Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Tentang Benua Arca


__ADS_3

"Seorang Vampire?"


Tidak hanya wajah Griadin, wajah Grim dan Emerald juga menunjukan Ekspresi terkejut ketika Zen mengatakan hal itu.


Bahkan Tina yang tadi hanya mendengarkan saja juga menjadi terkejut begitu mendengar perkataan Zen.


"Zen apa kau yakin kalau dia adalah seorang vampire?"


Dengan nada yang cukup serius Griadin bertanya pada Zen.


"Iya, dia memang vampire. Apa ada masalah?"


Zen sama sekali tidak mengerti mengapa mereka terkejut begitu mendengar tentang vampire. Bagi Zen Memang benar ras vampire itu sangat kuat, namun bukan dilevel sampai dimana tidak akan dapat dikalahkan oleh manusia.


"Kau bahkan tidak mengetahui arti dari hal itu. Aku penasaran bagaimana kau bisa tidak mengetahui nya."


"Karena aku tidak mengetahui artinya mengapa kau tidak memberitahu ku saja?"


"Kau tau Zen, selama puluhan tahun ini semua raja iblis di semua benua telah disegel. Tentu saja dengan para pasukannya mau itu vampire ataupun iblis tingkat tinggi. Jika sekarang vampire telah menampakkan dirinya maka dapat dikatakan kalau raja iblis akan segera terbangkit."


"Tunggu sebentar Griadin, jika aku tidak salah kau tadi mengatakan kalau vempire adalah bawahan raja iblis bukan?"


"Iya, aku memang mengatakannya."


'yang benar saja, apa yang telah dilakukan oleh kehendak dunia ini. Bagaimana mungkin bisa ras vampire menjadi bawahan seorang raja iblis.'


Zen sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah dilakukan oleh kehendak dunia ini. Ras vampire dan ras iblis adalah 2 ras yang berbeda, dan juga kedudukan ras vampire jauh lebih tinggi daripada ras iblis.


Sangat tidak masuk akal jika ras vampire menjadi bawahan ras iblis, namun akan masuk akal jika ras iblis menjadi bawahan dari ras vempire.


"Ada apa Zen, ada yang aneh denganmu."


"Tidak apa, tapi satu hal yang dapat kukatakan dengan pasti. Vempire yang kulihat kemarin sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebangkitan raja iblis dibenua ini."


"Bagaimana kau bisa yakin?"


"Yah, ada beberapa hal yang membuatku dapat mengatakan hal itu."


"Bukan berarti aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, tapi aku akan tetap melaporkan tentang keberadaan vampire itu."


"Lakukan sesukamu."


"Maka akan kulakukan."


Zen telah menjawab apa yang ditanyakan oleh Griadin, sekarang giliran dirinya yang bertanya. Zen lalu mengeluarkan peta yang dia dapatkan dari Griadin dan membukanya.


"Sekarang bisakah kau memberitau ku mengenai benua ini?"


"Iya bisa saja."


Griadin mulai memberitau Zen mengenai benua Arca ini. Dibenua ini terdapat 4 buah kekaisaran, yaitu kekaisaran Belfast, Arcinia, Vircin dan yang terakhir adalah kekaisaran Zilion yang merupakan tempat dimana pecahan kekuatannya disegel.


Zen sekarang berada di kota Milim yang berada kekaisaran Belfast.

__ADS_1


"Selanjutnya bisakah kau memberitau ku mengenai kuil abadi yang ada di kekaisaran Zilion?"


"Kuil abadi ya, aku kurang tau mengenai tempat itu. Aku hanya mengetahui kalau itu adalah kuil tertua yang ada dibenua ini."


"Begitu ya."


Meski dia mendapatkan banyak informasi mengenai benua ini, namun Zen tidak terlalu banyak mendapatkan informasi mengenai kuil abadi yang sedang dia tuju.


"Kuil abadi memiliki hubungan yang tidak terlalu baik dengan gereja."


Tiba tiba saja Tina membuka mulutnya dan berbicara.


"Mengapa bisa begitu?"


"Entahlah, dari yang kudengar kalau diruang bawah tanah kuil abadi terdapat sebuah monster yang mengerikan."


"Dan untuk menarik lebih banyak pengikut gereja ingin membunuh monster itu. Apa benar begitu Tina?"


"Iya, seperti itulah yang kudengar. Ah dan aku juga mendengar kalau penjaga kuil abadi sangatlah kuat."


"Sekuat apa dia?"


"Aku tidak tau pastinya, tapi dia memiliki kekuatan yang dapat meratakan kekaisaran Zilion kurang dari sehari."


"Ah jadi begitu."


