
Semua kini di mulai dari angka nol. Begitu tentramnya kehidupan di kediaman Nicolas beberapa bulan ini, meski tak jarang air mata di kedua pipi wanita bermata cokelat itu menetes menahan segala kerinduan akan belaian dan kasih sayang sang suami.
Pagi buta yang menyejukkan indera penciuman kala embun menjejakkan tetesan airnya di setiap dedaunan yang hijau nan asri. Meski tak sesejuk suasana pagi, namun keadaan Ruth perlahan-lahan sudah mulai membaik. Bibirnya yang terlihat melengkung menandakan kesedihan beberapa kali tersenyum saat berdua dengan sang ayah.
Beberapa bulan lalu, gadis berbadan dua itu berjanji pada dirinya sendiri. Kini cinta yang akan ia pupuk adalah cintanya pada seorang laki-laki yang tidak akan pernah bisa di pisahkan dengan apa pun. Ayah, satu-satunya pria yang begitu abadi untuk di cintai anak perempuan. Dialah sosok pahlawan yang mampu membuat Ruth bangkit dari keterpurukannya.
Mentari yang masih belum menampakkan sinarnya tak menghilangkan semangat anak perempuan yang kini terlihat mendorong kursi roda pria tua.
"Ayah...terimakasih untuk beberapa bulan ini. Shandy begitu bahagia bisa di berikan kesempatan merawat Ayah." Bibir ranum itu tersenyum lembut, ada genangan air mata di dalamnya.
"Shandy akan senang hati merawat Ayah sampai Ayah bisa sembuh. Dan sebentar lagi..." Ia menundukkan kepalanya menatap perut yang sudah membuncit. Lalu di elus lembut perut buncit itu.
"Kita akan berjalan pagi bertiga, Ayah. Dia akan menemani kita setiap paginya. Apa Ayah senang?" Ruth menunduk dari arah belakang sang Ayah. Di pelukannya erat leher pria tua itu.
Dengan memejamkan mata, rasa sedih itu akan berubah menjadi tenang dan damai.
Senyuman pilu terlihat di wajah pria yang hingga kini masih terlihat tak berdaya.
"Kak Jeff, bagaimana bisa aku meng-ikhlaskan perpisahan ini? sedangkan hangatnya pelukanmu masih sangat ku rindukan?" Sekilas kembali ingatannya terfokus pada sosok kakak pertamanya yang masih berstatus suami sahnya.
Terdengar isakah tangis di hidungnya yang terasa sulit untuk bernafas. "Ayo kita lanjut jalannya lagi, Ayah." Ia mengusap air mata di pipinya dan kembali mendorong kursi roda itu.
"Yang kuat adikku...kau harus kuat demi anak kita, Ruth. Aku berjanji akan selalu menjagamu lebih dari apa yang dulu ku lakukan padamu." Dari sudut lain, tampak Dava sedang memperhatikan punggung wanita yang tengah kesulitan berjalan itu.
Ia begitu merindukan sosok sang istri sekaligus sang adik, namun apa daya keadaan memaksa mereka untuk berjaga jarak demi mempertahankan iman mereka.
Suasana rumah yang begitu masih tampak sunyi membuat Dava memilih untuk berolahraga di sekitaran rumah itu. Namun, sebisa mungkin ia tidak bertemu dengan Ruth yang berada di taman samping rumah.
__ADS_1
Berbeda dengan suasana di rumah tempat Sendi dan sang istri berada.
"Dina," panggil Sendi dengan pelan sembari memegang pundak sang istri.
"Iya ada apa, Sen?" sahut Dina setelah menyisir rambutnya usai mandi subuh itu.
"Apa kau yakin untuk ikut ke rumah Bunda hari ini?" tanya Sendi begitu ragu mengantarkan sang istri bertemu dengan orangtua aslinya.
Pasalnya selama hubungan mereka membaik, Sendi sama sekali tidak berani lagi memperlihatkan Ruth pada sang istri.
Ia tahu bagaimana pun ikhlasnya Dina dengan hubungan mereka berdua, tetapi jelas terlihat jika Sendi masih begitu menjaga jarak dengannya sementara dengan Ruth ia begitu tidak bisa menjaga jarak.
Mengaggukkan kepala lalu menatap ke arah sang suami duduk saat ini. "Yah, aku yakin. Aku harus bertemu dengan mertuaku dan meminta restu padanya."
Tatapan mata Sendi tertuju pada langkah sang istri yang kini mendekat padanya setelah meletakkan sisir rambut di meja mini depan kaca.
