Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci

Keturunan Terakhir Keluarga Pedang Suci
Kota Yun Hai


__ADS_3

Setalah beberapa hari melakukan perjalanan Zen dan Lin Yan akhirnya sampai ke kota Yun Hai. Mereka berdua langsung memasuki kota, dan Zen melihat kesekitarnya.


Meski tidak terlalu berbeda jauh dengan kota yang sebelumnya namun kota Yun Hai ini masih jauh lebih baik. Meski sebagian besar seniman beladiri yang dia lihat berada dialam peningkatan jiwa namun Zen masih dapat melihat beberapa orang yang berada di alam bencana.


"Kemana kita akan pergi sekarang guru?"


Zen terlalu fokus melihat kesekitarnya hingga dia melupakan tujuannya datang kesini.


"Mungkin lebih baik jika kita mencari penginapan sekarang."


Hari telah mulai gelap, untuk saat ini Zen harus mencari penginapan untuk dapat beristirahat. Namun bukan hanya itu alasan Zen mencari penginapan, selain sebagai tempat istirahat penginapan juga memiliki fungsi sebagai tempat untuk mendapatkan informasi.


Tidak hanya penginapan, bahkan tempat makan juga merupakan tempat yang bagus untuk mendapatkan informasi. Itu karena dikedua tempat itu biasanya diisi oleh orang orang yang suka menggosip dan mendengarkan kabar angin.


Setelah beberapa saat Zen akhirnya sampai juga disebuah penginapan, dan Zen langsung memesan 1 buah kamar. Meski keadaannya sudah lebih baik dari yang sebelumnya, namun Zen masih tidak dapat meninggalkan Lin Yan sendirian ditempat yang tidak dia ketahui.


Zen dan Lin Yan langsung pergi menuju kamar yang dia pesan.


"Ngomong ngomong Lin Yan, apa sebelumnya kau pernah berkultivasi?"


"Tidak, saya tidak memiliki bakat untuk melakukan hal itu."


"Jadi begitu ya."


Dengan tidak memiliki bakat untuk berkultivasi sudah jelas kalau dia tidak akan diperhatikan oleh ayahnya. Lagi pula didunia ini bakat dalam berkultivasi adalah yang membedakan mereka yang berada di atas dan mereka yang berada dibawah.


"Siapa yang mengatakan kalau kau tidak memiliki bakat?"


"Ibu tiri saya."


Ibu kandung Lin Yan meninggal saat dia masih berumur 5 tahun, tentu saja ayahnya yang merupakan kepala keluarga pasti memiliki lebih dari 1 istri. Sejak ibu kandungnya meninggal Lin Yan berada dibawah pengasuhan ibu tirinya.


"Apa kau mempunyai saudara dari ibu itu?"


"Iya, saya punya adik perempuan yang 1 tahun lebih muda."


"Bagitu ya."


Zen telah melihat hal seperti ini beberapa kali, cara seorang ibu tiri memperlakukan anak dari istri yang telah meninggal agar anaknya menjadi satu satunya orang yang diperhatikan oleh keluarga.


Tidak peduli cara apa yang harus dia gunakan pada akhirnya biasanya orang seperti itu akan lebih lama hidup dari pada orang yang jujur. Lagi pula mungkin bisa dibilang kalau kejujuran itu adalah sebuah kebaikan dan juga sebuah kejahatan.


Zen lalu mengelukan 2 buah pil dan memberikannya kepada Lin Yan.


"Makan ini."


"Apa ini Guru?"

__ADS_1


"Bukankah kau dapat melihatnya, itu adalah pil."


"Guru, meskipun saya tidak pernah keluar rumah namun saya juga bisa tau kalau ini adalah pil. Namun yang saya tanyakan adalah untuk apa pil ini."


"Sebagian median milikmu terdapat racun, kau harus meminum pil itu untuk menghilangkan racunnya."


Untuk membuat anaknya menjadi bersinar ibu tiri itu memberikan Lin Yan racun dalam waktu yang lama secara perlahan. Pada akhirnya racun itu menutup sebagian besar median miliknya dan membuatnya jadi dianggap tidak memiliki bakat dalam berkultivasi.


"Apa cukup hanya dengan meminumnya saja?"


"Iya, biar aku yang melakukan sisanya."


Menuruti perkataan Zen, Lin Yan langsung meminum pil itu.


"Berusahalah untuk tidak berteriak Lin Yan."


Zen mengalirkan energi spiritual miliknya ke tangannya lalu dia mengalikannya kedalam tubuh Lin Yan.


