
Jumlah mana yang terkumpul ditangan Verdia cukuplah banyak, dengan tangan itu Verdia memukul Zen. Zen tidak hanya diam saja dia juga mengumpulkan energi spiritual yang cukup banyak, Zen lalu menahan pukulan itu dan membuatnya menerima sedikit luka. Tekanan angin yang disebabkan oleh mereka berdua membuat rumah Verdia mulai hancur.
Theresia yang tadi hanya melihat saja kini mulai menjauh dari mereka berdua, sedangkan Veldra yang masih diatas pohon itu melihat pertarungan mereka sambil mengamati apakah ada yang datang atau tidak.
Zen dan Verdia terus menerus beradu pukulan, hingga akhirnya mereka sama sama mengambil jarak satu sama lain.
"Lumayan Zen Cavalier, kupikir aku dapat menjatuhkan mu hanya dengan beberapa pukulan."
"Itu seharusnya perkataan ku, Tidak kusangka kau dapat menjadi sekuat ini meski masih berada dibawah surga dengan sumber daya yang terbatas."
Didunia bawah karena sumber daya yang terbatas seseorang hanya dapat mencapai alam dunia dewa, sedangkan didunia atas ini seseorang hanya dapat sampai memegang mahkota saja. Tidak peduli sebanyak apa sumber daya yang dimiliki hal itu adalah mutlak dan juga hal itu karena peraturan yang dibuat oleh surga.
Zen dulu sama sekali tidak pernah melawan Verdia jadi ini adalah pertama kalinya Zen merasakan kekuatan yang Verdia miliki.
"Berhentilah bersikap seperti aku bukan lawanmu, cobalah bertahan selama mungkin."
Dengan cepat Verdia kembali menyerang Zen dengan pukulannya, kali ini Zen tidak mencoba untuk menahan pukulan itu. Zen dengan mudah menghindarinya, Zen lalu tersenyum kepada Verdia dan langsung memukulnya.
"Hmm....."
Zen yakin kalau dia telah mengerahkan sebagian besar Kekuatannya pada pukulan itu namun Verdia masih dapat berdiri dengan tegak tanpa menerima luka sedikitpun. Zen tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, dia dengan cepat segera mengambil jarak cukup jauh dari Verdia.
"Itu tadi seharusnya adalah pukulan yang cukup menyakitkan, tapi mengapa kau tidak menerima luka sedikitpun?"
Tidak peduli sekuat apa Verdia dia seharusnya tetap menerima luka setelah menerima pukulan Zen secara langsung, namun Verdia saat ini sama sekali tidak menerima luka sedikitpun. Zen kekurangan informasi saat ini, Zen tidak dapat gegabah sampai dia mendapatkan informasi meskipun hanya sedikit saja.
__ADS_1
"Itu adalah salah satu rahasia ku, akan sedikit merepotkan jika kau mengetahuinya."
"Begitu ya."
"Jadi mengapa kau tidak mencoba menyerangku lagi? Yah meskipun hasilnya akan sama seperti sebelumnya."
Ini adalah situasi yang cukup Baruk untuk Zen, kepercayaan diri Verdia yang sempat tergoyahkan tadi sudah mulai kembali. Verdia adalah pemegang mahkota dosa sombong, semankin dia merendahkan lawannya maka akan semakin besar Kekuatan yang dia dapatkan dari mahkota itu. Akan cukup berbahaya untuk Zen jika Verdia semakin menganggap rendah dirinya.
"Baiklah kalau begitu."
Zen memang tidak mendapatkan informasi apapun dari Verdia, Zen sekarang mencoba untuk bertaruh. Zen dengan cepat kembali menyerang Verdia dengan sebagai besar Kekuatannya dan dengan penuh kesombongan Verdia hanya berdiri menerima serangan dari Zen, hasilnya sama seperti sebelumnya Verdia sama sekali tidak menerima luka sedikitpun. Hanya saya kali ini ada sedikit yang berbeda, Zen akhirnya dapat mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
Zen segera mengambil jarak dari Verdia dan tersenyum kepadanya, Verdia merasa sedikit tidak menyukai senyuman itu. Meski senyuman itu bukanlah sebuah senyuman yang merendahkan dirinya namun entah kenapa Verdia merasa buruk setelah melihat senyuman itu. Meski begitu Verdia tetap masih memandang rendah Zen, jika dia tidak melakukan hal itu maka dia akan kehilangan sumber kekuatannya yaitu kesombongan.
