
Beberapa hari telah berlalu setelah Verdia pergi membawa Theresia, sejak saat itu Zen belum ada melakukan apapun dia masih dengan santai nya melihat pemandangan yang ada didepan rumahnya. Sejak saat itu juga Ling Hao ataupun Hao Chen beberapa kali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, mereka tau kalau Zen sangat berusaha untuk mendapatkan kembali tubuh Theresia namun setelah dia mendapatkannya Verdia malah membawa Theresia dan Zen tidak ada melakukan apapun. Mereka benar benar penasaran dengan tindakan Zen namun Zen hanya mengatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Lagi pula yang apa sedang terjadi saat ini sudah masuk kedalam apa yang Zen prediksi, dan juga Zen percaya kalau Theresia akan baik baik saja jika dia dapat berakting dengan baik. Untuk saat ini Zen merasa tidak perlu terburu-buru untuk mengambil kembali Theresia, saat ini yang perlu Zen lakukan adalah menunggu kedatangan Ciel dan mengambil mahkota king miliknya.
Untuk mahkota king yang Zen ambil pada saat itu dia telah memberikannya kepada Bifrost dan saat ini Bifrost sedang dalam proses penyatuan dengan mahkota itu.
"Ah ini sangat membosankan."
Zen telah diam beberapa hari dirumahnya untuk menunggu kedatangan Rubia dan Ciel, namun sampai saat ini kedua roh itu masih belum juga datang.
"Ngomong ngomong kemana Tan Shin pergi Xia Shuang?"
Zen berbicara kepada anaknya Xia Shuang yang selama beberapa hari ini selalu bersamanya.
"Saya juga kurang tau, namun sepertinya dia pergi ketempat tuan Hao Chen."
"Begitu ya."
Dengan tatapan yang terlihat bosan Zen menatap pemandangan yang ada didepannya itu.
"Ah benar juga."
Zen teringat sesuatu dan langsung berdiri dari tempat duduknya, Xia Shuang yang melihat pergerakan Zen yang tiba tiba merasa sedikit binggung. Dia pun segera bertanya kepada Zen.
"Apa yang terjadi ayah?"
"Apa kau ingin ikut dengan ayah Xia Shuang?"
"Saya mau saja, tapi kemana kita akan pergi?"
"Pergi ke sakte tempat kau berada dulu."
"Hmm, apa yang ingin ayah lakukan disana?"
Xia Shuang sedikit binggung saat ini, dia tidak menemukan alasan mengapa Zen harus pergi kesana. Bahkan dulu ketika dirinya belajar disana Zen sangat jarang mengunjunginya.
"Untuk bertemu dengan beberapa orang. Jadi apa kau ini ikut?"
"Saya ikut."
__ADS_1
Mereka berdua segera pergi meninggalkan rumah, dengan cepat mereka berdua menuju sakte tempat Xia Shuang berada dulu. Dengan kecepatan mereka berdua setelah beberapa jam terbang mereka akhirnya sampai ke sakte itu.
Zen tidak ingin membuat masalah disana jadi dia masuk lewat gerbang utama, penjaga gerbang yang ada disana langsung menghentikan Zen bergitu dia ingin masuk.
"Maaf mulai dari sini tidak sembarang orang yang boleh masuk."
"Ini sedikit merepotkan, ngomong ngomong Xia Shuang apa kau bisa membuat mereka membiarkan kita masuk?"
"Saya bisa melakukannya."
Xia Shuang lalu menunjukkan sebuah token kepada para penjaga itu, penjaga itu terkejut ketika melihat token itu. Itu adalah token terbatas yang dimiliki oleh murid master sakte.
"Jika saya boleh tau siapa nama senior ini?"
"Xia Shuang."
Hanya mendengarkan nama itu mereka langsung tau siapa dia, bagi mereka yang belajar disakte ini siapa yang tidak pernah mendengar nama Xia Shuang. Seorang perempuan dengan bakat yang luar bisa, murid dari master sakte dan bahkan dukungan yang ada dibelakangnya jauh lebih besar daripada para tetua sakte ini.
