Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Akhir


__ADS_3

"Bahkan dengan kekuatanku yang sekarang aku masih belum dapat mengalahkannya."


Elizabeth memuntahkan darah dari mulutnya, pertarungan melawan kaisar naga membuat seluruh tubuhnya dipenuhi luka.


"Akan berbahaya jika terus begini."


Kekuatan regenerasi nya sebagai seorang leluhur tidak lagi dapat menyembuhkan semua luka itu. Jika dia terus bertarung maka kemungkinan Elizabeth mati dalam pertempuran itu akan sangat besar.


"Aku harus mencari celah untuk kabur. Tapi kurasa dia tidak akan membiarkanku kabur dengan mudah."


Elizabeth melihat kearah kaisar naga yang sedang bersiap untuk menyerangnya lagi.


"Berfikir lah Elizabeth, meski peluangnya kecil tapi seharusnya ada cara untuk kabur dengan resiko yang kecil."


Elizabeth memikirkan ratusan rute yang akan dia gunakan untuk kabur, namun tidak peduli sebanyak apa dia berfikir dia masih belum dapat menemukan rute yang paling aman.


*Doar


Selagi Elizabeth sedang berfikir, sebuah serangan mengenai kaisar naga.


"Sebuah serangan? Dari mana?"


Serangan itu membuat tubuh kaisar naga dipenuhi oleh api hitam, api itu sangatlah kuat bahkan air hujan sama sekali tidak dapat membuat api itu menghilang sedikitpun.


"Tidak, tidak perlu memikirkan hal itu. Sekarang adalah kesempatan untukku kabur."


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki olehnya, Elizabeth dengan cepat pergi meninggalkan tempat pertempuran dan menuju ke gerbang kastil kaisar naga.


Dalam waktu singkat Elizabeth hampir sampai kegerbang kastil kaisar naga, dari tempatnya saat ini dia dapat melihat Zen dan Argares.


**********


"Wow, serangan yang sangat luar biasa."


"Memang itu adalah serangan yang luar biasa, namun sebagai gantinya aku kehilangan sepersepuluh mana milikku."


"Yang benar saja, apa serangan tadi benar benar menghilangkan sepersepuluh mana milikmu?"

__ADS_1


"Iya."


Sepersepuluh mana milik Zen bukankah jumlah yang sedikit, jumlah itu setara dengan setengah dari jumlah mana yang dimiliki oleh pahlawan yang terpanggil seperti Kufa.


"Jadi apakah serangan tadi mengenai si kaisar naga?"


"Tentu saja kena."


"Kalau begitu maka seharusnya sebentar lagi ......"


Argares melihat kearah Zen melemparkan tombak miliknya, dan tepat seperti yang dia perkirakan Argares dapat melihat Elizabeth menuju kearah mereka dengan cepat.


"Sepertinya dia terluka cukup parah."


Meski jaraknya masih cukup jauh, Argares dapat mengetahui kalau Elizabeth terluka cukup parah.


"Zen buka gerbangnya sekarang kita akan segera pergi dari sini."


"Iya."


Tanpa banyak bicara Zen menuruti perkataan Argares, dengan cepat membuat sebuah gate.


"Sepertinya kalian telah membuat beberapa persiapan."


Elizabeth melihat kearah gate yang telah dibuat Zen.


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Saat ini Abrials sedang marah, akan berbahaya bagi kita jika terlalu lama disini."


Elizabeth pergi kearah gate dan memasukinya, lalu Argares dan Zen pun mengikutinya.


**********


Disebuah lorong yang cukup gelap seorang pria berjalan dengan pelan. Dengan penerangan secukupnya dia terus berjalan tanpa melihat kearah belakang ataupun sampingnya.


Setelah beberapa saat berjalan pria itu akhirnya berhenti disebuah pintu yang besar. Pria itu kemudian membuka pintu dan memasuki ruangan dibalik pintu itu.


Berbeda dengan lorong yang cukup gelap, ruangan itu sangat terang dan dipenuhi oleh cahaya. Pria itu berjalan menuju pusat dari ruangan itu, pria itu kemudian berhenti sebuah bongkahan es yang besar.

__ADS_1


Pria itu lalu menyentuh bongkahan es itu, didalam es itu terdapat seorang wanita dengan rambut perak yang panjang sedang tertidur.


"Ini......"


"Sangat tidak biasa untuk melihatmu berada disini."


Terdengar sebuah suara dari belakangnya, pria itu lalu melihat kearah suara itu berasal. Disana dia dapat melihat seorang pria dengan rambut pirang berjalan kearahnya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Tanya pria berambut pirang kepada pria itu.


"Tidak ada hal penting, hanya melakukan sedikit kunjungan saja."


"Begitu ya."


Pria itu lalu melihat kearah es itu lagi, dia mengalirkan sedikit mana miliknya kedalam es itu. Lalu terlihat sebuah lingkaran sihir yang menutupi seluruh es itu.


"Apakah kau yang memasang penghalang ini?"


Tanya pria itu kepada pria berambut pirang.


"Iya, aku yang melakukannya."


"Kapan kau memasangnya?"


"Belum lama ini."


"Begitu ya."


Pria itu kemudian berhenti mengalirkan mananya kedalam es itu, dan lingkaran sihir yang ada pada es itu pun menghilang.


"Apa perlu melakukannya sampai sejauh ini? Penghalang yang kau pasang itu membuat jiwa miliknya tidak akan bisa dapat kembali ke tubuh itu."


Dengan penghalang yang mengelilingi es itu, jiwa milik wanita berambut perak itu tidak akan dapat kembali kedalam tubuhnya. Dan Agar jiwa wanita dapat kembali kedalam tubuhnya seseorang harus menghancurkan penghalang itu terlebih dahulu.


"Kurasa itu sangat diperlukan, bagaimana pun dia lah yang memutuskan untuk pergi dari dunia ini."

__ADS_1


"Jika itu keputusan mu maka aku tidak akan berbicara lebih banyak lagi."


Mereka berdua berhenti berbicara dan melihat kearah wanita yang sedang tertidur didalam es itu.


__ADS_2