Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Para Naga


__ADS_3

Zen dengan cepat langsung menuju ketempat para naga itu, dengan pedang ditangannya Zen menyerang para naga itu.


Sayap 1 ekor naga terkena serangan Zen dan langsung terjatuh. Zen menggeluarkan sihir anak panah hitam dan langsung membunuh nega itu.


"Ini terlalu mudah, walau mereka sepertinya telah berusia 100 tahun lebih namun mereka masih sangat lemah."


Zen melihat ke 3 naga yang tersisa, ketiga naga itu sangat marah akan perbuatan dari Zen. Mereka langsung mengeluarkan sihir dan menyerang Zen.


Zen motong semua sihir itu dengan pedangnya, dia lalu melompat dan memenggal kepala salah satu naga.


Para naga menjadi sangat marah lagi, mereka lalu mengeluarkan sihir yang jauh lebih besar lagi.


"Ini sedikit berbahaya."


Bagi Zen sihir dari naga itu tidak akan dapat melukai tubuhnya, hanya saja jika sihir sebesar itu dilepaskan maka desa Elf yang ada dibelakangnya pasti akan langsung hancur.


Jika hal itu terjadi maka kesepakatan antara dirinya dan Islit akan menjadi hancur. Zen tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia lalu memukul naga itu hingga membuatnya terhempas jauh.


Zen lalu mengeluarkan sihir tombak es dan membunuh naga yang satunya. Dalam sekejap 3 ekor naga telah terbunuh.


Zen pergi ketempat naga yang terhempas, naga itu mengalami luka luka yang cukup parah. Dia kesulitan untuk bergerak, Zen mengambil kesempatan itu dan langsung membunuh naga itu dengan Pedangnya.


"Dengan begini tugasku telah selesai."


Zen berjalan kembali ke rumah Islit.


Hoarrrt


hal yang tidak terduga terjadi, sebuah raungan naga dapat terdengar. Raungan itu bukanlah dari para naga yang telah Zen bunuh, melainkan dari naga yang kelima yang baru saja datang.


Naga itu kemudian berubah menjadi wujud humanoid, seorang pria dengan wajah yang sombong dapat terlihat.


"Manusia, jika kau memotong sendiri kedua tanganmu maka aku akan memaafkan mu karena telah membunuh mereka berempat."


Dengan penuh kesombongan naga itu memberikan sebuah pilihan untuk Zen.


"Lalu apa yang terjadi jika aku tidak menuruti hal itu?"


"Maka aku terpaksa harus membunuh dirimu sendiri."


"Bagus, kalau begitu cobalah untuk membunuhmu kadal kecil."


"Kau bilang kadal!!!"


Naga itu menjadi sangat merah ketika mendengar perkataan Zen, dengan cepat dia langsung menyerang Zen pukulannya.


"Sayang sekali, terlalu lemah."


Zen dapat dengan mudah menahan pukulan itu, naga itu mencoba untuk menarik kembali tangannya namun dia tidak bisa karena tangannya telah dipegang dengan kuat oleh Zen.

__ADS_1


"Sialan."


Dengan tangan yang satunya naga itu mencoba untuk menyerang Zen, namun serang itu sama sekali tidak dapat menyentuh Zen. Tepat sebelum pukulan itu mengenainya, Zen telah terlebih dulu memotong tangan naga itu.


"Arrrgggg."


Naga itu merasakan kesakitan, dia masih belum dapat menarik kembali tangannya.


"Bola api."


Beberapa bola api muncul dibelang naga itu, bola bola api menyerang Zen. Dengan pedang miliknya Zen dengan mudah menghancurkan semua bola api itu.


"Dasar sialan."


Nega itu Merasa kalau dia tidak akan dapat mengalahkan Zen sekarang. Dan juga tanpa mengetahui penyebabnya naga itu tidak dapat berubah bentuk sekarang.


Kemudian dengan kekuatannya sendiri naga itu menghancurkan tangannya yang dipegang oleh Zen. Sekarang dia tidak lagi tertahan oleh Zen, lalu dengan cepat naga itu pergi menjauh dari Zen.


"Pada Pertemuan yang selanjutnya pasti akan membunuhmu."


"Sayangnya ini mungkin adalah pertemuan terakhir kita."


Zen Lalu mengeluarkan sebuah sihir panah hitam yang besar, panah itu memiliki ukuran 4 m. Dengan panah itu Zen lalu dengan cepat langsung membunuh naga yang kabur itu.


