Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 160. Bertemunya


__ADS_3

Mata berbola hitam kecil tampak berseri-seri kala mengingat pagi ini adalah pagi yang sangat berbeda untuknya. Setelah sekian lama menghindar, Dina akhirnya memutuskan untuk ikut sang suami menemui mertuanya.


Sudah cukup jauh perubahan di diri Dina, hingga perlahan membuat hubungannya dengan sang suami, Sendi mulai tampak baik-baik saja. Namun tetap saja, hubungan ranjang mereka masih di pertanyakan.


Di sini mobil milik Sendi baru saja terparkir dengan sempurna. Matanya menyapu pelataran rumah sang bunda. Sedangkan Dina tampak memfokuskan kedua manik matanya pada sosok wanita cantik yang tersenyum memeluk bocah kecil di depannya.


"Ya Allah...dia wanita yang menjadi pemilik hati suamiku sendiri...tapi dia juga adalah adik iparku saat ini." batin Dina menguatkan diri untuk menghilangkan rasa marahnya dan cemburu pada sang adik ipar.


Tampaklah Sendi yang bergerak dari sampingnya melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. Dina pun sadar dari lamunannya. Ia juga ikut bergerak dan melakukan hal yang sama dengan sang suami.


"Sendi, tunggu aku." ia berucap setelah merasa langkah Sendi begitu cepat menjauh darinya.


Tubuh tegap Sendi berhenti melangkah dan menoleh. "Cepatlah, aku harus segera ke kantor sebentar lagi." pintahnya dan Dina berlari kecil mengimbangi langkah sang suami.


"Ayah...lihatlah menantu kita. Sekarang keluarga kita begitu lengkap bukan?" seru Tarisya tersenyum menyambut kedatangan Dina.


"Wajah ini begitu sangat mirip dengannya. Aku harus mengikhlaskan segala kejahatan anda Tuan Deni. Semoga putrimu tidak akan mengikuti jejak kejahatan seperti yang kalian lakukan pada keluargaku selama ini..." Begitu rasa takut yang terus menghantui perasaan wanita beranak tiga itu.


Ia sangat takut jika Sendi akan terluka dengan hadirnya Dina di sisinya. Terlebih Sendi juga sudah menceritakan pada sang bunda semuanya, dari perjodohan yang di lakukan Deni Salim Perdana pada Dina dan Sendi. Sungguh Tarisya begitu khawatir dengan rumah tangga anaknya.


Mengapa semua anak-anaknya bermasalah dalam hal rumah tangga?


"Dina, ini Bunda. Dan ini Ayahku..." Sendi memperkenalkan kedua orangtuanya terlebih dahulu pada sang istri.

__ADS_1


"Halo, Ibu. Saya Dina istri Mas Sendi..." sapanya begitu sopan. Tariya sempat tak menyangka akan mendapatkan sapaan yang begitu lembut dan sopan.


Ia berpikir jika gadis di depannya tidaklah jauh berbeda dari sikap angkuh sang ayah. Ternyata apa yang menjadi alasan Sendi untuk kembali lagi dengan sang istri dan memantapkan pikiran tidaklah salah. Sang istri telah berubah jauh dari aslinya.


"Oh...eh halo, Dina." Begitu cepat tangan Tarisya terulur untuk membalas uluran tangan sang menantu. Di sana Dina mencium punggung tangannya, sementara Tarisya menanrik tangan sang menantu dalam genggamannya dan memeluk begitu hangat.


"Senang Bunda bisa melihat gadis cantik sepertimu dan lembut. Panggil saja Bunda, yah? Saat ini kau adalah menantu yang berarti adalah anak Bunda juga." Sungguh Dina merasakan hatinya begitu bahagia bisa di terima dengan baik oleh keluarga sang suami.


Tidak pernah terpikirkan olehnya jika kehidupannya akan sebahagia ini. Terlepas sang ayah sudah tak lagi bisa berada di sisinya, justru Tuhan telah menyiapkan keluarga yang jauh lebih baik saat ini.


Meskipun keluarga kandung tidaklah bisa tergantikan sampai kapan pun. namun terkadang justru yang bukan keluarga akan memberikan begitu banyak perhatian yang jauh lebih tulus.


Tak bisa menahan rasa haru, Dina sampai menitihkan air matanya. Teringat betapa kejam sang ayah pada keluarga yang begitu baik ini.


Mereka semua cemas, apa ada yang menyakiti Dina?


Dengan rasa penasaran, Tarisya segera bertanya padanya, "Dina, ada apa? Apa yang membuatmu menangis? Apa kata-kata Bunda ada yang menyakiti perasaanmu?"


Tarisya melihat gelengan kepala dan air mata yang mengucur deras di mata indah sang menantu. "Bunda, maafkan keluarga Dina...mereka benar-benar telah begitu jahat pada kalian terutama Ayah dan Bunda. Dina sungguh tidak mengerti mengapa mereka begitu tega melakukan ini semua pada kalian. Dina minta maaf atas nama Ayah, Bunda." Ia bahkan sampai merosotkan tubuhnya dan berlutut di depan Tarisya.


Begitu sakit rasanya melihat sikap baik dan kebahagiaan di keluarga ini, tapi dulu bahkan ia dan keluarganya bahagia di atas penderitaan keluarga yang kini menyambutnya dengan baik.


Sungguh memalukan!

__ADS_1


Kini yang berdekatan dengan Dina bukan hanya Tarisya saja, "Dina, semuanya sudah baik-baik saja. Tidak perlu bersikap seperti ini. Kami sudah kembali berkumpul dan bahagia. Bangunlah." Sendi memapah tubuh sang istri agar berdiri kembali.


"Iya, Nak. Kami semua sudah memaafkan ayahmu. Tidak perlu kau seperti itu, lagi pula ini adalah perbuatan ayahmu. Kau hanya anaknya dan tidak ada andil dalam masalah orangtua." Tarisya tersenyum lembut mengusap air mata di kedua pipi DIna.


"Satu pesan Bunda..."


Dina menatap dalam kedua manik mata sang mertua. "Cintai Sendi, anak Bunda dengan tulus dan jadilah istri yang soleha untuknya." Di elusnya lembut pipi tirus itu.


Dina segera memberikan anggukan dengan cepat. Ia tentu saja sangat mencintai Sendi sampai kapan pun. Berbeda dengan suasana yang terlihat di wajah Ruth saat ini. Ia tertunduk kala mendengar permintaan sang Bunda. Hatinya ikut tersinggung mendengar pesan yang bundanya minta pada Dina.


"Cintai...jadilah istri yang soleha...Apakah aku tidak berhak mendapatkan pesan seperti itu, Tuhan? Bahkan saat ini aku sangat terombang ambing dalam agama bahkan status pernikahan." Dengan perasaan gundah gulana, Ruth berlari masuk ke dalam rumah.


Ia sadar jika dirinya adalah wanita yang paling hancur di dunia ini. Keyakinan dan kehidupan rumah tangganya sudah tidak ada yang bisa ia pertahankan.


"Hiks hiks hiks..." isaknya terus berlari tanpa mendengarkan teriakan orang-orang yang ada di halaman rumah.


"Mamah!" Putri berteriak ingin mengejar Ruth.


"Shandy!" Mbok Nan, Sendi, dan Tarisya semua begitu kaget melihat tangisan Ruth yang terisak-isak sembari berlari tanpa memperhatikan jalannya.


Ia terus belari masuk ke dalam rumah sampai sesuatu terasa menghantam tubuhnya.


Bug!!

__ADS_1


__ADS_2