Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 26. Sekalipun Harus Ada Nyawa Yang Akan di Korbankan.


__ADS_3

Wajah yang sejak tadi selalu tampak datar terus bertanya-tanya dalam hati. Apa yang di lakukan suaminya padanya kali ini? Seluruh bagian tubuhnya bahkan di ukur dengan orang yang terlihat sangat highclass.


Bahkan sedari tadi, manik mata Dava terus fokus pada ponsel di genggamannya tanpa menghiraukan tatapan sang istri yang penuh tanya.


"Okey, Tuan. Semuanya sudah selesai. Dan untuk make upnya kami sudah bisa paskan dengan postur wajahnya." terang Angelina dengan tersenyum pada Dava.


"Em, pergilah." pintah Dava tanpa menoleh pada mereka.


Team make up maupun sang desainer itu segera bergegas meninggalkan ruangan tamu tersebut dengan sedikit menundukkan kepalanya.


 


Mata Ruth bergerak mengikuti langkah kepergian mereka dan beralih menatap sang suami. Langkahnya pun bergerak mendekat pada Dava.


"Apa yang kau ingin lakukan? ada apa dengan penampilanku? Aku tidak mau yah karena kau suamiku, aku harus merubah penampilanku." ucap Ruth seraya berdiri di depan sang suami yang masih duduk di sofa menyilangkan salah satu kakinya pada kaki lainnya.


"Huhhh." Ruth menghela napas dengan suara yang sengaja ia buat senyaring mungkin.


Karena sang suami masih saja diam dan fokus pada benda pipih miliknya.


"Dava!" panggil Ruth melangkah satu langkah lagi dan... "Aaaa." teriaknya memenuhi ruangan tersebut.


"Jadilah istri yang baik dan penurut." Dava menatap dalam dua manik cokelat yang sangat dekat dengan mata miliknya.


Ruth yang kini sudah duduk di pangkuan sang suami dengan genggaman tangan kekar yang melingkar di perut rata miliknya hanya terdiam.


Matanya bahkan tak mampu berkedip lagi. Hanya bibir ranum yang terbuka dengan eskpresi tercengang.


"Kita akan pergi ke suatu acara beberapa hari lagi. Mulai besok tidak perlu ke kantor dulu. Jaga kesehatan kulit tubuhmu dan wajahmu."


Deg!


Saat itu juga, Ruth kembali sadar dalam lamunannya. Matanya membulat mendengar penuturan sang suami yang terkesan seperti menghina kulitnya yang kusam karena terlalu sering bekerja.


"Selama ini aku berpacaran...baru kali ini ada laki-laki yang menghina kulitku-"


"Ssst! Nyatanya akulah pria yang melindungimu saat ini, Ruth." Sambut Dava menghentikan aksi protes sang istri.


"Lepas!!"

__ADS_1


Debaran jantung begitu kencang di dada wanita bermata cokelat itu. Wajahnya seakan memerah menahan rasa malu yang teramat sangat.


Dava hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah malu-malu sang istri dan segera melepaskan lingkaran tangannya yang dengan refleks mengikuti naluri sang lelaki.


"Ehem...Baiklah, sebaiknya kau beristirahat saja. Aku ke ruang kerja dulu." pintah Dava dengan lembutnya.


Namun langkah pria itu terhenti kala mendengar suara teriakan seorang bocah yang tak lain adalah Putri Anyelir.


"Paman..." seru Putri berlari cepat dengan langkah tanpa perhitungannya.


"Putri," Dava menoleh dan langsung membulatkan matanya.


"Awas jatuh!" Dava berlari mengejar ke arah Putri yang hampir saja jatuh kala kakinya terpeleset.


"Ya Allah, Putri!" Ruth berteriak sembari menutup matanya tak kuasa melihat sang anak jatuh di lantai.


Di sudut sana, Dava sudah tampak berhasil memeluk sang bocah. "Kenapa harus berlari, Sayang? Bagaimana kalau Paman tidak berhasil mengejarmu tadi? Bisa luka semua ini kaki."


Putri tersenyum dan memeluk tubuh sang Paman. "Putli mau cerita sama Paman dong. Putli kesepian, Mbok Nan lagi sibuk macak." keluhnya dengan suara manja nan lesu.


"Ya Tuhan...Putri tapi nggak perlu berlarian seperti itu di dalam rumah yah? Paman akan marah melihat kamu lari-lari lagi. Sekarang ayo Paman temani Putri. Kita di ruang tengah saja kalau begitu."


