
Setelah kembali dari kota ataxia Zen langsung ke kamarnya dan tidur. Hari telah berganti, cahaya matahari sudah menyinari dunia dengan terang.
"Yang mulia, Yang mulia."
Irene mencoba untuk membangunkan Zen yang sedang tertidur. Tidak butuh waktu lama bagi Irene untuk membangunkan Zen, Zen yang mendengar panggilan Irene pun segera terbangun.
"Yang mulia ada yang ingin bertemu dengan anda."
Irene segera memberi tau Zen begitu Zen terbangun.
"Tamu? Siapa yang ingin bertemu denganku sepagi ini?"
Dengan wajah yang terlihat masih mengantuk Zen bertanya kepada Irene.
"Yang ingin bertemu dengan anda adalah nona Elizabeth dan tuan Argares."
Zen sedikit terkejut Mendengar hal itu, dia tidak pernah mengira kalau kedua leluhur akan datang ke tempatnya di pagi hari.
'Apa yang diinginkan kedua orang itu.'
Zen mencoba untuk mencari jawabnnya, namun dia masih belum dapat menemukannya.
"Haaa."
Zen manarik nafas yang panjang.
"Ada apa yang mulia?"
"Tidak ada, dimana mereka sekarang?"
"Mereka berada diruang tamu."
"Baiklah aku akan kesana sekarang."
Zen turun dari kasurnya dan langsung pergi ketempat leluhur kedua dan kelima berada. Setelah beberapa saat Zen akhirnya sampai keruangan tempat mereka berdua menunggu.
Zen membuka pintu ruangan itu, didalam ruangan itu Zen melihat kedua leluhur itu duduk dengan santai.
"Sepertinya kau habis menggila tadi malam."
Argares yang melihat Zen yang telah datang langsung berbicara.
"Apa yang yang sedang anda bicarakan, saya sama sekali tidak mengerti."
Zen sedikit tersenyum kepada Argares.
"Hmp, dasar bocah kurang ajar."
Zen duduk di sofa yang ada didepan Argares dan Elizabeth.
__ADS_1
"Jadi apa yang membuat nona Elizabeth dan tuan Argares datang kesini?"
"Aku dan Argares berencana untuk membuat sedikit kekacauan di dataran manusia, aku ingin tau apakah kau ingin ikut?"
"Kurasa tidak, lagi pula untuk apa kita pergi kesana. Manusia sekarang masih sangat lemah jadi tidak akan seru jika kita membuat kekacauan disana."
"Memang jika membuat kekacauan disana pasti akan terasa membosankan, tapi bukankah menurutmu pergerakan mereka sangat lambat. Jika membuat kekacauan disana mereka pasti tidak akan memiliki pilihan lain selain bergerak dengan cepat."
"Untuk masalah itu tenang saja nona Elizabeth. Aku telah membuat beberapa tindakan yang mengharuskan mereka untuk bergerak dengan cepat."
"Maksudmu para mayat hidup itu?"
Tanpa terduga Argares memotong pembicaraan mereka.
"Cepat juga anda mendapatkan informasinya, padahal masih belum ada satu hari."
Jarak dari dataran vampire dan dataran iblis sangatlah jauh, jika seseorang menggunakan kuda maka diperlukan waktu berbulan bulan untuk dapat sampai. Jika berlari dengan kecepatan penuh Zen maka akan dibutuhkan waktu dua Minggu tanpa istirahat.
Cara tercepat adalah dengan menggunakan sihir Gate, tapi tidak banyak orang yang dapat menggunakan sihir itu. Untuk mendapatkan informasi dari jarak sejauh itu dalam waktu kurang dari sehari adalah suatu hal yang luar biasa. Zen terkesan dengan kecepatan pengumpulan informasi Argares.
"Yah itu karena aku melihatnya sendiri."
"Begitu ya, anda sangat luar biasa tuan Argares."
Zen semangkin terkesan dengan tindakan yang Argares lakukan.
"Aku tidak akan pergi ke dataran manusia. Bagaimana jika kita pergi ke dataran naga saja, disana jauh lebih menyenangkan."
Naga lebih kuat daripada manusia, dan juga Zen belum pernah melihat kekuatan dari kaisar naga secara langsung.
"Hmm, dataran naga ya? Bagaimana menurutmu Argares?"
"Kurasa boleh saja, mereka masih lebih kuat dari manusia."
"Baiklah ayo kita pergi ke dataran naga, apa kita akan pergi sekarang?"
"Ya, kita akan pergi sekarang. Tapi karena aku belum pernah kesana secara langsung jadi aku tidak dapat membuat gate yang menuju kesana."
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan membuatnya."
Elizabeth membuat sebuah gate.
"Ayo kita pergi."
Secara berurutan Elizabeth, Argares dan Zen memasuki gate itu.
*******
Gate terbuka ditengah tengah kota. Meski ditengah kota namun itu bukanlah tempat yang ramai.
__ADS_1
Mereka bertiga keluar dari gate itu, Zen melihat lihat daerah sekitar. Sama sekali tidak ada naga disekitar disekitarnya.
"Dimana kita sekarang?"
Zen bertanya kepada Elizabeth.
"Ini adalah gang kecil yang jarang dilewati, kau tidak akan dapat melihat satu nagapun disini. Ayo kita pergi kesana."
Elizabeth memimpin jalan mereka bertiga, mereka berjalan gang gang kecil hingga akhirnya mereka sampai ketempat tujuan mereka.
"Nona Elizabeth, apakah anda serius?"
Zen bertanya kepada Elizabeth sambil melihat sebuah gerbang besar yang ada didepannya.
"Tentu saja, bukankah ini adalah alasan kita datang kesini?"
"Memang benar begitu, tapi .."
"Kalau begitu berarti tidak ada masalah jika aku menghancurkan nya."
"Tidak, tidak, bukankah itu malah akan menjadi masalah?"
"Tidak, ini sama sekali bukan masalah."
Seperti ada angin disekitarnya, rambut cantik milik Elizabeth sedikit bergerak.
"Datanglah Ciciel."
Seorang prajurit perempuan dengan Zirah dan sebuah pedang muncul dibelakang Elizabeth. Perempuan itu adalah salah satu dari beberapa pelayan yang dimiliki oleh Elizabeth.
"Hancurkan gerbang itu."
Mendengarkan perintah dari Elizabeth, Ciciel langsung menghancurkan pintu itu berkeping keping dengan pedangnya.
"Ayo masuk."
Mereka masuk kedalam gerbang itu, mereka terus berjalan menuju pintu masuk kastil kaisar naga. Namun begitu mereka sudah mendekati pintu masuk, langkah mereka terhenti.
Didepan pintu masuk itu terdapat lima orang yang sedang berdiri. Kelima orang itu melihat mereka bertiga dengan tatapan yang menunjukan permusuhan.
"Aku hanya berfikir kalau tidak akan lama lagi akan ada yang datang kesini, tak kusangka benar benar ada yang datang."
Seorang pria yang berada ditengah mulai berbicara.
"Apa yang diinginkan oleh 2 orang leluhur vampire lakukan disini?"
Pria itu bertanya kepada mereka bertiga. Mewakili mereka bertiga, Elizabeth menjawab pria itu.
"Jangan terlalu kaku tuan kaisar naga. Kami kesini hanya ingin sedikit bermain"
__ADS_1