
Kami menaiki anak tangga satu persatu, tidak tau sudah berapa lama kami disini kami terus berjalan menuju tempat tujuan. Didalam menara ini satu titik cahaya mataharipun tidak dapat terlihat, satu satunya penerangan dimenara ini adalah obor yang menyala disetiap jalan dan ruangan.
Dilantai tiga menara ini obor yang menyala sama seperti obor yang menyala dilantai satu, dan sama seperti lantai sebelumya tidak ada hawa keberadaan dilantai ketiga ini selain kami. Disekitar sini aku hanya merasakan hembusan angin yang pelan, jika dilihat dari situasi yang ada diruangan ini maka tidak sulit untuk menebak berkah apa yang ada dilantai tiga ini.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya kami sampai dipintu masuk tempat berkah ketiga berada, dipintu itu terdapat sebuah tulisan yang ditulis bukan menggunakan huruf kuno melainkan huruf zaman sekarang. Tulisan itu berbunyi Jika dapat memuaskan sang penjaga maka akan mendapatkan apa yang ada didalam. Jika tulisan ini memang benar berarti ini akan sama seperti yang ada pada lantai kedua, penjaga yang dimaksud mungkin adalah para monster yang berada diruangan berbeda dengan ruangan yang didalam ini seperti yang kurasakan dilantai dua.
Jika hal itu sama dengan yang ada dilantai kedua maka tidak ada yang perlu ku khawatirkan, penjaga dilantai kedua adalah rubah api yang merupakan monster lemah. Ini hanyalah perbedaan satu lantai dengan lantai kedua, maka kekuatan monsternya tidak akan jauh berbeda dengan monster rubah api. walaupun jika nantinya monster penjaganya jauh lebih kuat dari rubah api, maka mungkin monsternya hanya selevel dengan monotaurus.
"Ziyun sama seperti sebelumnya kau harus menungguku disini."
"Apa kau tidak apa apa sendirian? Bahkan sebelumnya kau sempat pingsan."
"Ya aku tidak apa apa, tapi mungkin aku akan pingsan seperti sebelumnya maka saat pingsan jika kau khawatir kau boleh masuk."
"Apa benar aku boleh masuk?"
"Iya tentu saja boleh, tapi ingat jika aku pingsan saja maka kau boleh masuk."
"Iya baiklah."
"Kalau begitu ziyun berikan ini nanti kepada shiroki."
Aku memberikan ziyun beberapa batu sihir untuk diserap shiroki, dengan begitu shiroki dapat bertahan dipermukaan dengan waktu yang lama.
"Baiklah."
Aku pergi meninggalkan ziyun dan mulai membuka pintu, didalamnya seperti ruangan lainnya hanya ada obor yang menerangi dan altar ditengah ruangan. Begitu aku masuk cukup jauh kedalam ruangan pintu itu tiba tiba tertutup, diruangan sebelumnya tidak ada hal yang seperti ini. Ini membuatku sedikit khawatir dengan keadaan ziyun yang ada diluar, semoga dia dapat tetap tenang meskipun terjadi hal seperti ini.
Aku berjalan menuju altar, seperti biasa aku langsung mengulrkan tanganku ke tempat berkah berada tanpa khawatir. Disaat tanganku hampir mencapai berkah berada tiba tiba terjadi hal yang diluar dugaanku.
"Hey apa kau ingin mengambil itu?"
Seorang anak kecil, tidak lebih tepatnya mungkin seekor peri perempuan datang dan menanyakan hal itu kepadaku.
"Kau siapa?"
__ADS_1
Aku bertanya padanya dengan nada yang sedikit kaget karena keberadaanya, meski tubuh peri kecil tapi mereka memiliki kekatan yang besar.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, mengapa kau disini ini adalah rumahku. Lagi pula mengapa kau ingin mengambil itu?"
Peri itu entah ingin memarahiku atau menanyaiku aku masih agak bingung, sikapnya yang seperti anak kecil ini membuat penilaian ku terhadap para peri yang elegan menurun.
"Ini rumahmu? Kalau begitu maafkan aku karena telah masuk kerumahmu tanpa izin."
Saat ini aku harus bersikap sedikit sopan terhadap dirinya jika tidak sikapnya yang seperti anak kecil itu akan menyusahkanku saat akan mengambil berkah ini.