Perasaan Verdia semankin memburuk ketika dia mendengar hal itu dari Zen, namun dia berusaha untuk tetap tenang.
"Apa yang kau maksud?"
Verdia tau kalau Zen mungkin telah mengetahui mengapa dia tidak terluka setelah menerima pukulannya, namun bagi Verdia akan lebih baik jika dia berpura pura untuk tidak tau karena hal itu bisa membuatnya tetap percaya diri.
"Bukankah sudah jelas kalau aku sedang membicarakan masalah Kemampuanmu itu, jika aku tidak salah Kemampuan itu sama seperti teknik kekosongan milikku."
"Hahhh."
Verdia menghelahkan nafas yang cukup panjang, pada akhirnya seperti yang dia pikirkan Zen telah menebak kemampuan miliknya hanya dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan memang benar namun meski begitu bukan berarti kau sudah dipastikan untuk menang."
Tidak masalah bagi Verdia jika Zen akhirnya mengetahui kemampuannya itu, pada akhirnya belum tentu hal itu akan mengubah arus pertarungan mereka.
"Memang benar jika kemenanganku belum dipastikan namun sekarang jauh lebih baik bagiku setelah mengetahui kemampuanmu."
Zen memiliki pemikiran yang berbeda dengan Verdia, meski dia belum tentu pasti akan memang didalam pertarungan ini namun bagi Zen Sudah cukup baik selama dia mengetahui kemampuan milik Verdia. Lagi pula apa yang paling Zen takuti terhadap lawannya adalah ketidaktahuan Zen atas kemampuan lawannya, dengan mengetahui kemampuan lawannya Zen dapat meningkatkan persentase kemenangannya.
"Meski itu adalah kemampuan yang luar biasa namun pada akhirnya itu juga memiliki batasan."
Zen kembali bergerak dan dengan cepat langsung memukul Verdia, kali ini Verdia tidak membiarkan Zen memukulnya secara langsung. Verdia menahan pukulan Zen dan dia dengan cepat melakukan serangan balik. Zen terhempas setelah terkena pukulan Verdia, namun Zen bukan hanya terhempas begitu saja Zen telah mengeluarkan ratausan cincin hitam miliknya untuk menyerang Verdia.
"Kemampuan murahan."
Verdia terus menghindari cincin hitam Zen, dia lalu membuat sebuah bola api yang sangat besar. Bola api itu mengandung hukum api lapisan ke 8, dengan kata lain bola api lebih panas dari pada milik Kreiz.
"Cukup merepotkan, Hukum perampokan."
Zen tidak membiarkan dirinya saja yang rugi, Zen dengan cepat membuat sebuah lingkaran sihir raksasa dilangit. Lingkaran sihir itu lalu mengeluarkan petir ungu dan terus menyerang Verdia. Sedangkan disisi lain Zen mengeluarkan pedang miliknya, bola api itu adalah sesuatu yang dapat melukai tubuhnya. Dengan pedang miliknya Zen menggunakan gerakan ke 6 dari 7 gerakan teknik kekosongan, tebasan pedang milik Zen membuat 1/6 daya hancur bola api terkirim kedunia Medan perang.
Bola api itu menciptakan ledakan yang sangat besar, tubuh Zen terluka cukup parah karena ledakan itu. Tidak hanya Zen Verdia juga menderita luka yang cukup parah karena Petir milik Zen. Zen tidak membiarkan Verdia menyembuhkan lukanya, dengan tubuh yang masih terluka Zen dengan celah menyerang Verdia menggunakan pedangnya.
"Kau sangat keras kepada Zen Cavalier."
Verdia membuat sebuah pedang dengan energi spiritual miliknya yang dipadatkan, namun pada akhirnya itu hanyalah sebuah pedang biasa. Pedang energi spiritual itu bukanlah tandingannya pedang Zen, pedang Zen dapat dengan mudah menghancurkan pedang Verdia dan memotong tangannya.
__ADS_1