"Aaaaaa."


Lin Yan berteriak kesakitan begitu Zen memasukan energi spiritual miliknya kedalam tubuh Lin Yan.


"Jangan berteriak dengan keras Lin Yan."


"Saya akan mengusahakan nya."


"Hmm, ahhhh."


Dengan kepalanya yang ditutupi oleh bantal Lin Yan sesekali mengeluarkan sebuah suara sedikit imut.


"Aku berubah pikiran, cobalah untuk tidak mengeluarkan suara Lin Yan."


Suara yang Lin Yan keluarakan dapat menimbulkan sebuah kesalahpahaman, Zen tidak ingin hal itu terjadi pilihan yang terbaik sekarang adalah menyuruh Lin Yan untuk diam.


Pada awalnya Lin Yan memang merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun setalah dia terbiasa Lin Yan tidak akan lagi merasakan rasa sakit itu.


Setelah cukup lama Zen mengalikan Energi Spiritual miliknya sebagian besar racun yang ada dimedian Lin Yan pun pada menghilang.


"Dia tertidur ya."


Pada saat ditengah tengah proses pembersihan median miliknya, Lin Yan tidak merasakan rasa sakit lagi dan dia pun tertidur hingga proses selesai.


"Sebaiknya aku juga beristirahat."


Untuk membersihkan racun yang ada pada median Lin Yan, Zen telah menghabiskan cukup banyak energi spiritual.


Bahkan meskipun memberikan median dari racun bukanlah sesuatu yang sulit bagi Zen, namun bagi dirinya yang sekarang melakukan hal itu adalah sesuatu yang sangat melelahkan, Zen pun langsung beristirahat.

__ADS_1


*****


Setelah cukup beristirahat Zen dan Lin Yan pergi mengunjungi sebuah tempat makan. Disana dapat mendengar berbagai macam percakapan, bahkan informasi mengenai kehancuran keluarga Lin.


"Guru, apa yang mereka bicarakan itu adalah mengenai Keluarga Lin saya?"


"Iya, apa kau membenciku Lin Yan?"


"Kenapa saya harus membenci anda guru?"


"Aku telah membunuh ayahmu, ibumu, saudaramu bahkan orang yang mungkin saja dekat denganmu."


"Tidak, saya sama sekali tidak membenci anda. Dirumah itu saya tidak memiliki siapapun, meski Lin Zhong adalah ayahku namun dia tidak pernah memperlakukan ku sebagai anaknya. Begitu juga dengan ibu dan saudara ku mereka tidak pernah peduli pada diriku, bahkan pelayan yang dulu sangat dekat denganku telah dibunuh dengan sangat mengerikan."


"Begitu ya, jadi kau tidak membenci diriku."


"Iya, malahan saya berterima kasih kepada anda. Anda telah menunjukan banyak hal yang kepada saya, saya sangat beruntung bertemu dengan anda."


Lin Yan menunjukan sebuah senyuman kepada Zen, senyuman itu mungkin adalah sebuah senyuman paling manis yang pernah Zen lihat sejak dia bertemu dengan Lin Yan.


Zen lalu membalas senyuman itu, dia menunjukan sebuah senyuman kepada Lin Yan. Seperti memperlakukan anak kecil, Zen lalu mengelus kepala Lin Yan dan membuatnya menjadi sedikit tersipu.


"Bisakah kalian pergi dari meja ini."


Dalam momen yang cukup bagus itu muncul seorang pria dengan beberapa pria lainnya dibelakangnya. Dengan penuh kesombongan pria itu menyuruh Zen dan Lin Yan untuk pergi dari mejanya.


"Silahkan kalian cari meja yang lain."


Zen menolak untuk pergi dan pria itu menjadi sangat marah.


"Dasar kurang ajar, apa kau tidak tau siapa tuan muda ini?"


Dengan penuh amarah pria itu bertanya kepada Zen sambil menunjuk seorang pria dengan pakaian mewah dan wajah penuh kesombongan.


"Tidak, emang siapa dia?"


"Dia adalah Qiu Ming, tuan muda dari keluarga Qiu."


"Hmm, terus?"


Zen sama sekali tidak tidak peduli dengan identitas tuan muda itu, dia bertanya lagi sepeti dia sama sama sekali tidak peduli.


"Dia juga adalah murid dari tetua ke 2 sakte matahari merah."


"Oh."


"Sialan apa apa kau sudah bosan hidup."

__ADS_1


Pria itu menjadi sangat marah dengan tingkah Zen, dia lalu memukul meja Zen dengan kuat.


__ADS_2