Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Bergabung


__ADS_3

Setelah pertempuran gelombang pertama selesai, medan pertempuran menjadi lebih tenang. Namun itu semua tidak bertahan lama, kini pertempuran gelombang kedua dimulai.


Para pasukan dari pihak manusia ataupun vampire mulai membunuh satu sama lain. Pasukan manusia yang diketahkan kali ini lebih banyak dari pada sebelumnya. Hampir semua pasukan manusia dikerahkan pada gelombang kedua ini.


Dengan gagah berani Jendral Scath memimpin pasukan manusia untuk langsung menyerang pasukan Vampire dari depan. Sedangkan Kufa memimpin para pahlawan untuk menyerang pasukan vampire dari samping.


Jendral Taks memimpin para pasukan vampire untuk menyerang pasukan manusia dari depan. Pertempuaran besar terjadi disana, ledakan besar ada dimana mana. Mayat berserakan dibanyak tempat, darah menutupi permukaan tanah.


Zen melihat perperangan itu dari atas bukit dengan santai. Pada awalnya Zen berencana untuk tidak bergabung Sampai naga yang dia tunggu muncul. Namun Zen langsung menganti rencananya begitu dia melihat Kelompok para pahlawan yang dipimpin oleh Kufa. Zen juga dapat melihat Baal dan Accua berada disana. Zen kini memutuskan untuk bergabung kedalam pertempuaran itu.


"Kalian berdua tetaplah disini, aku akan bergabung kedalam pertempuaran."


Zen memberi perintah kepada Irene dan Fernanse.


"Yang benar saja Zen, jika kau pegi lalu siapa yang akan menjaga kami. Aku akan ikut denganmu."


Fernanse menolak perintah Zen dan mengatakan kalau dia Akan mengikuti Zen.


"Fernanse, apa kau pikir aku belum memikirkan keamanan kalian. Meski aku tidak tau apa yang kau buat sebelumnya, tapu aku tau kalau itu pasti dapat melindungimu. Jadi aku tidak akan membawamu ataupun Irene."


Sebelumnya Fernanse membuat sesuatu yang tidak diketahui oleh Zen cara penggunaannya, tapi Zen merasa kalau yang dibuat itu Fernanse itu dapat melindungin mereka berdua.


"Ah, ketahuan ya. Baiklah aku akan tetap tinggal disini sambil melihat sesuatu yang menarik."


"Baguslah, kalau begitu aku akan pergi sekarang."


"Yang mulia."


Zen hendak pergi menuju ketempat pertempuran, namun dia terhenti begitu Irene memanggilnya.


"Ada apa Irene?"

__ADS_1


Zen menatap Irene.


"Saya menyarankan agar anda tidak pergi kesana Yang mulai."


Mendengar perkataan Irene, wajah Zen menjadi terlihat sangat serius. Itu bukan berarti dia marah karena usulan dari Irene, melaikan itu karena sesuatu yang lain. Lagi pula Zen tidak memiliki emosi marah didalam dirinya.


"Apa yang kau lihat Irene?"


"Itu......"


Irene hendak mengatakannya namun dia memutuskannya kalau Dia tidak perlu mengatakannya kepada Zen.


"Tidak ada yang mulia, tidak ada yang saya lihat.".


Zen menatap Irene dengan serius, dia tau kalau Irene sedang berbohong saat ini. Namun Zen tau kalau Irene tidak ingin mengatakannya karena itulah dia memutuskan untuk tidak menanyakannya lagi.


"Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya Irene. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Baik yang mulia."


Zen melompat dengan tinggi, mereka yang fokus pada pertempuran tidak ada yang melihat Zen yang melompat tinggi diatas mereka.


Zen mendarat sambil menyerang Kufa dengan tendangannya. Dalam momen yang sekejap itu, Kufa terhempas karena tendangan dari Zen menyebabakan banyak debu yang berterbangan.


"Seperti yang diharapkan dari pahlawan, meskipun tadi adalah serangan yang tiba tiba namun kau masih sempat menahannya."


Meski Kufa terhempas karena tendangan dari Zen, namun sempat menahan tendangan itu meskipun hanya bertahan sesaat.


"Siapa kau?"


Kufa bertanya kepada Zen dengan nada yanv kesal, saat ini disekitarnya banyak debu yang berterbangan jadi Kufa masih dapat melihat wajah dari Zen. Namun Kufa tau kalau ada seseorang yang ada didepannya saat ini.

__ADS_1


"Hmm, apakah kau sudah melupakanku?"


Debu yang berterbangan perlahan mulai menghilang, Kufa sedikit demi sedikit sudah dapat melihat wajah Zen.


"Kau adalah...... Sialan."


Setelah melihat wajah Zen, Kufa menjadi sangat kesal.


"Sudah kuduga, kau pasti tidak akan mudah melupakanku bukan?"


"Ya, aku tidak akan bisa dengan mudah melupakanmu. Lagi pula aku dapat hidup sampai hari ini adalah agar aku dapat membalaskan dendamku padamu."


"Membalas dendam padaku ya? Apa aku pernah membuat masalah denganmu?"


"Tentu saja ada, saat itu kau membunuh beberapa rekan petualangku."


Itu terjadi pada saat Zen pertama kali bertemu dengan Kufa. Pada saat itu Zen hanya membunuh monster untuk menghabiskan waktunya, namun beberapa rekan Kufa menyerangnya karena Zen telah membunuh Goblin lord sendirian.


Beberapa rekan Kufa menyerang Zen tanpa berkata apa apa, hal itu membuat Zen menjadi sedikit terganggu. Zen pun membunuh orang orang itu, pada saat itulah Kufa untuk pertama kalinya mengalami kekalahan setelah menjadi petualang rank S.


"Ah yang waktu itu ya. Kurasa itu bukan salahku, lagi pula rekan rekanmu itu sangat lemah."


Zen berbicara kepada Kufa dengan nada yang terdengar mengejek.


"Memang benar jika mereka dibandingkan dengan dirimu mereka sangatlah lemah. Namun bukan berarti kau dapat membunuh mereka begitu saja. Maka dari itu aku akan membunuhmu hari ini."


"Oh ho, lalu bagaimana caramu membunuhku?"


"Dengan ini aku akan membunuhmu!"


Kufa mengeluarakan sebuah pedang dari ruang penyimpanan miliknya, pedang ith memiliki warna emas yang mengkilap dengan ukiran naga dipegangannya.

__ADS_1


Kufa mengibaskan pedang itu, bilah bilah angin tajam tercipta begitu Kufa mengibaskan pedang itu. Bilah bilah angin itu mengarah kearah Zen dengan sangat cepat.


Zen segera mengeluarkan pedang miliknya dari ruang penyimpanannya. Zen menahan menahan bilah bilah angin itu dengan pedang itu, itu membuat benturan besar terjadi. Debu debu yang tadinya sudah berada dipermukaan tanah kini mulai berterbangan lagi.


__ADS_2