Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 149. Perdebatan Tiada Ujung


__ADS_3

Di ruangan pemeriksaan, tampak dua wanita berbeda generasi saling menangis dengan memeluk satu sama lain. Hati seorang ibu begitu hancur kala mengetahui hubungan anaknya yang sudah terlalu jauh dari kata baik. Hatinya begitu sakit mendengar semua kebenaran ini.


Kepulangannya pada keluarga setelah sekian tahun justru di sambut dengan berita yang sangat tidak mengenakkan baginya.


Sementara Ruth hanya bisa menangis tanpa berpikir apa pun lagi, hatinya mendadak kosong. Cinta yang begitu ia agung-agungkan justru kakaknya sendiri.


Tarisya begitu kesulitan menahan pelukannya pada tubuh sang anak, pasalnya Ruth sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Ia menangis hingga menjatuhkan tubuhnya di lantai.


Ingin rasanya mati saat itu juga, keadaan yang begitu kejam padanya benar-benar membuatnya tak sanggup lagi menghadapi kenyataan.


"Nak, Sayang...jangan seperti itu, Shandy." Tarisya perlahan ingin turun dari ranjang untuk menggapai tubuh sang anak yang sudah terduduk di lantai sembari memegangi kepalanya.


Ruth tidak merespon atau menjawab apa pun. Ia terus menangis hingga suaranya terdengar bergetar sangat memilukan.


"Aku tidak sanggup lagi, Bunda. Aku tidak kuat menghadapi ini semua." ucapnya terus menangis tanpa bisa menghentikan deraian air mata itu.


Brak!!


Sosok dua pria yang memiliki wajah sama-sama tampan terlihat panik melihat keadaan di dalam ruangan itu. Dava melihat sang istri yang sudah terduduk menangis di lantai, sementara sang bunda yang sudah bersusah payah menurunkan kakinya dari ranjang pasien.


"Bunda!"


"Ruth!" teriak Dava dan Sendi yang berbeda fokusnya.


Dava menyebut nama sang istri sedangkan Sendi menyebut nama sang bunda.


Tentu saja mereka tahu apa penyebab dari kacaunya pemandangan di depannya. Pernikahan sedarah, hanya itulah yang bisa membuat Ruth menangis sehisteris ini.


"Sayang," Dava pun memeluk tubuh sang istri yang masih terus saja menangis.


Ruth tak bisa mengatakan apapun, hanya suara tangis yang sangat pilu ia keluarkan dari bibirnya. Matanya bahkan begitu bengkak meski baru sebentar saja ia menangis.


Pelukan itu di hempaskan begitu saja. Ia marah, ia benar-benar tidak terima dengan pelukan yang selama ini membuatnya tenang justru ternyata pelukan sang kakak yang di berikan pada adiknya. Bukan pelukan suami untuk istrinya.

__ADS_1


"Bunuh saja aku...bunuh, Dav. Bunuh tubuh ini, aku sudah tidak sanggup melanjutkan hidupku kedepannya. Tolong!"


Ia terus memukul-mukulkan tangan sang kakak pada tubuhnya. Namun Dava sekuat tenaga mencegah pukulannya mengenai tubuh sang adik.


"Hey!"


"Ruth, dengarkan aku." Ia memeluk hingga kedua tangan Ruth ia jepit dengan tangan besarnya.


Tanpa mau menghiraukan, tetap saja Ruth memberontak meski tenaganya tidak cukup kuat melawan tenaga Dava.


"Ruth, dengarkan aku. Hei!" Sekalipun Dava berteriak sama sekali itu tak bisa menghentikan tangisan dan pukulan tangan sang adik.


Dari arah ranjang pasien, kini Tarisya dan Sendi yang saling berpelukan hanya menangis melihat histerisnya Ruth di dalam pelukan Dava.


Tarisya benar-benar tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi dalam rumah tangganya. Bagaimana bisa anaknya memiliki perasaan pada saudaranya sendiri? Bukankah di luaran sana begitu banyak manusia yang Tuhan ciptakan dengan berbagai ketampanan dan kecantikan? Mengapa harus hsaudara sendiri?


Sedangkan Sendi tampak menahan genangan air mata yang hendak turun begitu saja dari kedua matanya. Ini benar-benar menyakitkan untuknya. Melihat wanita yang begitu ia cintai menangis hingga sepilu itu.


"Ruth, pikirkan anak kita. Ku mohon, Sayang. Anak kita akan sakit jika kau seperti ini. Ayolah..." Dava mengusap lembut perut sang istri.


Meski mereka akan berpisah suatu saat nanti, tetapi biarkanlah mereka melihat buah cinta mereka tumbuh membesar kelak. Mungkin hanya itulah yang bisa menjadi kenang-kenangan terindah untuk Dava dan juga Ruth.


