Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 80. Nyanyian Dava Sandronata


__ADS_3

Di sebuah kafe tepi pantai, tampak suasana yang sejuk dengan angin laut sepoi-sepoi meniup-niup anak rambut yang terurai di sekitar kening wanita cantik bermata cokelat itu.


"Kemari," Dava membiarkan Ruth mendekat padanya saat satu meja kafe menghalangi jarak antar mereka berdua.


"Nah...seperti ini sangat cantik kan?" ujarnya tersenyum menatap dalam wajah cantik di depannya setelah menyematkan anak rambut di belakang daun telinganya.


"Selalu seperti itu." ucap Ruth mengerucutkan bibirnya.


Dava tersenyum gemas melihat hal itu. Jika saja pria itu tidak memandang tempat mungkin ia akan melakukan apa yang pada umumnya seorang pria lakukan pada sang istri yang berekspresi menggemaskan seperti itu.


"Tunggu aku di sini. Okey?" Ruth yang mengayunkan tangannya ke udara ingin menggapai lengan sang suami menyerah karena Dava bergerak begitu cepat menjauh darinya.


"Selamat datang di kafe anda menggoda..." Ruth mengernyit dengan tatapan tajamnya mendengar sapaan lembut namun terdengar menusuk hatinya.


"Apa? saya menggoda?" tanya Ruth dengan rasa bingung dan kesal.


Pelayan itu tersenyum. "Maksud kami, selamat datang di kafe anda menggoda, Nona." Sang pelayan menunjuk arah papan yang tertera di pintu masuk kafe itu.


"Oh...maafkan saya kalau begitu." Ruth menggerutu kesal dalam hati.


"Em...kalau begitu saya pesan vanilla late saja dan satunya cofe terserah mba." Ruth bingung ingin memesankan sang suami apa kali ini.


"Cofe sembarang, Nona? baiklah saya pilihkan cofe arabicano saja."


"Em, terimakasih." Ruth menunduk melihat meja kosong di depannya. Rasanya sangat canggung duduk sendirian dalam waktu beberapa menit seperti ini.


Terlihat jelas, di sekelilingnya semua meja terlihat saling berpasangan dan berbincang romantis.


"Huh..." Di pandangnya langit di depan sana. Deburan ombak sangat memanjakan mata bagi siapa pun yang melihatnya.


"Kemana sih dia?" umpatnya mulai gelisah.


Namun, detik berikutnya Ruth terperangah kala indera pendengarannya menangkap suara yang ia sangat hapal dari siapa gerangan.


"Tes...tes..." Suara Dava terdengar mulai mengetes di mix.


"Lagu ini saya persembahkan untuk wanita yang di ujung sana." tunjuknya lalu tersenyum. Semua mata bergerak menatap ke arah yang pria tampan itu tunjuk.


"Aduh...Dav, apa-apaan sih?" Ruth menunduk malu. Bahkan wajahnya sudah tampak memerah. Ia tak sanggup lagi untuk duduk dengan tegap kali ini.


Nyanyian mulai mendayu-dayu hati seorang Ruth.


Ketika kau lewat di Bumi, tempat ku berdiri


Kedua mata ini tak berkedip menatapi


Pesona indah wajahmu


Mampu mengalihkan duniaku


Tak henti membayangkanmu

__ADS_1


Terganggu oleh cantikmu


Tujuh hari dalam seminggu


Ku selalu mendekatimu


Memberi tanda cinta


Engkau wanita tercantikku


Yang pernah ku temukan


Wajahmu mengalihkan


Duniaku


Iringan musik terus terdengar hingga semakin menyempurnakan suara khas seorang Dava Sandronata. Selama bernyanyi, matanya terus tertuju pada wanita cantik yang duduk menunduk tanpa berani menatap ke arahnya.


 


Pesona dan wajahmu mengalihkanku


Pesona indah wajahmu


Mampu mengalihkan duniaku


Tak henti membayangkanmu


Terganggu oleh cantikmu


Tujuh hari dalam seminggu


Ku selalu mendekatimu


Memberi tanda cinta...


Lagu dari Afgansyah Reza yang berjudul Wajahmu Mengalihkan Duniaku, Menjadi satu-satunya lagu yang Dava pilihkan di saat jam yang ingin menjelang makan siang kali ini.


