Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 10. Paman Ganteng Penakluk Hati


__ADS_3

Bibir merah merona secara alami tersenyum dengan tatapan yang begitu sulit di artikan.


"Sendi, biarkan malam ini menjadi malam indah kita... ijinkan kali ini aku untuk belajar menjadi istri yang berbakti dengan suami tercinta ku. Hem...Apa kau keberatan?" tanyanya meraba-raba sela kancing pakaian Sendi yang masih tampak rapi.


Tatapan letih perlahan bergerak seiring haluan kepala pria berwajah tegas itu. Sendi menatap senyuman yang sangat menggodanya malam ini.


Sudah lama ia sangat menantikan malam dan suasana seperti saat ini, namun bukan bersama Dina. Melainkan bersama dengan Ruth sang kekasih.


"Dina," panggil Sendi namun tetap dengan jarak yang sedikit berjauhan setelah ia merasa tidak nyaman dengan belaian sang istri dan akhirnya menjauh.


Mendengar namanya di panggil, Dina tak segan-segan langsung mendekati Sendi kembali. "Iya, Sen...ada apa?"


"Apa kamu sungguh ingin melayaniku malam ini? bahkan luka di hatiku saja masih terasa sakit sekali." ucap Sendi menatap sendu sang istri.


Dina tersenyum, kedua tangan miliknya sudah menangkup wajah sang suami. Dua pasang mata di tengah suasana kamar yang tidak begitu terang, kini saling beradu pandang. "Lakukanlah...jangan perduli pada luka hatimu yang entah kapan akan hilang." ucapnya dengan yakin. "Aku juga wanita, dia juga wanita. Kami berdua sama-sama wanita. Bukan tidak mungkin, bukan? jika aku memiliki hal lain yang akan membuatmu mencintai ku? Dan... mungkin hanya waktu yang jauh lebih dulu mempertemukan kalian."


Dina berucap panjang lebar, sembari memeluk, mencium, dan menghembuskan napas perlahan di ceruk leher sang suami.


"Ssshhhh...ah, Dina." Sendi bersuara berat. Matanya sudah terpejam menikmati sentuhan Dina.


Diana tersenyum penuh kemenangan. Manik matanya mulai bergerak tak menentu kala mendapatkan balasan kemesraan dari sang suami.


Bahkan Sendi tampak kesulitan mengimbangi betapa liarnya gerakan sang istri yang kini sudah menindih tubuhnya.


Erangan pelan terus terdengar menggema di seluruh ruangan bersamaan dengan tetesan-tetesan peluh di kedua tubuh pasangan pengantin baru itu.


"Ayo, Sendi. Lakukanlah." pintah Dina bergerak membalikkan tubuhnya menjadi di bawah saat Sendi hendak mengambil alih peperangan panas.


******* di kamar yang tak kedap suara terus semakin kencang. Hentakan tubuh di atas tempat tidur pun semakin cepat.


Namun, siapa sangka dua sejoli di depan pintu kamar pengantin baru tengah terkekeh geli dan ber-tos ria.


"Beres, Ayah." ucap wanita cantik yang sudah memperlihatkan kerutan di beberapa sudut wajahnya yang kendur.


"Kita berhasil, Bu. Sekarang giliran Ayah yang minta di hangatin juga." ucap Deni berwajah tegas seperti biasanya.


Kegirangannya beberapa saat lalu hanya berhasil membawa senyuman kilat di wajah dinginnya. Namun, bukan sang istri namanya jika tidak mampu meluluhkan hati suami yang dingin.


"Iyasudah. Ayo, Ayah. Tapi janji jangan banyak-banyak." ucap Wuri, sang istri.

__ADS_1


"Hem..." sahut sang suami hanya dengan deheman di dalam mulut saja.


Malam yang begitu panas di rumah megah terjadi dalam dua kamar di waktu yang hampir bersamaan.


Sementara di tempat yang berbeda, kini Ruth sudah meringkuk di atas kasur dan terpejam dengan mata yang sembab.


***


Dan semenjak malam itu, Sendi dan Ruth mulai acuh dan tak saling kenal. Meski keduanya bekerja di tempat yang sama bahkan setiap jam kerja selalu berdekatan.


Sudah enam bulan berlalu sejak pernikahan Sendi.


Sore yang sudah tampak semakin gelap, membuat seluruh pekerja terpaksa melanjutkan lemburnya di rumah masing-masing. Sesuai dengan peraturan kantor Densal Company, seluruh pekerja yang memiliki kepentingan di luar jam kantor tidak di ijinkan untuk tetap tinggal di perusahaan, kecuali atas ijin pemilik perusahaan tentunya.


"Sayang," sapa seorang wanita anggun berpakaian sangat wah jika di lihat dari segi model dan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi namun pas untuk ukuran wanita menggunakan rok span mini.


Dina tersenyum, melangkah cepat sedikit berlari kecil sembari membuka pintu ruang kerja sang suami.