"Minggir! Biarkan aku pergi, Dav. Aku butuh waktu sendiri..." ia mendorong pelan tubuh sang suami setelah menenangkan dirinya.


Perlahan tangisan itu terhenti, yang tersisa hanyalah sesenggukan yang sesekali terdengar.


"Ruth," Dava enggan melepaskan pelukan itu.


"Dav, biarkan dulu." ucap Sendi memberikan Dava pemahaman dengan sedikit anggukan kepala darinya.


Dava tak bisa melakukan apa-apa lagi selain melepaskan pelukan itu dengan kecemasan yang ia tahan.


Ruth mengusap air matanya, tatapannya tertuju pada arah pintu. Ia pun bangkit dan segera berjalan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Ruth!" Bukan Dava jika akan membiarkan sang istri pergi begitu saja tanpa pengawasan darinya.


Melihat panggilannya sama sekali tidak berguna, akhirnya ia mendengarkan ucapan Sendi, sang adik.


"Biarkan pengawalmu yang mengawasinya. Biarkan dia tenangkan diri sendiri dulu." Mata hitam kemerahan milik Dava menoleh ke arah Sendi. Ia mengangguk paham dan segera mengirimkan pesan pada beberapa pengawal untuk mengawasi sang istri.


"Bunda, istirahatlah. Setelah semua membaik kami akan berbicara dengan Bunda." Sendi menenangkan sang bunda hingga memastikan bundanya berbaring dengan baik.


Tarisya hanya bisa mengangguk patuh, meski hatinya masih begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada anak-anaknya.


Kelopak mata keriput itu menatap dua punggung anak laki-lakinya yang berjalan menuju pintu.


"Begitu banyak hal yang terjadi pada kalian. Bahkan nama-nama kalian yang sudah berbeda membuat Bunda merasa semakin sedih, Nak. Apa saja yang sudah mereka lakukan pada kalian selama Bunda dan Ayah tiada di sisi kalian?" Tarisya tak menyangka jika keluarganya bernasib mengenaskan seperti ini.


Bahkan pertemuan mereka yang ia impikan akan berbuah kebahagiaan dan lepas dari banyaknya masalah, justru membuka semua masalah yang sudah tertutup selama bertahun-tahun ini.


Masih begitu panjang perjalanan mereka untuk bisa hidup bahagia tanpa masalah, satu demi satu rahasia membuat mereka semakin tidak siap jika harus mengungkap kembali rahasia lainnya yang menjadi masalah mereka kedepannya.


Di bagian luar ruangan, kini Dava dan Sendi terduduk tanpa kata.


Mereka benar-benar syok melihat Ruth menangis histeris seperti tadi. Ketegangan masih terasa begitu jelas di antara keduanya.


Dava tertunduk saat duduk di kursi tunggu itu.


"Biarkan aku menyusulnya...mungkin dia akan butuh teman bercerita." usul Sendi yang ingin menemui Ruth untuk memberikannya kekuatan.


Mata Dava yang tadinya merah sayup seketika membulat pada Sendi. "Tidak! Jika aku di sini, kau pun juga tidak boleh mendekat padanya." ucap Dava masih merasakan kecemburuan yang luar biasa pada adiknya sendiri.


Sendi menghela napasnya kasar. "Ayolah, Dav. Kita berdua sama-sama kakaknya. Kau tidak seharusnya masih bersikap seperti itu." Sendi pun kembali mengingatkan posisi mereka bagi Ruth.


Meski jelas, perasaan cintanya pada sang adik masih utuh sampai saat ini. Sekalipun ia berusaha keras untuk memaksa hati itu berpaling pada sang istri, nyatanya sampai saat ini perasaan itu menolak untuk berpindah tubuh.


"Sekalipun itu benar. Aku tidak akan mengijinkanmu dekat dengannya kecuali ada hal yang sangat urgent." Dava masih bersikeras pada pendiriannya.

__ADS_1


"Ingat, Sendi. Sampai kapan pun aku akan tetap mencintai Ruth. Aku akan tetap menjaganya seperti sebelumnya. Kau...tidak akan bisa bebas hanya karena status darah kita." Dava berucap dengan menatap dalam mata Sendi yang hanya bisa berotasi 180 derajat karena malas mendengar ucapan sang kakak.


"Hubungan kita tidak akan bisa menjadi seperti itu, Dav. Sampai kapan pun sedarah tidak akan bisa mencintai selamanya dan menjaganya selamanya. Ada masanya Ruth akan bahagia dengan jodohnya sendiri. Kau harus ikhlas apa pun yang terjadi." ujar Sendi lalu pergi meninggalkan Dava seorang diri di kursi tersebut.


__ADS_2