Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Mereka Yang Terbangun <Akhir Arc>


__ADS_3

Disuatu tempat yang sangat gelap, bahkan ratusan kali lebih gelap dari langit malam tanpa cahaya bintang ataupun bintang. Disana terdapat sebuah cahaya yang berbentuk sebuah lingkaran.


Disekitar cahaya itu terdapat tujuh orang yang sedang duduk mengitari meja berbentuk lingkaran dengan mata yang tertutup. Empat orang diantara mereka adalah laki laki dan tiga yang lainnya adalah perempuan.


Satu persatu diantara mereka perlahan mulai membuka matanya.


"Huft... "


Salah satu seorang laki laki mengambil nafas yang panjang.


"Lagi? Yang keberapa kalinya ini?"


Salah satu laki laki yang lain bertanya.


"Ini yang kedelapan kalinya semenjak dia menjadi pewaris."


Salah satu perempuan menjawab pertanyaan itu.


"Sudah delapan kali ya? Ini tujuh kali lebih banyak dari pada yang seharusnya."


"Ya jumlah ini sangatlah banyak. Entah apa yang dilakukan oleh pewaris itu diluar sana."


"Meski kita dapat menebaknya, namun mungkin lebih baik jika melihatnya secara langsung."


"Ya, lebih baik kita lakukan itu."


Enam diantara mereka telah membuka matanya, sekarang tinggal satu orang yang masih tertidur.


"Jika begitu lakukanlah sekarang. Kali ini Siapa yang akan melakukannya."


Seorang pria bertanya dengan melihat kearah yang lainnya.


"Aku yang akan melakukannya."


Salah satu perempuan mengajukan dirinya.


"Ho ho, tidak biasanya dirimu akan mengajukan diri."


"Entah mengapa kali ini aku memiliki firasat kalau sesuatu yang baik telah terjadi."


"Begitu ya, kalau begitu lakukanlah sekarang."


"Baiklah."


Perempuan itu kemudian meletakkan kedua tangannya diatas meja, dia mengalirkan mana miliknya kedalam meja itu.


Begitu mana miliknya mengalir kedalam meja, ratusan kotak kecilpun muncul diatas meja itu. Kotak kotak kecil itu adalah rekaman rekaman kejadian yang terjadi selagi mereka semua tertidur.


Diantara kotak kotak kecil itu, terdapat sebuah kotak yang ukurannya tiga kali lebih besar. Kotak yang lebih besar itu berisikan alasan mengapa mereka semua terbangun.


Mereka melihat isi rekaman dari kotak itu, dan setelah mereka melihatnya merekapun mengabil nafas yang dalam.

__ADS_1


"Huft, sama seperti yang sebelumnya ya."


"Ya, sama seperti yang sebelumnya. Hei, bukankah tadi kau bilang kalau kau merasakan sesuatu yang baik? Sepertinya firasatmu sangat tidak sesuai dengan kenyataan."


"Tidak, Firasatku benar. Hanya saja bukan firasat mengenai pewaris itu, malainkan pada anak itu."


Perempuan itu menunjuk kearah sebuah kotak kecil yang menampilkan gambar seorang anak kecil dengan rambut berwarna coklat.


"Hmm, aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Bisakah kau memperbesarnya?"


"Baiklah akan kuperbesar."


Perempuan itu kemudian memperbesar kotak kecil itu, dan yang lainnyapun dapat melihat dengan jelas rekaman yang ada pada kotak itu.


"Gadis kecil yang manis. Siapa dia?"


Seorang laki laki bertanya dengan nada yang terdengar sedikit penasaran.


"Dia adalah adik kecilku."


Untuk sesaat laki laki itu terdiam begitu mendengar jawaban dari perempuan itu. Laki laki itu mengambil nafas yang cukup dalam lalu dia mulai berbicara lagi.


"Jangan bercanda. Sekarang sudah lima ratus tahun setelah perang besar yang terakhir. Tidak mungkin adikmu masih hidup, lagi pula jika dia masih hidup tidak mungkin tubuhnya seperti itu bukan? Mau dilihat dari manapun itu adalah tubuh seorang loli."


"Memang benar jika dilihat dari yang sebenarnya dia pasti telah mati. Tapi karena beberapa alasan aku membuat dirinya dapat hidup dalam waktu yang lama."


"Tidak, tidak, bukankah itu mustahil? Dia hanyalah vampire biasa bukan? Mana mungkin dia dapat hidup selama itu."


