
Mentari yang baru saja terasa terbenam tanpa terasa kini sudah waktunya untuk menjadi penerang bumi kembali usai berganti posisi dengan rembulan yang nampak mulai tertutup.
Suara riuhnya burung-burung yang berterbangan di awan putih itu nampak begitu ceria saling berkejaran dengan kawan-kawannya. Embun yang membasahi dedaunan pun mulai terhenti meninggalkan jejak dengan genangan yang tertinggal di bawah sana.
Dinginnya udara pagi seakan berbanding terbalik dengan suasana sosok pria di depan jendela kamar pagi ini. Matanya tampak memerah dengan raut wajah penuh kegelisahan. Bahkan dadanya terasa sangat panas kali ini.
Dava hanya bisa berdiam diri di dalam kamarnya tanpa bisa melakukan apa pun untuk mencegah sang adik melakukan apa yang menjadi perbincangan mereka semalam di meja makan.
Pelan-pelan mata sendu itu terpejam menahan kesedihan yang teramat mendalam. "Anakku..." lirihnya dengan bibir yang sudah bergetar menahan perasaan sakit sangat sakit sekali.
Bagaimana tidak menyedihkan, ini adalah moment pertama baginya menanti kelahiran sang buah hati. Tetapi di saat yang bersamaan ia juga harus kehilangan semuanya. Anak dan istri yang begitu ia cintai telah meninggalkannya dari posisi ayah. Sebentar lagi, dalam hitungan jam mereka akan terpisah secara agama dan tentu secara hukum akan menyusul juga.
Di sisi kamar yang berbeda.
"Sayang, kamu siap untuk hari ini?" tanya Tarisya dengan penuh keraguan menatap sang anak.
Ruth yang sudah tampil dengan wajah lebih segar usai mandi dengan rambut basahnya tergerai indah ke bawah. Bibir merah muda dan mata yang di hiasi bulu mata lentik. Bibir itu melengkung tersenyum lembut.
Sungguh senyuman ini sudah sangat lama tidak pernah terlihat dan pagi ini Tarisya melihatnya meski ia tidak tahu jika sebelumnya senyuman yang selalu di rindukan anak pertamanya ternyata memanglah sangat indah dan menawan.
"Shandy sudah siap, Bunda." jawabnya mantap.
__ADS_1
"Baiklah, Nak. Bunda akan mendukungmu kali ini dengan yakin. Semoga jalanmu di permudah sayang. Bunda sangat bahagia melihatmu tersenyum kembali seperti ini." Ruth menghambur tubuhnya ke dalam pelukan sang bunda.
Ia merasakan hal yang begitu teduh berada di dalam pelukan wanita yang menjadi penampung rindunya selama ini.
"Yasudah kalau begitu pagi ini ikutlah dengan Mbok Nan untuk mengantar Putri ke sekolah, Nak. Karena Bunda yang akan mengurus semuanya dengan Kakak iparmu, Dina." terang Tarisya menginginkan sang anak untuk menenangkan pikirannya sejenak sebelum waktu sore tiba untuk melakukan pindah agama.
Dengan tenang Ruth menganggukkan kepala dan menjawab, "Baik, Bunda. Terimakasih Bunda telah hadir di saat Shandy mengalami kesulitan. Allah maha pendengar do'a-do'a Shandy selama ini, Bunda." ia memeluk kembali sang bunda dan tersenyum begitu lebar.
Tentu saja senyuman itu jelas terlihat bahagia, Tarisya bisa merasakan hal yang sangat bahagia di raut wajah sang anak.
Pukul delapan pagi, kini semua anggota keluarga telah berkumpul kembali di meja makan. Semua bukan tanpa alasan, setelah utuhnya kembali keluarga Nicolas, moment inilah yang menjadi pengobat segala rindu yang ingin mereka obati. Tentu atas kehendak sang bunda.
Tarisya sangat senang melihat seluruh keluarganya lengkap tanpa ada yang kurang satu pun justru bertambah satu dengan kehadiran sang menantu, Dina.
"Boleh kita mulai sarapannya sekarang." tuturnya memberikan izin pada semuanya untuk mulai mengisi piring mereka masing-masing.
Dengan sigapnya tangan kecil Putri menyodorkan piringnya pada sang mamah di depannya dan berkata dengan lucu. "Mah, Putri minta tolong boleh? mau sayap ayam goreng itu." ia menunjuk ayam yang tertata di piringnya dengan bibir yang sedikit manyun.
Ruth tersenyum melihatnya dan menyendokkan ayam itu. "Ini Mamah kasih dua potong. Putri suka?" tuturnya terkekh dengan gemas.
Namun seketika wajahnya mengernyit kala melihat reaksi Putri yang menggelengkan kepalanya. "Kan Putri mau diet mulai hari ini, Mah. Putri nggak boleh makan ayam dua. Bagaimana kalau ayamnya di masukin rantang bekal Putri satunya?" Perkataan polos sang bocah sontak membuat para orang dewasa terkekeh geli mendengarnya.
__ADS_1
"Ya ampun...kamu ini, Nak. Untuk apa diet segala? Makanlah yang banyak biar di sekolah bisa fokus belajarnya." bujuk Ruth pada sang anak.
"Iya, sayang. Untuk apa diet segala. Badan Putri lucu loh seperti ini. Nanti kalau kurus Nenek tidak gemas lagi melihatnya..." celetuk Tarisya memperhatikan memang tubuh sang cucu begitu berisi.
Namun hal itulah yang selalu mencuri perhatian para orang dewasa karena gemas. Terlebih wajahnya yang sangat cantik dan lucu.
"Tidak, Nenek. Di sekolah teman-teman Putri bilang badan Putri ini terlalu gendut. Kan Putri jadi insecure di katain gitu. Putri itu maunya kayak Mamah, tuh badannya langsing." Ucapan polos Putri membuat semunya menggelengkan kepala terheran-heran bahkan Dava yang sedari tadi hanya melamun menatap wajah sang istri ikut terbawa suasana lucu mendengar percakapan istri dan mertuanya pada sang anak.
"Ayah saja jatuh cinta dengan Mamah. Karena badan Mamah bagus dan cantik, iya kan, Ayah?" tanyanya dengan wajah menatap serius menanti jawaban dari sosok Dava yang seketika terdiam gugup.
Ia menganggukkan kepala tanpa menjawab apa pun lalu memilih menundukkan kepalanya.
Usai sarapan dengan segala tingkah lucu Putri, akhirnya semua bergegas pergi menuju tempat tujuan mereka masing-masing.
Dava dan Sendi pergi ke kantor, sedangkan Tarisya pergi bersama Dina dan sang suami untuk kembali ke rumah sakit mengontrol kesehatan setelah menjalani threrapy. Dan Ruth akan pergi ke sekolah bersama Mbok Nan dan juga Putri.
"Sayang, Bunda pergi dulu. Kamu hati-hati yah, Nak." ucapnya mengusap kepala sang anak dan mencium keningnya. Hal itu juga ia lakukan pada Putri, cucu pertamanya yang bertingkah seperti orang dewasa itu.
"Dada Nenek." Putri pun melambaikan tangannya dengan wajah tertawa ceria penuh dengan semangatnya.
"Dada sayang..." balasan lambaian tangan dari Tarisya untuk sang cucu.
__ADS_1
Mereka pun berpisah semua di depan halaman rumah itu dengan kendaraan masing-masing yang sudah di pesan melalui online.