Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 22. Kepulangan Sendi Pagi Buta


__ADS_3

Satu detik, dua detik, hingga detik berikutnya...mata yang terus menatap dalam wajah teduh itu kini tampak beberapa kali mengerjapkan matanya. Dan satu kali kedipan, kelopak mata indah pria itu akhirnya tertutup dengan sempurna.


Pergelangan tangan yang sejak tadi terus mengusap lembut puncak kepala wanita di hadapannya tanpa sadar meletakkan tangannya dengan erat dan mendekatkan tubuhnya hingga benar-benar menempel sempurna.


Hawa dingin yang begitu menyerap hingga ke pori-pori tampak memberikan pergerakan refleks pada dua tubuh yang saling menghangatkan malam itu juga. Dua pasang tangan yang terus melingkar pada tubuh lawan masing-masing begitu terlihat menikmati dinginnya malam menjelang subuh itu.


Hingga waktu berlalu begitu cepat. Suara merdu burung yang mengalun indah di atas langit biru tampak begitu riang menyambut  cerahnya mentari pagi.


Kilauan cahaya matahari terus semakin terang dan menembus celah-celah gorden coklat di dalam kamar pengantin baru.


"Emh..." Suara erangan lembut nan syahdu keluar begitu saja dari bibir ranum polos pagi itu.


Ia mengerjap beberapa kali, dan meregangkan kedua tangannya ke atas kepala. Seketika itu juga, matanya membulat menyadari ada pelukan yang begitu erat pada tubuhnya.


"Putri, tidak. Ini bukan pelukan seorang bocah." ucapnya dalam hati kemudian menatap tangan kekar di tumbuhi bulu-bulu lebat.


Oh No! Ruth sontak mendorong tangan kekar itu sembari berteriak histeris.


"Aaaaaa!!" Ruth menutup kedua telinganya.


Dava dan Putri pun terbangun tak kalah syoknya.


Dava mendadak gugup. Bagaimana sekarang ia menjelaskan pada sang istri tentang kejadian saat ini dan juga kejadian malam tadi. Tidak mungkin jika ia memberitahu dirinyalah yang ingin masuk ke kamar dan tidur dengan mereka. Sungguh sangat memalukan, pikirnya.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Ruth setengah berteriak.


Kemudian ia terdiam kala menyadari di kamar itu tidak hanya mereka berdua saja. Ada Putri, yang harus ia jaga pemikirannya.


"Sejak kapan kalian ada di kamar ini?" tanya Ruth kembali dengan nada bicara yang rendah.


Putri hanya berpura-pura mengantuk dan merebahkan tubuhnya kembali. Sedangkan Dava, ia terlihat bingung dan terus menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.


"Em, maaf Ruth. Semalam...yah aku kemari bersama Putri. Karena dia yang memintaku untuk tidur bersamanya..." ucap Dava kebingungan mencari alasan.


"Dan...Putri juga yang memintamu untuk tidur di tengah lalu memelukku? Cih alasan klasik." cibirnya membuang wajahnya dan bergegas meninggalkan tempat tidur yang berisi tiga orang itu.

__ADS_1


Selimut tebal pun ia lempar begitu saja di tubuh Dava.


Dava yang mendengar penuturan tersebut, hanya mampu terdiam mematung menatap kepergian sang istri yang kini tampak melangkah menuju kamar mandi.


"Bohay," Satu kata yang terucap lirih di luar kesadarannya.


Dava menggeleng cepat. "Astaga. Apa yang ku pikirkan!" pekiknya pada dirinya sendiri.


Jika dirinya yang tengah sibuk berperang batin, berbeda halnya dengan suasana di bawah tubuhnya. Tepatnya di dalam rumah tahanan berbahan kain itu.


"Ingat! Kau harus punya harga diri. Jangan asal main terobos. Ini mungkin malam pertamamu, tapi bukan malam melepas perjakamu, boy. Okey?"


"Hah...tapi Ruth benar-benar menggoda."


***


 Di sisi lain, pagi itu wajah yang biasanya terlihat segar dan menggoda tampak babak belur di seluruh wajahnya.


"Cepat pergi dari sini! Atau kau tidak akan pernah lagi melihat matahari?" teriak seorang pria bertubuh kekar sembari menendang punggung soerang pria yang tidak lain adalah Sendi Sandoyo.


Seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Hampir satu malaman ia di siksa habis-habisan. Bahkan satu malam pun baginya terasa seperti satu tahun. Seluruh orang bayaran Dava benar-benar membuatnya ingin mati kali ini.


