Perjuangan Cinta Nona Ruth

Perjuangan Cinta Nona Ruth
Chapter 18. Pelukan Meneduhkan Hati Dan Pikiran


__ADS_3

Pelukan hangat terasa benar-benar meneduhkan. Dava membaringkan tubuh Ruth di kursi samping kemudi mobil miliknya.


Ruth meringkuk menangis di dalam pelukan hangat sosok Dava, pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.


"Dava," lirihnya. "Tolong aku." isak tangis terdengar jelas sebelum Dava benar-benar lepas dari pelukan wanita yang tidak lain adalah istrinya.


Di usapnya lembut. Di kecupnya pelan kening rapuh tersebut. "Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi dengan kalian."


Dava melepas pelukan tangan yang melingkar di punggung leher pria itu. Ia membuka pintu mobil di belakang.


"Putri, ayo masuk." pintahnya membantu sang anak untuk duduk sempurna di dalam mobil miliknya.


Sosok pria yang sedari tadi berdiri di samping mobil tampak bingung hendak melakukan apa. "Tuan, Dava." sapanya gugup.


Siapa pun akan takut melihat tatapan tajam sosok Dava yang sangat geram. "Mari saya setir mobil anda, Tuan." ucapnya meski penuh keraguan.


"Pak, anda sebaiknya pulang saja. Saya akan pergi bersama mereka malam ini." Dava berjalan memutari mobil dan masuk kemudian melajukan mobil miliknya tanpa suara lagi.


"Dava!" teriak pria terdengar jelas dengan tubuh yang baru saja menghentikan larinya. Nafasnya terengah-engah menatap kepergian mobil dari halaman rumahnya yang tampak melaju dengan kencang.


Malam ini semua terasa kacau dan hancur. Tak pernah terpikirkan oleh Dava maupun Ruth jika pernikahan mereka akan sehancur ini kedepannya.


Di halaman rumah pun begitu tampak menegangkan, beberapa bodyguard menundukkan kepala mereka melihat raut wajah Tuan besar yang tampak sangat memerah. Dengan beberapa luka di bagian wajahnya.


"Anak tidak tahu diri!" umpatnya mengusap setetes darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Salah satu sudut mata pria itu tampak menyipit karena bengkak.


Di sisi yang berbeda dalam waktu yang sama.


Genggaman tangan terasa mengalir dalam diri Ruth selama perjalanan. Dava seakan tengah menyuntik kekuatan untuk dirinya dengan sayang.


"Tenanglah! kalian sudah aman bersamaku, Ruth."


"Ayahmu...dia ingin me-lecehkanku, Dava." Ruth terisak.


Buliran bening menetes dengan sendirinya.


Dava menatapnya sendu. Entah ada apa dengan hatinya, ia merasakan luka yang teramat sakit saat ini. Bukankah ini yang namanya cinta? ataukah hanya sebuah rasa kemanusiaan?


"Maafkan aku, Ruth. Aku yang terlalu percaya dengan mereka semua. Ku fikir..."


Dava menggelengkan kepalanya. Ucapan yang benar-benar ia sesali akhirnya tidak lagi ia lanjutkan. Untuk apa menceritakan semuanya jika akan membuka luka itu kembali pikirnya.

__ADS_1


"Sudahlah, pejamkan matamu. Secepatnya kita akan sampai." ucapnya dengan tegas.


Di belakang, wajah mungil sosok bocah yang menggemaskan hanya terdiam menatap jalanan dengan mata yang sembab. Ia tidak memiliki keberanian untuk bersuara saat ini.


Wajahnya murung. Tanpa sadar dari arah depan, sepasang mata Dava melirik ke arah spion. "Putri," panggilnya lembut.


Lamunan bocah itu pun buyar seketika. "Em, iya Paman." sahutnya dengan suara antusiasnya.


"Kemari, Sayang." panggil Dava tanpa gerakan tubuh.


Kening bocah mungil itu tampak berkerut. Ia bingung, apa maksudnya dengan kemari?


"Kemana, Paman?" tanyanya ingin mempejelas.


Dava menepuk sisi sebelah kiri pahanya, "Duduk di sini." terang Dava tersenyum hangat.


Senyuman yang selalu membuat Putri benar-benar jatuh hati untuk ke sekian kalinya dengan sang Paman ganteng.


