
Di ruangan makan tampak semua sarapan dengan tenang. Dava tampak antusias sekali dengan masakan sang istri tentunya. Begitu pula dengan Putri yang sangat lahap.
"Mah, hali ini Putli mau dong di antal sama Om Sendi lagi." tuturnya menghentikan sarapan sejenak.
Ruth menatapnya dengan wajah tak biasanya. "Ada apa, Sayang? kok Om Sendi? Kan Mamah dan Mbok Nan akan menemani Putri hari ini. Iya kan, Dav? Aku bosan sekali jika di rumah saja." rengeknya usai memberi tahu pada anak untuk mengantarkannya sekolah.
Dava memang sudah tidak mengijinkan sang istri bekerja selama hamil, ia begitu mengkhawatirkan kandungan sang istri.
"Sayang, bolehkah aku memohon..." tutur Dava menatap dalam sang istri.
Ruth menggeleng. Ia tentu tidak ingin tahu atau pun mendengar ucapan sang suami. "Pasti kau mau memintaku tetap di rumah saja, kan Dav?" gumamnya dalam hati.
"Dav..."
"Sayang, kandunganmu sangat lemah. Tolong mengertilah. Aku sangat tidak tenang melihatmu berkelriaran di luar sana tanpaku. Apa kau mau jika aku tidak ke kantor selama kau berada di luar rumah? Bagaimana?"
Penuh harapan, akhirnya ia menundukkan kepala. Ruth tahu kekhawatiran sang suami memang jelas alasannya.
"Baiklah. Maafkan aku, Dav." tuturnya lirih dengan suara yang tak berdaya.
Ia sangat bahagia meski dalam keseharian terkadang sangat membosankan, tapi ia juga merasa bahagia mendapatkan perhatian dari sang suami yang semakin protektif.
Dava tersenyum usai menelan habis makanannya. Ia menggenggam punggung tangan sang istri dan mengagguk pelan. "Terimakasih, Sayang. Bersabarlah...setelah ini kita akan berjalan-jalan. Tunggu semuanya membaik, okey?"
__ADS_1
Ruth mengangguk dan tersenyum.
"Sekarang Putri pergi sekolah bersama Mbok Nan. Ayah akan memberikan penjagaan dari jarak jauh untuk Mamah di rumah. Okey?" Dava memerintah sang istri dan anak dengan tegas.
"Siap, Ayah." sahut Putri lantang.
"Bagus, Sayang. Om Sendi harus bekerja sama Ayah di kantor." terangnya pada sang anak.
Mendengar nama Sendi di sebut, Ruth kembali teralihkan pikirannya.
"Dav, dimana Kak Berson? Mengapa dia tidak ada pulang-pulang?" Entah sudah berapa malam, pria itu benar-benar tidak tampak batang hidungnya di rumah mereka.
"Om Sendi pasti sibuk pacalan. Iya kan Ayah?" Ruth menoleh ke arah sang anak.
Ia terkekeh geli mendengar ocehan sang anak yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang Sendi sibuk pacaran?
Dava pun membenarkan ucapan Putri saat itu juga. "Iya, Sayang. Putri benar. Sendi saat ini sedang mencoba memperbaiki rumah tangganya bersama Dina. Perceraian yang ingin di ajukannya sudah di batalkan beberapa hari yang lalu." terangnya mengingat perkataan Sendi yang ingin mencoba mempertahankan rumah tangganya.
Mungkin hidup dengan belajar mencintai lebih baik dari pada harus hidup dengan memperjuangkan cinta yang tidak ada akan ada ujungnya.
Ruth terdiam dan kembali tenang. Ia menatap wajah Dava yang menunjukkan keseriusannya dalam berbicara. "Apa benar seperti itu? Kak Berson pergi bukan karena tidak nyaman berada di rumah ini kan, Dav? Dia adalah kakakku, bagaimana mungkin dia memilih hidup di luar rumah ini?"
Rumah peninggalan satu-satunya orangtua mereka yang seharusnya menjadi tempat mereka bersatu tentunya.
__ADS_1
Dava pun membantu Ruth untuk berpikir jernih. "Sayang, semua yang sudah berkeluarga tentu ingin tempat yang berbeda, mereka butuh privasi mereka dalam berumah tangga. Biarkan Sendi nyaman dengan jalan pilihannya. Mungkin hubungannya dengan Dina sangat butuh waktu berdua."
"Iya aku mengerti, tapi Dav bagaimana mungkin Kak Berson sama sekali tidak mengatakan apa pun padaku." Di sinilah letak kebodohan Ruth. Ia begitu menganggap jika hubungan kakak beradik mereka terlihat sangat baik. Tanpa ia tahu, dengan keberadaannya di sisi Sendi, dengan perhatiannya dengan sang kakak, justru hal itu yang akan terasa semakin menyakitkan untuknya.
"Sudahlah. Nanti aku akan bicara pada Sendi lagi. Baik, aku harus segera ke kantor, Sayang." Dava beranjak dari kursi dan mencium kening sang istri.
"Dada Mamah!" seru Putri mengikuti langkah sang ayah dan juga Mbok Nan yang keluar rumah menuju mobil.
Ruth tampak mengantar mereka hingga ia menutup pintu mobil tempat sang anak duduk kini. Di pandanginya mobil itu yang semakin menjauh.
Matanya beralih pada rumah yang terasa kembali sunyi kali ini. Hatinya begitu kosong tiap kali jauh dari anak dan sang suami. Begitu pula dengan perginya Mbok Nan yang mengantar Putri ke sekolah.
"Ya Allah, hidupku benar-benar polos seperti kertas putih yang tanpa tulisan jika mereka semua jauh dariku. Kini aku benar-benar sadar, mereka adalah orang-orang yang begitu berharga untukku. Tapi...waktu yang terus berputar membuatku semakin takut. Takut jika suatu saat nanti engkau mengambilnya dariku. Panjangkanlah umur mereka, Tuhan. Lindungilah mereka semua. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan salah satu dari mereka."
Ruth berjalan menunduk dan masuk ke dalam rumahnya.
"Kak Berson, semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu sepenuhnya."
***
"Ya Allah, Jeff...Berson. Anakku." Tarisya memeluk kedua putranya saat mereka berdua baru saja tiba di halaman rumah pagi itu.
Dava sengaja datang bersama dengan Sendi usai ia mengantarkan Putri dan Mbok Nan ke sekolah.
__ADS_1
"Ayah, lihat. Anak kita benar-benar datang." Tarisya tersenyum penuh kebahagiaan menatap ke arah sang suami yang juga hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apa pun.
Pria itu duduk di kursi roda dengan wajah yang mulai bisa tersenyum meski sampai saat ini ia masih tidak bisa berucap apa pun.