Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Ketika Xx


__ADS_3

"Yang mulia, apakah anda tau dengan situasi kita saat ini?"


"Tentu saja aku tau Irene."


"Lalu mengapa anda terlihat sangat santai?"


"Apa aku terlihat sedang bersantai dimatamu?"


"Bukan hanya Dimata Saya, jika anda bertanya kepada orang lain maka mereka pasti akan berkata hal yang sama."


Ini semua terjadi karena setelah Zen menerima laporan kalau ada sekelompok manusia yang akan menyerang kastil miliknya. Kelompok manusia itu adalah sepuluh pahlawan berserta rekan mereka dan beberapa prajurit dari kekaisaran suci.


Begitu Zen kembali dari tempat pertarungan antara dia dan Cilkus, Zen langsung menerima laporan itu dari Jendralnya Taks. Kelompok manusia itu diperkirakan akan mulai menyerang kastil Zen sekitar lima hari lagi.


Semenjak Zen menerima informasi itu dia sama sekali belum ada mengambil tindakan sama sekali. Zen hanya duduk disofa yang ada dikamarnya, atau hanya tidur dikasurnya. Karena itulah Irene berkata kalau Zen sangai santai.


"Kalau begitu coba panggil Fernanse, jika dia berada disini maka dia pasti akan berkata hal yang sama denganku."


"Maaf yang mulia, nona Fernanse saat ini sedang melihat lihat istana bersama dengan beberapa pelayan."


"Kalau begitu mau bagaimana lagi."


"Yang mulia."


Kali ini Irene memanggil Zen dengan nada yang rendah.


"Ada apa Irene?"


"Apa yang selalu anda pikirkan, Yang mulia?"


Mendengar perkataan Irene, Zen langsung melihat kearahnya. Disana Zen melihat Irene sedang melihatnya dengan tatapan yang lembut.


"Apa yang maksud Irene?"


"Tidak ada maksud apapun yang mulia. Saya hanya penasaran apa yang selalu anda pikirkan."


Irene berjalan menuju kearah Zen dengan pelan.


"Saya sama sekali tidak dapat menebak apa yang sedang anda pikirkan. Karena itulah saya bertanya kepada anda."


Begitu Irene sudah berada didepan Zen, dia langsung menekukkan lututnya lalu dia menatap mata Zen.


"Irene.. "

__ADS_1


"Iya, yang mulia."


"Berhentilah menatap mereka, jika kau terlalu lama menatapnya maka mereka akan menatapmu kembali."


"Baiklah kalau begitu yang mulia."


Irene berhenti menatap mata Zen, dia lalu berdiri kembali dan kembali bertanya kepada Zen.


"Jadi, apakah yang mulia mau memberitau saya?"


"Itu tidak bisa Irene."


"Mengapa?"


"Itu karena, aku tidak mau memberitaunya kepadamu Irene."


Irene melihat kewajah Zen, dia dapat melihat senyuman kecil yang Zen buat. Melihat senyuman itu Irene merasa ada sebuah emosi miliknya yang bergejolak. Irene Sendiri tidak tau mengapa setiap dia melihat senyuman kecil Zen tunjukan kepadanya dia selalu merasa kalau senyuman itu dipenuhi oleh kehampaan.


"Yang mulia."


"Apa Irene?"


Irene memeluk Zen dengan lembut, lalu dia berbicara pelan ditelinga Zen.


"Irene apa yang kau..... "


Sebelum Zen dapat menyelesaikan kata katanya, Irene sudah melepaskan Zen. Sesaat Setelah Irene melepaskan Zen, pintu kamar Zen mulai terbuka. Dari balik pinti itu terlihat seorang anak kecil, anak kecil itu adalah Fernanse. Fernanse masuk kedalam kamar Zen dengan diikuti oleh 2 pelayan perempuan.


"Yo, Zen. Bukankah ini sudah saat kau keluar dari kamarmu."


"Untuk apa?"