Sendi yang duduk di kursi kerja menatap layar monitor terkejut mendengarnya. "Dina, apa-apaan dia ke kantor?" batinnya bingung.


Ini adalah pertama kalinya seorang Nyonya muda Densal Company menapakkan wajah di perusahaan.


"Dina, siapa yang menyuruhmu ke kantor? bukankah semua menyalahi aturan kantor? kau tidak boleh kemari. Jika konsentrasi ku hilang, bagaimana?" tanyanya beruntun sesekali mencuri pandang ke arah luar ruang kaca transparan.


Di sana, mata Ruth hanya melirik sekali dan tampak acuh.


"Ruth tidak terluka melihatku seperti ini? apa itu artinya...? hah sudahlah Sendi. Bagaimana bisa kau memikirkan wanita sepertinya? jelas dia tidak akan terluka, mungkin hanya diriku saja yang terlalu berlebihan menganggapnya dulu.


"Sendi," Dina meluruskan pandang Sendi ke arah wajahnya.


"Ayah yang menyuruh ku kemari. Dan itu artinya tidak ada yang boleh melarangku, bukan? ayo kita jalan-jalan."


Sendi tak mampu menolak meski hatinya berat. Sekian lama ia berpisah dengan Ruth kemudian memulai kehidupan baru, ternyata semua tak semudah yang ia bayangkan.


Putus, menikah, kemudian mencintai istri. Semua sangat mudah jika di bayangkan, namun kala kita mulai menjalankan, saat itulah kesulitan terus menghantam keteguhan diri kita sendiri.


Dengan langkah pasrah, akhirnya Sendi keluar dari ruang kerja bersama Dina yang terus tersenyum. Tak lupa dua tangannya bergelayut manja pada sang suami.


"Ruth, pulanglah. Pekerjaan sudah selesai." pintah Sendi tanpa mau menatap wajah sang mantan.

__ADS_1


Begitu pula dengan Ruth, ia hanya menunduk dan berucap, "Baik, Tuan. Terimakasih."


Beberapa saat, Ruth baru saja keluar dari gedung Densal Company. Langkahnya gontai. Letih begitu terasa di tubuhnya hari ini.


Namun, wajah melas seketika itu pudar kala mendengar suara teriakan yang sangat familiar. "Mamah," teriaknya berlari di ikuti dengan sosok pria berjas rapi dan langkah yang lebar.


"Putri...jangan lari Sayang." ucap Ruth tersenyum lebar. Kedua tangannya ia rentangkan menyambut pelukan sang anak.


Putri membelakangi sosok pria yang bersamanya datang ke tempat kerja sang Mamah. Ruth akhirnya meregangkan pelukan hangat itu.


Tatapan matanya saat ini tertuju pada sosok pria di hadapannya.


"Apa kabar, Ruth?" sapa Dava tersenyum hangat.


Ruth masih enggan bersuara. "Putri, untuk apa kemari? Mamah sebentar lagi juga pulang loh?" tanyanya pada sang anak tanpa menanggapi Dava.


"Em...Putri sama Paman ganteng kan kangen sama Mamah. Kita mau ajak Mamah jalan-jalan. Iya kan, Paman?" Suara khas seorang bocah benar-benar menggelitik perut Dava. Namun, sekuat tenaga ia menahan tawa hingga tampak menggelembungkan kedua pipinya.


"Tuan, maaf. Tapi saya-"


"Ruth, kali ini kasih waktu luang untuk Putri. Apa sebegitu sibuknya pekerjaan mu di kantor?"


Deg!


Wajah cantik berpoles makeup tipis itu tersenyum kecut pada Dava. Tampaknya kata-kata lembut bermakna pedas sangat menghantam perasaan Ruth.


"Yasudah, Putri mau kemana sekarang? Ayo Mamah temani. Tuh mobil Mamah ada di sana." tunjuknya pada mobil sederhana kesayangannya.


Putri menggeleng. "Putri maunya pakai mobil yang punya Paman, Mamah. Disana ada tv-nya loh. Ayo Mah." ajaknya menarik tangan Ruth sembari berlari kecil.


Akhir dari kata penolakan yang ingin ia lontarkan rasanya sangat percuma. Jelas, kali ini Putri selalu ada pembelanya.


Ketiganya melangkah ke arah mobil mewah milik Dava sore itu, wajah cilik Putri sangat menggambarkan kesenangan di hatinya.


Jelas, ini adalah pertama kalinya ia bisa berjalan di luar keperluan belajar di rumah bersama sang Mamah. Semua berkat bantuan sang Paman ganteng.


Langkah tegas itu terhenti kala terdengar suara tepuk tangan beberapa kali. Perlahan namun semakin jelas dan dekat.


"Oh...jadi pria ini, Ruth? Pria ini yang membuat semuanya tidak berarti bagimu? iya!"

__ADS_1


Putri menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.


__ADS_2