
Suara pukulan Elizabeth terdengar sangat keras, meja yang ada didepan mereka pun hancur menjadi pecahan pecahan kecil.
Para raja naga dan raja iblis melihat kearah Elizabeth dengan aura yang masih terus keluar dari tubuh mereka. Sedangkan Kufa dan Ether telah menarik pedang mereka.
Situasi menjadi lebih kacau dari yang sebelumnya, namun hal itu tidak membuat Elizabeth menjadi khawatir. Sambil tersenyum Elizabeth menepuk kedua tangannya dengan keras.
"Bisakah kalian berhenti mengeluarkan aura kalian sebelum situasi diluar menjadi kacau!!"
"Apa yang terjadi jika kami menolak untuk mengikuti perintah mu?"
Kaisar naga merah Zmei dengan lantang menyuarakan keberatan atas perintah Elizabeth.
"Hmm, apa ya yang akan terjadi? Zen menurutmu apa yang akan terjadi?"
Elizabeth bertanya kepada Zen yang berdiri dengan tenang dibelakangnya.
"Mungkin kita harus bergabung dengan mereka."
"Kurasa itu adalah pilihan yang bagus."
Seketika Elizabeth mengeluarkan aura yang jauh lebih kuat dari yang dikeluarkan Zmei ataupun Galios.
"Bisakah kalian berhenti sekarang."
Elizabeth menatap mereka dengan tajam, tatapan itu mengatakan kalau apa yang dia katakan barusan bukanlah sebuah permintaan melainkan sebuah perintah.
"Seperti yang dikatakan nona leluhur ke 2 itu, kalian harus berhenti mengeluarkan aura itu."
Abrials memberikan perintah kepada Zmei dan Daelus, merekapun menuruti perintah dari Abrials dan berhenti mengerluakan auranya.
Sang raja iblis Galios juga berhenti mengeluarkan aura miliknya dan kedua raja iblis yang dibelakangnya mengikuti apa yang Galios lakukan. Iris juga menyuruh Kufa dan Ether untuk memasukan kembali pedang mereka.
"Sekarang tinggal dirimu yang masih mengeluarkan aura nona, apa akan terus melakukan itu?"
"Tentu saja tidak."
Elizabeth juga berhenti mengeluarkan aura miliknya dan dia kembali duduk.
"Jadi, apakah kita sudah bisa memulainya sekarang?"
Iris bertanya kepada semua perwakilan yang ada didalam tenda itu. Bagaimana pun sejak tadi mereka hanya berselisih bahkan sebelum pertemuan dimulai.
__ADS_1
Mereka semua tidak ada yang menjawab pertanyaan Iris, Iris pun menganggap dia mereka sebagai jawaban kalau mereka telah siap untuk memulai pertemuan ini.
"Anda bisa memulainya sekarang tuan kaisar Naga."
"Baiklah, kurasa aku akan memulainya sekarang. Aku hanya ingin mengetahui satu hal saja, diantara kalian semua disini siapa yang telah mencabut pedang suci dia menara Ai?"
"Jika kau bertanya mengenai pedang suci, bukankah kau seharusnya bertanya kepada nona muda yang disana?"
Pedang suci hanya dapat digunakan oleh ras manusia, itu adalah pengetahuan umum bagi mereka semua. Jadi Galios menyarankan kepada Abrials untuk bertanyak kepada Iris.
"Apakah kau mengetahuinya nona muda?"
"Tidak, sangat disayangkan karena saya sama sekali tidak mengetahuinya."
"Apa kau sedang bercanda nona muda?"
"Tidak, tidak, saya mana memiliki keberanian untuk bercanda didepan tuan kaisar naga. Dan juga jika berbicara mengenai pedang suci yang ada dimenara Ai bukankah lebih baik jika anda bertanya kepada vampire yang ada disana?"
Iris melihat kearah Zen.
"Apa kau berbicara mengenai leluhur kecil kami?"
