurus cukup sulit untuk ditebas, namun dengan dengan pisau yang dilapisi dengan sihir black hell membelah daging monotaurus adalah hal yang mudah. Dari empat pisau yang mengarah ke arahnya hanya tiga pisau yang mengenai dirinya. Meski dia sudah terkena tiga pisau monotaurus itu masih bisa bediri, namun meski dia tetap dapat bediri hal itu tidaklah berguna.



Begitu api dari sihir black hell masuk kedalam tubuhnya dia tidak akan dapat bertahan lama, karena api yang ada didalam tubuhnya akan membakarnya secara perlahan dan akhirnya dia akan mati.



Monotaurus yang terakhir telah ku bunuh, aku mengabil tanduk dari para monotaurus itu. Setelah aku mengambil tanduk dari para monotaurus itu aku bergegas pergi dari tempat ini karena darah dapat memikat monster lainnya. Tidak jauh aku pergi dari tempat itu hari sudah mulai gelap, sampai saat ini shiroki masih belum juga bangun semenjak aku memberinya batu sihir.



Karena shiroki belum bangun juga jadi aku tidak memberinya makan hari ini, aku juga sudah cukup lelah setelah berjalan jauh dari kota dan melawan sekumpulan monotaurus. Walau langit belum gelap aku tertidur dengan lelap.

__ADS_1



__ADS_2