
Tentu saja terlihat gelagat yang tak biasa di wajah wanita tua renta itu. Ruth terdiam sembari memperhatikan Mbok Nan yang sedari tadi mengatakan ingin beranjak ke dapur namun terlihat berat meninggalkan sofa yang ia duduki.
"Mbok Nan, ada apa sih?" tanyanya yang langsung bangun dari duduknya. Ruth berjalan melewati Mbok Nan, membuat pandangan Mbok Nan mengikuti arah langkahnya.
"Sudah, Mbok. Sekarang biarkan saya saja yang ke dapur. Giliran Mbok yang duduk nonton filmnya okey?" Ruth tersenyum melihat ekspresi kaku Mbok Nan.
"Daaaa, Mbok." Ia berlalu pergi meninggalkan Mbok Nan yang masih tercengang melihat tingkahnya yang sangat aneh.
"Haduuuuh selamat Ya Rabb." Di elusnya lembut dada kendur itu. Ia menghela napas lega melihat Ruth yang beranjak dari sana.
"Iya bener, harus cepet di akalin nih..."
Sepersekian detik, "Nah gini kan aman...hehehe." Mbok Nan bertepuk tangan gembira usai melepas kabel dari saluran televisi rumahnya.
Di dapur, Ruth tampak antusias menggoreng kentang dan bernyanyi dengan gembira. Wajahnya terlihat berseri-seri sembari menggerakkan sebelah tangan naik turun pada perut rata miliknya.
"Mamah nggak sabar, Nak lihat kamu lahir ke dunia ini. Bobok sama kak Putri dan Ayah, kita berjemur pagi di depan rumah sama Ayah, kita lihat ayah pergi ke kantor pagi-pagi. Mamah benar-benar tidak sabar menantikan hari itu. Kita akan berkumpul semua, Sayang." Kini Ruth yang tengah asyik menggoreng kentang merasakan sesuatu yang tak biasa.
Dadanya tiba-tiba sesak sekali. Bukan sakit pada umumnya, entah hal yang begitu sulit di jelaskan.
"Dadaku...ada apa ini?" batinya beralih menyentuh dada yang kian menyesak.
"Dava...apa dia baik-baik saja?" Ruth segera teringat akan sosok sang suami yang baru pergi meninggalkan rumah menuju kantor.
"Bagaiamana aku menghubunginya? Pagi ini adalah jadwal meeting. Aku takut mengganggu suamiku. Dav, mengapa aku merasakan sesuatu terjadi padamu?" Ruth menahan genangan air matanya yang ingin jatuh seketika.
Firasat buruk seorang istri tentu saja memang benar adanya. Di sini, Dava tengah mendengarkan dengan seksama tentang segala putusan hakim.
"Saudara Dava, sebagai wakil dari keluarga korban...." Suara di dalam persidangan yang menggema. Berisi tentang penjelasan bagaimana semua kasus terungkap hingga hubungan sedarah antara Dava dan sang istri pun ikut terungkap.
Dava terduduk lemas, air matanya berjatuhan dengan deras. Bagaimana pun sakitnya, hari ini adalah hari yang paling menyakitkan untuknya. Dimana semua orang yang ada di ruangan itu mengetahui statusnya dan sang istri.
__ADS_1
"Dengan semua bukti dan dengan keputusan yang seadil-adilnya. Kami menerima tuntutan keluarga korban atas hukuma yang di dapatkan oleh terdakwa."
Begitulah kira-kira suara yang terus terdengar di ruangan persidanga.
"Saudara Iwan Sandronata dan saudara Deni Salim Perdana dinyataan di hukum seumur hidup!"
Tok Tok
Suara palu mengalu tegang di ruangan. Tangisan semua yang mendengar putusan hakim ketua tampak memenuhi ruangan yang tak begitu luas.
Dava menangis antara bersyukur dan juga sedih. Hatinya rapuh kala mengingat status dirinya yang terancam akan bercerai usai sang istri melahirkan.
"Dav," panggil Rafael yang baru saja beranjak dari duduknya dan menghampiri sahabatnya itu.
Dava menatapnya dengan mata yang begitu penuh dengan cairan air mata.
"Maafkan saya, Dav. Kalau saja semenyakitkan begini, mungkin saya memilih untuk tidak menyelidikinya sekali pun kau yang meminta tolong padaku..." Ia menepuk pelan pundak Dava.
