
Cilkus berlari kearah Zen dengan cepat, didepan Cilkus terdapat sepuluh bola api yang dia buat dengan sihir. Sesuai dengan perintah Cilkus bola bola api itu mengarah kearah Zen begitu jarak mereka telah cukup dekat.
Melihat bola bola api datang mendekatinya Zen membuat sebuah dinding Es. Benturan antar bola api milik Cilkus dan dinding es milik Zen membuat daerah disekitar situ tertutup oleh uap.
Cilkus memanfaatkan uap itu untuk bersembunyi sambil mendekati Zen. Cilkus memanfaatkan uap itu dengan baik hingga dia dapat berada dibelakang Zen.
Cilkus menaruh banyak kekutannya pada tangan kanannya. Cilkus menyerang Zen dengan tangan kanannya, Zen terlambat untuk menyadari serangan dari Cilkus itu. Meski dia dapat sedikit menahan serangan itu, namun Zen tetap terhempas beberapa ratus meter.
Begitu Zen berhenti terhempas, dia melihat Cilkus sudah berada didepannya dan bersiap untuk memukulnya lagi. Melihat itu Zen langsung memggerakan tangannya dan langsung menahan serangan dari Cilkus. Kali ini Zen berhasil menahan Serangan Cilkus.
Karena serangannya berhasil ditahan, Cilkus kembali bersiap menyerang kembali Zen dengan tangan kirinya. Namun tidak hanya Cilkus yang bersiap untuk menyerang, Zen juga telah bersiap menyerang Cilkus.
Cilkus mengarahkan tangan kirinya kearah Zen, namun sebelum tangan kirinya dapat mengenai Zen, Cilkus sudah terlebih dahulu terhempas karena tendangan dari Zen.
Zen mengejar Cilkua yang terhempas, dengan cepat jarak antara Zen dengan Cilkus hanya tinggal beberapa meter saja. Zen lalu menggeluarkan pelayan ketujuh, Shikin. Pelayan ketujuh itu memiliki bentuk seperti manusia, namun seluruh tubuhnya tertutup oleh kerudung dan jubah, dia memiliki senjata yang berupa sabit berwarna merah darah.
Shikin menyerang Cilkus dengan sabitnya. Semua pohon yang ada disekitar merekapun juga ikut terpotong. Meski begitu serangan sabitnya masih dapat ditahan oleh pelayan Cilkus.
Pelayan yang digunakan oleh Cilkus kali ini berbentuk seperti seorang manusia dengan sebuah buku ditangannya. Pelayan itu membuat sebuah penghalang disekitar Cilkus yang membuatnya dapat menahan serangan dari Sabit Shikin.
"Aku tau kalau tuan Cilkus memiliki banyak pelayan tipe pertahanan, tapi tak kusangka ada yang dapat menahan sabit itu."
"Meski aku dapat menahannya tapi itu tidak bertahan lama. Lihatlah sudah ada retakan yang muncul."
Seperti yang Cilkus katakan, terdapat retakan pada penghalang yang dipasang oleh pelayannya. Shikin kembali menyerang Cilkus, itu membuat retakan yang ada pada penghalangnya mulai bertambah besar. Shikin berulang kali menyerang Cilkus hingga akhirnya penghalangnya hilang sepenuhnya.
__ADS_1
Begitu penghalang miliknya hilang sepenuhnya, Cilkus mencoba untuk kabur. Namun dia sudah terlambat untuk kabur, Zen telah memegang salah satu kakinya. Zen lalu memukul wajah Cilkus dengan sangat kuat hingga dia terhempas sangat jauh.
"Sial, sihirnya."
Namun sebelum Cilkus terkena tendangan Zen, dia sudah lebih dahulu mempersiapkan sebuah sihir untuk menyerang Zen. Banyak lingkaran sihir terbentuk dihadapan Zen, lingkaran sihir itu mengelurakan banyak panah api.
Panah api itu terus menerus menyerang kearah Zen. Setiap kali panah api mengenai sesuatu, entah itu daun, tanah, ataupun sihir, panah api itu akan membuat sebuah ledakan. Panah panah api membuat sebuah ledakan yang sangat besar.
Zen yang tidak sempat menghindari serangan sihir itu terkena ledakan dari panah panah api itu.