POV Sendi


Ruth, malam ini aku bahkan hampir mati. Tapi sedikit pun tidak pernah terpikirkan olehku untuk menyerah mengejarmu lagi.


Semua perjuanganku untukmu tidak akan ku sia-siakan. Aku sangat mencintaimu, Ruth. Aku benar-benar merasa pria paling bodoh, telah membuang kesempatan emas untuk menjalin hubungan denganmu lebih serius.


Bahkan selama ini, kau begitu baik menjadi wanita pendampingku. Andai semua bisa terulang, mungkin aku tidak akan mendengarkan perkataan siapa pun selain dirimu, Sayang.


Dan saat ini, tolong jangan patahkan semangatku untuk berjuang mendapatkanmu kembali. Kamu adalah wanitaku.


Tidak akan ada pria yang boleh memilikimu selain aku seorang.


Sekali pun aku harus membunuh Ayahku sendiri, aku rela. Jika memang dia orang yang menghalangi hubugan kita.

__ADS_1


***


Mobil yang baru saja memasuki halaman rumah dengan kecepatan tinggi mendadak berhenti hingga menimbulkan suara rem yang berdecit dengan kencang.


"Sendi, akhirnya kamu pulang Sayang." sapa seorang wanita dengan senyum lebarnya tanpa takut jika ia akan di sakiti kembali oleh sang suami.


Dina berlari menyambut kedatangan sang suami yang baru saja turun dari dalam mobil mewah miliknya. Namun langkah cepat itu mendadak terhenti kala melihat wajah yang sangat mengejutkan dirinya.


Kedua sudut mata membiru, dua sudut bibir pecah dan mengeluarkan darah, kemeja biru langit yang tampak sangat kusam dan jas yang sudah ia tenggerkan di bahu lemahnya.


"Sendi, apa yang terjadi?" tanya Dina mendekat dengan perlahan meraih lengan sang suami. Manik matanya menatap dengan penuh tanya.


"Ayah!" teriaknya kembali menatap ke arah rumah sang mertua.


Sendi menghentakkan tangan miliknya yang di gandeng oleh Dina. "Lepas! Jangan harap aku akan berbaik hati padamu lagi." pekik Sendi menatap murka.


"Selama janin itu masih kau pertahankan, tidak akan ada kebaikan untukmu." Dina tertegun mendengar pengakuan sang suami padanya.


Kini manik matanya yang sudah berkaca-kaca hanya menatap nanar kepergian sang suami yang sudah menjauh darinya tanpa sedikit pun melembutkan sikapnya layaknya seorang suami pada sang istri.


Bukan dirinya saja yang melihat kesedihan itu, beberapa pekerja yang berada di lingkaran rumah tersebut bisa merasakan dan sangat jelas melihat perilaku dingin Sendi padanya.


"Ayah,"


"Ada apa, Dina?" tanya Tuan Deni yang baru saja tiba di halaman rumah tersebut kala mendengar teriakan sang menantu.


Tangan kekarnya bergerak mengusap puncak kepala sang menantu. "Apa lagi yang Sendi perbuat padamu?" tanyanya penuh pengertian.


Jika di lihat, apakah Tuan Deni memiliki sikap kepribadian ganda? Mengapa jika dirinya selalu berlaku kasar dan dingin pada orang lain, tetapi berbanding terbalik dengan sikapnya pada sang menantu.


"Ayah, Sendi terluka parah. Siapa yang sudah melakukan hal itu padanya? Ayah tolong, Dina tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Anak Dina sangat sedih, Ayah." rengeknya dengan manja dan penuh perhatian.


Tuan Deni tersenyum. "Kamu tidak perlu khawatir dengan suami macam dia. Cukup jaga kandunganmu, Ayah sangat ingin memiliki cucu saat ini. Sendi bisa menjaga dirinya sendiri." terang Tuan Deni dengan nada bicara selembut mungkin.


Ia berusaha menenangkan sang menantu yang sudah tampak sangat cemas. "Paling tidak, itu semua akibat ia mendekati mantannya itu. Biarkan semuanya berjalan dengan baik. Setidaknya, kau bisa mempertahankan statusmu sebagai istrinya, Dina. Karena saat ini, tidak mudah Sendi mengejar wanita yang sudah menjadi istri orang."

__ADS_1


Dina sangat terkejut. "Ayah, ma-maksud Ayah? wanita itu sudah menikah? benarkah?" tanyanya dengan wajah yang sangat syok dan tersenyum gembira.


__ADS_2