"Bukankah Sudah jelas kalau ini rumahku, jadi mengapa kau mau mengambil benda itu?"
"Benda? Apakah maksudmu adalah berkah itu?"
"Ya lagi pula setelah kau mengambil berkah itu maka dia akan berbah menjadi sebuah bola bukan?"
"Memang setelah diambil maka berkah itu akan menjadi sebuah bola, jadi apakah aku boleh mengambilnya."
"Tidak boleh! Aku tidak bisa memberikan diriku kepada mu."
"tidak tidak, aku hanya menginginkan berkah itu bukan menginginkanmu. Lagian kau seorang peri bukan, mengapa kau tinggal disini. Bukankah para peri biasanya hanya tinggal didunia mereka"
"Alasan aku tinggal disini adalah karena aku sudah bukan peri lagi, dan berkah itu adalah bagian dari diriku."
Bukan peri lagi, dia bilang dia bukan peri lagi Dan juga kalau aku tidak salah dengar dia mengatakan kalau berkah itu adalah bagian dari dirinya. Terlalu banyak hal yang cukup membinggungkan jadi cukup sulit untuk memahaminya.
"Jadi apa maksudmu kalau kau bukan peri lagi dan juga mengapa berkah itu bisa menjadi bagian dari dirimu."
"Apa kau benar benar ingin mengetahuinya?"
Apa ada yang salah dari pertanyaanku, dia tiba tiba berubah menjadi serius atau jangan jangan dia tidak ingin orang mengetahui masa lalunya. Tapi meskipun begitu sekarang yang terpenting adalah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi meski dia engan mengatakannya.
"Ya bukankah aku mengatakannya dengan cukup jelas tadi?"
"Begitu ya, kalau begitu akan kuceritakan kisah tenang diriku. Aku dulunya adalah seorang ratu dari para peri angin, karena suatu alasan aku terbunuh dan begitu bangun aku sudah berada disini menjadi bagian dari berkah itu. Lagi pula diriku yang sekarang bukanlah peri lagi melainkan sebuah roh angin, yak itulah beberapa cerita dari diriku."
__ADS_1
Ehh ceitanya sudah selesai, kukira itu akan menjadi cerita yang panjang dan menyedihkan. Namun dia hanya bercerita beberapa kalimat dan tidak ada suasanya yang menyedihkan sedikitpun dari ceritanya.
"oh ho begitu ya, jadi itulah alasan mengapa kau tinggal disini."
"hmm betul sekali."
"Jadi apakah aku boleh mengambil berkah itu?"
"Hah, Bukankah sudah kubilang kalau berkah itu merupakan bagian dari diriku."
Sepertinya dia menjadi kesal dengan pertanyaanku barusan, lagi pula aku tidak peduli kalau berkah itu merupakan bagian dari dirinya, Yang terpenting saat ini adalah berkah itu harus ada padaku.
"Ya tentu saja aku tau, tapi bagaimanapun juga aku membutuhkan berkah itu untuk dapat menuju kelantai atas."
"oh ho jadi kau ingin pergi kelantai atas ya?"
Ada yang aneh dengan sikapnya Begitu aku menyebebutkan lantai atas entah mengapa dia sepertinya sedikit tertarik.
"Ya aku ingin pergi kelantai atas."
"Baiklah kalau begitu aku akan memberikan berkah itu kepadamu, tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya berikan aku sesuatu yang dapat memuaskanku."
Sesatu yang dapat memuaskannya, jadi ini adalah maksud dari apa yang tertulis dipintu tadi. Tapi apa sesuatu punyaku yang dapat memuaskannya, uang tidak mungkin memuaskannya kan, lagi pula aku sepertinya tidak punya sesuatu untuk memuaskannya.
Tapi tunggu sebentar jika dilihat dari sikapnya yang terlihat seperti anak anak, mungkin benda itu dapat memuaskannya.
"Kalau begitu akan kuberikan sesuatu yang dapat memuaskanmu."
"Apa itu?"
Aku mengeluarkan sesatu yang mungkin dapat memuaskannya.
__ADS_1
"TAADA, ini adalah permen aku memberikannya kepadamu."