Naga itu sama sekali tidak dapat menghindarinya, panah itu mengenai dadanya dan dia langsung terjatuh.


"Bagaimana rasanya dekat dengan kematian?"


Zen mengarahkan pedang miliknya keleher naga itu sambil sedikit mengintimidasinya. Naga itu menjadi sangat ketakutan, dia tidak lagi dapat berfikir jernih. Bahkan dibawah ketakutan itu sang naga sama sekali tidak dapat berbicara.


"Sepertinya sangking takutnya kau bahkan tidak dapat berbicara lagi. Tapi yasudah lah tidak ada gunanya berbicara denganmu."


Zen lalu menusukkan pedangnya ke leher naga itu, darah terus keluar dari leher dan mulutnya hingga akhirnya naga itupun mati.


"Kurasa tidak ada lagi kadal yang akan muncul, sekarang saatnya kembali."


Zen langsung kembali ke rumah Islit, disana tidak ada elf yang berada diluar jadi Zen langsung memasuki rumah itu.


"Ahh, kau sudah kembali."


Sambil meminum segelas teh, Tina berbicara dengan santai kepada Zen.


"Sepertinya kau sangat menikmatinya."


"Sebelumya aku yang bertarung dan kau yang beristirahat jadi sekarang aku hanya melakukan seperti yang kau lakukan sebelumnya."


"Apa kau dendam dengan ku?"


"Entahlah."

__ADS_1


Tina kembali meminum teh yang ada ditangannya, setelah beberapa hari bersama Zen Tina tidak lagi merasa takut kepadanya.


Zen duduk di kursi yang ada disamping Tina, dan tidak lama kemudian Islit mendatangi mereka.


"Apa kau telah membunuh mereka semua?"


"Iya."


"Dapat membunuh semua naga itu dalam waktu singkat, siapa kau sebenarnya?"


"Kau tidak perlu tau itu, seorang saatnya bagiku untuk meminta apa yang telah kau janjikan."


"Mengenai kuil abadi bukan?"


"Iya, beritau aku semua yang kau tau."


"Baiklah."


Islit lalu duduk di kursi yang ada didepan Zen, dia lalu mulai memberitahu Zen apa yang dia ketahui mengenai kuil abadi.


"Pada awalnya kuil itu tidak memiliki seorang penjaga, namun jika aku tidak salah ingat sekitar 100 atau 200 tahun yang lalu kuil itu tiba tiba memiliki seorang penjaga."


"Seberapa kuat penjaga itu?"


"Aku tidak tau sekuat apa dia dengan pasti, namun kekuatan yang dia miliki dapat menghancurkan kekaisaran Zilion dalam waktu kurang dari sehari."


Apa yang dikatakan oleh Islit tidak jauh berbeda dari yang oleh Tina. Dari mendengar apa yang mereka berdua katakan Zen dapat menebak kalau sang penjaga itu pasti dari dunia atas.


Orang dari dunia bawah ini tidak akan memiliki sebuah kekuatan sebesar itu, apalagi di dunia dengan sistem yang membatasi kekuatan mahluk hidup didalamnya.


"Lalu sekitar puluhan tahun yang lalu muncul lagi seorang penjaga di kuil itu, dan hingga sekarang kuil abadi itu memiliki banyak pengikut dan kekuatannya jauh melebihi gereja."


'Sepertinya aku harus berhati hati saat disana.'


1 orang penjaga saja sudah cukup untuk menghancurkan 1 buah kekaisaran, meski Zen tidak tau penjaga yang kedua itu berasal dari dunia atas atau tidak. Namun jika dia berasal dari dunia atas maka kekuatan 2 penjaga itu mampu menyapu benua Arca ini dengan mudah.


Dengan kekuatan miliknya sekarang Zen akan sangat kesulitan melawan kedua penjaga itu secara bersamaan.


"Apa hanya itu semua yang kau ketahui."


"Iya hanya itu."


"Begitu ya."


Meski dia telah mendapat banyak informasi dari Islit namun Zen berharap kalau Islit memiliki beberapa informasi lagi yang mungkin akan cukup berguna baginya.


"Ah, aku ingat baru baru ini aku mendapatkan informasi kalau sering terjadi pertempuran disekitar kuil abadi."


"Sebuah pertempuran?"

__ADS_1


__ADS_2