Itu menjelaskan mengapa gereja tidak dapat membunuh Monster yang ada diruang bawah tanah kuil abadi. Gereja memiliki dukungan dari keluarga kekaisaran ataupun dari rakyat, mudah bagi gereja untuk membuat sebuah propaganda.


Jadi meskipun gereja ingin membunuh monster itu mereka lebih memilih untuk tidak melakukannya agar tidak memicu sebuah kehancuran.


"Terima kasih atas informasinya Tina. Ah Grim cepat keluarkan pedang yang baru saja kau buat kemarin."


"Mengapa aku harus melakukannya?"


"Aku hanya ingin tau apakah Tina dapat menggunakannya atau tidak, lagi pula kau tidak dapat menggunakan pedang itu bukan?"


"Bagaimana kau bisa tau itu."


"Kau tidak perlu mengetahuinya."


Senjata tingkat dewa sangat berbeda dengan senjata tingkat epic. Senjata tingkat epic dapat digunakan oleh semua orang mau itu anak kecil atau orang dewasa, namun senjata tingkat dewa berbeda.


Jika seseorang ingin menggunakan senjata tingkat dewa keatas maka orang itu harus memiliki ikatan dengan senjatanya. Jika tidak ada ikatan maka senjata tidak akan dapat digunakan.


"Cepatlah keluarkan Grim."


"Baiklah."


Sambil sedikit mengeluh Grim mengeluarkan pedang yang baru saja dia buat kemarin.


"Ini."


"Tina coba kau pegang pedang itu, jika pedang itu mengakuimu maka dia akan menjadi milikmu."

__ADS_1


"Apa kau serius?"


"Apa yang kau katakan Zen?"


Tina dan Grim sama sama terkejut begitu mendengar apa yang Zen katakan. Hanya saja ekspresi yang mereka buat berbeda, disatu sisi Grim merasa sedikit marah dengan perkataan Zen. Itu adalah sebuah ekspresi yang normal, bagaimanapun pedang itu Grim buat dengan susah payah.


Jika pedang itu mengakui Tina maka semua hasil usahanya akan hilang begitu saja. Dan disisi lainnya Tina menjadi sedikit senang dengan perkataan Zen, bagi dirinya ini adalah kesempatan yang tidak dapat dia lewatkan.


"Iya tentu saja aku serius. Dan untuk Grim, kau tenang saja aku pasti akan membayarnya."


"Bukan itu masalahnya Zen."


Selagi Grim marah kepada Zen, Tina telah memegang pedang itu dan mengalirkan mana miliknya kedalam pedang.


"Berakhir sudah, dia adalah seorang rank S. Pedang itu pasti akan mengakuinya. Selamat tinggal pedangku."


"Sudah sudah, kau tenanglah sedikit Grim."


Zen sedikit memenangkan Grim yang sedang bersedih itu.


"Jadi bagaimana Tina, apa ada pemberitahuan yang masuk?"


"Sama sekali tidak ada."


"Begitu ya, ya lagi pula itu adalah pedang tingkat dewa. Tentu saja tidak akan mudah untuk diakui olehnya."


"Apa syarat untuk dapat diakui?"


"Syaratnya mudah, kau haruslah kuat."


Jika penggunaan pedang itu adalah orang yang lemah maka tubuhnya akan akan hancur karena tidak dapat menahan kekuatan pedang itu.


"Sialan Zen, apa kau telah mengetahui hal itu."


Grim yang tadinya bersedih kini kembali marah kepada Zen.


"Tenanglah Grim, karena pedang itu tidak mengakuinya maka kau dapat menyimpan kembali."


"Ah, kau benar."


Dengan cepat Grim kembali menyimpan pedang itu.


"Tapi ini sedikit merepotkan, aku tidak memiliki apapun untuk mengganti pedangmu yang telah ku hancurkan."


Zen telah 2 kali menghancurkan pedang milik Tina, pada awalnya Zen berharap agar pedang itu mengakui Tina. Dengan begitu Zen bisa mengganti pedang Tina yang telah dia hancurkan.


Namun sekarang pedang itu tidak mengakuinya dan Zen tidak memiliki uang untuk dapat mengganti pedang milik Tina. Sekarang Zen sama sekali tidak tau apa yang harus dia lakukan.


"Ah, aku ingat. Jika tidak salah aku memiliki setumpuk sampah diruang penyimpanan ku."


Zen lalu mengeluarkan bebagai senjata dari ruang penyimpanannya, entah itu panah, tombak, pedang ataupun belati.


"Sekarang pilihan senjata yang kau inginkan Tina."

__ADS_1


__ADS_2