"Aku berjanji tidak akan membahas menyangkut adikmu...aku tahu dia sangat tertekan dengan perpisahannya dengan Dava." Begitu pengertiannya Dina saat ini, sungguh sikapnya benar-benar berbeda jauh dari yang sebelumnya.
"Sssst...aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai. Percayalah kedatanganku kesana hanya untuk meminta restu denganĀ bunda dan ingin dekat dengannya. Apa itu masih kurang meyakinkanmu?"
Meski dengan penuh keraguan, akhirnya Sendi memilih menganggukkan kepalanya patuh. Kali ini ia tidak melihat ada kebohongan di mata sang istri.
Kembali lagi pada suasana di halaman rumah milik keluarga Nicolas.
"Mamah!" suara seorang bocah yang mulai pandai berbicara dengan huruf yang tepat begitu keras menggema di pelataran rumah sederhana itu.
"Sayang, Putri jangan berteriak-teriak, Nak. Kakek nanti kaget loh." Ruth langsung mengusap kepala Putri yang memeluk kedua pahanya erat.
__ADS_1
"Maafin Putri yah, Kek. Habis Putri kangeen banget sama Mamah...kan sudah lama kita nggak bobo bareng." Ucapan sang anak membuat Ruth begitu sedih mendengarnya. Ia bahkan tidak merasakan apa yang menjadi hal yang paling menyedihkan bagi sang anak ketika kehilangan momen bahagianya di hari-hari sebelumnya.
"Iya sayang...nanti malam, Putri mau bobok bareng Mamah dan Kakek? Kita bobok sambil jagain Kakek." ajak Ruth dengan wajah tersenyum riang.
Ingatannya kembali terputar saat tidur bertiga dengan sang suami dimana Putri harus tidur di tempat paling pinggir sementara Davalah yang menjadi pembatas mereka di tempat tidur.
Dengan senang hati mendengar tawaran menyenangkan Putri langsung tersenyum ceria. "Beneran, Mah? Kita boboknya sama Kakek?" Asiiiik Putri mau, Mah." ia melompat-lompat kegirangan.
"Wah...wah ada apa sih ini pagi-pagi buta udah rame aja di taman?" Tarisya yang berpenampilan rapi tersenyum sembari meneruskan langkah kakinya mendekat pada ketiga orang yang tengah bercengkaram di pagi buta.
"Ini Bunda, Putri cemburu dengan Ayah...gara-gara Shandy tidak pernah lagi menemaninya tidur." terang Ruth mengusap kepala sang anak dengan lembut.
Meski Tarisya sudah mengerti jika Putri bukanlah anak kandung anaknya, atau lebih tepatnya cucu kandungnya. Tetapi ia juga sangat menyayangi layaknya cucu kandungnya.
"Oh itu...yasudah nanti malam kita tidur bareng-bareng jagain Kakek. Putri setuju?"
"Setuju, Nek!" seru Putri dengan sigapnya mengacungkan tangannya.
"Pagi, Non. Ini susunya." Mbok Nan pun yang baru saja datang menghampiri mereka dengan segelas susu hamil yang biasa diminum Ruth belakangan ini.
"Terimakasih yah, Mbok." ia mengambil dan segera meminumnya saat duduk di kursi taman.
"Ayah, segeralah sembuh yah? Lihat kami semua begitu menunggu kesembuhan Ayah. Kita akan segera berlari pagi bersama-sama. Bahkan sebentar lagi ada cucu baru kita yang akan lahir mengisi rumah kita lagi." Tarisya berjongkong di depan sang suami yang duduk di kursi roda.
Tuan William Nicolas hanya bisa mengedipkan matanya pelan. Sebagai isyarat jika ia menjawab iya ucapan sang istri tercintanya.
Lagi Tarisya mengusap lengan sang suami lalu berucap, "Ayah tidak usah pikirkan perusahaan, saat ini perusahaan kita sudah di tangani dengan baik oleh anak-anak kita, Ayah...Mereka anak-anak yang baik dan pintar. Kita sangat beruntung memiliki anak kita, Ayah." Ia memeluk haru sang suami. Sungguh rindunya pada sang suami begitu besar. Sudah sangat lama mereka tersiksa bahkan kini masih tak bisa untuk saling berbicara saat sudah bebas dari sekapan para penjahat.
__ADS_1
"Tidak, Ruth. Tidak. Kau harus kuat..." Ruth berusaha sekuat tenaga untuk melewatkan ingatannya tentang satu nama yang sering tiba-tiba melintas di pikirannya. Ia memejamkan mata sejenak saat mengusap perutnya yang terasa berdenyut tiba-tiba.
"Nak, anak Mamah yang pintar. Kuatkan Sayang? Mamah mohon kita tidak boleh lagi meminta Ayahmu untuk memeluk kita..."