
"sebuah pertempuran?"
Meski dia belum mendengar mengenai kuil abadi dari banyak orang, namun Ini pertama kalinya Zen mendengar kalau disekitar kuil sering terjadi beberapa pertempuran.
"Iya, bahkan sekarang kaisar melarang orang untuk mendekati kuil itu."
"Apa mereka berperang dengan gereja?"
Zen telah mendengar kalau gereja memiliki sedikit perselisihkan Dengan kuil abadi, jadi Zen menebak kalau yang sedang bertempur dengan kuil abadi mungkin saja adalah gereja.
"Gereja memang ikut terlibat, namun juga ada kelompok lain yang ikut bertempur."
"Begitu ya. Terima kasih atas informasinya."
"Tidak masalah, lagi pula kau membantu kaki menyelesaikan masalah yang dibuat oleh para naga itu."
Zen memberikan Tina kode untuk pergi keluar, Tina memahami kode itu dan mereka berdua pergi keluar rumah Islit.
Langit telah berubah menjadi gelap, Zen berfikir apa tidak mereka masih sempat untuk dapat pergi ke kota selanjutnya. Zen melihat kearah Tina, meski dia telah menutupinya namun Zen tau kalau Tina telah mengantuk.
"Mengapa tidak tinggal disini selama semalam?"
Melihat situasi saat ini, Islit memberikan tawaran kepada Zen.
"Apa tidak masalah?"
Islit mungkin tidak mempermasalahkannya, namun bagaimana dengan Elf yang lainnya. Saat Zen pertama kali datang kesini dia tau kalau para elf dan manusia tidak memiliki hubungan yang baik, akan jadi masalah nantinya jika para elf yang lain membuat Masalah kepada Islit.
"Kau tenang saja, meski ras kita memiliki hubungan yang tidak terlalu bagus namun kami selalu membalas kebaikan orang lain tanpa melihat dari ras mana dia berasal."
"Baiklah, aku akan menerimanya."
"Aku akan menunjukan kamar kalian sekarang."
Zen dan Tina mengikuti Islit, setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai ke pintu sebuah kamar.
"Ini kamar kalian."
"Apa hanya satu ini yang kau punya Islit?"
"Iya, hanya ini yang kosong. Apa ada masalah?"
"Tidak apa, terima kasih Islit."
"Kalau begitu silahkan nikmati waktu kalian."
Islit meninggalkan Tina dan Ze sendirian.
"Apa yang kau katakan padanya. Kita harus meminta kamar satu lagi."
__ADS_1
Tina tidak menyukai keputusan yang dibuat oleh Zen, meski mereka telah bersama dan telah cukup dekat dalam beberapa hari ini namun Tina tidak menyukai jika dia berada didalam kamar yang sama dengan Zen.
"Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang macam macam."
"Bukan itu masalahnya."
Tina masih menolak untuk masuk kedalam kamar, namun Zen manariknya dengan sangat kuat. Tina tidak dapat melawan kekuatan Zen itu, dan diapun masuk kedalam kamar.
Didalam kamar terdapat sebuah kasur dan sofa yang tersusun rapi. Zen langsung duduk disofa sedangkan Tina masih berdiri didekat pintu.
"Kau tidurlah dikasur, aku akan tidur disini."
"......"
Tina hanya dia tanpa berbicara atau bergerak sedikitpun.
"Hahh, dasar perempuan yang merepotkan."
Zen tau apa yang dikhawatirkan oleh Tina, namun dia sekarang juga tidak memiliki pilihan lain. Lagi pula Zen dapat melihat dengan jelas kalau Tina telah mengantuk, karena itulah dia menyuruh Tina untuk segera tidur.
Zen berdiri dari sofa dan berjalan kearah Tina.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Dengan sedikit cemas Tina bertanya kepada Zen.
"....."
"Kyaa."
Sebuah suara yang manis dapat terdengar begitu Zen menggendong Tina. Zen langsung membawa Tina kekasur dan memasangkannya sebuah selimut.
"Berhentilah mengoceh dan segeralah tidur."
Zen langsung kembali kesofa dan mematikan lampu kamar.
"Zen!!"
"Ada apa?"
"Untuk apa kau pergi ke kuil abadi?"
Tina lagi lagi menanyakan hal itu, meski dia tau kalau itu bukanlah hal yang seharusnya dia tanyakan namun Tina penasaran dengan apa yang ingin Zen lakukan.
"......"
