
Dag dig dug...
Dag dig dug.
Detakan jantung dua pria yang kini saling membisu begitu berlomba adu waktu.
Ramainya suara langkah kaki yang saling bergantian lewat di lorong rumah sakit tak sedikit pun membuyarkan keheningan di depan ruangan pemeriksaan sang bunda.
Dava berdiri menyandarkan tubuh tingginya pada dinding rumah sakit. Hal yang sama juga Sendi lakukan, ia bahkan tampak menggigit ujung jari telunjuk menantikan kabar selanjutnya.
Tap tap tap tap...
Suara lirih langkah kaki gadis berambut panjang bermata cokelat itu tampak menjadi titik fokus pandangan seorang wanita yang terbaring lemah di tempat pasien..
"Anak Bunda," lirihnya menatap dengan pandangan yang memilukan.
Tarisya bukanlah anak kecil lagi, mendengar ucapan Ruth yang terakhir kalinya sebelum ia tidak sadarkan diri. Tentu saja semua yang Dava sembunyikan dengan mudah ia tebak.
Kedatangan Ruth tiba-tiba ke kantor, ucapan Dava yang ternyata tidak sejalan dengan yang terjadi pada Ruth tentu saja membuat Tarisya sadar apa yang terjadi setelah pengakuan anak gadisnya tentang suaminya.
Ruth perlahan menggenggam tangan sang bunda.
Cup! di ciumnya tangan dingin yang sudah berkerut itu.
"Bunda, Shandy mohon jangan seperti ini. Jangan tinggalkan kami lagi, Bunda." tuturnya menatap dengan berderai air mata.
Sudah cukup bagi mereka selama bertahun-tahun berpisah tanpa tahu saudara masing-masing. Kini saatnya lah mereka berkumpul tanpa terpisahkan lagi.
Tarisya ikut menangis mendengar penuturan sang anak. Rasa bersalah sungguh menguasai hati wanita tua itu. Ini semua karena harta yang mereka miliki sampai anaknya bisa menjadi seperti sekarang pastinya.
"Shandy, anakku...Bunda ingin berterus terang, Nak." ucapnya mengusap air mata sang anak yang sudah menangis di dalam pelukannya.
"Bunda, Shandy mohon...jangan mengatakan apa pun. Shandy tidak ingin Bunda sakit lagi. Sudah cukup, Bunda. Kembalilah pada kami dengan sehat." ucapnya menangis terisak-isak.
__ADS_1
Ia begitu takut jika melihat wanita yang ia rindukan selama ini, wanita yang impikan kehadirannya akan pergi selamanya.
"Bunda tahu...hari ini sungguh seperti mimpi bagi Shandy. Bunda masih ada dan bisa Shandy peluk seperti ini." ia tersenyum bangkit dari pelukan tubuh bundanya yang terbaring lemas.
Namun, bukan itu yang lebih utama. Tarisya harus lebih memastikan apa yang ia pikirkan benar atau tidak.
"Sayang, apakah Jeff benar suamimu?" tanyanya meyakinkan diri sekali lagi.
"Jeff?" Ruth yang mengerutkan kening kembali tersenyum dan menggeleng.
Ia terkekeh dengan suara lembut dan serak khas orang habis menangis. "Bunda...bagaimana Kak Jeff suami Shandy?" ia berucap dengan tawa lucu sementara Tarisya hanya bisa menghela napas lega setelah mendengar ucapan sang anak.
Namun, belum sempat ia tersenyum, Ruth sudah melanjutkan ucapannya yang terpotong barusan. "Kami saja belum bertemu sama sekali. Dava bilang Kak Jeff sedang dalam pemulihan dengan Ayah. Benarkan, Bunda?" ia bertanya dengan tatapan mata yang terus tertuju pada wanita cantik di depannya.
Kecantikan yang abadi benar-benar di miliki sosok Tarisya tentunya. Meski memiliki usia yang tak lagi muda, namun wajah cantik alaminya masih terpancar jelas di mata cokelat sang anak. Ia sungguh mengagumi kecantikan sang bunda lagi dan lagi.
Sementara wajah Tarisya sudah tampak keheranan. "Siapa Dava, Shandy? pria itu yang menjadi suamimu, bukanlah Dava, Nak. Dia Jeff. Pria itu kan yang kau maksud Dava? Bunda tidak salah kan?" tebak Tarisya yang yakin seyakin-yakinnya jika pria tampan yang selalu bersamanya dan bersikap hangat adalah Jeff. Anak pertamanya yang selalu bertutur kata lembut.
Gelengan kepala di tubuh Ruth membuatnya terkekeh kembali, ia tidak tahu itu adalah sebuah penolakan atau sebuah kebingungan yang ia rasakan.