Hup!


Sungguh lega rasanya melihat Putri yang tidak jadi jatuh, tetapi di sisi lain ada hati yang terasa tersentuh dengan sikap antusias sang suami pada anak angkatnya.


"Non," panggil Mbok Nan membuyarkan senyuman Ruth kala menatap punggung tegak sang suami.


"Eh, iya Mbok. Ada apa, Mbok?" tanya Ruth begitu gugup.


Mbok Nan tersenyum geli. "Non Ruth sudah mulai jatuh cinta yah dengan Tuan Dava? hayooo...ngaku, Non." ledek Mbok Nan terkekeh.


"Mbok, apaan sih? ngaco loh. Udah ah, aku mau mandi dulu." Ruth bergegas masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Mbok Nan yang masih menggelengkan kepalanya.


Sementara di tempat yang berbeda terlihat sosok Sendi berulang kali melayangkan tinjuannya pada samsak yang tergantung di depannya.


Tak perduli dengan tubuh yang masih babak belur, rasanya benar-benar menyakitkan menyaksikan ada pria lain yang melindungi sang mantan.


"Argh!!"

__ADS_1


"Brengksek!"


"Aku akan membawamu kembali, Ruth!"


"Tidak akan ada pria lain yang bisa menghalangi cinta kita!"


"Kau hanya milikku!"


Begitu banyak cacian keluar dari mulut pria yang sudah menjadi calon ayah tersebut kali ini. Napasnya terus memburu kala memaksakan tenaganya terus terkuras habis di sisa kekuatannya.


Jika mungkin hanya luka fisik, Sendi masih akan mampu menahannya. Namun kali ini, hatinya jauh lebih sakit. Bagaimana mungkin sang mantan secepat itu memiliki pria lain di hidupnya? Tidak cukup lamakah hubungan mereka selama ini? hingga Ruth bisa berbalik hati dalam waktu yang singkat?


Benar kata pepatah. Dalam diri seseorang, rasa salah terlalu mudah di lihat pada orang lain. Tapi tidak begitu pandai melihat kesalahan diri sendiri.


Itulah yang terjadi pada seorang Sendi Sandoyo. Andai dirinya tidak menyakiti Ruth lebih dulu, andai dirinya tidak menikah lebih dulu. Mungkin semuanya masih akan baik-baik saja.


Bahkan saat ini, Sendi benar-benar merasa jauh kala telak dengan sosok pria yang berwajah tampan dan berhati lembut lebih darinya.


Selama ini, ia sadar jika kedekatannya dengan Putri sama sekali tidak penting di matanya. Yang terpenting adalah Ruth. Namun, nyatanya saat ini kedekatan antara Dava dan Putrilah yang membuatnya berapi-api.


"Anak itu...yah aku harus mendapatkan Putri lebih dulu. Apa pun caranya."


"Hehehehe...aku akan usahakan untukmu, Ruth."


Ia terkekeh dengan tatapan liciknya.


Dari sudut ruangan fitnes pribadi itu, tampak dua pasang mata yang sudah menyaksikan segala aksi Sendi sedari tadi.


"Kau tidak perlu khawatir, Dina."


"Tapi Ayah...Sendi begitu menggilai wanita itu." Dina sampai memeluk tubuhnya sendiri karena cemas yang berlebihan.


Bahkan saat tubuhnya sudah berbadan dua pun, cinta Sendi masih begitu besar pada sang mantan. Bagaimana jika dirinya akan di tinggalkan. Belum lagi penolakan Sendi terhadap anak yang ia kandung.


"Ayah yang akan menghadapi semuanya. Sekalipun harus ada nyawa yang di korbankan." Tuan Deni menyeringai licik sembari terus menatap ke arah sang anak yang terus meninju dengan penuh amarah samsak di depannya.


Dina yang mendengarnya sontak menahan napasnya yang terasa begitu sesak. Tangannya refleks memegang perut rata yang akan bergelembung dalam hitungan bulan.


Bagaimana pun dirinya kini akan menjadi seorang Ibu. Rasanya sungguh tidak tega jika akan ada kejahatan yang dilakukan sang mertua demi dirinya mendapatkan hati sang suami. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayi yang ia kandung?

__ADS_1


Semua akan ada timbal baliknya!


"Ayah, jangan lakukan apapun." ucap Dina menggelengkan kepalanya.


__ADS_2