Perlahan namun pasti, bocah itu beralih dari kursi belakang menuju ke kursi pengemudi. Dava dengan telaten membantu sang anak duduk di pangkuannya. Sempurna sekali. Pria tampak menyetir mobil dengan memangku sang anak.


Begitu hangat terlihat. Bahkan Ruth yang sedari tadi masih tampak ketakutan tanpa sadar melirik pemandangan menyejukkan hati di sampingnya. Bibirnya tersenyum lembut.


Setelah beberapa saat perjalanan, kini Dava menghentikan laju mobilnya tepat di halaman rumah yang sangat familiar.


Di sisi dalam rumah.


Dua manik mata yang baru saja terpejam, tampak terbuka kembali. "Siapa yah yang datang malam-malam begini? Non Ruth kan tidak pulang kesini?" tanya Mbok Nan tampak bangun dari tempat pembaringannya.


Satu tangannya meraba sisi kasur untuk meraih jepitan rambut, lalu menggulung rambut panjang miliknya.


"Iya bener, suara mobil berhenti kok." ucapnya kemudian.


Langkahnya bergegas menuju ke arah pintu utama. "Non Ruth, Tuan Dava, Putri?"


Wajah kaget dan syok kala wanita tua renta itu mengintip dari balik gorden rumah sang majikan. Di sana Ruth tampak di papah oleh suami tampannya dan sebelah tangannya menggandeng bocah kecil di sisinya.


"Non Ruth, ada apa ini, Tuan Dava?" tanyanya antusias berlari setelah membuka pintu dan berlari sekuatnya menuju halaman rumah.


"Mbok, tolong bawa Putri ke kamarnya yah." pintah Dava dan di patuhi sesegera mungkin oleh Mbok Nan.


"Baik, Tuan. Mari Putri sama Mbok ayo."

__ADS_1


Dengan patuh, Putri melangkah mengikuti langkah Mbok ke arah kamarnya.


Hap!


Dava menggendong sang istri tanpa ijin dari pemilik tubuh.


"Dava, apa yang kau lakukan? turunkan aku!" pekiknya memukul dada bidang sang suami.


Dava hanya diam dan melangkah terus ke arah kamar sang istri. "Diam, dan menurutlah!" ucapnya tanpa menatap wajah sang istri.


Ceklek! Pintu kamar terbuka.


Ruth berbaring di bibir pinggir kasur kingsize miliknya tersebut. Netra kecoklatan miliknya memperhatikan gerakan sang suami yang berjalan ke arah tempat kotak p3k di dalam kamar itu.


Dava mengambilnya dan berbalik badan. Ia melangkah kembali mendekati sang istri.


Deg!


Jantung yang tadinya berpacu dengan normal begitu terasa berdekat jauh lebih cepat kala pandangan mata saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dava begitu terkejut kala melihat pergerakan tubuh Ruth yang hendak berbangun dari pembaringan.


"Aku-"


"Berhenti! Tetap seperti itu. Apa kau tidak melihat luka di tubuhmu ini?" tanya Dava menatap bagian dada sang istri yang terlihat ada beberapa goresan luka meski tidak begitu dalam.


"Tapi, Dava-"


"Sssst! Jangan membantah. Kau sudah menjadi istriku. Menurutlah." pintahnya lirih.


Sekali lagi, Ruth meneguk salivahnya sendiri. Aroma tubuh dan nafas yang begitu meneduhkan hatinya benar-benar sulit untuk ia mengendalikan dirinya.


"Ruth sadarlah! Ya Tuhan perasaan apa ini sebenarnya? Aku tidak mungkin berpindah hati secepat ini. Dia hanya suami untuk mengamankan diriku dari pria itu saja. Tidak lebih." sangkalnya menolak mentah-mentah hatinya yang mulai jatuh ke dalam pelukan sosok Dava Sandronata.


"Awh...sakit sakit." rintihnya kala luka yang terbuka tersentuh dengan obat yang di berikan pria di depannya.


Tangan Dava bergerak meraih lengan sang istri. Gerakan itu perlahan namun pasti menuntun sang istri untuk kembali memeluknya.


Sempurna! Ruth tak bisa berucap apapun lagi. Matanya melebar kala melihat posisi mereka yang saling menempel dengan sebelah tangannya yang memeluk di pinggang pria tampan itu. Sontak membuat Ruth mencium baju yang terbalut jas mewah milik sang suami.


Meneduhkan hati dan pikiran.

__ADS_1


__ADS_2