Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Ciel Si Ratu Roh


__ADS_3

Dua bulan berlalu semenjak Zen kembali menjadi manusia, dan semenjak saat itu Zen terus menerus menyerap pecahan kekutannya tanpa henti.


Sekarang sebagai pengguna mana Zen telah berada ditingkat Marquess kelas bawah, dan dalam pengguna energi spiritual Zen telah mencapai alam Dewa abadi lapis ke 3.


"Sepertinya ini sudah batasnya."


Zen tidak lagi mampu menyerap kekuatan yang tersisa, sekarang tidak peduli peduli apa yang Zen lakukan dia tidak akan lagi dapat menyerap pecahan kekuatan itu.


"Sudah saatnya mengambilmu kembali."


Zen berdiri didepan pedang miliknya dan memegangnya. Namun pada saat itu Zen Merasakan sesuatu dibelakangnya dan diapun langsung melepaskan pedang itu.


"Tidak ada siapapun, apa tadi hanya perasaanku saja?"


Zen melihat ke belakangnya, tidak ada siapapun disana. Zen lalu kembali melihat kearah pedangnya.


"Hmmm."


Zen sedikit tersenyum melihat apa yang ada didepannya, seorang perempuan berdiri disana. Aura milik perempuan itu adalah apa yang Zen rasakan tadi.


"Apa yang dilakukan ratu roh disini, setahuku kau tidak menyukai alam bawah bukan Ciel Rocbell."


Ciel Rocbell, keberadaan paling tinggi didunia roh. Ratu dari para ratu roh, pemegang kekuasaan terbesar itulah dirinya.


"Apa yang kau lakukan disini Zen?"


Ciel melihat Zen dengan tatapan yang penuh kesedihan.


"Seperti yang kau lihat, aku ingin mengambil kembali pedangku."


Tentu saja Ciel tau apa yang ingin Zen lakukan, namun dia Merasa akan lebih baik baginya jika mendengar langsung dari Zen.


"Apa kau ingin kembali Merasakan rasa sakit itu?"


"Tidak, tapi kurasa aku hanya ingin membalas budinya saja."


"Apa yang kau maksud dengan balas Budi? Apa itu karena dia telah membantumu mendapatkan kembali ingatan itu? Apakah yang telah lakukan untuknya selama ribuan tahun itu masih belum cukup untuk membalas budinya?"


Dengan sedikit marah Ciel terus bertanya kepada Zen.


"Tenanglah Ciel."


Ciel sama sekali tidak mendengarkannya apa yang Zen katakan, dia membuat puluhan panah cahaya dan langsung menyerang Zen.


Zen menghancurkan semua panah itu dan menatap Ciel.


"Tidak peduli apa yang kau lakukan, didunia ini kau tidak akan dapat membunuhku Ciel."


"Terus kenapa? Apa menurutmu aku tidak akan pernah bisa membunuhmu?"


"Iya, kau tidak tidak pernah bisa melakukannya."


"Berhentilah bersikap seperti kau tau segalanya, ada jutaan kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan. Pasti akan datang waktu dimana aku dapat membunuhmu."

__ADS_1


"Apa kau benar benar ingin membunuhku Ciel?"


"Bukankah kau dapat melihatnya?"


Ciel membuat sebuah pedang dari cahaya, dengan pedang itu dia langsung menyerang Zen. Zen sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, dia juga tidak melakukan apa apa.


Pedang Ciel berhenti tepat didepan dada Zen, Zen hanya tersenyum kecil melihat hal itu.


"Kau tidak dapat membunuhku bukan?"


"Kenapa?"


"Kenapa Apanya?"


"Kenapa kau tidak menghindarinya?"


"Apa aku perlu menghindarinya?"


Zen tau kalau hal ini akan terjadi, tidak peduli seberapa banyak Ciel berkata ingin membunuhnya namun pada akhirnya Ciel tidak akan pernah melakukannya.


"Pedang ini bisa saja menusuk jantungmu, tidak peduli sekuat apa kau pada akhirnya kau akan mati ketika jantung mu hancur.


"Tenanglah Ciel."


Ini adalah kedua kalinya Zen menyuruh Ciel untuk tenang, namun sama seperti sebelumnya Ciel sama sekali tidak mendengarkan apa yang Zen katakan.


Namun kali ini sedikit berbeda, Ciel hanya berdiri didepan Zen dan tidak ada niat untuk menyerangnya.


Tiba tiba seorang perempuan dengan gaun hitam muncul dibelakang Ciel dan langsung


memeluknya.


"Apa yang kau lakukan disini Rubia?"