"Nak, pria itu adalah kakakmu. Kalian telah menjalin hubungan pernikahan sedarah." ucap Tarisya sudah tidak bisa menunggu lama lagi untuk memberitahu sang anak.
Duar!!
Jantung yang begitu cepat berpacu sedari tadi mendadak meledak rasanya.
Senyuman yang bersamaan dengar air mata dan getaran di bibir membuat Ruth terdiam. Ia tak bisa mengatakan apa-apa lagi hingga bibir yang ia bungkam rapat terlihat jelas getarannya.
"Bunda tidak salah, Sayang. Bunda selama ini bertemu dengan Jeff. Dialah orang pertama yang menemui bunda sebelum kakakmu Berson. Ini tidak benar, Shandy. Kalian adik kakak, bagaimana pun kalian harus berpisah. Sebelum dosa itu semakin bertumpuk, Sayang." Tarisya melihat kesedihan yang teramat dalam di wajah ayu sang anak.
Hening, sama sekali tak ada balasan ucapan dari bibir ranum gadis bermata cokelat itu. Ia sangat sakit hingga untuk berucap pun rasanya sungguh tidak akan kuat.
Ruth duduk di kursi samping tempat tidur sang bunda. Ia diam mematung, kini hanya air mata yang terus mengalir dengan derasnya.
__ADS_1
Tarisya sadar betapa sakit yang begitu dalam kini menerpa anak gadisnya.
"Itukah sebabnya dia menyembunyikan bunda dariku selama ini? Itukah sebabnya dia berubah akhir-akhir ini, Tuhan? Apakah karena ini setiap kali ingin mendekat padanya, selalu menjadi wanita yang mengemis kehangatan pada sang suami? Mengapa? Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa kau pertemukan kami dengan ikatan pernikahan jika hubungan kami ternyata adik kakak? Aku benar-benar tidak sanggup..."
Ruth menjerit dalam hatinya, ia sungguh sakit. Ia sunggguh marah dengan takdir yang begitu tega mempermainkannya.
Sudah banyak kali hati itu terluka, apa masih belum berakhir semua penderitaan yang ia alami hingga kini?
"Kak Jeff, bagaimana nasib pernikahan kita, Kak? Bagaimana nasibku setelah ini, Kak? Bagaimana nasib anak kita kelak, Kak Jeff?" Ruth memohon belas kasih pada sang kakak dalam hati sembari terus meneteskan air matanya di depan sang bunda.
Hatinya sudah tak kuat untuk berpura-pura tegar di depan bundanya. Ia pasrah, pasrah dengan semua kehendak Tuhan kedepannya.
"Kasihan sekali kamu, Nak. Maafkan Bunda, Sayang." Tarisya pun ikut menangis sembari mengusap punggung anaknya yang ia genggam begitu erat. Terasa sangat dingin tangan lentik itu.
"Dav, apakah kita akan benar-benar berpisah? Lalu bagaimana dengan semua janjimu padaku, Dav? Apa kau tega meninggalkan wanita lemah ini yang begitu menyedihkan?" usai mengeluh dengan sang kakak, kembali Ruth mengingat semua kenangan indahnya bersama sang suami.
Dimana Dava berjanji akan terus mencintainya dan menjaganya. Kini semua hanya tinggal bayangan yang tak akan pernah lagi terjadi.
Detik ini, semua akan berubah menyakitkan untuknya.
Usai dengan jeritan hati, kini Ruth pun mengeluarkan semua bebannya dengan tangisan yang begitu memilukan. Ia memejamkan mata dan menangis terisak-isak. Tak perduli jika saat ini ia berada di depan sang bunda.
Hatinya sungguh tak kuat lagi, ia memeluk tubuhnya sendiri, Tarisya pun menyelimuti tubuh anak gadisnya dengan pelukan hangatnya.
Meski keadaannya belum begitu fit, namun melihat kesedihan sang anak ia berusaha kuat untuk bangun dari tempat tidur.
"Mengapa Tuhan begitu jahat padaku, Bunda? Mengapa!" Ia menangis memeluk tubuh sang bunda.
"Sayang, jangan seperti ini, Nak. Bunda sangat sakit melihatnya." Ia pun ikut menangis dalam ruangan itu.
"Mengapa kau selalu menjatuhkan hati ini pada kakakku, Tuhan? Apa salahku? Mengapa kau selalu jahat padaku?" Ruth menangis pilu kala ingatannya kembali pada masa ia bersama dengan Sendi sebelum menikah dengan Dava.
__ADS_1
Hari yang begitu bahagia mereka lewatkan hingga keduanya berakhir dengan hubungan adik kakak. Dan kini, hal yang sama terjadi lagi padanya. Namun, itu berbeda tentunya. Kali ini hubungannya sudah lebih jauh dari sekedar berpacaran.
Mereka sebentar lagi akan memiliki anak.