Wuri, dan Sarah menangis membayangkan suami mereka yang tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi. Tidak ada istri yang tega melihat sang suami menderita meski sebegitu jahatnya sang suami pada mereka selama ini.
Begitulah kelembutan hati wanita, terkadang mereka memilih sakit sendiri dari pada harus melihat orang yang ia sayangi sakit sendirian tanpanya.
"Terimakasih banyak, Pak." Dava pun berjabat tangan pada beberapa pengacara dan timnya di depan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar di depan orang-orang.
Meski jelas terlihat air mata di kedua matanya terus jatuh dan sesegera ia menghapusnya.
"Yang sabar, Pak Dava."
"Anda kuat, Pak Dava."
"Semoga bisa ikhlas, Pak. Memang ini hal yang sangat menyakitkan."
__ADS_1
Begitulah ucapan-ucapan para orang-orang yang mengetahui kasus Dava dan Ruth. Bahkan mereka semua memaklumi jika Ruth kali ini tidak hadir lagi dalam persidangan putusan.
Perlahan-lahan, ruangan pun menjadi kosong. Tinggallah Dava yang terduduk sendiri di kursi tengah ruangan itu. Ia menunduk menatap setiap air mata yang menetes pada tangannya.
"Apa yang harus ku katakan padamu, Sayang? Apa yang harus aku lakukan mulai hari ini?" Ia terisak hingga kedua bahunya tampak bergetar menahan suara tangis yang ingin keluar dari mulutnya.
Dava sungguh tak kuasa jika setelah ini ia harus kembali berhadapan dengan wanita yang selalu menusuk semakin dalam hatinya.
"Haruskah aku menjauh mulai detik ini, Ruth? Haruskah aku rela mulai detik ini menjadi kakakmu?" Semua pertanyaan ia ungkapkan dalam hatinya.
"Nak..." Suara bergetar lemah itu terdengar begitu jelas. Dava menoleh ke belakang dan melihat sosok wanita tengah mendorong kursi roda yang di duduki pria.
Dengan cepat, ia mengusap air mata yang membasahi pipi. Dava tersenyum dengan mata yang terus meneteskan air mata tanpa bisa terhenti. Hari ini, hari yang paling menyiksa dirinya.
"Bunda, Ayah..." Dava berdiri lalu mendekat pada kedua orangtuanya.
"Jangan menangis. Kami sudah baik-baik saja. Ayo kita pergi dari sini." Tarisya menarik tangan Dava dan mengarahkan tangan itu pada besi kursi roda sang ayah.
"Dav, maafkan saya. Mereka memaksa ingin menemui mu meski kedatangan mereka terlambat. Karena Dokter baru memberikan ijin setelah mendapatkan kepastian keadaan Ayahmu membaik dan meyakinkan untuk di bawa keluar rumah sakit." Rafael datang kembali dengan beberapa anggotanya menjelaskan pada Dava.
"Terimakasih. Sekali lagi terimakasih banyak, Raf." Dava berucap dengan wajah yang sangat mendung. Semendung cuaca di luar yang mulai memperlihatkan kilatan petir di langit yang berawan hitam.
"Dav? Maksudnya Pak polisi? Ini Jeff, mengapa namanya berubah?" Tarisya yang memang memiliki keadaan jauh lebih sehat langsung protes kala mendengar nama anaknya berbeda.
"Em, Bunda. Itu adalah panggilan akrab Jeff dengan orang-orang terdekat." terang Dava yang enggan mendapatkan masalah baru lagi.
"Oh, baiklah. Bunda kira ada apa ganti nama begitu." Tarisya tersenyum lega mendengarnya.
"Ayo, kita keluar dari sini. Biarkan Ayah, Dava yang mendorong Bunda." Dava mengambil alih kursi roda sang ayah yang tidak bisa berbicara kini.
Sedangkan Rafael dan anggotanya ikut mengawasi kepergian Dava karena memang di luar kantor pengadilan sudah banyak wartawan yang meminta hasil persidangan ini. Mereka sangat antusias untuk meliput hasil putusan, namun sayang. Atas permintaan Dava, semua akses di tutup.
__ADS_1
Ia tidak ingin jika keadaan keluarganya dan keluarga kecilnya menjadi bahan pembicaraan orang-orang tentang pernikahan sedarah.