"Apa yang kau cari disana?"
"......"
__ADS_1
Zen hanya dia tanpa menjawab satupun pertanyaan Tina. Tina tau kalau dia seharusnya tidak mengatakan apapun lagi kepada Zen.
Meski begitu Tina tidak dapat menahan keinginannya dan dia mengatakan apa yang sedang dia pikirkan mengenai Zen.
"Entah mengapa kau terlihat Kosong."
Mata Zen langsung melebar ketika dia mendengar hal itu dari Tina. Zen kembali teringat ketika adalah seorang perempuan yang pertama kali mengatakan hal itu pada dirinya.
Pecahan pecahan kejadian mulai kembali muncul didalam pikiran Zen, entah itu saat dia sedang senang, saat sedih ataupun saat dia mereka putus asa.
"Kau tidurlah Tina, kita akan berangkat pagi besok."
Zen tidak ingin lagi mengingat hal itu terlalu lama, sebuah ingatan Dimana dia tidak bisa melindungi apa yang seharusnya dia lindungi.
Zen menutup matanya, dan sebuah emosi yang sudah lama tidak dia rasakan kini secara perlahan mulai kembali.
******
"Baiklah Islit, terima kasih atas kebaikamu. Kalau begitu kamu pergi dulu."
Zen dan Tina pergi meninggalkan desa Elf, mereka kembali dengan cepat menuju kota Aciyt yang merupakan kota perbatasan dari kekaisaran Zilion dan kekaisaran Belfast.
Zen dan Tina melakukan perjalan selama kurang lebih 10 hari, mereka hanya istirahat secukupnya saja dan saat malam Zen yang akan berjaga.
Setelah melakukan perjalan yang cukup lama mereka akhirnya sampai ke kota Aciyt. Kota yang indah terbentang didepan mereka, kota itu memiliki sebuah danau yang terletak ditengah kota. Dan ditengah danau itu terdapat sebuah pulau, pulau itu adalah tempat penguasa kota ini tinggal.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Sebenarnya Zen bisa saja melanjutkan perjalanan sampai ke kuil abadi, namun Zen merasa kalau dia harus membuat Tina beristirahat selama beberapa hari. Meski dia adalah seorang rank S namun stamina Tina berada jauh dibawah Zen, jadi akan sangat sulit bagi Tina untuk mengimbangi Zen.
"Jika kita tidak memiliki Rencana maka aku akan pergi keguild sebentar."
"Guild ya, kalau begitu aku akan ikut dengan mu."
Mereka segera pergi menuju guild, karena Tina pernah ke kota ini sebelumya mereka jadi dapat dengan mudah menemukan bangunan guild.
Mereka berdua memasuki bangunan Guild, sebuah pisau kecil mengarah kearah Zen. Zen langsung menangkap pisau itu dan menghancurkan nya.
Zen melihat kearah pisau itu berasal, Disana dia melihat 2 orang yang sedang bertarung. Yang satu adalah seorang pria berbadan besar dengan wajah yang sangar, dan yang satunya adalah seorang perempuan dengan rambut hitam pekat dan wajah yang cantik.
"Sebuah pertarungan ya, sepertinya ini akan menjadi tontonan yang menarik."
meski dia tidak jika ada orang yang mengarahkan senjata kepadanya, namun Zen cukup menyukai melihat beberapa orang bertarung.
Zen merasa sangat beruntung, setelah beberapa hari melakukan perjalanan dengan membosankan dia akhirnya dapat melihat sebuah pertarungan yang menarik.
Dengan tombak ditangannya, si perempuan menyerang pria itu dengan cepat. Pria itu menahan serangan perempuan itu dengan pedangnya.
Pedang dan tombak mereka terus beradu, Meski begitu pertarungan ini berada dibawah kendali perempuan itu. Senjata yang dia gunakan adalah tombak, tombak memiliki jangkauan yang lebih jauh dari pedang, karena itulah perempuan itu dapat dengan mudah menyerang dan hanya sedikit melakukan pertahanan.
__ADS_1
Akibat serangan bertubi -tubi dari si perempuan, pria itu menerima beberapa luka goresan ditubuhnya.
Pria itu kemudian merasa sedikit marah, dia memiliki harga diri yang tinggi namun dia sekarang dibuat menjadi tidak berdaya oleh seorang perempuan. Pria itu kemudian mengeluarkan sihir bilah angin dan dengan cepat langsung menyerang perempuan itu.