"ugh, sihir itu sungguh sangat berbahaya."
Akibat dari ledakan itu, Zen mendapatkan luka yang cukup parah, Tangan kanannya pun juga terputus. Namun itu tidak berlangsung lama, regenerasi tubuh Zen langsung menyembuhkan luka lukanya dan menyambung kembali tangan kanannya.
Cilkus yang tadi terhempas jauh karena tendangan dari Zen, kini datang keatah Zen dengan sangat cepat. Cilkus menyerang Zen dengan tangan kananya, Zen menahan serangan itu. Benturan tangan mereka membuat daerah sekitarnya menjadi hancur.
Sambil beradu serangan Zen dan Cilkus sama sama mempersiapakan sihir untuk meyerang. Cilkus membuat kristal kristal es untuk menyerang Zen. Zen membuat sebuah lingkaran sihir besar yang berada diatas mereka berdua.
Pada saat yang bersamaan sihir milik Zen dan Cilkus saling meyerang satu sama lain. Kristal es milik Cilkus menyerang Zen dengan sangat cepat, Zen menahan Kristal Es iti dengan menggunakan pisau yang dia ambil dari ruang penyimpanannya. Zen melapisi pisau itu dengan api hitam, kristal es itu langsung menguap begitu mengenai pisau Zen.
Lingkaran sihir Zen mengeluarkan banyak bola bola api berwarna biru. Bola bola api itu mengarah kearah Cilkua dengan sangat cepat. Cilkus menggunakan pelayannya untuk menahan serangan itu, namun pertahan pelayan itu tidak bertahan lama. Dengan wakti yang singkat bola bola api itu dapat menghancurkan pertahanan Cilkus.
Cilkus terus menerus terkena bola bola api itu, Banyak asap menutupi sekitar daerah pertempuran mereka. Dari dalam asap asap itu Cilkus menyerang Zen dengan tubuhnya yang penuh luka.
Namun sebelum dia dapat menyerang Zen, tubuh Cilkus berhenti bergerak. Itu karena ada ada pisau yang menusuk punggungnya. Pisau itu adalah pisau yang Zen gunakan sebagai tanda mulainya pertarungannya. Zen mengendalikan pisau itu dan membuatnya menusuk punggung Cilkus.
__ADS_1
"Kau... Sudah merencanakannya sejak awal?"
Cilkus mengeluarkah darah dari mulutnya, dia berbicara kepada Zen dengan nada yang terdengar marah.
"Entahlah. Saya tidak tau apa yang anda katakan tuan Cilkus."
Zen menunjukan sebuah senyuman kepada Cilkus. Zen lalu menusukkan lagi pisau yang ada ditangannya, dia menusuk pisau itu kedada Cilkus.
"Itu hanya luka pada punggung dan dada. aku tidak melukai jantung anda, dengan begitj anda tidak akan mati. Jadi tuan Cilkus, apakah anda ingin menyerah?"
"Kurasa kau tidak akan mendengar apa yang kau inginkan."
"Kalau begitu kurasa aku tidak mempunyai pilihan lain."
Zen mengeluarkan satu lagi pisau terbang miliknya. Zen menatap Cilkus dengan sangat dingin. Zen mengarahkan pisau kearah jantung Cilkus.
Pisau itu mulai menusuk dada Cilkus, sedikit darah mulai keluar dari tempat tusukan itu. Namun sebelum pisau itu dapat mencapai jantung Cilkus, tangan Zen berhenti menusukan pisaunya.
Itu bukan karena Zen tidak ingin menusuk jantung Cilkus, tapi itu karena Elizabeth yang menahan tangan Zen. Dia memegan tangan Zen dengan sangat kuat hingga Zen tidak dapat menggerakan tangannya.
"Sudah cukup Zen, dia sudah tidak dapat bergerak."
Seperti yang dikatakan oleh Elizabeth, Cilkus sudah tidak dapat bergerak. Tidak, lebih tepatnya Cilkus saat ini pingsan dalam keadaan berdiri.
"Sesuai dengan peraturan yang kau katakan, karena dia sudah tidak dapat bertarung maka pertarungannya sudah selesai. Kau adalah pemenangnya."
__ADS_1
Untuk sesaat Zen manatap mata Elizabeth, lalu dia menarik kembali semua pisau yang berada ditubuh Cilkus.