Laki laki itu menentang keras jawaban yang diberikan oleh perempuan itu.


Perempuan itu melihat kearah seorang laki laki yang sedang mendengarkan mereka dan yang satunya lagi adalah seorang perempuan yang masih tertidur.


"Ah, pemberian informasi melalui ingatan ya. Jika begitu maka mungkin akan masuk akal jika adikmu masih hidup sampai sekarang."


Laki laki itu mulai mencoba untuk menerima fakta yang ada didepannya meskipun dia masih belum sepenuhnya memahaminya.


"Saya senang anda mengerti."


"Apakah kalian sudah selesai berbicara?"


Seorang Pria bertanya dengan penuh wibawa.


"Iya."


"Kalau begitu mari kita bahas masalah utamanya. Alasan kita terbangun saat ini adalah sama dengan sebelumnya, itu karena dia memberikan pelayannya kepada orang lain. Jika dihitung maka berarti dia telah kehilangan tujuh pelayannya. Apakah ada yang memiliki pendapat mengenai tindakannya?"


Pria itu bertanya kepada yang lainnya.


"Tujuh itu bukanlah jumlah yang sedikit, dengan begini keseimbangannya akan hancur."


Seorang pria memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Keseimbangan apa yang kau maksud?"


Seorang perempuan bertanya kepada pria itu.


"Bukankah sudah jelas, itu adalah keseimbangan para leluhur dan juga keseimbangan antar ras."


"Apakah kau bercanda? Keseimbangan yang kau maksud itu telah hancur ribuan tahun yang lalu."


"Eh?... Apakah benar begitu?"


Pria itu bertanya kepada yang lain.


"Iya, keseimbangan itu telah hancur ribuan tahun yang lalu."


"Yang benar saja."


"Yah siapa yang peduli dengan keseimbangan itu? Yang lebih penting adalah pewaris itu, karena tujuh pelayan sudah dia berikan kepada orang lain jadi sekarang berapa sisa pelayannya?"


Dia bertanya kepada yang lainnya.


"Tiga."


Suara yang halus dan lembut terdengar. Itu adalah suara perempuan yang tadinya tertidur.


"Yang tersisa adalah pelayan kedelapan Satein. Pelayan kesembilan Timika. Dan pelayan kesepuluh La Tiami."


Perempuan itu perlahan membuka matanya, dia lalu melihat sekitarnya. Perempuan itu dapat melihat para penerus yang lain melihat kearahnya.


"Akhirnya Putri tidur kita bangun juga."


Salah satu seorang pria yang tadinya tidak banyak bicara kini mulai berbicara.


"Bolehkah aku bertanya kepadamu Nona?"


Pria itu berbicara kepada perempuan itu, namun perempuan itu hanya dia tanpa berkata apa apa.


"Apa yang kau pikirkan ketika mewariskan kekuatan itu kepadanya? Bukankah kau tau kalau takdir anak itu sangatlah buruk? Takdir yang dia miliki adalah kehancuran, tidak peduli dimana dia berada dia akan selalu membawa kehancuran. Dan juga para dewa dari dunia lain ikut terlibat dalam takdirnya, meski mengetahui hal itu mengapa kau tetap membuatnya mewariskan kekauatan itu?"


Pria itu bertanya banyak hal kepada perempuan itu, namun perempuan itu masih hanya diam.


"Mengapa kau tidak menjawabnya?"


Pria itu terus mendesak perempuam itu untuk menjawab, meski begitu perempuan itu juga masih tetap diam. Prilaku yang dilakukan oleh wanita itu membuat pria itu menjadi kehilangan kesabaran. Pria itu kemudian bertanya dengan keras kepada perempuan itu.


"Mengapa kau hanya diam? Jawab pertanyaanku nona pewaris ketujuh, Theresia."


"Huft...... "


Perempuan itu mengambil nafas yang panjang, dia lalu melihat kearah pria itu.


"Aku hanya mengembalikan kekuatan itu pada pemilikinya. Lagi pula yang ada lihat tentang dirinya itu bukanlah takdir, malainkan kutukan. Namun mungkin juga tidak salah jika menyebutnya sebagai takdir."

__ADS_1


"Mengembalikan kepada pemiliknya? Apa yang kau maksud?"


"Seperti yang kubilang, Aku hanya mengembalikan kekuatan itu pada pemilikinya. Dan akan membantunya mengambil kembali apa yang telah direbut darinya."


__ADS_2