
Setelah berpisah dengan Ling Hao dan yang lainnya Zen pergi menuju kota tempat dia datang.
Kota itu sangatlah besar, luas kota itu sendiri mungkin setara dengan luas dari dunia bawah.
Zen berjalan jalan didalam kota itu, beberapa saat kemudian Zen melihat banyak orang yang berkumpul.
"Apa yang terjadi disini?"
Zen bertanya kepada salah satu orang yang berada didalam kumpulan itu.
"Apa kau baru saja tiba dikota ini?"
"Iya, aku baru Tiba beberapa saat yang lalu. Jadi apa yang sedang kalian lakukan disini?"
"Sekarang sedang diadakan sebuah turnamen, hadiahnya adalah sebuah pedang tingkat ilahi dan beberapa seni beladiri tingkat semi ilahi."
"Heh, apa setiap orang boleh mendaftar?"
"Boleh, hanya saja kau perlu membayar dengan biayanya dengan uang atau dengan sebuah pil. Namun ada sebuah pengecualian kali ini, jika kau dapat menghancurkan batu yang ada disana maka kau bisa mendaftar tanpa harus membayar."
"Begitu ya, terima kasih atas informasinya."
Zen berjalan menuju tempat pendaftaran yang diberitahu oleh pria itu. Sejujurnya Zen sama sekali tidak tertarik dengan hadiahnya, yang Zen inginkan sekarang adalah sebuah hiburan yang menyenangkan.
Menurut perkiraan Zen orang orang yang mendaftar pasti adalah para seniman beladiri dan penggunaan mana tingkat tinggi. Dengan adanya meraka Zen merasa akan sangat menyenangkan jika dia juga ikut bergabung.
"Jika aku menghancurkan batu ini aku bisa mendaftar tanpa membayar bukan?"
"Iya, itupun jika kau memang bisa melakukannya." Jawab seorang pria yang bertanggung jawab dalam pendaftaran.
"Itu adalah hal yang mudah."
Zen menyentuh batu itu dan sedikit tersenyum.
"Batu Hitam ketamakan ya."
Batu Hitam ketamakan tercipta dari berbagai kekuatan, mulai sihir, energi spiritual dan roh mahluk hidup karena itulah batu ini disebut sebagai ketamakan. Mengahancurkan batu itu bukanlah sesuatu yang mudah, jika batu itu diserang dengan menggunakan sihir atau energi spiritual hal itu hanya akan membuat batu itu menjadi lebih kuat.
Pilihan terbaik untuk menghancurkan batu itu adalah dengan menggunakan kekuatan fisik, namun kekuatan fisik yang diperlukan setara dengan kekuatan fisik milik king atau pejuang surga tingkat bawah.
"Cara menarik perhatian yang bagus."
Test untuk menghancurkan batu ini sendiri hanyalah sebuah pertunjukan saja, lagi pula mana mungkin ada pejuang surga ataupun king yang akan ikut kedalam tunamen dengan hadiah yang sangat rendah itu.
Meski semua kekuatan miliknya belum kembali namun Kekuatan fisik Zen yang sekarang tidak berbeda jauh dengan para pejuang surga ataupun king tingkat bawah.
__ADS_1
Zen lalu mengepalkan tangannya dan dengan cepat memukul batu itu. Tidak ada sedikit retakan yang terlihat pada batu, pria yang itupun langsung memutuskan kalau Zen gagal.
"Kau gagal, lebih baik kau membayar sekarang jika memang ingin mendaftar."
"Siapa bilang aku gagal? Cobalah untuk lihat lebih teliti."
Zen lalu melepaskan tangannya dari batu itu, seketika batu itu langsung terpecah menjadi banyak bagian.
"Aku lulus bukan?"
"I... Iya."
Pria itu terkejut dengan apa yang dia lihat, ini adalah pertama kali baginya melihat seorang yang berada ditingkat Marquess dapat menghancurkan batu itu.
"Jadi mana token untukku?"
"Ah, Tunggu sebentar."
Pria itu lalu langsung mengambil sebuah token.
"Nama?"
"Reinhard Vanes."
Zen menggunakan nama samaran agar terhindar dari beberapa masalah.