"Bukankah para manusia itu sudah semangkin dekat dengan kastil ini? Jadi bukankah sudah saatnya kau bergerak sekarang?"


"Tidak, aku sudah menyerahkan masalah itu kepada Taks. Jadi saat pertempuran mulai terjadi aku mungkin hanya akan melihat saja."


"Apa kau serius Zen?"


"Iya tentu saja aku serius."


Untuk sesaat Zen dan Fernanse tidak berbicara.


"Kalian berdua bisa meninggalkan nona Fernanse untuk sekarang."

__ADS_1


"Baik, Nona Irene."


Irene menyuruh kedua pelayan yang bersama Fernanse untuk pergi, kedua pelayan itu menuruti perkataan Irene dan mereka meninggalkan kamar Zen.


"Yang mulia saya rasa anda harus mengatakan maksud anda yang sebenarnya kepada Nona Fernanse dan saya."


"Baiklah jika kalian berdua ingin tau. Aku akan memberi taunya kepada kalian."


Irene dan Fernanse segera duduk disofa yang ada didepan Zen.


"Kalian tau bukan beberapa hari lalu aku talah membunuh tiga ekor naga?"


""Ya, kami tau.""


Irene dan Fernanse menjawab pertanyaan Zen secara bersamaan.


"Menurut perkiraanku saat pertempuran mulai terjadi pasti akan ada naga yang muncul untuk membalaskan kematian dari naga merah yang kubunu waktu itu. Naga yang akan muncul pasti adalah salah satu dari empat raja naga, meski begitu aku masih belum terlalu yakin raja naga mana yang akan muncul. Aku juga belum mengetahui dengan pasti rute mana yang akan digunakan oleh naga itu, jadi selama naga itu belum muncul aku tidak akan bergabung kedalam pertempuran."


"Jadi maksudmu jika naga itu belum menunjukan wujudnya, kau tidak akan ikut bertempur dan menyerahkan semuanya kepada jendral Taks."


"Iya, jika semuanya berjalan dengan lancar."


"Berjalan dengan lancar? Apakah ada hal lain yang kau khawatirkan tentang musuh?"


Fernanse bertanya dengan heran kepada Zen.


"Tidak, aku tidak khawatir mengenai musuh. Aku hanya khawatir jika nanti didalam pertempuran ada sesuatu yang menarik. Jika itu terjadi maka aku terpaksa untuk tidak mengikuti rencana."


"Kenapa anda tidak menahannya saja jika ada sesuatu yang menarik, yang mulia."


"Tidak, itu mustahil. Lagipula disana ada para pahlawan, mungkin saja salah satu dari mereka ada yang cocok untuk menjadi orang yang ketujuh."


Saat ini Zen sedang mencari orang ketujuh yang cocok untuk dia berikan pelayan ketujuh miliknya. Sebenarnya Zen bisa saja mencari manusia biasa untuk menjadi pemilik pelayan ketujuh. Namun perperangan sudah semangkin dekat, jika Zen memberikan pelayan ketujuh kepada manusia biasa itu sekarang maka manusia itu tidak akan bisa menyaingi keenam orang lainnya.


Maka dari itu Zen memilih salah satu dari pahlawan untuk menjadi orang yang ketujuh. Pahlawan memiliki kecepatan perkembangan yang luar biasa. Mereka dapat dengan cepat menggunakan kekuatan kekuatan yang baru mereka pelajari. Dengan kecepatan perkembangan mereka itu, Zen memperkirakan kalau dalam waktu 1 minggu orang itu akan dapat sebanding dengan keenam orang lainnya.


"Kalau begitu sebenarnya apa yang mulia inginkan?"


"Entahlah, aku sendiri juga kurang tau."


"Zen, kau bahkan tidak tau apa yang kau inginkan. Lalu apa yang akan kita lakukan saat pertempuran dimulai nanti?"


"Seperti yang kubilang tadi, kita hanya akan melihat saja sampai ada naga yang muncul."

__ADS_1


__ADS_2