Perempuan itu adalah Rubia Ashdoll, dia adalah ratu dari para roh kegelapan. Meski dia adalah ratu roh namun dia hanyalah ratu dari para roh kegelapan. Didunia roh kedudukan Ciel jauh lebih tinggi daripada Dunia.


Dan juga roh tingkat tinggi dan juga para ratu roh dapat menciptakan sebuah tubuh fisik sehingga mereka muncul didunia dengan waktu yang cukup lama. Hanya saja mana yang perlukan untuk membuta tubuh fisik cukuplah besar.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Zen saja, dan juga ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadanya."


"Kalau begitu cepatlah berikan padanya dan berhentilah memelukku."


"Mengapa kau marah Ciel, lagi pula bukankah kita jarang melakukan hal ini?"


"Kubilang lepaskan aku Rubia, apa kau ingin mati."


"Kau tau Ciel, meski kau sedang marah kau masih tetap terlihat cantik loh."


Rubia terus memegangi bagian tubuh Ciel, mulai dari perut, dada hingga ke pipinya. Ekspresi kesal dapat dilihat diwajah Ciel, namun dia tidak dapat melepaskan diri dari pelukan Rubia.


Meski Ciel adalah ratu yang keberadaannya lebih tinggi dari Rubia, namun kekuatan penuh Ciel hanya dapat dia gunakan didunia roh, didunia dengan kehidupan fisik seperti ini Ciel Tidak akan dapat mengalahkan Rubia.


Rubia kembali menggerakkan tangannya menuju bagian yang sensitif, ekspresi Ciel menjadi terlihat lebih kesal dari sebelumnya. Namun berbeda dengan Ciel, Rubia malah sedang menikmati apa yang dia lakukan. Sebuah senyuman kecil muncul diwajahnya.

__ADS_1


"Berhentilah mempermainkannya Rubia."


Sebelum tangan Rubia sampai ketempat sensitif Ciel, Zen menyuruh Rubia untuk berhenti.


"Kau kesini untuk bertemu denganku bukan? Jadi berhentilah mempermainkannya."


"Ada apa, kau sangat membosankan Zen."


Rubia melepaskan pelukannya dan pergi kehadapan Zen.


"Jadi apa yang ingin kau berikan kepadaku?"


"Apa hanya itu yang ingin kau katakan setelah sangat tidak bertemu denganku?'


"Apa aku perlu mengatakan hal yang lain?'


"Hahh, meski kau telah menjadi kehidupan yang berbeda namun sepertinya sikapmu masih tidak berubah."


"Tidak ada alasan bagiku untuk berubah."


"Yah kurasa kau benar."


Rubia lalu mengelukan sesuatu dari dalam tubuhnya. Sebuah cahaya yang selalu redup dan terang keluar.


"Ini kukembalikan padamu."


"Ini......"


Zen langsung tau begitu melihat cahaya itu, cahaya itu adalah kumpulan dari pecahan kekuatan kecil Zen yang tersebar keberbagai dunia.


"Berapa banyak yang kau korbankan untuk mendapatkan kembali semua ini?"


Melihat dari sikap Rubia, Zen tau kalau untuk mendapatkan semua pecahan kekuatan itu Rubia pasti akan mengorbankan banyak nyawa.


"Ntahlah, mungkin sekitar satu dunia."


Dengan kata lain sekitar ratusan juta mahluk hidup yang Rubia korbankan untuk mendapatkan kembali semua pecahan kekuatan itu.


"Lalu berapa banyak yang kau pergunakan?"


Rubia bukanlah orang yang ingin melakukan hal yang merepotkan, Zen tau untuk mendapatkan semua pecahan kekuatan itu dia pasti membuat orang lain bergerak untuk dirinya.


"Sekitar 10000 orang. Ah tentu saja aku membayar mereka kau tau."


"Apa yang kau gunakan untuk membayar mereka? Apa kau menggunakan tubuhmu?"


"Mana mungkin aku melakukan hal itu, aku bahkan tidak membiarkan para mahluk rendahan itu menyentuh tubuhku. Aku membayar mereka dengan memberikan mereka kekuatan."


"Sudah kuduga."


Rubia adalah seorang ratu roh kegelapan, dia dapat memberikan kekuatan kepada orang lain. bagi Rubia kekuatan yang dia berikan mungkin sangat kecil, namun bagi mereka yang hidup didunia bawah kekuatan itu sudah sangat besar. itu sudah cukup untuk membuat mereka bergerak sesuai apa yang Rubia inginkan.


"Meski begitu kau masih terlihat biasa saja setelah mendengar jumlah nyawa yang ku korbankan. Zen apa kau benar benar tidak memiliki Emosi?"

__ADS_1


__ADS_2