Pria itu menulis hal itu pada token. Zen yang sekarang hanya terlihat sebagai seorang mana karena dia telah menyembunyikannya. Hanya orang yang benar benar kuat yang dapat melihat kalau Zen adalah seorang pengguna mana dan energi spiritual.
"Ambilah dan segeralah pergi ke arena."
Zen segara mengambil token itu, ditoken itu tertulis angka 100 dengan kata lain Zen adalah peserta yang 100.
Zen pergi menuju ke arena, Zen untuk menunjukkan tokennya dan seorang penjaga langsung membiarkan masuk.
Zen masuk ketempat para peserta lain berada, kebanyakan dari mereka berada dialam dewa abadi dan tingkat Earl kelas atas.
"Mulai sekarang turnamen akan dimulai, bagi mereka yang dipanggil silahkan naik keatas arena."
Seorang pria yang mungkin merupakan seorang pengawas pertandingan memanggil para peserta dengan nomor 1 sampai 10.
Pria itu lalu memberitau kan beberapa peraturan, yang pertama dari 10 orang yang akan lolos adalah 2 orang.
'hmm, dengan begitu pertarungan akan menjadi lebih cepat selesai.'
Yang kedua adalah peserta tidak boleh keluar dari garis yang ada di arena, jika ada yang keluar maka peserta akan langsung didiskualifikasi.
__ADS_1
yang ketiga adalah membunuh musuh sama sekali tidak dilarang. Dan beberapa peraturan lainnya.
"Mulai."
Pria itu berteriak dengan keras, para peserta yang ada di arena itu dengan cepat saling menyerang satu sama lain. Para peserta itu juga mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar, untungnya mereka yang melihat turnamen ini bukanlah orang- orang lemah jadi mereka tidak akan terpengaruh dengan aura itu.
Setelah beberapa saat saling bertarung akhirnya sudah terisa 2 orang, kedua orang itu berada dialam dewa abadi lapis ke 5.
Selanjutnya adalah giliran peserta nomor 11 sampai 20. Dari mereka juga hanya tersisa 2 orang. Hal itu terus berlanjut hingga akhirnya giliran Zen yang naik ke arena.
"Mulai."
Semua Perseta itu mulai saling bertarung, Zen hanya berdiri didekat garis dan mengamati pertarungan mereka.
"Lihat itu, sepertinya dia takut kalah sampai membuatnya tidak ingin melakukan apapun."
"Kau benar, apa tingkatan nya sebagai seorang Marquess hanya sebagai pajangan saja."
Para penonton tertawa melihat apa yang Zen lakukan, kalimat ejekan dapat terdengar dimana mana. Namun Zen sama sekali tidak memperdulikan semua itu, dia masih berdiri ditempatnya dengan tenang.
Hingga akhirnya hanya tersisa 5 orang.
"Sebelumnya tidak ada yang memperdulikan mu, namun sekarang sudah saatnya bagimu untuk keluar dari turnamen ini."
Seorang pria mendekati Zen dengan penuh kesombongan, pria itu menatap Zen seolah- olah dia sedang merendahkan Zen.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
"Lebih baik kau keluar dari lingkaran itu sekarang sebelum aku yang melakukannya."
"Bagaimana jika aku menolaknya?"
"Maka aku akan melakukan apa yang kukatakan tadi."
Pria itu dengan cepat menyerang Zen dengan pukulanya. Zen menghindari serang itu dengan mudah, Zen lalu menendang pria itu hingga dia terhempas keluar arena.
"Bodoh, lain kali jangan pernah meremehkan orang lain."
Tinggal 3 orang yang tersisa di arena itu, dari mereka bertiga tidak ada pergerakan sama sekali. Mereka saling menggamati satu sama lain dan mencari target yang paling cocok untuk diserang.
"Huh, trik kecil."
mereka yang bertanggung jawab dalam ujian sudah dapat memperkirakan kalau hal yang seperti ini akan terjadi.
pengawas itu tidak membiarkan mereka untuk saling mengamati lebih lama lagi, diapun membuat lingkaran itu menjadi mengecil dengan cepat.
__ADS_1
"Lebih baik kalian cepat saling menjatuhkan, tidak usah pedulikan aku karena aku pasti akan lolos pada babak ini."