"Istriku, tataplah wajahku." tutur Dava meraih dagu runcing yang terus menunduk sedari tadi.


Ruth mengikuti arah gerak tangan sang suami membuatnya menengadah menatap malu. Dava terus menikmati ekspresi sang istri yang tampak memerah karena tersipu malu.


"Dav..." Ruth yang tak bisa berkata-kata lagi langsung bangkit dari duduknya dan memeluk sang suami sangat erat.


Dava membalas pelukan sang istri sembari mengusap rambut yang tergerai panjang itu. Ia berkali-kali menghujani kecupan di rambut Ruth.


"I love you, Ruth." tuturnya dengan suara serak.


"Dav, berhenti membuatku merasa semakin tidak pantas untukmu. Please..."


Mendengar penuturan sang istri, Dava sangat terkejut. Ia melepaskan pelukan itu dan memegang kedua bau sang istri. Matanya menatap dalam Ruth.

__ADS_1


Sungguh hatinya sakit mendengarkan hal itu keluar dari bibir sang istri. "Ruth, jangan pernah mengatakan hal ini lagi. Ayo kita makan siang." Dava langsung berwajah masam setelah memerintah sang istri.


Ia tidak ingin mendengar atau membahas apapun yang menjadi hati wanitanya sakit. Ruth yang sadar akan perubahan wajah sang suami akhirnya menurut saja.


"Em..." Dava meneguk kasar minuman yang tidak ia perhatikan di depannya.


"Dav, maafkan aku." Ruth menggenggam tangan Dava yang terletak di kedua sisi gelas mini itu.


"Ruth, kau yang memesan minuman ini?" tanyanya dengan wajah yang terus bergidik merasakan pahit di bibir dan tenggorokannya.


Ruth pun mengangguk pasrah, pasalnya memang ia yang memesan minuman itu.


"It's okey. Aku baik-baik saja. Ayo kita pesan makanan sekarang." Dava melambaikan tangannya memanggil pelayan restoran itu.


Dengan sigap, pelayan pun datang membawa buku menu dan catatan khusus pelanggan.


"Permisi, selamat menikmati minuman dari kafe anda menggoda..."


"Tunggu! Apa barusan? anda menggoda? Siapa yang menggoda?" Dava langsung menatap serius sang pelayan yang tersenyum padanya.


"Dav, itu nama kafenya." Ruth berucap perlahan.


"Huh...oke. Saya pesan makanan...." Dava mulai menunjuk satu demi satu menu yang ada di kafe itu. Meski hanya kafe yang untuk bersinggah sekedar mencuci mata, namun menu di kafe itu sangat lengkap dan terpercaya.


Di kantor, Sendi yang baru saja selesai dengan pekerjaannya kini meluruskan pinggang yang sangat terasa pegal sekali di kursi kerjanya.


Tring Tring Tring


Suara dering ponsel terdengar membuyarkan letihnya yang ingin memejamkan mata sejenak.


"Ibu," tuturnya


Jemari milik Sendi bergerak menggeser layar untuk menjawab panggilan tersebut.


"Sendi...Nak, Ibu akan ke rumah setelah ini. Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Ibu?" tanya Wuri yang terdengar begitu tulus memohon padanya di seberang telepon.


Sendi memijit keningnya yang terasa pening seketika.


"Bu, ini jam kerjaku. Aku ingin fokus untuk bekerja." tolaknya secara halus tak ingin melukai hati sang Ibu.


"Sendi..."


"Bu, tolong. Ini adalah kantor tempatku bekerja. Bukan kantor seperti dulu lagi. Bisa semauku untuk kerja kapan pun." Mendengar ucapan Sendi, hati Wuri kembali sadar.


Semua yang di katakan anaknya memang benar kali ini. Ia pun menelan keinginannya dalam-dalam untuk bertemu dengan sang anak. Perlahan ia tersenyum di balik telepon itu meski tak terlihat dari sang anak. Ia mengangguk sembari mengusap air matanya.


"Ia, Nak. Yasudah kalau begitu bekerjalah dengan giat, Ibu menunggumu di sini, Nak. Ibu rindu waktu-waktu kita seperti dulu. Jaga kesehatanmu, Sayang. Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam Ibu." sahut Sendi yang langsung mengakhiri panggilan itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2