Dari segala macam sumber daya seperti pil, senjata ataupun herbal tidak ada yang dapat menandingi milik Xia Shuang. Meski dia memiliki semua itu namun orang orang tau kalau Xia Shuang bukankah orang yang sombong. Sifat Xia Shuang itu adalah sesuatu yang Zen ajarkan, jangan pernah memandang rendah orang lain meski begitu bukan berarti harus merendah dia harus percaya pada dirinya sendiri.
"Kalau begitu silahkan masuk senior Xia Shuang."
Mereka berdua segera memasuki sakte itu, Biasanya sangat banyak murid yang berkeliaran meski hanya digerbang masuk saja namun kali ini mulai dari gerbang masuk Zen hanya dapat melihat sedikit murid saja.
"Apa ada acara hari ini?"
"Entahlah saya juga kurang tau, jadi kemana kita akan pergi ayah?"
"Untuk saat ini mati kita pergi ketempat Zhou Fan."
"Baiklah kalau begitu."
Mereka segera pergi ketempat yang sangat jarang dimasuki oleh siapapun, ditempat itu terdapat sebuah pondok kecil dengan seorang pria tua. Pria tua ada Zhou Fan dia adalah seorang yang berada dipuncak alam ilahi, dia adalah master dari sakte ini. Sakte ini sendiri tergabung kedalam salah satu dari 3 aliansi manusia yang ada didunia atas ini.
Zhou Fan itu menyadari kedatangan Zen dan Xia Shuang, pria tua itu menatap Zen dengan tajam.
"Ada apa dengan tatapan itu? Apa kau ingin bertarung?"
"Mana mungkin aku melakukan hal yang dapat menghancurkan sakte ini."
__ADS_1
Zhou Fan itu bukanlah takut Zen mengahancurkan sakte nya karena Marah, melainkan dia takut kalau sakte ini hancur karena dampak dari pertarungan mereka.
"Ngomong ngomong apa yang membawamu kesini?"
"Aku sedang ingin menemui seseorang."
"Seseorang? Aku yakin kalau kau belum pernah membawa siapapun kedalam sakte ini."
"Aku memang tidak pernah namun seharusnya Ling Hao pernah membawanya beberapa bulan yang lalu."
"Ling Hao ya, jika aku tidak salah dia membawa 2 orang perempuan pada saat itu."
Xia Shuang langsung terkejut ketiak dia mendengar kalau Zen akan menemui 2 orang perempuan, namun dia masih menahannya dan tidak langsung bertanya kepada Zen.
"Iya 2 orang itu, jadi dimana mereka sekarang."
"Mereka seharusnya sedang berada disekitar ruang ilusi sekarang."
"Ruang ilusi? Apa mereka sedang dalam masalah?"
Sakte ini sendiri dengan keras melarang murid nya untuk saling membunuh satu sama lain mau itu sengaja ataupun tidak sengaja. Dengan adanya peraturan itu membuat para murid kesulitan untuk dapat menggunakan kekuatan penuh mereka saat saling berlatih tanding, disinilah fungsi dari ruang ilusi. Ruang itu membentuk proyeksi seseorang yang akan bertanding, saat berada didalam sana mereka dapat bertanding tanpa harus menahan kekuatan.
Lagi pula Meski seseorang mati didalam ruang ilusi itu tubuh asli orang itu tetap tidak akan terluka sedikitpun.
"Tidak, hari ini adalah hari penentuan peringkat murid luar."
"Apa tidak masalah bagimu tetap berada disini? Bisa saja kau dapat menemukan orang yang cocok untuk jadi murid mu diantara mereka."
Kompetisi para murid luar biasanya adalah yang sangat baik bagi para tetua atau master sakte, karena dengan melihat kompetisi itu mereka bisa saja menemukan orang yang cocok untuk dijadikan murid mereka.
"Xia Shuang adalah murid terakhir ku, semenjak dia menjadi seorang pejuang surga aku sama sekali tidak pernah menemukan orang yang cocok untuk dijadikan murid."
Xia Shuang menjadi seorang pejuang surga sekitar 500 tahun lalu, dan sejak saat itu Zhou Fan belum pernah memiliki murid pribadi lagi.
"Karena itulah kubilang kau sebaiknya melihat mereka."
"Kurasa kali ini aku akan mengikuti saran mu, jadi mari kita pergi bersama kesana."
Mereka bertiga berjalan menuju tempat ruang ilusi berada.
__ADS_1