"Bisa dibilang begitu."
"Yah saya rasa bisa dibilang kalau saya kenal dengannya."
"Jadi, apakah kau mengetahui mengenai pedang suci itu tuan leluhur pertama."
"Mengapa anda bertanya itu kepada saya tuan Abrials? Padahal bisa saja tuan Galios lebih mengetahui hal itu."
Zen memilih untuk tidak terlalu banyak berbicara dengan Abrials, diapun memberikan tongkat estafet kepada Galios.
"Seperti yang kubilang sebelumnya, bukankah lebih baik jika kau bertanya kepada nona muda yang disana?"
Galios kembali memberikan tongkat estafet kepada Iris.
"Kalian semua, apa kalian bercanda denganku?"
Abrials menjadi sedikit emosi dengan jawaban dari mereka, sejak tadi mereka bertindak seperti sedang menghukum seorang penyihir. Mereka saling menyalahkan satu sama lain dan membuat jawaban terus berputar putar.
"Mengapa kau tidak memikirkan kemungkinan yang lain Abrials? Bisa saja kau yang paling tau mengenai pedang suci itu, dan mungkin bisa saja kalau kau yang memilikinya."
__ADS_1
"Apa kau mencurigai ku Elizabeth?"
"Bisa dibilang begitu."
"Aku belum membalas perbuatan mu terakhir kali kita bertemu, apa kau ingin aku meratakan dataran vampire?"
"Kau sangat arogan Abrials, apa kau pikir kau bisa meratakan dataran vampire?"
Aura permusuhan keluar dari mereka berdua, meski kecil namun semua orang yang ada ditenda itu dapat merasakannya.
"Tenanglah sedikit Abrials, menurutku apa yang dikatakan boleh Elizabeth juga ada benarnya?"
"Naga muda kami dibunuh oleh pemilik pedang itu, mana mungkin aku memiliki pedang itu."
"Bisa saja itu hanya alasan anda tuan kaisar naga."
"Apa kau juga mencurigai ku nona muda?"
Abrials menatap Iris dengan tajam, suasana menjadi sangat tengang. Iris telah bersiap untuk menarik pedang suci milikinya.
Sejak awal topik mengenai pedang suci yang ada dimenara Ai tidaklah penting, yang paling penting bagi mereka semua adalah bagaimana cara memprovokasi yang lain.
Didalam tenda ini siapapun yang pertama kali menyerang maka dapat dikatakan kalau dia telah mendeklarasikan perang, hanya saja saat ini tidak ada satupun dari mereka yang ingin mendeklarasikan perang. Itu karena siapapun yang mendeklarasikan maka akan mendapatkan tempat yang terburuk.
Suasana menjadi sangat tegang, tidak ada dari mereka yang berbicara. Zen sudah dapat menebak kalau hal ini pasti akan terjadi, karena itulah dia telah menyiapkan sebuah kunci untuk membuat ras naga mendeklarasikan perang kepada ras yang lainnya.
"Tuan Abrials, naga muda yang kau maksud itu apakah naga muda yang mati di wilayahku?"
"Iya, apa kau tau sesuatu mengenai itu?"
"Tentu saja aku sangat tau, lagi pula yang membunuhnya adalah aku."
Begitu Zen selesai berbicara, sebuah aura besar muncul diantara mereka bertiga. Aura itu dikeluarkan oleh Zmei yang sedang marah besar, dengan cepat Zmei langsung menyerang Zen.
"Hentikan Zmei, jangan terprovokasi!"
Kata kata Abrials sama sekali tidak lagi dapat didengar oleh Zmei, dia mukul Zen dengan sangat kuat hingga Zen terhempas sangat jauh dari tenda.
"Hahaha, kerja bagus Zen."
Argares tertawa dengan sangat keras, sebuah senyuman lebar terlihat diwajahnya. Argares langsung mengeluarkan pelayannya dan menyerang mereka semua yang ada didalam tenda itu.
__ADS_1